Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

Sejarah Membaca (Bagian 2)

“Apakah semua buku yang telah kau beli itu sudah dibaca.” Itu adalah pertanyaan purba yang diajukan orang-orang di sekitar ketika mengetahui kalau kita memiliki perpustakaan mandiri di rumah. Apa boleh buat, pertanyaan macam itu tidak memiliki jawaban dan kita dongkol.
Faktanya memang demikian. Banyak buku terpajang saja di rak. Menjadi hiasan dan diselimuti debu. Apakah itu suatu kesalahan. Tidakkah lebih baik jika buku itu dijual atau disumbangkan saja kepada perpustakaan komunitas.

Istri menganjurkan premis pertama dan beberapa teman sering meminta buku setiap kali berjumpa. Dan, kakak tertua saya malah curiga kalau buku-buku yang menumpuk itu berisi paham teroris dan kelak menyaksikan berita di televisi kalau saya adalah salah satu pelaku bom bunuh diri. Hadeeuuuh.
Orang-orang mengawetkan pikirannya dalam buku dan kita malah mengawetkan buku itu di rak. Ini adalah pledoi yang mengantar saya mencuri buku yang layak saya baca di sejumlah perpustakaan dan pernah menerapkannya di toko bu…

Postingan Terbaru

Paz di Antara Masa Lalu dan Waktu Kini

Puncak Tertinggi dari Horor adalah Humor

Ketika Media Semakin Cepat, Maukah Kita Berhenti Membaca

Mengembalikan Waktu Senggang

Lipstik Itu Jari Tengahku, Sayang

Persoalan Pembalut