Tentang Cerpen yang Melangkahi Waktu
Pencapaian seseorang dalam pergulatan profesi yang ditekuni akan membawa endapan ingatan di benak tentang ciri khas yang melekat. Sebagaimana atlet sepak bola , kita mengakrabi kekhasan pada pesepakbola tertentu. Begitu pula bagi para sastrawan dalam karya yang ditulisnya. Berikut ini merupakan pendapat saya mengenai cerpen yang pernah saya baca yang, kira-kira, menjadi penanda sastrawan tersebut. Tentu, pilihan ini sepenuhnya selera bacaan saya saja dan membuka pintu tafsir tersendiri bagi pembaca. Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu , judul cerpen ini pertama kali saya ketahui dalam ulasan di majalah sastra Horison, lupa edisi tahun berapa, tetapi menjadi semacam pekerjaan yang tak selesai. Saya dihantui ingin membaca cerpen itu. Di tahun 2007, cerpen gubahan Tolstoy itu saya jumpai di kumcer dengan judul yang sama. Diterbitkan Jalasutra tahun 2005 yang diterjemahkan Anton Kurnia. Kumcer itu milik teman dan saya mencurinya dengan ala...
