Tentang Cerpen yang Melangkahi Waktu
Pencapaian seseorang dalam pergulatan profesi yang ditekuni akan membawa endapan ingatan di benak tentang ciri khas yang melekat. Sebagaimana atlet sepak bola, kita mengakrabi kekhasan pada pesepakbola tertentu. Begitu pula bagi para sastrawan dalam karya yang ditulisnya.
Berikut ini merupakan pendapat saya mengenai cerpen yang pernah saya baca yang, kira-kira, menjadi penanda sastrawan tersebut. Tentu, pilihan ini sepenuhnya selera bacaan saya saja dan membuka pintu tafsir tersendiri bagi pembaca.
Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu, judul cerpen ini pertama kali saya ketahui dalam ulasan di majalah sastra Horison, lupa edisi tahun berapa, tetapi menjadi semacam pekerjaan yang tak selesai. Saya dihantui ingin membaca cerpen itu.
Di tahun 2007, cerpen gubahan Tolstoy itu saya jumpai di kumcer dengan judul yang sama. Diterbitkan Jalasutra tahun 2005 yang diterjemahkan Anton Kurnia. Kumcer itu milik teman dan saya mencurinya dengan alasan meminjam.
Rupanya, bukan cuma cerpen itu yang dahsyat dari Tolstoy, ada beberapa yang bertenaga dan tersimpan rapi di memori usai membacanya. Namun, jika harus memilih satu cerpen, maka Tuhan Maha Tahu itulah yang paling tertanam.
Masih dari sastrawan asal Rusia, dari sekian banyak cerpen Anton Chekov, saya memilih Matinya Seorang Buruh Kecil.Cerpen ini terangkum di antologi dengan judul yang sama. Terbitan Melibas tanpa tahun terbit di halaman kredit titel, tetapi saya membelinya di tahun 2003.
Dari pengarang Indonesia, kita juga bisa menetapkan pilihan. Tentu ada banyak sekali cerpen yang terus dilahirkan dan mencari hidup di lembaran media cetak atau langsung diterbitkan ke dalam antologi.
Saya memulainya dari kumcer Dilarang Mencintai Bunga-Bunga (Pustaka Firdaus, 1992)[1] karya Kuntowijoyo. Di kumcer ini terangkum cerpen Sepotong Kayu untuk Tuhan. Kumcer ini dikumpulkan dan diterbitkan atas usaha Sunu Wasono ketika membantu pengerjaan arsip di Pusat Dokumentasi HB Jassin. Pengakuan itu ada di pengantar.
Meminjam analisis Sunu Wasono, orang tua dan anak-anak menjadi karakter dominan. Dua karakter ini terekam kuat di cerpen Dilarang Mencintai Bunga-Bunga yang dipilih menjadi judul antologi ini. Sedangkan watak orang tua begitu kuat di Sepotong Kayu untuk Tuhan yang menurutku lebih pas dijadikan judul buku.
Selanjutnya saya memilih Martin Aleida lewat kumcer Mati Baik-Baik, Kawan (Ultimus, 2014. Cetakan Ketiga)[2]kumcer ini tidak selazim antologi yang lain yang biasanya mencomot satu judul cerpen guna dijadikan judul kumcer.
“Mati baik-baik, kawan” bukanlah judul cerpen melainkan potongan percakapan di cerpen berjudul Mangku Mencari Doa di Daratan Jauh. Saya memilih Bertungkus Lumus sebagai cerpen yang menggambarkan kegigihan Martin merekam dan mengolah serakan kesaksian pilu pasca tragedi 1965.
Saya membaca dua kumcer Sobron Aidit, Razia Agustus (GPU: 2004) dan Prajurit yang Bodoh (GPU: 2006)[3] dari masing-masing antologi mengandung cerpen dengan konteks kisahnya. Mengingat Sobron adalah adik DN Aidit, menyeruak dugaan kalau Sobron menyandarkan kisah pada peristiwa lampau, utamanya di tahun-tahun pasca 1965 dan setelahnya.
