Paradoks Sains di Tengah Misteri Sepak Bola
Di salah satu kontennya di Instagram, Martin Suryajaya mengulas singkat hasil pembacaannya atas cerpen On Exactitude in Science karya Jorge Luis Borges, sastrawan asal Argentina yang kerap disalahpahami membenci sepak bola karena pernah menulis cerpen Esse Est Percipi . Padahal cerpen bertema sepak bola itu merupakan kritik Borges atas sepak bola yang perlahan masuk dalam cengkeraman kebutuhan industri. Borges menuliskan laga terakhir sepak bola terjadi pada 24 Juni 1937 di Buenos Aires. Selanjutnya sepak bola sebatas dimainkan di studio teve dan radio. Wacana ini pertama kali saya ketahui di kalangan para pandit sepak bola di tahun 2015. Terjemahan cerpen Esse Est Percipi pernah tayang di panditfootbal.com. Alur cerpennya sederhana, tetapi Borges memakas kita mempercayainya. Menurut saya Borges seorang melankolia yang merindukan sepak bola masa kecilnya yang mungkin ia tonton di waktu sore. Sepak bola yang dirayakan dan dirasakan sebagai m...



