Sepanjang Jalan Kanaungan Menuju Sikkodasere Pustaka


Suatu hari di pekan kedua Desember di tahun 2025 silam, di kasir toko swalayan, tak sengaja berjumpa dengan Akmaluddin SS, seorang Ahli Madia Budaya di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep). Ia kerap terlibat di kegiatan komunitas di Pangkep. Saya lalu sampaikan kalau pekan ini ada bincang buku di Kampung Sikkodasere di Desa Kanaungan.

 

“Oh, keren itu, Dinda,”

 

“Desa Kanaungan itu terkenal, itu mi na ada lagunya,” lanjutnya dalam dialek Makassar.

 

“Lagu! Yang mana itu Pak,” saya dongkol.

 

“Masa nda tahu, itue, sepanjang jalan kanaungan,” tanggappnya sembari bersenandung.

 

Kami lalu tertawa. Rupanya ia sedang mengumbar joke mempelesetkan selarik lagu lawas Sepanjang Jalan Kenangan yang dipopulerkan Tetty Kadi di dekade 70-an. Dasar joke bapak-bapak.

 

Pasca pertemuan tak terduga itu, di perjalanan pulang, terngiang terus umpatan joke itu. Saya mengangguk-ngangguk sendiri. “Bisa-bisanya begitu di, gumamku. 

 

Di kesempatan ringkas waktu itu, sembari menunggu antrean membayar di kasir, Pak Akmal menerangkan potensi budaya di Desa Kananungan, mulai dari prosesi pernikahan yang khas seperti Mappere Botting[1] dan kebun jambu mete yang kualitasnya menembus pasar nasional dan bahkan diekspor. Sebagai pamong budaya di lingkup kedinasan di Pangkep, tentulah Pak Akmal memiliki pengalaman lebih luas dalam melakukan pemetaan lanskap kebudayaan warga di sejumlah desa di Pangkep, termasuk menangkup lapisan waktu pengalamannya menjelajahi jalan-jalan di Desa Kanaungan. Pada titik itulah saya kemudian memahami joke yang dilontarkan.

 

Selanjutnya, tibalah hari di pekan terakhir Desember 2025, hari ketika kegiatan komunitas di gelar di Kampung Sikkodasere, Desa Kanaungan, Labakkang, Pangkep, Sulawesi Selatan. Waktu sudah menunjukkan sekisar pukul dua siang ketika sampai di pangkal jalan menuju desa. Jalan yang basah sehabis guyuran hujan tampak lengang. Mendung masih bergelayut di langit barat yang menjadi petunjuk kalau hujan akan kembali mengguyur.

 

Berkunjung ke desa ini tidaklah sulit karena wilayahnya termasuk ke dalam daratan rendah. Pembacaan kawasan wilayah di Pangkep secara umum terbagi ke dalam tiga topografi. Selain daratan rendah, ada juga daratan tinggi dan wilayah kepulauan. Nah, berkunjung ke desa-desa di dua kawasan terakhir tentulah membutuhkan persiapan lebih dan tidak serta merta bisa langsung berkunjung semudah kita memesan es kopi gula aren di warkop.

 

Patung jambu mete di ujung jalan desa menjadi tengara, menyiratkan Desa Kanaungan sebagai penghasil jambu mete terbaik di Pangkep. Namun, kini tidak lagi, perubahan komoditas bernilai ekonomi selalu tergantikan dengan komoditas yang lain jika ada yang lebih menguntungkan atau, telah terjadi perubahan ekosistem yang tidak lagi mendukung daya tumbuh perkebunan jambu mete. Konon, pada satu fase, warga di Desa Kanaungan menggantungkan penghasilan dari kebun jambu mete.

 

Sepotong kisah di atas saya dengar dari teman yang berasal dari desa itu. Kedatangan saya ke desa ini—setidaknya untuk saat ini—bukan untuk melakukan penelitian mengenai perubahan lanskap ekonomi warga. Saya berkunjung untuk ikut mengalami sebentuk proses anak muda di Desa Kanaungan yang mendorong adanya ruang perpustakaan yang dapat diakses oleh warga desa.

 

Muhammad Syawal Saputra, teman yang membangun perpustakaan yang dinamakan Sikkodasere Pustaka tersebut, menempati satu bangunan bekas kantor loket pembayaran rekening listrik yang dulu dikelola bapaknya. 

