Sejarah Kocak Zaire yang Ditelan Sungai Kongo
52 tahun silam di Piala Dunia 1974 di Jerman, satu-satunya tim dari Afrika diwakili oleh Zaire. Dari 16 peserta yang dibagi ke dalam empat grup, Zaire sekamar dengan Brasil, Yugoslavia, dan Skotlandia di Grup 2. Hasilnya, Yugoslavia, negara yang sudah hilang di peta dunia itu menyarankan sembilan gol tanpa balas. Brasil tiga gol, Skotlandia 2 gol, semuanya tanpa balasan. Zaire angkat koper tanpa poin.
Itu bukan kekecewaan, Zaire (setidaknya di sanubari para pemain) tetap bangga mewakili Afrika di pentas Piala Dunia. Zaire tidak memikul beban, melancong ke Eropa adalah piknik. Berlaga di Piala Dunia barangkali saja sekadar bonus. Kali saja itulah yang ada di kepala para pemain.
Namun, kebalikannya tidaklah demikian, timnas Zaire berlaga dibawah tekanan pemerintahannya sendiri: kediktatoran militer. Para pemain sejak awal ditipu dengan imingan bonus berupa mobil dan rumah. Janji yang segera disadari oleh pemain kalau itu hanya bual belaka.
Konon, di dekade itu permainan Zaire tidaklah lazim, tim yang dijuluki Macan Tutul itu bergerak cepat selayak harfiahnya macan tutul di gurun sahara Afrika. Pengamat dan penonton di Eropa segera saja melabelinya gaya bermain maverick, situasi di mana pemain secara individu bergerak lincah memeragakan trik pemecah kebuntuan. Mungkin, contohnya bisa kita lihat pada gaya bermain Jay Jay Okocha, eks pemain timnas Nigeria.
Di saku sejarah Piala Dunia, publik sepak bola mengingat timnas Prancis melakukan protes ke manajemen sendiri pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Zaire tampaknya telah melakukannya 36 tahun lalu, mereka emoh melakoni laga kedua di fase grup setelah mengundang decak kagum penonton di laga pertama meski kalah 2-0 dari Skotlandia.
Bermain asal-asalan di pertandingan kedua melawan Yugoslavia adalah bentuk protes itu. Mereka ingin mempermalukan pemerintahan diktator militer Zaire. Sepak bola berubah menjadi sikap politik ketika tindak represif menjadi kartu merah.
“Dalam sistem politik seperti itu, sikap sekecil apa pun dapat dianggap sebagai tindakan perlawanan politik,” tulis Gabriel Khun dalam bukunya, Sepak Bola Vz Negara, Tekel Sepak Bola dan Politik Radikal (Pustaka Catut: 2024). Khun mengelaborasi begitu banyak data di sepanjang latar peristiwa sejarah yang bertautan dengan dengan sepak bola profesional yang telah menjadi panggung. Ia memandang jika dunia panggung sepak bola profesional senantiasa memang saling hadap-hadapan dua kekuasaan. Yang satu menjadikan medan kuasa untuk mendekor panggung agar tampak bagus sebagai pertunjukan meraih citra, kekuasaan (kedua) di seberang pada dasarnya juga manut dan baru merespons dengan perlawanan politik ketika jalannya sudah buntu.
Skuad Zaire boleh disebut berada dalam medan kekuasaan kedua saat itu. Enam kali kebobolan di babak pertama bukanlah lelucon, empat gol sisanya di babak kedua bisa saja terus bertambah andai jam pertandingan tidak berhenti. Pada akhirnya kekocakan Zaire di Piala Dunia 1974 diingat sebagai komedi. Pemerintah Zaire mengenangnya selaku bencana dan, para pemain mencatatnya sebagai taktik perlawanan atas kesewenang-wenangan pemerintah.
Konflik mereka bukan dengan pelatih, Blagoje Vidinic, orang Yugoslavia itu. Jika membandingkan dengan krisis di tubuh timnas Prancis di Piala Dunia 2010, perseteruan pemain langsung ke pelatih, Raymond Domenech yang oleh para pemain dianggap egois dan tidak memahami karakter pemain.
Peristiwa krusialnya, Nicolas Anelka dicoret dan dipulangkan ketika tim masih menyisakan pertandingan. Sontak pemain protes dan memboikot sesi latihan. Sang pelatih bukannya terbuka menerima kritik, ia malah membajak bus dengan menyembunyikan kunci agar para pemain tidak bisa pulang ke hotel[1].
Situasi memalukan itu sampai di telinga Nicolas Sarkozy, Presiden Prancis saat itu. Melalui Menteri Olahraga, Roselyne Bachelot. Kedatangan sang Menteri ke Afrika Selatan sejenak mendinginkan situasi di tubuh timnas Prancis untuk melakoni sisa laga di fase grup.
Akan tetapi, pemerintah tetaplah pemerintah, suara pemain hanyalah angin lalu, segera setelah Prancis tersingkir. Mulut pemerintah kembali menohok skuad timnas sebagai rombongan preman, khususnya ke sejumlah pemain. Anelka tidak sendiri dalam daftar itu, Patrice Evra, William Gallas, Bacary Sagna, termasuk Frank Ribery.
Bagaimana di tubuh timnas Zaire di tahun 1970. Tentu situasinya berbeda, begitu juga cara mereka melakukan perlawanan. Pemain langsung menujukkannya ke dalam permainan, mereka tidak lagi ngotot mengejar hasil imbang apalagi memburu kemenangan.
