Persoalan Pembalut

Mesin pembuat pembalut
Repro. Kamar Bawah. Sumber gambar di sini

“Di mana ada kemauan, di sana ada jalan. Di mana ada kemaluan, di sini ada persoalan”

Pidi Baiq
_

Sekali waktu saya pernah disuruh kakak perempuan ke toko kecil (ga'de) di kampung untuk membeli sesuatu. Saya dibekali uang dan secarik kertas. Kakak saya berpesan tidak perlu bertanya, perlihatkan saja secarik kertas itu, penjualnya sudah paham.

Di perjalanan pulang melewati pos ronda, seorang pemuda bertanya tentang apa yang saya bawa. Pemuda yang lain sontak menjawabnya roti. Lalu semua tergelak. Saya diam saja karena tidak paham.

Ingatan di masa kecil itu terngiang kembali usai menonton film Padman. Seiring usia beberapa hal lampau yang belum terpahami perlahan mulai tersingkap. Keengganan kakak perempuan saya membeli pembalut dapat dimaklumi. Lelucon lelaki bisa menjadi kekerasan seksual. Perempuan menyimpan rahasia dibalik aktivitas tubuhnya. Hal paling intim dari reproduksi ketika sudah mengalami puberitas.

Bagi Lakshmi, diperankan Akshay Kumar, seorang lelaki dan suami dibatasi juga terbatasi untuk mengetahui lebih dalam menyangkut apa yang perlu dilakukan jika perempuan mengalami menstruasi. Sekali itu istrinya sendiri.

Rasa ingin tahu yang mendalam perihal cara yang dilakukan istrinya, Gayatri (Radhika Apte) ketika sedang menstruasi mengantarnya bertindak layaknya seorang ilmuwan dengan seribu satu macam uji coba. Padahal ia sendiri hanyalah tukang las.

Kain yang digunakan Gayatri atau adik perempuan, dan tindakan serupa yang dilakukan semua perempuan di desanya dalam menangani menstruasi menurut Lakshmi harus dihentikan. Ia prihatin kepada istrinya yang harus tidur di luar setiap kali menstruasi. Jika masa menstruasi yang biasanya berlangsung lima hari, maka selama itu pula perempuan harus tidur terpisah dari penghuni rumah yang lain. Kekhawatiran Lakshmi juga mengenai pembalut kain yang dipake berulang.

Populasi penduduk dan kemiskinan berbanding lurus di India, ketika Gayatri mengutarakan penggunaan kain sudah tradisi hanyalah kegagapan menutupi ketidakmampuan ekonomi. Ia menolak menggunakan pembalut seharga 55 Rupee yang dibelikan suaminya.

“Mengapa barang yang ringan ini justru sangat mahal,” Lakshmi bertanya pada dirinya sendiri. Ia mulai membangun keraguan. Pembalut mahal itu disobek dan memeriksa bahan bakunya. Ia lalu melakukan uji coba sendiri membuat pembalut dari kain yang diisi kapas untuk dihadiahkan ke istri. Sial, itu tidak berguna. Gayatri malah harus bangun sepanjang malam mencuci kain sarinya. Berhentika Lakshmi mengurusi menstruasi istrinya. Tidak. Ia malah semakin tertantang.

Pembalut buatannya lalu dibawa ke mahasiswi kedokteran untuk proses uji coba. Setelah menerima penolakan dan diusir satpam, ada juga seorang mahasiswi yang mau membantunya. Si mahasiswi mencoba meyakinkan teman-temannya dan segera mendapat penolakan karena tidak memiliki label.

Emansipasi

Kita perlu menanyakan ulang makna emansipiasi. Sebenarnya siapa yang yang berada dalam posisi tidak berdaya. Apakah lelaki sebagai tubuh atau perempuan. Tindakan Lakshmi dianggap tabu karena memasuki urusan perempuan. Namun, bukankah ide yang ditawarkan justru sebagai solusi bagi masalah perempuan.

Lantas mengapa bukan dari perempuan yang menemukan solusi brilian atas masalahnya. Proses selanjutnya, Laksmi terus mengembangkan inovasi pembuatan pembalutnya. Ia harus mengatasi dua masalah sekaligus. Daya serap pembalut dan biaya.

Lakshmi tertantang membuat pembalut dengan harga terjangkau dan kalau bisa perempuan bisa membuatnya sendiri sesuai kebutuhannya. Ilham dari petuah pemilik bengkel las tempatnya bekerja menjadi proses kesadaran: “Jangan mengerjakan sesuatu yang terlihat benar, tetapi bekerjalah untuk hasil yang benar.”

Lakshmi tidak menyadari posisinya yang di luar (lelaki) sebagai penawar solusi. Niat baiknya tetap saja dianggap tabu. Kakak perempuannya sendiri merasa malu ketika ia datang hendak menawarkan pembalut. Puncaknya ketika ia harus berendam ke sungai yang disucikan masyarakat karena pembalut buatannya ia pakai sendiri dengan kantong darah buatan rupanya merembes keluar. Pun ia pernah membuat gaduh di tengah malam akibat ulahnya menawarkan pembalut buatannya kepada anak gadis tetangganya.

Hukuman adat harus ditanggung. Ia harus pergi meninggalkan desa. Istri kembali ke keluarganya, dan keluarganya: ibu dan dua adik perempuannya juga harus minggat dari desa. Tetapi, Lakhsmi tak bergeming. Ia pergi bersama idenya yang terus hidup.

Ungkapan Pidi Baiq dalam lirik lagunya, Cita-Citaku yang dinukil di awal catatan menemukan konteksnya. Lakshmi menganggap kalau kemaluan adalah persoalan yang perlu dicarikan solusi. Dan kemauan kerasnya menemukan jalan.
_

Kedudukan lelaki dalam budaya patriarki berada dalam posisi superior. Bentuk-bentuk kemarahan perempuan biasanya disampaikan ke medium simbolik. Lakshmi di tengah kultur patriarki adalah pengecualian. Ia tak pernah membentak istri dan malah sangat peduli. Dokter yang menangani rekannya akibat kecelakaan kerja dibuat kagum. Lakshmi memberikan pertolongan pertama menangani luka dengan membalutnya dengan pembalut mahal yang ditolak dipakai istrinya.

Di tengah kebingungan, Laksmi tertolong kehadiran perempuan bernama Pari (Sonam Kapoor). Usai berhenti sebagai pembantu rumah tangga di rumah seorang professor, ia mencoba sendiri membuat mesin pembuat pembalut. Fase bekerja di rumah professor itu sendiri bagian dari ilham dari tekad kuatnya untuk terus belajar.