 

Jika melihat saksama sebidang tembok bagian belakang setinggi 3 m dengan lebar sekisar 4 m yang mulai mengelupas, tampak jelas jika bangunan itu sudah mengalami waktu puluhan tahun. Tembok di sisi kiri dan bagian depan, tingginya hanya sekisar 1 m. Bagian atasnya lalu dikombinasikan dengan dinding kayu khas arsitektur rumah orang Bugis, yang bikin melongo justru bagian kanan, jika dilihat dari arah depan bangunan, tidak ada dinding sehingga langsung terhubung ke kolong rumah yang berdiri pas di sampingnya, rumah panggung mendiang nenek Syawal. Bagian itu lalu ditutupi spanduk bekas.

 

Syawal membangun perpustakaan itu sudah lama di dalam benaknya, mungkin sekali waktu terlintas ketika mulai menyenangi sebuah bacaan. Menyuntuki sejudul buku kemudian mulai menyisihkan uang belanja membeli buku yang menarik perhatiannya. Begitu terus menerus hingga buku-buku itu tampak ganjil jika menjadi hiasan dinding di rumah orangtuanya atau, akan berakhir sebagai pajangan erotis di kamarnya yang, cuma dia yang akan merasakan kenikmatannya. 

 

Bakkā dan Setelahnya

 

Bakkā dalam bahasa Bugis berarti sedang tumbuh. Suatu peristiwa di tahun 2024, Syawal bersama empat anak muda lainnya dari Pangkep mengemas selipat pakaian ke dalam ranselnya untuk memulai suatu proses mengalami dalam sebuah program yang sama sekali baru dihadapinya. Syamsuria MZ, temannya di Pangkep Book Party (PBP) mengusulkan namanya untuk ikut dalam lokakarya yang dinamai Bakkā, program inkubasi yang digelar oleh Tanahindie-Makassar Biennale guna meretas kesenjangan ruang bagi seniman, penulis, atau kurator muda dari berbagai wilayah di Indonesia Timur[2].

 

Kira-kira pasca kegiatan itulah yang semakin menabalkan impiannya mengenai pentingnya sebuah perpustakaan. Selama mengikuti program Bakkā, tentulah ia membangun lapisan percakapan sesama peserta dari kota yang lain. Terlebih kegiatan yang dipusatkan di Kampung Buku, sebuah ruang komunitas legendaris di Makassar. Seluruh indranya bekerja menyerap beragam informasi lalu menjadi pupuk yang mempercepat tumbuhnya ide lama yang tertanam di kepalanya.

 

Sepulang dari proses menjalani segala rangkaian program Bakkā, semai ide di kepalanya dipindahkan. Kini media tanamnya berupa bangunan tua peninggalan kakek-neneknya. kira-kira begitulah latar belakang berdirinya Sikkodasere Pustaka yang diceritakan Syawal. Nama depannya diambil dari nama dusun tempatnya tinggal di Desa Kanaungan. Syawal kemudian mulai mengajak sejumlah kawan kentalnya di kampung untuk saling mendukung merawat perpustakaan.

 

Seiring waktu, Sikkodasere Pustaka mulai mengenalkan dirinya ke publik komunitas di Pangkep, sebuah akun Instagram[3] adalah penandanya. Syawal menerangkan kalau tempatnya memang kerap jadi ruang berkumpul anak-anak muda di sekitaran rumahnya jauh sebelum ia mulai mengeluarkan koleksi bukunya untuk dibaca untuk umum. Ia paham jika membaca bukanlah teman kencan yang baik di kalangan anak muda yang hidup dalam rimba informasi dan seabrek kesenangan digital yang ditawarkan melalui gawai. 

 

Sekali waktu, Anwar Jimpe Rachman, pendiri Kampung Buku berujar jika tujuan membangun perpustakaan itu, mula-mula memang untuk diri kita sendiri karena kitalah yang ingin belajar. Saya yakin jika di suatu kesempatan, Syawal juga mendengar sabda itu langsung dari mulut Jimpe, panggilannya.

