Buku Puisi yang Membunuh 50 000 Kata di Rak Buku
Barangkali saja puisi merupakan karya paling ganjil yang pernah dilahirkan manusia. Ia tidak diinginkan menjadi menu makan karena sedikitnya hidangan dari harganya yang mahal. Misalkan kita di toko buku dan segera melupakan agenda membeli sebuah buku puisi karena buku cerita yang gemuk harganya setara. Ini kalkulasi kebutuhan ataukah keinginan makan kenyang di waktu bersamaan. Tepatnya, sesungguhnya ini bentuk sesat pikir karena melupakan esensi dan membuat persamaan dari hal berbeda. Ukuran kenyang tentu saja tak bisa diperhadapkan pada banyaknya menu yang tersaji. Tujuan dari kenyang memenuhi kebutuhan. Mungkin, dengan asumsi ini, kita bisa bersikap adil pada buku puisi yang struktur kata di dalamnya masihlah lebih sedikit dengan sumpah serapah kita tiap kali mengomentari sesuatu di media sosial. Sejauh ini, saya membaca buku puisi tidak sampai selusin. Sangat sedikit. Dan, itu ulah mempertahankan sesat pikir tiap kali berada di toko buku. Dari sedikit buku puisi itu, sa...