Dari rumah professor ia peroleh informasi dari Google mengenai mesin dan terbantukan dari anak professor ketika memesan bahan baku pembalut ke Amerika Serikat melalui saluran telepon umum yang, sesungguhnya bukanlah dari kapas melainkan serat selulosa.

Meski Lakshmi bisa disebut pengecualian dalam kultur patriarki, tetap saja superioritas lelaki yang selalu ingin menjadi pelindung bagi perempuan tetap ada dalam pikiriannya. Di hadapan professor ia berucap: “Bagaimana bisa seseorang disebut lelaki jika tidak mampu melindungi seorang perempuan.” Nyatanya, Lakshmi tak bisa menyelesaikan persoalannya sendiri dan membutuhkan bantuan.

Hadirlah Pari dalam kehidupannya. Pari merupakan anak perempuan seorang dosen di IIT Delhi. Di suatu malam selepas tampil dalam konser permainan tabla, instrumen musik gendang yang popular di India. Ketika Pari dan temannya mencari apotek untuk membeli pembalut, ia berjumpa dengan Lakshmi, lewat basa-basi, Lakshmi tahu kalau yang dibutuhkan perempuan itu adalah pembalut. Segera saja Lakshmi mengeluarkan benda itu dari saku celananya.

Bermula dari kejadian itulah hubungan Lakshmi dan Pari terjalin hingga Lakshmi menerima penghargaan khusus dari Presiden atas idenya menciptakan mesin pembuat pembalut dalam kontes inovator se India dan fotonya bersama Presiden termuat di koran. Kakak lelaki Gayatri yang membaca berita itu justru semakin heran. “Pembuat sampah malah mendapat penghargaan,” ketusnya.

“Jika Amerika Serikat punya Superman, Spiderman, dan Batman. Maka India punya Padman.” Ujar Presiden yang diperankan Amitabh Bachchan. Lakshmi adalah Padman itu. Mesin ciptaannya tidak hanya membebaskan perempuan miskin di India dalam kungkungan tradisi tetapi juga memerdekakan karena pembalut ciptaannya hanya seharga 2 Rupee.

Warga desa tempat Lakshmi menetap sementara juga dibuat terjebak dalam euforia yang tidak mereka pahami karena hanya membaca berita foto di halaman pertama dan tidak membaca berita penjelasannya di halaman berikutnya. Penghargaan yang diraih Lakshmi dikiranya bukan atas idenya menciptakan mesin pembuat pembalut. Pesta penyambutan berakhir menjadi penghakiman setelah Lakshmi menyerahkan pembalut kepada seorang perempuan. Sekali lagi, seorang lelaki tabu mencampuri urusan menstruasi perempuan.

Tribute

Film Padman merupakan adaptasi atas kiprah Arunachalam Muruganantham, wirausahawan sosial dari Coimbatore, Tamil Nadu. Dari mesin ciptaannya, ia mampu memberikan solusi atas praktik yang tidak higienis bagi perempuan di desa ketika sedang menstruasi.

India bukan hanya negara dengan penduduk terbanyak di dunia, tetapi juga kaya dengan tradisi dan pengetahuan simbolik. Warisan itu berpengaruh pada situasi kehidupan yang terus begerak. Konteks film bukan berada dalam fase waktu di masa lalu, melainkan sudah dalam zaman melenial.

Lakhsmi yang tak pernah menyentuh komputer di desanya tentu heran ketika anak professor membantunya mencari tahu serat selulosa di internet. Begitu mudahnya menemukan informasi tanpa perlu mendaftar di universitas. Padahal maksud Lakshmi bersedia menjadi pembantu di rumah professor supaya ia bisa mengajukan tanya kepada professor.

Tawaran professor supaya Lakshmi membeli mesin pembuat pembalut ditolak oleh Lakhsmi. Baginya, alat mahal itu bukan solusi yang sedang ia cari. Lewat mesin mahal itu, ia hanya mengambil poin pentingnya dan, ia merancang mesinnya sendiri.

Lakshmi membutuhkan teknologi tepat guna. Berbekal modal pinjaman dari usahanya memijat, ia terus belajar mengembangkan dan memungut inspirasi dari pengamatannya. Ketika hasil akhir pembalutnya sudah sesuai standar pembalut yang dijual di pasaran. Dapat menyerap dengan baik. Tibalah ia pada dilema dari inti masalahnya.

Gayatri gagap memahami upayanya, Lakshmi dianggap tidak berubah karena masih ngotot mengurusi menstruasi. Kita kemudian dihadapkan pada bentuk emansipasi. Siapa yang membutuhkan siapa. Apakah lelaki yang terjebak dalam mitos untuk selalu melindungi ataukah ia membutuhkan perempuan sebagai parner dalam memecahkan masalah.

Persisnya memang di situ. Pari menolak melanjutkan wawancara untuk kariernya karea Lakshmi meneleponnya. Ia tahu kalau Lakshmi yang semula menolak idenya untuk mematenkan mesin temuannya itu membutuhkannya. Penjelasan Pari kalau dari 500 juta perempuan di India haya 12 persen yang menggunakan pembalut. Pari sudah menangkap keuntungan finansial jika Lakshmi megembangkan temuannya untuk produski massal dan bukan semata pulang ke desanya dan membuat pembalut untuk istri dan keluarganya saja.

Dimulailah fase selanjutnya, Pari berinisiatif memasarkannya dengan mengetuk pintu-pintu rumah warga di desa menawarkan pembalut. Hasilnya berjalan lancar dan kemudian menjadi kekuatan ekonomi pemberdayaan warga. Ibu-ibu di desa mulai berani terbuka kemudian belajar membuat pembalut dan menjualnya.

Selanjutnya, karena pembalut maka lahirlah konspirasi saling berdaya dan Lakshmi dapat diterima kembali di desa, dapat berkumpul dengan keluarga dan istri. Hanya saja, ada yang absen dijabarkan Lakshmi di hadapan Pari dan ayahnya, juga dengan professor. Tak sekalipun Lakshmi menceritakan pada Pari, misalnya, soal ia diusir dari desa – berpisah dengan istri karena upayanya mengenalkan pembalut yang dianggap merusak tradisi. Bukankah atas dasar itu semua Lakshmi terobsesi membuat pembalut.

Jika di hadapan forum PBB ketika Lakshmi diundang berpidato tidak menceritakan itu bisalah dianggap wajar karena itu komunikasi publik. Namun, bagaimana mungkin Lakshmi lupa mengisahkan pangkal masalahnya pada Pari dan malah, hampir terjebak dalam situasi yang lebih pelik andai Pari tidak dewasa menghadapi situasi.