 

Perpustakaan di desa bukanlah barang mewah, lebih tepat jika disebut sebagai sebuah keganjilan. Menurut saya, perpustakaan sebagai ruang koleksi buku yang diperuntukkan bagi umum, biarlah diurus oleh perpustakaan milik pemerintah di segala bentuk institusi. Jika Nirwan Ahmad Arsuka mencetuskan perpustakaan bergerak yang menyandarkan pada usaha gila para penggeraknya mengangkut buku menggunakan kuda, bendi, becak, perahu, atau segala akomodasi lainnya untuk mengantarkan buku mencari pembacanya. Maka inisiatif yang perlu ditawarkan perpustakaan berbasis komunitas ialah ruang interaksi membicarakan gagasan. 

 

Perlu disadari jika kategori perpustakaan komunitas, seperti Sikkodasere Pustaka bukanlah perpustakaan bergerak, ia memiliki bangunan permanen tempat menyimpan buku. Kembali pada fondasinya, menyulap bangunan lama menjadi ruang perpustakaan, di situlah titik pijakannya bagaimana perpustakaan didorong sebagai ruang penciptaan peristiwa. Orang yang datang, apalagi sudah seorang pembaca aktif, tujuannya bukanlah untuk menyuntuki sejudul buku. Ia datang hendak mengalami suatu peristiwa personal atau komunal jika di perpustakaan itu sedang menggelar sebuah kegiatan. 

 

Lantas, peristiwa seperti apa. Bukankah semua pengalaman melalui adalah peristiwa. Sampai di sini mari tengok kembali perilaku atas peristiwa lampau di sebuah perpustakaan sekolah. Di tahun 1997 hingga 1999 ketika masih duduk di bangku SMP, perpustakaan adalah pengalaman yang buruk. Saya mengalami ruang perpustakaan sebagai peristiwa untuk menjalani hukuman dari guru yang merasa perlu mengurung kami: siswa yang dicap nakal. 

 

“Kalau kedapatan merokok atau bolos lagi, kalian akan dikurung diperpustakaan,” ucapan seorang guru di masa SMP yang terus terngiang. Saya tidak tahu apakah generasi saya di masa SMP di seluruh Indonesia mengalami hal serupa. Jika iya, maka ini penciptaan peristiwa komunal yang buruk tentang perpustakaan. Jika tidak, maka ini kasuistik yang dialami bagian satu generasi di waktu dan tempat tertentu. Poinnya, tetaplah sebentuk peristiwa buruk tentang perpustakaan.

 

Nah, anasir semacam itulah yang hendak dipilah lalu menetapkan pilihan. Ini semacam cara melakukan proses kurasi sebagai metode kerja yang menunjukkan kalau upaya menghadirkan perpustakaan merupakan implementasi dari kesadaran kritis. Jika kedudukannya demikian, aplikasinya berupa transformasi. Bila berupa transformasi, keluarannya sebuah produk gagasan sebagai nilai baru yang akan diujicobakan. 

 

Menengok sejumlah praktik gagasan yang dikelola komunitas literasi yang ada di Makassar, seperti Kata Kerja atau Kampung Buku[4], misalnya. Basis programnya menempatkan ruang sebagai proses penciptaan peristiwa. Buku hanya salah satu medium yang menjadi alasan bagi orang-orang untuk datang. Hal yang sejauh ini lalai dibahas dan dijadikan fokus ialah, keberadaan manusia itu sendiri. Evaluasi program tidak menjadi ajang mengkritisi praktik program yang telah dilakukan sehingga seiring waktu akan mengalami kelelahan kreativitas akibat seringnya mengulang pola yang sama.

 

Jika dibawa ke akarnya, kita bisa sampai pada cara pandang instrumental, metode pembacaan ini mengacu pada pemikiran Jurgen Habermas yang mengkritisi praktik pengetahuan instrumental yang banyak menjangkiti arah kebijakan sampai pada bentuk praktik pembangunan. 

 

Sederhananya bisa seperti ini: tersebutlah di sebuah kabupaten, pemerintah daerahnya hendak meningkatkan minat baca warga. Pemerintah lalu membangun gedung perpustakaan modern lima tingkat di kawasan perkotaan yang dilengkapi ribuan hingga jutaan judul buku. Tidak hanya itu, gedung perpustakaan juga dilengkapi fasilitas komputer yang terhubung ke jaringan internet dan gratis digunakan oleh warga. Biaya yang digunakan, katakanlah mencapai 1 Miliar.

 

Sepintas, kehadiran gedung mewah dengan fasilitas lengkap mengundang kekaguman warga. Akan tetapi, tepatkah itu solusinya jika tujuannya hendak meningkatkan minat baca warga. Apakah kelompok warga yang hidup di kantong permukiman di desa mau meluangkan waktu berkunjung ke perpustkaan. Belum lagi kalu kampanye yang dibangun kalau buku itu hanya untuk kalangan terpelajar.