Hal tersebut memang benar, Sobron mengulik kisah pilu yang dialami orang-orang yang dicap kiri sampai kehilangan hak warga negara. Namun, tuturan Sobron tidak melulu ode bagi nasib malang. Ia punya tawaran humor tanpa menawarkan kehampaan. Di cerpen Prajurit yang Bodoh kepiawaian itu tercapai.
*
Kekhasan penciptaan karya merupakan proses yang dilakukan tanpa henti. Lipatan waktu menjadi jembatan juga tantangan yang harus ditaklukkan. Eka Kurniawan dalam salah satu esai di blognya menuliskan kapan seseorang melahirkan karya terbaiknya.
Ini tidak sama dengan atlet yang bertaruh dengan usia emasnya meraih presetasi. Sastrawan, praktis tidak dibatasi usia mengguncang dunia dengan karya yang kelak oleh lapisan pembaca memacaknya selaku adi karya.
Melanjutkan catatan pembacaan saya soal cerpen dengan kekhasan penciptaan yang melekat pada pembuatnya, Pramodeya Ananta Toer tak bisa dilewatkan. Walau lebih banyak melahirkan novel, Percikan Revolusi Subuh (Hasta Mitra, 2001). Dua kumpulan cerpen yang disatukan ini dulunya pernah terbit terpisah di tahun 1950 untuk cetakan pertama Percikan Revolusi dan di tahun 1951 kumcer Subuh.
Dari 12 cerpen, saya memilih Blora. Kita tahu Pram lahir di Blora dan menjalani liku kisah dalam hidupnya bermula di sana. "Semua cerita pendek yang dikumpulkan dalam buku ini terkarang semasa pengarang berada dalam tahanan semenjak aksi militer pertama pada 21 Juli 1947," tulis HB Jassin dalam pengantarnya.
Eka Kurniawan yang disebut oleh Ben Anderson selaku suksesor Pram kemudian datang membongkar tatanan peta sastra Indonesia. Saya lebih dulu membaca novel Cantik Itu Luka (Jalasutra dan AKY: 2002) di tahun 2004 sebelum novel ini menjumpai banyak lapisan pembaca setelah diterbitkan ulang Gramedia Pustaka Utama (GPU).
Di tahun 2015, Eka mengirimkan kumcer Corat Coret di Toilet[4] yang diterbitkan ulang GPU di tahun 2014. Pertanyaan saya terpilih untuk dijawab oleh Eka di blognya, ya semacam give untuk mendapatkan novel Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas[5], hanya saja novel itu tidak sampai dan Eka menggantinya dengan kumcernya itu.
Tidak perlu lama menetapkan pilihan, Corat Coret di Toilet adalah cerpen yang bisa mewakili bagaimana Eka bertutur. Meski cerpen ini bukan cerpen Eka yang pertama saya baca. Sejumlah cerpennya sudah sering saya jumpai di Kompas.
Pengarang sejawat Eka yang pernah bersamanya di Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY), Phutut EA juga menjadi penanda melalui sejumlah cerpennya.
Seorang kawan pernah membeli kumcer pertamanya, Sebuah Kitab yang Suci cetakan pertama oleh Jendela di tahun 2004). Saya pernah membaca cerpen itu tetapi agak berat.
Sarapan Pagi Penuh Dusta juga merupakan kumcer Phutut, dulu ingin membelinya namun selalu lupa. Di tahun 2004 justru saya mendekap Dua Tangisan pada Satu Malam (Kompas: 2003)[6]. Tata letak buku ini dilengkapi ilustrasi Andi Seno Aji yang merespons setiap cerpen.
Lewat buku ini membuka rangkaian imajinasi tentang impian menerbitkan kumcer di tahun-tahun mendatang. Bagi saya, kumcer ini bukan sekadar mengumpulkan cerpen Phutut yang sudah pernah tersiar di sejumlah media cetak. Buku ini digarap untuk menunjukkan hal berbeda. Ilustrasi yang ada tentu saja bagian dari itu, ditambah epilog tentang proses (tidak) kreatif.