Lakshmi memendamnya ketika berpisah di bandara. Ia tetap memilih pulang ke desanya setelah memulihkan derajatnya.
_



Rantau

Merantau
Repro. Kamar Bawah. Sumber gambar di sini

# 1

Meninggalkan tempat yang sudah menjadi hasil kreasi sendiri, harus kuakui teramat sulit. Di suatu tempat yang, orang sepakat menyebutnya kota. Sebenarnya kota itu diperuntukkan bagi siapa saja yang mau menghuninya. Tetapi, sejak meminta tuntutan, maka, ya, sudahlah.

Hingga akhirnya kuakui juga, kalau kota itu segera kutinggalkan, harus kuakui pula kalau alasan utamanya terkait situasi ekonomi dan alasan-alasan lain yang tak kalah ruwetnya untuk kuhadapi. Saya sudah kalah, tetapi saya melewatinya dalam kompetisi yang ketat. Kekalahan ini mengatakan kalau saya bukan pecundang.

Selanjutnya telah kusiapkan kembali sejumlah amunisi yang kucuri dari gudang musuh yang pernah menaklukkanku. Saya masih ingat betul situasi kekalahanku yang terakhir. Di sebuah bangunan yang bernama sekolah, di tempat itulah saya tak kuat bernafas lalu pingsan. Saat tersadar, tubuhku sudah terbaring lemah di luar pagar.

# 2

Terkadang saya tak mampu membangunkan diri sendiri di kamar bawah di kolong rumah. Banyak mengeluarkan kata-kata tak juga membuatku pergi jauh dari tempat yang menyedihkan ini. bahkan dalam mimpi sekalipun saya sulit tersenyum. Jangan tanya soal rumah yang bisa disinggahi untuk memasak.

Sampai di sini, sebisa mungkin saya berusaha untuk kembali bersama teman-teman menuntaskan agenda yang pernah direncanakan. Terutama sebuah rumah yang diperuntukkan bagi siapa saja yang datang ke kota. Jika ini keluh kesah yang sangat jarang ditampilkan, akan kuminta saran dari orang-orang yang setiap harinya bergelut di bawah terik matahari.

Teramat banyak memang yang harus dijawab di bawah kendali pikiran. Kurindu Tuhan membunuh dunia lama ini, sudah sangat tua untuk menampung orang-orang. Lalu kuinginkan Tuhan mencipta dunia baru di mana saya dan semua orang yang butuh kedamaian hidup di dalamnya.

# 3

Saya mengundurkan diri dari pekerjaan yang sangat menyita waktu. Dari segi upah, saya sungguh memerlukan itu. Tetapi harus kupilih sesuatu yang lengkap sampai jauh ke depan. Bukan apa-apa, sebenarnya saya suka dengan pekerjaan itu. Namun, kelihatannya saya berdusta pada jalur yang telah kupilih. Merdeka seluas-luasnya adalah keinginan kecilku di masa akan datang dan bisa menjelajah ke tempat yang sulit dideteksi.

Kesulitan memastikan batas umur untuk tetap berjalan, usia di atas 60-an, harusnya sudah beristirahat dari sebuah perjalanan yang sangat berarti kemudian mati meninggalkan nama yang ditandai munculnya era baru dalam memandang.

Pergaulanku saya kira sudah lintas batas yang terbatas jika dibaca dari caraku menjelaskan. Di kampung, saya diingat sebagai anak bandel, akan selalu diingat oleh para orang tua sebagai contoh anak yang tidak layak diikuti. Mereka selalu mengingatku serta mengulang-ulang tingkah lakuku, gaya bicaraku, dan menceritakan caraku melompat pagar untuk mencuri buah manga atau pisang.

# 4      

Saya tidak mau bilang kalau takdirlah yang membuatku menjalani rutinitas sekolah tingkat atas di kota. Lebih tepat, saya sendiri yang mencoba berontak pada keluarga, kalau saya membenci sekolah di desa. Lebih tepatnya lagi, saya benci berpisah dengan teman akrabku.

Sebenarnya, saat SMP saya sering jalan dengan tiga orang teman. Di akhir pelulusan sekolah, kami sepakat akan lanjut ke sekolah tingkat atas yang sama. Harapan itu kemudian buyar di saat pengumuman siswa yang diterima dari kami berempat hanya satu yang lolos kategori karena standar NEM (Nilai Ebtanas Murni) yang berlaku saat itu.

Sebenarnya lagi, nilai teman saya itu sama sekali tidak murni. Saya tidak bisa melupakan situasi saat ujian akhir, nilai teman yang lulus kategori itu didapat dari hasil menyontek. Namun anehnya, nilai kami berempat berbeda. Padahal semua jawaban sama dan mustahil bisa mengubahnya karena di antara kami selalu was-was dengan jawaban itu (tepatnya tidak yakin). Seteliti mungkin jawaban kami periksa kembali dan, yang terpenting memastikan tidak ada jawaban yang berbeda sebelum dikumpul ke pengawas.

Sejumlah alasan inilah yang membuatku harus sekolah di kota, tetapi persahabatan kami tetap baik-baik saja sampai catatan ingatan ini saya tuliskan kembali.

Tiga tahun bersekolah di kota, tahun pertama saya cukup pintar karena saya rajin mencatat seluruh ocehan guru dan kembali berprestasi dari kompetisi ujian. Tetapi tidak bertahan lama. Memasuki tahun ke dua, sebutan anak bandel kembali kusandang. Bahkan gelar anak bandel di kota jauh lebih sadis dibanding di desa. Saya terkenal di sekolah sebagai murid pembangkang, tetapi saya kira sebutan itu selalu dirindukan pada setiap orang yang selalu berusaha menentang ketidakadilan. Jujur saja, saya bangga dengan pelabelan itu.

Jika dibandingkan lagi dengan di desa, di kota saya cukup taat terhadap peraturan sekolah. Saya tak pernah merokok selama dua tahun. Rambutku selalu rapi model gaya cukur tentara. Saya pun selalu tampil sebagai pembaca Undang-Undang Dasar (UUD) 45 pada upacara bendera saban Senin. Jelas guru selalu kebingungan, karena semua aturan selalu kuturuti. Mungkin di tiap sudut tembok sekolah mesti dipasang papan pengumuman bertuliskan: DILARANG BANYAK BERTANYA.

Sepenggal kisah dari desa ke kota, begitulah selanjutnya. Di kota, saya mulai dikenal dan mengenal diriku sendiri. Lalu saya mulai pergi ke kota-kota lainnya. Di sini dekat sekali keberadaanku akan harapan yang belum muncul.