 

Nalar pemerintah yang membangun gedung perpustakaan mewah untuk meningkatkan minat baca warga tersebut, berada pada posisi penerapan pengetahuan instrumental. Semua hendak dikontrol dengan menyajikan fasilitas. Namun, di lain sisi tidak melihat kebutuhan riil yang dihadapi warga. Umpamanya saja, kebutuhan akses warga.

 

Lalu, bagaimana dengan metode perluasan akses bacaan? Modal membangun perpustakaan mewah senilai 1 Miliar itu dibagi ke dalam kebijakan berupa pembangunan kantong bacaan di desa. Selintas ini terdengar solutif, namun faktanya, tidak demikian. Sejak desa mendapat sokongan dana dengan nilai ratusan hingga miliaran, pembangunan minat baca bukanlah prioritas. Meski kini di desa juga mengembangkan ruang perpustakaan, hasilnya berakhir sebagai gudang buku, minus aktivitas literasi.

 

Mendorong peningkatan minat baca warga dengan pendekatan instrumental hanya berakhir sebagai citra program. Biasanya buku hanya berakhir sebagai kalkulasi, alih-alih sebagai medium wahana yang mengantar ke beragam pemikiran.

 

Pantulan Cermin

 

Jika kita perhatikan gerakan literasi dalam sepuluh tahun terakhir, utamanya setelah gerakan pustaka bergerak yang digelorakan Ahmad Nirwan Arsuka, dorongan memindahkan koleksi buku ke ruang publik menjadi trend yang menandai lahirnya perspektif baru mengenai perpustakaan. 

 

Meminjam istilah yang digunakan Arsuka, relasi perpustakaan yang diam dengan perpustakaan bergerak seperti aliran sel darah merah yang mengantarkan oksigen, atau disebut hemoglobin[5]. Kurang lebih bisa disebut sebagai penyedia bahan bacaan dan penyalur. Dengan demikian terbangun kolaborasi. Meski kemudian model kolaborasi yang lahir begitu kontekstual di masing-masing daerah, hal yang perlu dicermati ialah, adanya pengadopsian praktik di mana kita lihat sejumlah perpustakaan keliling yang dikelola pemerintah dan lahirnya sudut-sudut baca di sejumlah instansi pemerintah dan swasta.

 

Saya melihat gejala tersebut sebagai pantulan cermin dari gerakan literasi yang sudah sejak lama dijalankan komunitas. Bahwa ada evaluasi dalam melihat gagalnya gerakan literasi akibat pelakunya sendiri. Hal inilah kemudian yang mendorong lahirnya komunitas yang fokus pada literasi dengan segala variannya. 

 

Mereka, para penggiat komunitas, saya kira telah menerapkan praktik care work (kerja-kerja perawatan) dengan saling mengabarkan program melalui sosial media sebagai ruang saling berbagi dan peluang lahirnya kolaborasi.

 

Nah, dalam posisi inilah Sikkodasere Pustaka menemukan relevansinya, sebagai komunitas literasi yang baru lahir, Syawal membuka peluang lahirnya koloborasi antar komunitas yang ada di Pangkep. Di mulai pada pertengahan tahun 2025 lalu, Sikkodasere Pustaka mengundang pegiat komunitas di Pangkep untuk hadir di halamannya yang lumayan luas sebagai permulaan mengalami peristiwa. Tamasya Purbakala dan Hanya Ada Babak, Tidak Ada Panggung, dua buku yang terbit hasil dari gelaran Makassar Biennale tahun 2023 dipercakapkan dengan santai. Mempercakapkan buku hasil sebuah program komunitas juga mendandai bentuk lain dari upaya membangun keberdayaan komunitas itu sendiri.  

 

Menurut saya penting bagi komunitas agar mulai mendorong lahirnya peristiwa penciptaan, tidak hanya berupa sajian obrolan buku, tetapi juga penciptaan pengetahuan yang dibukukan. Tentu masih banyak hal di sekitar yang belum banyak dituliskan, dan itu menunggu sentuhan para pegiat komunitas. 