Oh iya, Hujan yang Sebentar saya pilih sebagai cerpen yang bisa dipakai segala keperluan merespons hari-hari yang dilewati. Misalnya saja, judul cerpen ini pernah saya pinjam untuk menulis sepotong perjalanan ketika naik motor kemudian hujan turun.
*
Pengarang perempuan Indonesia yang saya baca kumcernya sejauh ini hanya Linda Christanty. Nama ini saya lupa dimana pernah membacanya, tetapi itu terjadi di tahun 2003. Mungkin saya membaca namanya di salah satu artikel di koran. Di tahun itu sulit sekali menemukan kumcer Kuda Terbang Mario Pinto.
Barulah di tahun 2011, di bazar buku yang digelar Gramedia di Makassar saya menjumpai Rahasia Selma (GPU: 2010). Sampulnya sepasang kaki anak kecil dibalut kaus mengenakan sendal pengerat, serupa model sendal gunung. Saya pernah membaca di koran kalau sampul itu mengalami perdebatan mengenai penggunaan hak cipta.
Pohon Kersen saya pikir cerpen yang keren yang mengajak untuk bertamasya ke masa lalu. Jenis pohon ini bisa dijumpai di wilayah Indonesia karena bisa tumbuh tanpa perawatan yang menguras waktu. Sewaktu kecil pohon kersen merupakan salah satu pohon yang diminati untuk dipanjat karena tidak tinggi. Dan, sesama sejawat berebut buahnya yang sudah ranum.
Mungkin karena itulah cerpen ini begitu lekat, seolah kita menjadi bagian dari yang diceritakan dalam cerpen. Terlepas dari kesaksian dan konflik yang hendak dibangun Linda di cerpennya itu.
*
"Orang yang ingin menjadi orang lain sesungguhnya menzalimi dirinya yang khas," tukas Pidi Baiq. Namun, tak dimungkiri jika jejak awal kepenulisan seseorang sedikit banyaknya meniru gaya penulis idola masing-masing.
Memang tidak ada yang bisa lepas dari pengaruh. Layaknya dalam sebuah band. Slank, melalui pentolannya, Bimbim, yang mengidolakan The Rolling Stones, di sejumlah lagu Slank aroma musik asal Inggris itu begitu tercium.
Hal yang lumrah juga terjadi dalam penciptaan cerpen. Peraih nobel kesusastraan tahun 1982, Gabriel Garcia Marquez dalam pengakuannya terperanjak kala membaca novela Metamorfosis gubahan Kafka. Di kumcer Selamat Jalan, Tuan Presiden (Bentang:1999). Nafas Kafka bisa dijumpai di cerpen Si Cantik yang Tidur di Pesawat Terbang.
Empat cerpen yang terangkum diterjemahkan oleh Ruslani dari Bon Voyage Mr. President and Other Stories (Penguin Books: 1995). Gambar sampul merupakan karya instalasi Teddy D, oleh Buldanul Khuri dipermak menjadi sampul menarik.
Gabo, sapaan Marquez yang dikenal sebagai salah satu pengusung realisme magis yang menjadi corak para pengarang dari Amerika Latin, tentu melakukan reparasi konsep dari yang sudah dilakukan Kafka. Tidak benar-benar membebek. Dan, itu bisa dinikmati di sejumlah karyanya yang lain, utamanya di novel Seratus Tahun Kesunyian.
Di sepanjang tahun 2002 hingga 2004 saya melewatkan buku bersampul absurd. Judulnya tidak mengesankan (saat itu bagi saya) sebagai karya sastra: Metamorfosis. Di tahun selanjutnya justru melahirkan penyesalan. Mengapa buku itu saya lewatkan.