Minggu terakhir sebelum saya berangkat ke kota yang baru [1]. Kota itu berada di bagian Timur Indonesia, seorang teman yang berasal dari sana sudah bicara banyak padaku mulai dari suku-suku dan perilakunya. Ia pun berencana segera pulang untuk meredam alur konflik. Mimpinya itu saya dukung sepenuhhnya.

Pada suatu siang, saya mengunjungi teman-teman yang mendapat izin lanjut kuliah oleh keadaan. Teman-teman itu selalu saja kupergoki sedang berpidato di selah-selah kuliahnya yang sebenarnya tidak wajib dan penting. Ia masih mengajakku menerbitkan majalah bulanan khusus buat pelajar SMP dan SMU yang merupakan agen transisi ke dunia akademik dan ke masyarakat. Karena tidak semua lulusan pelajar ini dapat melanjutkan ke tingkat berikutnya. Kalau tidak lanjut, pasti berbaur di tengah masyarakat. Dan, yang pasti sebelum kota ini kutinggalkan, saya masih meluangkan waktu ke toko buku walau sekadar melihat-lihat saja.

Di pekan terakhir keberangkatanku, saya juga pulang ke kampung. Jalan sama teman-teman sebayaku. Utamanya tiga orang sahabat yang saya ceritakan sebelumnya [2]. Saya berbohong padanya tentang keinginan membangun rumah dan menikah dengan perempuan di kampung.

Malam harinya, saya menyempatkan membaca buku yang sudah kutata dengan rapi di rak. Saya rindu suasana seperti ini. Awalnya saya tak ingin diketahui oleh teman-teman di kampung kalau di malam-malam yang panjang saya selalu berkelahi dengan buku-buku. Tetapi akhirnya mereka tahu juga karena saya sering telat bangun.

# 5

Hal wajar yang selalu datang pada anak muda, keinginan segera menaklukkan seorang dara sebagai bukti kedewasaan. Sejauh ini saya belum dewasa untuk urusan itu. Tiap perempuan yang kuakrabi selalu saja lupa memberinya bunga. Malah bukulah yang sering kuhadiahkan. Atau secarik surat panjang berkisar empat hingga tujuh halaman kwarto. Jujur saja, isi surat itu bukan pujian atas dirinya, melainkan caraku bereksperimen dalam menulis. Karena dua hari setelah surat itu kuberi. Saya meneleponnya untuk menanyakan tanggapannya. Dan, 100% ia tak yakin kalau isi surat itu adalah caraku mengungkapkan perasaan.

Ini lebih mirip usaha pelarian diri yang tak sanggup kujawab. Saya tak puas untuk sementara. Banyak sekali perjalanan-perjalanan yang ingin segera kutulis, tetapi saya sendiri tak begitu yakin untuk mempertanggungjawabkannya secara lisan di hadapan para petarung-petarung tangguh. Namun, yang penting sekarang ini, catatan yang kubuat sebagai suatu laporan saja pada kontrak wacana, dan itu pilihan sekaligus proses. Saya tak pernah cemas akan dampaknya karena sudah kuketahui sebelumnya. Semua ini bukan keluh kesah atau usaha pengunduran diri. Hidupku kuinginkan berarti lalu matiku lebih berarti.

Kembali sisa waktu saya berangkat. Kusiapkan apa saja yang perlu. Baju secukupnya, buku, dan harapan yang baru. Kalau saya tetap berkeinginan menerbitkan panduan agar tidak tersesat di kota.

Masih di kampung. Tempat terakhir saya singgahi. Di sini terasa sejuk, kusempatkan sebagai istirahat yang baik. Kusimpan serangkaian kegiatan membaca lalu kusempatkan menonton sinetron, iklan produk terbaru, kuis, reality show, gosip, dan beberapa program lain dari sejumlah saluran televisi yang selalu beroperasi 24 jam. Senang saja menyaksikan acara-acara itu yang selama ini saya hanya diceritakan oleh teman. Semua itu cuma sebentar. Cepat atau lambat (biasanya cepat). Saya tidak bosan melainkan jenuh karena semua tontonan itu bukan kebutuhanku.

Kusiapkan sendiri agenda perjalanan dan sengaja tidak mengajak teman. Kupikir menambah masalah baru baginya. Cukup mereka punya waktu tidur enam jam sehari dan semoga tidak ada mimpi buruk yang menganggu.

Saat kutulis catatan busuk ini, kuharap warung tanpa papan nama di sudut lorong milik Mbak Yu [3] tidak ikut-ikutan menaikkan harga menu jualannya. Kasihan para burung yang selalu singgah di sana, termasuk saya. Rencananya, sebelum berangkat. Saya akan akan ke Makassar untuk meneraktir teman-teman yang jumlahnya sudah tidak banyak. Sebagian telah pergi terlebih dahulu mencari tempat yang teduh dan asik untuk berfikir.

# 6

Saya ingin pergi dan tidak mau melupakan tanah kelahiran dan juga  tetangga. Peta sudah di tangan. Saya akan membawa secarik puisi Paz, novel Cantik Itu Luka dari Eka Kurniawan, dan gulungan poster Ali Syariati.

Sekiranya kepergianku ke suatu tempat yang, sebagian orang bilang tempat untuk mengumpulkan uang banyak. Karena potensi untuk menjadi penimbun modal sangat terbuka lebar. Saya sedih bila mendengar ucapan seperti itu. Masyarakat di Papua masih didefinisikan sebagai yang terbelakang di negeri ini.

Kawan yang lain bilang: “Orang-orang di parlemen itu sudah tua, dan sebentar lagi pensiun kalau tidak mendadak mati. Kita yang mudah inilah yang sudah cerewet yang akan menggantikannya. Jadi santai saja, pemilu berikutnya kita mencalonkan diri jadi wakil rakyat. Gampang, kan!”

Ia berhenti sejenak, dan kami yang mendengarkannya mengangguk-ngangguk saja terbawa arus retorikanya. Sesaat kemudian ia melanjutkan pidatonya sebelum pergi. “Soekarno saja yang memproklamirkan Indonesia dikudeta sebelum pensiun.”

Seperti itu saya sedih. Tetapi tetap harus berangkat untuk mencari tempat bertahan dan membangun rumah bagi orang-orang yang selalu merumuskan solusi yang tentunya bukan untuk penyelamatan dirinya sendiri. Tepatnya, menyekolahkan masyarakat agar mampu membaca dunia di sekitarnya dengan segala permasalahannya yang tak cukup dengan anggukan kepala saja karena terpaksa atau terhipnotis oleh indahnya makna kata yang terucap tetapi tidak dipahami.

Saat ini, kita dan masyarakat masih sangat lapar. Sehingga siapa yang dapat giliran selaku tuan presiden, tidak peduli sama sekali.

