Andai Dulu Cruijff Bilang: Juara Dunia Itu Tidak Gampang
Tak lama setelah Tim Oranye tersingkir di fase 32 besar, beredar meme yang memplesetkan imbauan pemerintah tentang bahaya merokok. Terpajang wajah Depay sedang mengisap rokok dengan kalimat: Peringatan Bahaya Maroko Dapat Membunuhmu.
Jika diingat-ingat, Belanda tersingkir di Piala Dunia melalui adu penalti sudah sering terjadi. Di Prancis 1998 dari Brasil, selanjutnya di Brasil 2014 oleh Argentina, tempo hari di Meksiko harus tunduk pada Maroko.
Mengulang-ulang kedudukan sepak bola Tim Oranye di kompetisi tingkat dunia atau di kawasan Eropa, sesungguhnya klise dan membosankan. Kita akan mentok pada juara Eropa 1988 dan warisan Total Football yang perlahan terlupakan seiring perkembangan taktik mutakhir dalam sepak bola.
Jika kolektivitas menjadi tumpuan, Jerman melalui Die Mannschaft juga menerapkannya. Dan, pada dasarnya sepak bola dimainkan dengan cara seperti itu. Cobalah tengok bagaimana Tim Oranye menjalankan Total Football di dekade 70-an, tayangannya saya kira dengan mudah didapatkan di saluran YouTube.
Permutasi antar pemain mengingatkan saya ketika dulu bermain bola dengan teman sepantaran di sawah, atau di tanah lapang di sudut kampung. Tak ada posisi murni yang konsisten menjaga area masing-masing. Menurut saya, satu-satunya kekuatan memainkan sepak bola seperti ini ialah, ketika ada teman main yang dianugerahi kontrol bola mumpuni dipadu dengan gocekan lihai. Ya, semacam Johan Cruijff itulah di masa itu.
Mungkin sebab itu, Jerman membungkam Belanda di final Piala Dunia 1974. Bagaimana tidak, pergerakan ke sana ke mari layaknya anjing mengejar bola tentulah menguras tenaga. Alamiahnya, jika stamina terkuras, bagaiman bisa menjaga fokus ketika lawan membangun serangan. Belum lagi jika terjadi kemelut di depan gawang.
Syahdan, suatu ketika Cruijff bersabda: “Sepak bola itu sederhana, tetapi sulit untuk bermain sederhana,”
Sudahkah sepak bola sederhana itu dimainkan. Apakah Tim Oranye memainkannya dengan begitu sederhana di dua final Piala Dunia (1974 dan 1978) khusunya ketika Cruijff bermain di tahun 1974. Lalu, apakah 32 tahun kemudian ketika Belanda berjumpa Spanyol di final Piala Dunia 2010, apakah anak-anak Tim Oranye masih menyelipkan taktik Total Football di kaus kaki mereka.
Sebagai taktik, Total Football tentulah mengalami perkembangan. Silih bergantinya pelatih juga berperan menerapkan role model sesuai kebutuhan tim berdasarkan sumber daya yang tersedia. Melihat daftar manajer Tim Oranye, memanglah tidak sembarang melimpahkan pada orang yang bukan dari Belanda sendiri.
Pelatih legendari mereka, Rinus Michels perlu empat kali menjabat pelatih. Dick Advocaat, dan Louis van Gaal tiga kali bolak-balik. Disusul Guus Hiddink hingga pelatih sekarang, Ronald Koeman yang sudah dua kali mengarsiteki Tim Oranye di rentang tahun berbeda.
Asumsi itu menunjukkan kalau sepak bola Belanda kukuh pada filosofi yang sejak mula dijadikan fondasi. Sekali itu juga merupakan ketiberdayaan menghadapi evolusi taktik yang diadopsi tim sepak bola di negara lain. Sepertinya sepak bola Belanda tak ingin direcoki taktik dari pelatih yang bukan orang Belanda.
Tersingkirnya Tim Oranye di Piala Dunia kali ini yang digadang bakal juara, rupanya mematahkan prediksi Joachim Klement, nubuator yang yang diamini publik sepak bola dunia setelah tiga edisi Piala Dunia sejak 2014 hingga 2022, ramalannya tetap sasaran memprediksi tim negara mana yang bakal juara. Prototipe analisisnya yang dinamai ekonometrik eksklusif seketika berantakan.
Menurut saya, sepak bola tetaplah rumit, kerumitannya terus mengalami kompleksitas seiring adopsi taktik dari cabang olahraga lain. Misalnya saja, masuknya semangat atletik yang bisa kita lihat pada pesepakbola yang larinya secepat Flash, karakter super hero itu. Keberadaan pemain seperti itu tak bisa ditepikan. Kehadirannya mengubah pola serangan yang dulu, sekian tahun mengalir dari tengah.
Lihatlah bagaimana Brasil bertumpu pada kaki Vinicius, di tim Prancis jangan tanyakan lagi. Di sejumlah tim yang lain juga demikian yang menampung para pelari ke dalam skuad. Di Maroko sendiri, Hakimi yang sejatinya bek kanan, malah dijadikan free role dalam menjalankan taktik Maroko.
Mengapa bisa demikian, analisis sederhananya karena ketersediaan sumber daya. Namun, jika sekadar sederhana seperti itu, tidakkah hal demikian menafikan bagaimana penerapan dan pembinaan usia dini yang dijalankan masing-masing tim nasional.
Kita tahu ekosistem sepak bola di Belanda salah satu yang konsisten di dunia. Eredivisie, liga profesional yang telah berjalan sejak dekade 50-an menjadi pintu masuk pemain-pemain muda sebelum melanglang ke liga-liga lain di Eropa. Dua legenda Brasil, Romario dan Ronaldo memasuki Eropa melalui pintu Eredivisie.
Tetapi, kita mafhum ucapan Cruijff, sepak bola akan mudah jika tidak dipenetrasi kekuatan lain. Di tahun 1978, ia mendapat ancaman. Keselamatan keluarganya dalam pertaruhan. Ia lalu menolak masuk skuad Tim Oranye di Piala Dunia 1978 yang digelar di Argentina. Dunia lalu mencatat Argentina juara dunia kali pertama usai mengalahkan Belanda di final.
“Keluarga adalah hal utama, sepak bola bisa ditunda,” ucap Cruijff di waktu yang lain. Sejak itu, sepak bola bisa menjadi cermin yang memantulkan citra penyelenggara. Mungkin juga sejak sebelumnya ketika sepak bola dibingkai ke dalam kompetisi antar negara lalu dijadikan topeng oleh pemerintah untuk menutupi bopeng di hadapan publik dunia.
Cruijff rada puitis pasca mengalami opresi, ia hendak mengatakan itu dengan cara ini. Apakah pemerintah Belanda tidak berdaya memberikan perlindungan berlapis kepada atlet brilian sepak bolanya berlaga di Argentina?
Andai dulu Cruijff bilang memenangkan Piala Dunia itu tidak gampang. Itu akan menjadi kalimat perlawanan sunyi yang terselubung atas involusi kompetisi sepak bola. Setidaknya untuk kontes saat itu, di pagelaran Piala Dunia 1978.
Mungkin juga anak-anak di skuad Tim Oranye di kemudian hari tak perlu terbebani peragaan sepak bola yang sederhana itu. Kali saja Virgil van Dijk mengumpat di lorong stadion sesaat setelah kalah adu penalti dari Maroko: “Sial, menang Piala Dunia itu tidak gampang, Cruijff,”.
*
Pangkep, 2 Juli 2026


Komentar