 

Saya ingat di tahun 2019, bagaimana Perpustakaan Nasional melalui Inkubator Literasi Pustaka Nasional (ILPN) mendorong para pustakawan menuliskan gagasannya tentang tata kelola pengalaman menjalankan praktik literasi di daerah masing-masing, meski di tahun itu kegiatan sempat tersendat akibat Pandemi Covid-19, program tetap berlanjut melalui serangkaian pertemuan daring. Hasilnya, terbit buku bertajuk Inovasi Pustakawan Menuju Indonesia Maju (Perpusnas Prees: 2020) yang merangkum 15 naskah para pemustaka yang tersebar di sejumlah wilayah di Indonesia.

 

Jika kita melacak ke bawah, sejumlah komunitas sudah melakukan program dengan wujud serupa sesuai konteks dan tantangan yang dihadapi di lokasi keberadaannya. Artinya, sejak mula komunitas telah menerapkan konsep hemoglobin, bahkan melampaui dari dari apa yang dibayangkan Nirwan Ahmad Arsuka.

 

Namun, menurut saya, cetak biru serupa tentu bukanlah tongkat estafet, tiap komunitas punya visi misi berdasarkan sumber daya yang menggerakkannya. Memandang komunitas tidak bisa dibandingkan dengan satu komunitas lainnya karena jelas itu tidak adil. Di posisi ini, misalnya, Sikkodasere Pustaka berupaya hadir sebagai reposisi situasi atas kekosongan yang dilihat Syawal sebagai ruang yang perlu dirayakan.

 

Ruang baca yang seharusnya juga hadir di sebuah desa ketika gelontoran anggaran dana desa belum menganggap perpustakaan sebagai strategi pembangunan bagi umat manusia. Ya, minimal dari cara pandang itu saja dulu, sebuah komunitas yang dengan sadar lahir, saya kira sudah bentuk implementasi pengetahuan kritis sebagaimana yang didedahkan Habermas untuk melihat antitesis dari pengetahuan instrumental.

 

Dorongan seperti itulah yang membuat saya menerabas jalanan basah di suatu siang di pekan terakhir Desember 2025. Saat itu, Sikkodasere Pustaka kembali mengajak hadir untuk mengalami percakapan. Sajian program berupa curah gagas pengalaman penelitian berbasis warga yang dibingkai ke dalam Kawan Melintas hasil kolaborasi dengan Rumah Saraungsebentuk pembacaan spasial karena lokasi Pangkep di sepanjang jalan Trans Sulawesi memanglah area pelintasan menuju kawasan kabupaten/kota di utara Makassar. Jadi, memang memungkinkan kawan-kawan pegiat komunitas di selatan dan di utara untuk singgah di Pangkep jika sedang melintas. 

 

Sikkodasere Pustaka menangkap itu sebagai ruang dan menempatkan geospasial keberadaannya sebagai terminal yang dapat disinggahi sebelum melanjutkan kembali perjalanan. Sebentuk cara kreatif, saya kira, untuk menyiasati modal sosial program sekaligus upaya cerdas mencipta dan merekam peristiwa agar terjalin erat kekerabatan para pegiat komunitas. Sebagaimana semantik Sikkodasere itu sendiri, bahasa Bugis yang merujuk pada produk kerajinan tangan berbahan bambu, anyaman yang saling merekatkan.

*

Pangkep, 2025-2026

 

Catatan:

Versi lebih pendek catatan ini telah tayang di TelusuriId: https://telusuri.id/merekam-peristiwa-di-sikkodasere-pustaka/.


[1] Baca tulisan Muhammad Syawal Saputra, Mappere’ BottingMengayun Kehidupan dalam buku Menuliskan yang Lisan, Sehimpun Esai Lokalitas di Pangkep, Sulawesi Selatan (Rumah Saraung: 2024).

[2] Selengkapnya mengenai program Bakkā, dapat disimak pada tautan berikut: https://artefact.id/2024/08/19/bakka-pamerkan-dua-puluh-karya/

 

[4] Silakan tengok aktivitas kedua komunitas ini di Instagram mereka: https://www.instagram.com/katakerja/ dan https://www.instagram.com/kampungbuku/.

 

[5] Baca lebih lanjut tulisan saya bertajuk Perpustakaan Keluarga: Merancang Bangun Melalui Habitus dan Penciptaan Hemoglibindalam buku Inovasi Pustakawan Menuju Indonesia Maju (Perpusnas Press: 2020).

Komentar

Postingan Populer