Kita butuh pementasan kehidupan sosial tanpa sekat, mulai dari dalam rumah, menyapa orang di jalan, membantu tetangga, menghormati perbedaan, pendidikan merata dan murah bagi rakyat (wajibnya gratis), dan terserah kawan pembaca yang perlu ditambahkan untuk transformasi hidup agar tidak muluk-muluk.

_

*Catatan ini ditulis pada 19 Desember 2004, menjelang merantau ke Sorong, Papua Barat.




[1] Hari-hari terakhir sebelum saya berangkat ke Sorong, Papua Barat. Saya menuntaskan catatan ini.
[2] Teman SMP saya, Idris, Herman, dan Dedy
[3] Kami memanggilnya demikian, seorang tua tanpa anak yang menolak pulang di kampungya di Jawa. Ia mengontrak petak rumah dan menjual nasi di jalan Kakatua, Makassar. Warungnya menjadi pilihan utama bagi para mahasiswa dan tukang becak karena murah.  Kini sudah berhenti dan memilih menetap di Gowa. Saya tidak tahu dengan siapa ia tinggal di sana 


Tidak Ada Toilet Tidak Ada Pernikahan

Akshay Kumar dan Bhumi Pednekar
Repro. Kamar Bawah. Sumber gambar di sini

“Toilets before temples”, slogan radikal dari mulut Perdana Menteri India, Narendra Modi. Ia hendak mendahului target PBB satu dekade lebih awal yang dicanangkan di tahun 2030 agar masyarakat tidak lagi buang hajat di tempat terbuka.

Target Modi di tahun 2019, bahkan menetapkan tenggat rinci: sebelum 2 September 2019, hari peringatan 150 tahun Mahatma Gandhi digelar. 530 Triliun dana dialokasikan guna menunjang program Bharat Abhiyan (Misi India Bersih). Data BAB di India hasil pemantauan bersama WHO, UNICEF, dan RICE (Research Institute for Compassionate Economics) menyebutkan angka 569 juta orang masih BAB di alam terbuka.

Mengapa di India yang tingkat melek aksaranya lebih tinggi ketimbang di Indonesia justru masih terbelakang soal buang air besar (BAB). Lalu mengapa Modi mengaitkan toilet dengan kuil. Kajian Elizabeth Royte yang dimuat di National Geographic Indonesia edisi Agustus 2017 membantu menelaah kompleksitas itu.

Royte menukil program penelitian yang dilakukan RICE dalam mempelajari situasi kesehatan masyarakat miskin di India. Hasilnya disimpulkan kedalam tiga kata kunci: kesucian, polusi, dan kasta.

Kepercayaan masyarakat di India menganggap kalau tinja harus dijauhkan dari rumah. Itulah mengapa rumah penduduk yang memegang nilai ini tidak dilengkapi toilet. Tinja akan menodai kesucian rumah dan menjadi polusi. Kepercayaan ini ditopang tradisi turun temurun dan pemahaman tekstual atas kitab suci.

Perkembangan toilet yang kini memiliki kloset dan disiram sehingga bau tinja tidak tercium merupakan wujud mutakhir dari model toilet berupa lubang yang tidak disiram. Baunya pastilah menyengat. Masyarakat yang berkasta tinggi menjadikan itu sebagai beban karena tidak ingin menjadikan mengeruk lubang tinja sebagai pekerjaan. Mereka malu jika harus melakukan pekerjaan itu karena dianggap sederajat dengan kaum Dalit, kasta terendah di India.

Lalu mengapa hingga sekarang buang tinja di tempat terbuka masih terjadi ketika teknologi toilet sudah semakin canggih. Jawabannya kembali pada tiga kata kunci tadi. Dalam film Toilet, arahan sutradara Shree Narayan Singh, produksi 2017 dan dibintangi Akshay Kumar, Anupam Kher, dan Bhumi Pednekar menarasikan konflik itu.

Keshav (Akshay Kumar) dan Jaya (Bhumi Pednekar) sepasang suami istri yang baru saja menikah dan harus berjuang melawan tradisi buang tinja di tempat terbuka ketika Keshav membawa istri ke rumahnya untuk tinggal.

Ayah Keshav yang memegang tradisi lama mengharamkan adanya toilet di dalam rumah termasuk di halaman. Hal ini tentu melahirkan konflik bagi Keshav yang ingin bertindak sebaliknya mengingat Jaya sudah terbiasa dengan toilet.

Menjelang fajar, warga sudah bangun dan membawa lota, sebutan tempat yang diisi air untuk dipakai mencuci dubur usai buang tinja. Pada satu adegan, rombongan ibu-ibu mengetuk jendela kamar Keshav dan mengingatkan istrinya untuk segera berjalan ke semak dekat ladang warga yang berjarak beberapa meter di luar desa untuk buang tinja.

Tidak ada pilihan bagi Jaya untuk melakoni buang tinja di tempat terbuka. Meski itu sangat menyiksa, ia bahkan kesorot lampu sepeda motor ayah mertuanya ketika melintas di jalanan. Kejadian itu membuat ayah mertuanya terjatuh dan Jaya tentu saja malu. Atas kejadian itu Jaya mulai berani melawan. Ia sengaja mengempaskan perlengkapan dapur ke lantai yang membuat ayah mertuanya merengut. Meski riak itu tidak mengubah apa-apa.

Perjuangan Keshav semakin berat karena istrinya tidak betah. Tradisi di desanya menjadi sandungan. Ia bahkan harus mengajak istrinya menggunakan toilet kereta api yang transit. Sungguh peristiwa yang heroik sekaligus komikal demi mempertahankan hubungan. Keshav tentu tidak ingin berpisah dengan istri atau pun berkonflik dengan ayahnya sendiri hanya karena toilet.

Keshav lalu berinisiatif membuat toilet di halaman rumahnya dan segera mendapat perlawanan dari ayah, nenek, dan tetua desa. Jaya dimintai keterangan dalam forum desa yang menganggap perbuatannya telah melawan tradisi.

Di prolog film Toilet mengulang kampanye Modi tentang target yang dicanangkan untuk bebas dari buang air besar di tempat terbuka sebelum perayaan 150 tahun Gandhi. Kampanye pemerintah India rupanya memang menjadikan film sebagai medium.

Pembangunan toilet umum di kawasan padat penduduk di perkotaan dan menyasar ke pedesaan telah dilakukan. Keshav terpengarah ketika bertandang ke kantor pemerintah setempat. Oleh pihak pemerintah, Keshav mendapat keterangan kalau usaha membangun toilet telah dilakukan. Sejumlah toilet yang dibangun malah dijadikan warga sebagai tempat untuk membuka usaha.