Laga terakhir di fase grup menghadapi Brasil, para pemain hanya perlu menjaga ritme agar tidak kebobolan empat gol. Hanya itu. Sebab, jika itu terjadi, mereka tidak bisa pulang kampung.
Mobutu Sese Seko Nkuku Ngbendu wa za Banga, nama ini sangat panjang, kita singkat saja menjadi Presiden Mobutu, rupa diktator militer yang berkuasa di Zaire itu mengirim pengawal ke kamp latihan dengan titipan pesan ancaman: Zaire tidak boleh kebobolan empat gol, keterangan yang dibeberkan Mwepu Ilunga, bek Zaire ke jurnalis itu justru, menjadi lelucon yang semakin membuat bopeng wajah pemerintah.
Pada akhirnya impian skuad Zaire terwujud, Brasil gagal menyamai capaian Yugoslavia yang menyarangkan sembilan gol, para pemain Zaire selamat karena mereka hanya kebobolan tiga gol saja. Malah, di satu percobaan tendangan bebas oleh Brasil[2], seorang pemain Zaire sengaja lebih dulu menyepak bola mati karena khawatir jika bola disepak oleh Rivelino, bintang Brasil di tahun itu yang terkenal dengan tendangan keras mematikannya, bisa membuyarkan impian mereka pulang kampung.
*
Zaire mengalami konflik horizontal pasca Presiden Mobutu digulingkan di tahun 1997, nama Zaire, adaptasi fonetik bahasa Portugal yang merujuk bahasa setempat: nzere—nzadi, istilah yang melukiskan adanya sungai yang menelan sungai. Penggambaran ini memang menunjukkan pada aliran Sungai Kongo yang tercatat paling dalam di dunia.
Menilik sejarahnya, benih konflik memiliki akar panjang yang merentang ke era kolonial. Ringkasnya, Zaire kemudian berubah nama menjadi Republik Demokratik Kongo atau sebutan lokalnya, Kongo-Kinshasa untuk membedakannya dengan negara tetangga, Republik Kongo (Kongo Brazzaville).
Nah, kini di gelaran Piala Dunia 2026 di tiga tuan rumah (Amerika Serikat, Meksiko, Kanada) timnas negara Kongo yang lolos kualifikasi ialah Kongo-Kinshasa. Skuad yang menyita perhatian publik di gelaran AFCON 2025 (Piala Afrika) di Maroko tahun lalu. Mereka gugur di fase 16 besar dengan sebiji gol penalti dari skuad Aljazair.
Dalam catatan Muhidin M Dahlan menyorot satu peristiwa di gelaran AFCON 2025, ialah monolog seorang suporter memakai stelan jas dengan tangan melambai[3], tak pelak, upaya sadar dilakukan Michel Nkuka Mboladinga, seorang suporter yang hendak mengingatkan sosok Patrice Lumumba, Perdana Menteri RD Kongo pertama pasca pengakuan kemerdekaan dari Belgia di tahun 1960.
Pemerintahan Lumumba tidak lama, ia dikudeta oleh militer dibawah komando Mobutu, kelak menjabat Presiden Zaire. Jadi, sebelum 1997, Kongo sudah menjadi nama negara yang kemudian diganti menjadi Zaire pasca kudeta militer. Di fase itulah Mobotu merombak tatanan negara menjadi fasis militer. Lumumba sendiri menjadi korban, ia diculik dan dibunuh pada Januari 1961 atas aliansi kekuatan Mobotu, kelompok pemberontak Katanga, dan tentara Belgia.
Identitas timnas lama (Zaire) telah hilang ditelan aliran Sungai Kongo seiring perubahan lanskap politik. RD Kongo lolos ke Piala Dunia 2026 tidaklah mudah, perjalanannya panjang dan melelahkan hingga perlu melalui jalur antar konfederasi. RD Kongo hanya menang sebiji gol di masa perpanjangan waktu dari Axel Tuanzebe, seorang bek yang menempuh karier di Akademi Manchester United, Tuanzebe bahkan sudah memperkuat timnas Inggris hingga ke level usia 21 sebelum akhirnya kembali ke tanah kelahirannya menjadi skuad Macan Tutul.
Di kawasan Afrika, kekuatan sepak bola seiring waktu mulai berubah, langganan Piala Dunia seperti Nigeria dan Kamerun perlahan tenggelam digantikan kekuatan baru seperti Senegal, Pantai Gading, Maroko, dan RD Kongo muncul sebagai kejutan.
RD Kongo menempati Grup K yang mewakili masing-masing benua. Portugal (Eropa), Kolombia (Amerika), Uzbekistan (Asia). Kini pemerintahan RD Kongo bukan lagi fasis militer, nama depan sudah republik demokratik yang artinya kekuasaan tidak lagi absolut di eksekutif, pembagian kekuasaan terbagi ke legislatif dan yudikatif. Dengan demikian tidak ada lagi (seharusnya) ancaman dari pemerintah seperti 52 tahun silam.
*
Pangkep, 9 Juni 2026
Versi lebih pendek dimuat di Tribun Timur Edisi 11 Juni 2026
[1] Christophe Astruc, Jérôme Fritel (sutradara). 2026. The Bus: A French Football Mutiny. Netflix.
[2] https://panditfootball.com/klasik/42239/PFB/140523/diktator-zaire-match-fixing-dan-free-kick-terkonyol-di-piala-dunia
[3] https://www.instagram.com/p/DTXZr4uD2OT/



Komentar