Paradoks Sains di Tengah Misteri Sepak Bola
Di salah satu kontennya di Instagram, Martin Suryajaya mengulas singkat hasil pembacaannya atas cerpen On Exactitude in Science karya Jorge Luis Borges, sastrawan asal Argentina yang kerap disalahpahami membenci sepak bola karena pernah menulis cerpen Esse Est Percipi.
Padahal cerpen bertema sepak bola itu merupakan kritik Borges atas sepak bola yang perlahan masuk dalam cengkeraman kebutuhan industri. Borges menuliskan laga terakhir sepak bola terjadi pada 24 Juni 1937 di Buenos Aires. Selanjutnya sepak bola sebatas dimainkan di studio teve dan radio.
Wacana ini pertama kali saya ketahui di kalangan para pandit sepak bola di tahun 2015. Terjemahan cerpen Esse Est Percipi pernah tayang di panditfootbal.com. Alur cerpennya sederhana, tetapi Borges memakas kita mempercayainya. Menurut saya Borges seorang melankolia yang merindukan sepak bola masa kecilnya yang mungkin ia tonton di waktu sore. Sepak bola yang dirayakan dan dirasakan sebagai manusia yang mengalaminya langsung di lapangan atau mendekap atmosfer sebagai penonton yang menyaksikannya di pinggir lapangan.
Lima tahun sebelum saya membaca cerpen itu, di Pangkep tengah diadakan Pekan Olahraga Daerah (Porda) di tahun 2010. Sebagai tuan rumah, Pangkep menyulap fasilitas pertandingan olahraga yang sejauh itu terbengkalai. Utamanya rupa Stadion Andi Mappe yang sepertinya hanya sekali pugar dalam semalam.
Sebagaimana ajang multi cabang olahraga, baik di tingkat kabupaten/kota, provinsi, SEA Games, hingga Olimpiade, sepak bola tetaplah cabang yang paling disorot dan dinantikan laga finalnya. Begitu juga Porda 2010 di Pangkep.
Di hari yang dinanti, publik Pangkep berbondong-bondong ke stadion menyaksikan laga final cabang olahraga sepak bola yang mempertemukan tim tuan rumah melawan skuad Palopo. Empat sisi tribun semuanya didominasi warga Pangkep.
Rasa-rasanya laga final sekadar seremonial belaka karena publik tuan rumah sudah membawa perangkat kemenangan dari rumah masing-masing. Seolah ke stadion hanya bentuk validasi kehadiran menyaksikan jalannya laga.
Tetapi, begitulah misteri bekerja. Skuad Palopo meraih medali emas dengan sebiji gol. Stadion hening, sejumlah penonton perlahan meninggalkan tribun ketika sudah yakin tim tuan rumah tak bakal mengubah skor.
Mengenang peristiwa itu kembali, sedikit banyaknya mengingatkan tragedi Maracana ketika Uruguai mempecundangi Brasil di final Piala Dunia FIFA tahun 1950. Rakyat Brasil yang mengingat bola seperti agama dibuat merana. Saking tragiknya, ada suporter Brasil yang meninggal di stadion karena tak kuasa menerima kekalahan. Selanjutnya, dampak kekalahan itu mengubah lanskap sepak bola Brasil. Tumbuh menjadi dendam di dada para pemain yang memperkuat skuad Selecao di kemudian hari.
Pangkep hanyalah kota kecil dan akar sepak bolanya tidaklah sedalam di Brasil. Sepak bola segera dilupakan pasca kekalahan di final Porda 2010 itu. Kondisi stadion Andi Mappe juga sama. Hanya diperhatikan jika ada hajatan hendak digelar di sana.
Paradoks Sains
Brasil sebagai tim nasional pasca tragedi Maracana melakukan cetak baru, secara perlahan mulai menginternalisasi terapan sains. Ketahanan fisik pemain digenjot melalui nutrisi dan olah tubuh secara sistematis.
Manajemen tak lagi sepenuhnya bergantung pada bakat alam anak-anak Brasil yang memandang sepak bola sebagai wahana bermain di jalan. Sebaliknya, memori tubuh itu dikombinasikan dengan pengalaman terapan sains di pusat pelatihan. Legenda mereka, Pele bisa diajukan contoh terbaik yang kemudian menjadi tumpuan meraih bintang keempat di Piala Dunia FIFA tahun 1970.
Hanya saja, penerapan sains yang serba pasti itu sepertinya mengejek keberadaan manusia yang dalam batas tertentu mengalami keterbatasan. Memang sepak bola selain sudah menjadi industri, asumsi-asumsi sains dalam aturan juga sudah dterapkan.
Teknologi Video Assistant Referee (VAR) yang semakin presisi, tidak hanya menghentikan momen kegembiraan pemain usai mencetak gol, tetapi juga mengubah jalannya pertandingan. Atas dasar sportivitas, saya mendukung VAR sebagai perangkat. Hanya saja, perlu kekonsistenan. Pertanyaannya, sejauh mana manusia, dalam hal ini wasit dan seluruh sumber daya yang bekerja selama pertandingan dapat menerapkannya.
Sebagai contoh di gelaran Piala Dunia 2026, salah satu gol Vinicius Junior dianulir di laga kontra Skotlandia karena dianggap melanggar sebelum gol tercipta. Bandingkan di pertandingan lain, mengapa gol Leroy Sane ke gawang Ekuador menjadi sah, sementara sebelum gol tercipta ada pelanggaran pemain Jerman yang lain atas pemain Ekuador.
Momen itu bahkan berentetan yang semuanya terjadi di depan mata wasit. Setelah memeriksa rekaman VAR, wasit bergeming dan skor 1-0 untuk Jerman. Jika dibandingkan pelanggaran Vinicius dengan pemain Jerman itu, bila ditinjau dari kerentanan fisik, jelas pelanggaran pemain Jerman lebih fatal.
Tampaknya kegelisahan Borges atas sains seperti itu, di cerpen On Exactitude in Science yang diulas Martin, Borges mempertanyakan ketepatan sains bagi manusia yang sudah berpijak di dunia dan dapat merasakan sesuatu secara langsung dengan inderanya.
Di cerpen itu persisnya mengisahkan perayaan seni kartografi di sebuah negeri. Konon, para kartograf sudah mampu membuat peta skala 1:1 yang memperlihatkan lanskap negeri dengan sangat presisi.
Namun, peta itu tidak berguna karena terlalu mubazir. Jika manusia di negeri itu bisa melihatnya langsung buat apa ada peta. Kira-kira begitu paradoks sains bagi Borges yang hendak menghapus pengetahuan misteri bagi manusia.
Lalu, bukankah VAR sebagai penerapan teknologi sains dimaksudkan untuk melihat kembali hal-hal (misteri) yang terlewat dalam pertandingan? Lantas mengapa masih ada kefanaan putusan. Ah, jangan-jangan sepak bola yang dimainkan hari ini memanglah digelar di sebuah studio teve.
*
Pangkep, 26 Juni 2026
Tayang pertama kali di Tribun Timur Edisi Senin, 29 Juni 2026




Komentar