Upaya film ini mengampanyekan tentang pentingnya toilet berbanding terbalik dengan usaha yang dilakukan lembaga nirlaba yang bekerja di India. Selain RICE dengan metodologi penelitian kesehatannya di kantong kemiskinan. Aktivis dari LSM Santhosi Tiwari dalam laporan Royte menyajikan pendidikan berbasis lapangan. Warga diajak langsung ke ladang yang dijadikan toilet terbuka guna mengenalkan dampak bagi kesehatan yang diakibatkan tinja. Selain itu, kerja sejumlah LSM terlibat langsung dalam pembangunan saluran pembuangan kotoran.

Analisis Royte menemukan pengakuan unik kalau BAB di tempat terbuka itu sebagai relaksasi dari kungkungan rumah tangga. Perempuan muda atau ibu-ibu dapat menyalurkan penat dan berbagi kisah sambil buang tinja. Hal ini tentu terdengar aneh karena buang tinja bersama menjadi ajang berbagi cerita.
_

Ketika Jaya meninggalkan rumah mertuanya termuat di koran lokal lantas menjadi aib bagi keluarga Keshav. Neneknya datang ke rumah Jaya bermaksud mengutarakan keberatan pada orang tua Jaya dan mendapat perlawanan dari Jaya sendiri. Ibu-ibu yang melintas hendak membuang hajat turut menjadi sasaran kemarahan Jaya. Ia menyemburkan protes melihat ketidakberdayaan kaum perempuan yang ditindas budaya patriarki.

Fokus film ini memang bukan pada panduan praktis dan pendidikan tentang tata cara membuat dan mengenalkan fungsi toilet bagi kesehatan sebagaimana yang dilakukan sejumlah LSM dalam laporan Royte. Model edukasinya menyasar pada perlawanan budaya dan dogma agama yang teramat sulit diubah.

“…kita terjebak dalam paham buta agama…” teriak Kesvav di hadapan ayah, nenek, dan kepala desa dan disaksikan kerumunan warga setelah ia mendapati toilet yang dibangunnya dihancurkan oleh orang suruhan ayahnya.

Kesadaran menerima pentingnya toilet baru dirasakan ketika neneknya Keshav terjatuh di depan pintu ketika ingin pergi buang hajat. Ayah Keshav yang mendengar teriakan ibunya itu sontak terbangun.

Menghadapi situasi pelik, ayah Keshav tak bisa lagi mengambil keputusan (mempertahankan nilai yag dianutnya) untuk tidak membawa ibunya menuju toilet yang telah ia hancurkan. Ibunya sendiri yang meminta ke sana karena tak bisa lagi menahan tinja yang ingin keluar dan rasa sakit mendera.

Protes Jaya di hadapan ibu-ibu juga menyuntikkan semangat untuk melawan. Terlebih ketika Jaya dan Keshav tampil di layar kaca mengutarakan protes mereka. Metode itu bagian dari advokasi yang mereka bangun. Sebelumnya, Keshav yang dibantu adiknya dan seorang warga, termasuk Jaya sendiri saling mendukung melengkapi laporan untuk diserahkan ke pengacara sebagai gugatan ke kelompok masyarakat yang menentang adanya toilet di desa mereka.

Pengadilan ramai karena tuntutan ingin bercerai jika para suami mereka tidak membangun toilet. Keshav dan Jaya ada di keramaian itu dengan tujuan serupa. Mereka sepakat bercerai. “Tidak ada toilet, tidak ada pernikahan.” Ujar Keshav. Ia bersedia bercerai bukan atas dasar tidak lagi mencintai Jaya, melainkan protes kepada tradisi, pemerintah, dan ayahnya.

“Siapa yang bertanggung jawab atas perceraian ini. Apakah pemerintah atau tradisi?” Tanya reporter kepada Jaya.

“Para perempuan yang kembali buang tinja di tempat terbuka,” tegas Jaya

Gelombang perceraian massal sampai juga di telinga Perdana Menteri melalui layar kaca. Setelah mendapat penjelasan diplomatis dari ajudannya, ia lalu memerintahkan untuk mengunci toilet di instansi pemerintah. Itu bagian dari efek jera bagi pemerintah yang tak kunjung merealisasikan program toilet umum di kawasan padat penduduk dan pembangunan toilet di desa. Penjelesan yang didapatkan Keshav ketika ke kantor pemerintah setempat rupanya ada permainan birokrasi di sana sehingga realisasi pengerjaan toilet umum mandek.

Keshav mengamini penjelasan pihak pemerintah kalau masyarakat berandil menghambat proyek pemerintah sekaligus pemerintah punya peran yang tidak dilanjutkan karena hanya bisa membangun tetapi lalai memberikan pendidikan ke masyarkat.

_



Kepala Bierhoff Pelatuk atau Bola itu Sendiri

Gol Bierhoff Piala Eropa 1996
Repro. Kamar Bawah. Sumber gambar di sini

DI satu pertandingan Seri A Italia. Saya lupa tahun berapa, namun, kira-kira di kisaran tahun 1999 atau 2000. Persisnya AC Milan berlaga dengan Internationale Milan. Federico Giunti, gelandang AC Milan yang menggunakan nomor punggung 21, melepas umpan dan disambut sundulan berujung gol oleh pemain depan AC Milan bernomor punggung 20, Oliver Bierhoff.

Perawakan Bierhoff menyerupai salah satu personil boy band asal AS, New Kids On The Block, Joey Mc Intyre atau seorang serdadu dengan potongan rambutnya yang memang pas. Ketika Jerman bersua Yugoslavia di Piala Dunia 1998, Tim Panser hampir saja dipermalukan oleh tim nasional yang negaranya sudah bubar itu. Sundulan Bierhoff berbuah gol sehingga pertandingan berakhir imbang 2-2.

Jerman ke Piala Dunia 1998 yang dimenangi Perancis untuk kali pertama, berstatus sebagai juara Piala Eropa tahun 1996. Jurgen Klinsmann, kapten Jerman, tidak akan mengangkat trofi Henry Delaunay andai tandukan Bierhoff tidak menyamakan kedudkan 1-1 sebelum tendangan kaki kirinya berbuah gol emas yang artinya, kemenangan di pihak Jerman dan mengubur impian Ceko menjuarai turnamen.

Berti Vogts, pelatih Jerman yang dibenci publik Jerman akibat kegagalan demi kegagalan menahkodai timnas Jerman yang tak kunjung juara, malah mendepak dua ikon tim, Lothar Matthaus dan Stefan Effenberg di perhelatan antar timnas se Eropa  yang digelar Inggris saat itu. Di sepanjang turnamen, Bierhoff penghuni setia bangku cadangan. Ia tak mungkin menggeser Klinsmann selaku ujung tombak.

