Lima Laga di Fase Grup yang Mengingatkan Kita Pada Tarkam

Fase 32 besar Piala Dunia 2026 sudah selesai, tim yang lolos akan beradu mati di fase ini. Pada babak gugurlah arisan bola biasanya diputar di tongkrongan nobar. Mereka beradu peruntungan di balik pilihan acak yang keluar dari putaran.

Dari 36 laga di fase grup, menarik melihat kembali momen pertandingan. Meski gaweannya Piala Dunia, di beberapa momen laga awal menjadi penentu, kita bisa lihat kembali bagaimana Meksiko kontra Afrika Selatan. Saya kira tiga kartu merah yang dikeluarkan wasit sudah cukup menggambarkan tensi pertandingan.

 

Begitu sengit. Begitu keras. Meksiko menolak tumbang di hadapan publik, apalagi bertindak sebagai tuan rumah. Saya pikir Presiden Meksiko kurang berpengaruh ke badan sepak bola FIFA. Dari tiga tuan rumah, mengapa mesti laga pembuka dilakoni Meksiko. Mengapa bukan Kanada atau Amerika Serikat, misalnya. Atau kalau mau adil, laga pembuka digelar bersamaan. 

 

Perlu diingat, tidak gampang memulai laga awal di ajang Piala Dunia. Ingatlah Piala Dunia sebelumnya, Qatar tertunduk malu, sontak pesta pembukaan yang meriah terlupakan di balik kekalahan tuan rumah.  Di tahun 2014, laga pembuka Brasil kontra Kroasia juga bikin pangling, apalagi Marcelo bunuh diri, untungya Brasil menyudahi laga dengan kemenangan.

 

Nah, saya pikir laga pembuka Piala Dunia 2026 memang pas berada di tangga satu. Tensi tinggi, ada gengsi, ada kemenangan bagi tuan rumah. Begitu pula biasanya di kompetisi tingkat tarkam. Meski biasanya laga pembuka bukanlah kewajiban bagi tuan rumah, pada tataran tertentu aturan FIFA tidak berlaku di tingkat tarkam, apalagi tidak masuk dalam kalender kompeitisi badan tertinggi sepak bola dunia itu.

 

Laga nomor dua, kita bisa bercermin pada perjumpaan Jerman dan Curacao. Di tingkat tarkam, laga seperti ini merupakan jeda antar suporter untuk saling mengejek dan akan bergembira merayakan kompetisi. Kedua fans sudah sama tahulah kondisi tim masing-masing. Curacao mengingatkan tim sebuah kampung yang berada di pegunungan, mereka belajar menendang bola di petak lapangan miring. Sepak bola dimainkan dengan sangat hati-hati, bila tidak, bola bisa menggelinding ke lembah yang curam.

 

Sebaliknya Jerman merupakan tim kampung yang memiliki Pendapatan Asli Desa (PAD) yang lumayan tinggi. Para pemainnya memiliki basecamp di salah satu rumah pemain yang ditokohkan, di sanalah mereka menggelar nobar menyaksikan Premier League, Seri A, atau Liga Champions.

 

Skor 7-1 untuk kemenangan Jerman bukanlah hinaan. Justru sebaliknya, Curacao bisa pulang dengan perasaan lega dengan sebiji gol. Itu sudah sudah cukup sebagai dongeng yang akan diceritakan berulang hingga tujuh generasi.

 

Di nomor tiga, skor kaca mata antara Spanyol dan Tanjung Verde menunjukkan tim kampung yang begitu megak memenangkan kompetisi. Andai bisa memainkan staf dalam laga, Spanyol akan melalukan itu. Bagi tim debutan, Tanjung Verde menganggap tiap laga adalah kehormatan. Mereka memandang lapangan selayaknya kebun untuk menyemai benih jagung. 

 

Skuad Tanjung Verde tak gentar menghadapi tuan tanah dari Spanyol yang menunggangi benteng ke tanah lapang. Memori kolonialisme yang panjang mengajarkan siasat bertahan dengan cara elegan mempertahankan kedudukan sebagai bangsa kepulauan di Samudera Atlantik.

 

Terpilihnya Vozinha, kiper berusia 40 tahun itu sebagai pemain terbaik dalam laga, mengencingi wajah Spanyol yang ditaburi pemain berkelas di posisinya masing-masing. Mental tim kampung di ajang tarkam memang kerap seperti itu, menyepelekan lawan sejak dalam pikiran karena dianggap tim semenjana yang baru kemarin sore baru belajar mengikat tali sepatu.

 

Belanda kontra Swedia berada di posisi empat. Pembuktian di laga kedua menjaga asa lolos ke fase berikutnya, sepatutnya menempatkan Belanda memang siap di kompetisi kali ini. Menurut saya, laga ini pas sekali bagaimana memutus prediksi yang tak berdasar oleh para pandit yang sok analis hanya berdasarkan hasil imbang di laga pertama kontra Jepang.

 

Timnas pusat melibas Swedia dengan cara memainkan sepak bola sebagaimana yang dianjurkan legenda mereka, Johan Cruijff. Nun jauh di sebuah kampung, ketika tim tarkam mereka mengalami sandungan, ada banyak upaya yang dilakukan agar asa lolos ka fase berikutnya tetap menyala. Dari sekian banyak cara, upaya magis seperti mengingat kembali bagaimana pendahulu mereka mengalahkan lawan akan diceritakan kembali di sela jedah latihan.

 

Koeman memilih cara lain, ia membaca zaman dengan jeli, alih-alih mengisahkan dirinya yang menjadi skuad ketika Belanda juara Eropa di tahun 1988. Ia sadar posisi ketika saat ini sepak bola sudah bisa dimainkan sama baiknya dengan anak-anak di Eropa dengan di Afrika atau di Asia.

 

"Kita sering berpikir sebagai orang Belanda bahwa kita bisa dengan mudah mengalahkan siapa pun, tapi Jepang memang memiliki tim yang hebat," kata Koeman sebagaimana dilansir di laman goal.com. Tak hanya sadar posisi, Koeman juga sadar sejarah. Di palagan kolonialisme, Belanda pernah menyerah di hadapan pasukan samurai di Hindia Belanda.

 

Jemawa memang bisa menjadi sandungan, Belanda datang sebagai tim kampung berpengalaman di tiga final yang tak dimenangkan. Mereka melengkapi taktik sepak bola dengan analisis matematis dan kesadaran diri.

 

Terakhir, laga di fase grup yang yang mengantarkan melankolia, saya pikir jatuh pada juara bertahan, Argentina. Sepak bola di kaki-kaki skuad Albiceleste rasa-rasanya semudah itu. Tidak ada lagi beban seperti fase grup di tiga edisi Piala Dunia sebelumnya.

 

Messi, sesepuh bola yang berjalan di lapangan, menautkan ingatan penonton pada tetua dari sebuah kampung adat yang melahirkan kembali sepak bola. Dari kakinya, sepak bola dicuci kembali dari air suci dari tujuh lembah. Konon, namanya jauh hari sudah dicatat di papan skor.

 

Saya membayangkan Aljazair yang memerdekakan dirinya dari kolonial Prancis, salah satunya melalui sepak bola yang menjadi senjata andalan. Setidaknya ada pertarungan sengit, setidaknya cuma satu gol tercipta jika Argentina tetap harus menang. Atau, gol itu terbagi ketiga nama. 

 

*

Pangkep, 29 Juni 2026

Komentar

Postingan Populer