Piala Dunia Kami Dimulai Setelah Panen Musim Kemarau


Di tapak waktu di dekade 90-an, ketika ufuk terbentang di kaki langit barat, di hamparan sawah sehabis panen, di situlah lapangan yang menjadi pembuktian telapak kaki menggilas ketandusan tanah yang perlahan mengering.

Lintasan memori tubuh tak lekang oleh waktu. Tidak tertimbun oleh air bah informasi di sosial media. Kerap muncul ketika hajatan Piala Dunia kembali digelar. Kami juga memainkan piala dunia (huruf kecil) dalam selingkaran pertemanan.

 

KBBI mendefinisikan frasa dunia ke dalam enam bentuk, pada definisi nomor empat diterangkan: lingkungan atau lapangan kehidupan. Seperti itulah Piala Dunia yang kami mainkan. Bagian tepi dari kebudayaan populer yang terselip di koper para perantau Eropa yang mulai berdatangan di bantala Nusantara di akhir abad ke-19.

 

Tidak semua desa memiliki tanah lapang memainkan sepak bola di waktu sore. Namun, sepak bola terus tumbuh, hanya perlu ditunda sesaat. Menunggu selesainya segala aktivitas agraris. Awal kemarau adalah jeda rutinitas di sawah bertanah landai.

 

Tidak ada kepanitiaan, yang ada inisiatif memasang tiang pancang dari bambu di dua sudut. Persolannya tidak semua petak sawah berbentuk persegi panjang yang sungguh simetris. Tantangan segera diatasi dengan memugar pematang sementara waktu. 

 

Selanjutnya adalah peristiwa. Sumbu cerita yang diceritakan kembali di sela menenggak tuak di bale bambu menantang angin malam kemarau. Bahwa si anu menggiring bola selayaknya Maradona, dan si anu yang lain menyundul bola serupa Gullit, ada juga si anu yang menendang bola sekeras Batistuta. Romantika imajinasi yang seenak perut dipacak dari tontonan di teve.

 

Emha Ainun Nadjib dalam bukunya, Bola-Bola Kultural (Prima Pustaka: 1993) menandai geliat seperti itu sebagai sepak bola kultural. Sepak bola yang dimainkan dengan kegembiraan. Motifnya sebagai ruang berkumpul warga merayakan satu babakan episode dalam kehidupan di waktu tertentu.

 

Syahdan, di musim kemarau di dekade awal tahun 2000-an, geliat sepak bola sawah naik level menjadi kompetisi antar kampung. Guna menjaga euforia kegembiraan, pemain tiap tim dibatasi. Tidak boleh ada pemain profesional tingkat desa, pemain seperti ini ditandai dan dikenali dengan lekat sebagai skuad timnas di desa.

 

Jadi, meski sifatnya tarkam, levelnya masih dibawah dari kompetisi tarkam yang sudah dikenal luas. Mereka yang terlibat sebagai pemain memanglah pemain yang bermain sepak bola di sawah di kampung masing-masing selepas panen kemarau. Bukan pemain yang saban sore menendang bola di lapangan. Seperti diuraikan di awal, tidak semua desa memiliki lapangan sepak bola.

 

Sependek yang saya ingat, kompetisi yang dinamai Liga Galung-Galung (Bugis: sawah) ini berlangsung hingga lima kali pagelaran tiap kemarau tiba. Di tiap pertandingan, euforia suporter antar tim selayaknya berada di dalam stadion. Saling umbar, saling sikut, saling ejek di tepi pematang. Segalanya akan berubah jika menyangkut kompetisi sepak bola. 


Di dalam lapangan, para pemain harus bisa membaca arah bola yang memantul di permukaan tanah yang tidak rata. Salah antisipasi, bukan bola yang ditendang melainkan kaki pemain lawan. Dan, begitulah yang kerap terjadi. Wasit kadang lebih banyak mengumbar senyum ketimbang mengeluarkan kartu kuning atau merah. Sebentuk kemakluman atas situasi yang terjadi. 

 

Jangan bayangkan ada operan pendek serupa Tiki Taka. Gaya Kick And Rush ala sepak bola Inggris pun sepertinya tidak ada apa-apanya dengan peragaan sepak bola yang digelorakan para pemain. Terkadang seorang pemain yang percaya diri dengan tendangan kerasnya, akan terus melakukan hal berulang di sepanjang laga. Tak peduli ia berada jauh di mulut gawang lawan mainnya. Intinya bola ditendang sepanjang mata memandang. Begitulah.

 

Tim medis tidak begitu dibutuhkan, sebaliknya kuasa dukun lebih diutamakan untuk membantu menangkal serangan lawan. Keberadaannya di tepi lapangan tidak disadari, tiba-tiba saja seorang penyerang yang sudah berhadapan langsung dengan kiper dibuat payah dengan tendangan melenceng atau jauh di atas mistar gawang.

 

Melengkapinya, taruhan bola tampaknya bagian tak terhindarkan. Para petaruh sigap melakukan prediksi dan transaksi. Taruhannya tidak main-main, seekor sapi jantan menandai kesepakatan. Tentu saja tindakan gila, tetapi begitulah mereka merayakan kegembiraan.

 

Pada akhirnya, mental berkompetisi jualah yang kerap menjadi sandungan. Keributan antar pemain sulit terhindarkan. Kekalahan adalah aib meski motivasi menggelar kompetisi untuk merekatkan kekerabatan antar warga  melalui sepak bola. Manusia menjadi fana di hadapan nilai skor pertandingan.

 

Mungkin, memang sebaiknya sepak bola kultural tidak perlu dibingkai ke dalam kompetisi. Biarkan saja bola menggelinding di kaki-kaki tanpa sepatu di petak sawah yang mengering. Menyudahi permainan ketika beduk Magrib mulai terdengar.

 

*

Pangkep, 20 Juni 2026

 

Publis pertama kali di Tribun Timur

Komentar

Postingan Populer