Di babak penyisihan, Jerman tampil perkasa tanpa kebobolan, Ceko dilumat 2-0, Rusia dilibas 3-0. Hanya Italia, tim yang difavoritkan juara karena dibesut Arrigo Sacchi dan diisi pemain bintang di semua lini, berhasil ditahan imbang 0-0. Bierhoff tak punya peran berarti di fase grup. Vogst memang keras kepala, Klinsmann dipaksa bermain dengan kondisi tidak fit.

Di partai final, Jerman tertinggal lebih dulu lewat tendangn penaliti Patrick Berger, kelak diingat sebagai legenda Liverpool. Itu ulah Matthias Sammer, oleh Vogst dipasang sebagai pengganti Matthaus, Sammer kolaps menghentikan pergerakan Karel Poborsky di area gawang. Dan, pilihan purba seorang bek, adalah menjatuhkan pemain yang coba memorandakan kamar pertahanan walau harus berbuah hukuman tendangan dua belas pas.

Pemilihan Bierhoff yang diturunkan Vogts di laga puncak, kemudian hari mengingatkan kita pada keputusan Fernando Santos menurunkan Ederzito Antonio Macedo Lopes alias Eder yang tampil sebagai penentu akhir pertandingan Portugal melawan Perancis di final Piala Eropa 2016. Bierhoff di tahun itu bukanlah siapa-siapa. Hanya penggenap kuota tim, jika tidak ingin menyebutnya pemain yang ditakdirkan duduk berseragam di bangku cadangan.

Menyaksikan kompilasi video di YouTube kiprah Bierhoff selama aktif bermain di Seri A Italia, kepalanya memang lebih banyak mencipta gol ketimbang kedua kakinya. Jauh sebelum Mario Mandzukic dikenal sebagai pemain yang menyepak bola dengan kepalanya, kita sudah menyaksikan spesialis penanduk bola pada diri Bieorhoff.

Sekilas, jika diperhatikan saksama, cara Bierhoff menyundul bola bukanlah hasil usaha sebagaimana upaya terbang Robien van Versie di penyisihan grup Piala Dunia 2014 saat memperdaya Iker Casillas. Bierhoff biasa-biasa saja. Saya mulai ragu sendiri kalau kepala Bierhoff bukanlah pelatuk senjata yang melontarkan peluru begitu lesat.

Meski memang, ketika melihat bola ditendang melayang menuju mulut gawang, sejauh usaha bek menghadang, semuanya adalah kehampaan, kepala Bierhoff tetap saja menyentuh bola. Ataukah, bola itulah yang mencari kepala Bierhoff. Atau, bisa pula, itu ulah para gelandang yang sesungguhnya tidak bermaksud memberi umpan tetapi sengaja menghajar kepala Bierhoff dengan bola. Atau, jangan-jangan, kepala Bierhoff adalah bola itu sendiri.

Perhatikan lagi gesturnya dan bandingkan dengan usaha Crsitiano Ronaldo, misalnya, menyundul bola. Ketika CR7 melompat menyambut bola, kekuatan kedua kakinya berpindah ke batang lehernya. Demikian halnya dengan tandukan penyelamatan yang sering dilakukan Sergio Ramos.

Beberapa, jika tak ingin dikatakan semuanya, sundulan Bierhoff sungguh lain. Kehadirannya di AC Milan dan di sejumlah klub yang pernah dibelanya mengubah pola serangan. Kedua kaki Bierhoff serasa digunakan mengenakan sepatu saja, berlari, dan, pijakan melompat. Andai, ia pernah satu klub dengan David Beckham, maka tugas gelandang hanya satu: melayangkan bola ke udara dan biarkan Bierhoff bekerja sendiri.

Umpan terukur Beckham sudah menjadi jaminan. Zidane saja harus tunduk membiarkan kepala botaknya menyundul bola kiriman Beckham jika tidak ingin membuang peluang mencipta gol. Tetapi, para gelandang di belakang Bierhoff sudah paham. Kepala Bierhoff di saat tertentu adalah pelatuk dan menjadi bola itu sendiri di kesempatan lain.
_

*Ditulis untuk mengenang kembali kiprah Oliver Bierhoff.
Pernah dimuat di saraung.com edisi 28 Januari 2017



Memanjat Tembok Stadion dan Lembaran Ingatan Perihal PSM

Stadion PSM
Repro. Kamar Bawah. Sumber gambar di sini


“Inimi stadion Mattoanging, kandang PSM,”
_

UCAPAN seorang teman yang saya kutipkan di atas di tahun 2002 silam masih berdengung. Tahun ketika masih mengenakan seragam putih abu-abu dari Senin hingga Sabtu. Melanjutkan sekolah menengah atas di kota Makassar rupanya menjadi jembatan ke stadion.

Semula saya tidak tahu kalau jarak dari sekolah ke stadion hanyalah beberapa ratus meter. Dua minggu memasuki masa sekolah selaku siswa baru, tibalah waktunya pelajaran olahraga yang minggu sebelumnya berupa teori. Di minggu keduanya kami praktik di lapangan.

Guru olahraga mendampingi kami berjalan ke luar meninggalkan gedung sekolah dan menyeberang jalan. Teman-teman pada berlari dan saya tetap berjalan. Tak lama kemudian tibalah kami di area bangunan bertembok kokoh setinggi, kira-kira, dua meteran, saya belum sadar juga kalau itulah stadion kalau saja teman saya tidak mengucapkan kalimat di awal catatan ini. Ya, Tuhan, dasar orang kampung. Saya lalu berlari kecil menatap tembok saking takjubnya. Dan, tak sadar telah mengelilingi stadion.

Tahun-tahun sebelumnya, stadion Mattoanging, nama yang dipakai sebelum berganti nama menjadi Andi Mattalata, hanya sering didengar dari orang-orang tertentu di kampung yang bertandang ke stadion menyaksikan laga PSM. Menonton di stadion di tahun itu masihlah elitis. Pesawat radio adalah solusi mujarab jika tak ingin ketinggalan laga PSM.

Di tahun 2002 pula, PSM ditunjuk sebagai tuan rumah perhelatan Perempat Final Liga Champion Asia dimana klub dari Jepang, China, Korea Selatan berlaga di stadion Mattoanging. Nah, di laga melawan klub dari Korea Selatan, sayang, saya lupa nama klubnya, kesempatan menyaksikan langsung laga PSM terpenuhi.

Oleh teman sekolah yang tinggal dekat stadion sudah memberikan jaminan menonton. Saya percaya saja meski tidak yakin kalau teman itu tidak mampu membeli tiket. Di sisa sore kami sudah berdiri di luar pagar. Karena dia dikenal oleh salah satu petugas penjaga pintu masuk, kami dibiarkan melenggang. Tetapi, itu belum masuk ke dalam stadion. Kami masih di luar ketika pertandingan tengah berlangsung hingga babak pertama usai.

Tentu saja saya dongkol. Ini jaminan apa. Tahu begini, mending mendenngarnya di radio saja. Di luar stadion, kami hanya mendengar gemuruh suara penonton. Menjelang babak kedua usai, sejumlah penonton senasib dengan kami mulai berlarian menuju tembok stadion. Mereka bahu membahu meloloskan seorang agar mencapai puncak tembok. Selanjutnya, jika orang itu berhasil dan berdiri bebas di tribun terbuka, dia akan menjulurkan seutas tali tambang yang memudahkan orang selanjutnya. Begitulah.

“Ayomi, tunggu apa lagi,” ucap teman yang menjanjikan jaminan itu. Petugas yang melihat aksi kami dan mereka-mereka memanjat tembok stadion sudah tidak peduli. Malah menyemangati supaya tidak melewatkan sisa pertandingan yang beberapa menit lagi semprit wasit bakal membuyarkan impian para penonton bermodal tali tambang.

Pada akhirnya, saya berhasil juga melewati rintangan. Sekujur tubuh dilumuri keringat. Ada lecet di dengkul dan di ujung jempol kaki. Ya, Tuhan, inikah jalan terjal yang harus dilalui menyaksikan kali pertama laga PSM. Tim kebanggaan Sulawesi Selatan yang bertahun-tahun hanya saya saksikan tak ubahnya mendengar sandiwara silat di radio.

Tahun itu, PSM diperkuat sejumlah pemain yang menjadi infrastruktur tim nasional Indonesia yang mengantar PSM merebut juara Liga Indonesia di tahun 2000. Laga final saya saksikan di layar kaca karena disiarkan langsung dari stadion Gelora Bung Karno. Kurniawan Dwi Yulianto menyarangkan dua gol dan sebiji dari penyerang gaek Rachman Usman untuk memastikan kemenangan dengan skor 3-2 melawan Pupuk Kaltim (kini Bontang FC).

Dan, malam itu, rasanya sukar dijabarkan. Beginikah rasanya dalam kerumunan manusia menyaksikan pertandingan sepakbola di stadion. Penguasa lapangan tengah PSM, Bima Sakti, pemain yang selalu diceritakan oleh salah satu pemain di tim desa saya akhirnya kulihat langsung. Begitu juga dengan bek kiri yang mengingatkan pada Roberto Carlos, Aji Santoso. Hendro Kartiko yang terbang menghalau tendangan lawan serta aksi pemain lokal yang tak kalah gesitnya, Ali Baba dan Syamsuddin Batola.

Saya bukan penggemar garis keras PSM yang tergabung dalam satu kelompok suporter jika harus diukur seperti itu. Namun, sebagai warga Sulawesi Selatan, PSM barang tentu tim yang perlu saya dukung walau jarang ke stadion. Di perhelatan Piala Presiden tahun 2015, hanya sekali saja menyaksikannya di stadion Andi Mattalata, sisanya, memilih menonton di layar kaca.
_

PADA 2 Novemner tahun 2016, PSM sudah mencapai usia ke 101. Semangat ini menjadi sehimpun semangat untuk memuncaki Liga 1 Gojek Traveloka di Indonesia, nama gres kompetisi resmi setelah sebelumnya vakum. Di website resmi PSM, tagline 101 Harus Juara digelorakan.

Melihat materi pemain, dan utamanya pola permainan pada pertandingan perdana di Piala Presiden tahun 2017 yang berlangsung pada 6 Februari, meski kalah 1-0 dari Persib Bandung, ada semacam petunjuk kalau PSM siap bertarung dengan permainan terbuka.

Distribusi bola dari bek ke gelandang dan selanjutnya ke penyerang terlihat rapi. Hanya memang, presing di lapangan tengah memutus aliran bola, Rasyid Bakrie kewalahan mengembangkan jelajah. Hal demikian bukan masalah. Kekalahan itu lumrah sebagai pengantar melakukan strukturisasi strategi untuk pertandingan selanjutnya.

PSM tetaplah PSM. Nama stadion boleh berganti dari pengertian abstrak (Mattoanging: bahasa Makassar yang harfiahnya melihat angin menuju ke sosok (Andi Mattallatta) tokoh di balik berdirinya stadion Mattoanging di tahun 1952.

Nama Makassar sudah digunakan sejak mula, Makassar Voetbal Bond di tahun 1915 yang menjadi cikal bakal PSM di kemudian hari. Meski di dekade 1950 an hingga tahun 2000, nama ibu kota Sulawesi Selatan adalah Ujung Pandang, tidak serta merta PSM berubah menjadi Persatuan Sepakbola Ujung Pandang (PSUP), umpamanya.

17 tahun sudah setelah gelar mayor Liga Utama Indonesia diraih. Di rentang waktu itu, PSM tidak goyah sebagaimana sejumlah klub yang mengalami dualisme kepengurusan. Kekacauan pengurusan induk sepakbola (PSSI) yang melahirkan dua kompetisi: ISL dan IPL di tahun 2011 turut membawa PSM dalam liliput kompetisi dua arah.

Darmanto Simaepa dalam Klub Besar Tak Pernah Mati, Persebaya Tak Akan Mati[1], lupa memasukkan nama PSM sebagai klub besar yang lahir dari masa perjuangan kemerdekaan. PSM juga pernah mengalami pasang surut baik dari segi manajemen hingga stadion. Satu fase, PSM tak bisa berlaga di stadion Andi Mattalata karena urusan administrasi. Namun, di benak para pendukung, PSM tetaplah berumah di Makassar.

Namun, semua sudah berlalu. Kini, kompetisi resmi antar klub profesional sudah jelas. Di awali Piala Presiden sebagai kompetisi pra musim. PSM berbenah dengan memanggil pulang talenta lokal yang malang melintang di sejumlah klub di Jawa dan Kalimantan, Hamka Hamzah dan Zulkifly Syukur. Walau sudah berusia di atas 30 tahun, performanya masih bisa diandalkan menggalang lini pertahanan. Kehadirannya melengkapi Syamsul Chaeruddin sebagai trio gaek lokal PSM.
_

*Ditulis menjelang dimulainya Liga 1 Gojek Traveloka musim 2016-2017
Pernah dimuat di panditfootball.com edisi 10 Februari 2017