Di tahun 2016 buku itu kembali hadir di depan mata. Tak ingin melewatkan, buku yang dulu, waktu pertama melihatnya di tahun 2002 diterbitkan Pustaka Promothea dan kini bekerja sama dengan Narasi (2015).
Kumcer yang memakai novela Metamormofosis sebagai judul antologi itu, disebut demikian karena cerita tersebut pernah terbit mandiri. Kini terangkum bersama puluhan cerpen yang lain. Struktur cerita Metamormofosis memang panjang ketimbang cerpen yang lain.
Kumcer ini lumayan gemuk: 419 halaman. Diterjemahkan dari The Transformation (Metamorphosis) and Other Stories (Penguin Books: 1992) oleh Ribut Wahyudi, Saut Pasaribu, Yudi S, dan T Widiyantoro. Gambar sampul diambil dari lukisan Picasso dan didesain Buldanul Khuri kemudian Sugeng mendesain ulang. Jika membandingkan dengan terbitan awalnya, perubahan sampul hanya pada komposisi warna.
Di luar Metamormofosis, cerpen Anjing-anjing Liar dan Orang-orang Arab menampilkan kecanggihan Kafka bercerita jika dikembalikan pada masanya. Kita hanya bisa mengukur itu sebagai pemberontakan Kafka dari posisi kita saat ini bahwa, Kafka telah mengutak-atik dongeng dan cerita yang dialami masyarakat di zaman dia hidup. Cerpen ini juga menunjukkan betapa pengaruh Kafka mengilhami penulis selanjutnya dalam mengembangkan struktur dan narasi.
*
Bila mengingat kembali, di kisaran tahun 2002 atau 2003 cerpen Putu Wijaya mengentak pikiran. Setidaknya itu yang saya alami bila membandingkan cerita yang lumrah dibaca di pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah.
Bom (Balai Pustaka: 1992). Demikian judul kumcer mungil itu, hanya berukuran 11,5 cm x 17,5 cm. Sayang, kumcer ini raib. Kemudian saya menemukannya kembali di salah satu toko buku di Makassar di tahun 2013. Saya bahagia sekali menjumpainya tergeletak di atas meja bersama sejumlah buku yang lain. Tanpa pikir panjang saat itu, buku itu saya raih dan menciuminya.
Terdapat 17 cerpen. 13 judul di antaranya hanya berjudul satu suku kata. Sampai di tahun 2012, saya menempatkan cerpen Merdeka yang saya baca di buku sisipan program Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB) 2003. Di tahun itu program SBSB yang dipelopori majalah Horison itu singgah di Makassar dan menyaksikan langsung Putu Wijaya membacakan cerpen Merdeka. Seru sekali.
Namun, setelah berjumpa kembali dengan kumcer Bom, bukan judul salah satu cerpen yang terangkum. Entah mengapa kumcer tersebut dijuduli demikian. Penjelasan di lembaran pengantar dijelaskan kalau Bom diterbitkan untuk melengkapi kumcer Putu yang telah diterbitkan sebelumnya oleh Balai Pustaka yakni: Lho, Gres, Geer, dan Dor.
Cerpen berjudul Protes melampaui imaji protes sosial Putu Wijaya di cerpen Merdeka. Di cerpen itu Putu meneror ketenangan berpikir kita bagaimana membaca situasi sosial yang bisa jadi kita menjumpainya juga di sekitaran kita hidup.
*
Jika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Adagium yang begitu melekat pada Seno Gumira Adjidarma (SGA). Perangkat yang digunakan SGA begitu lengkap dan beragam. Ia bisa diingat dengan intensitas mumpuni di setiap karya yang digarapnya.
Senja menjadi satu peristiwa alam yang melekat di sejumah cerpen SGA. Dari banyak kumcernya, saya hanya mengoleksi tiga saja: Saksi Mata (Bentang: 2016)[7], Iblis Tidak Pernah Mati (Galang Pres: 2004. Cet. Ketiga), dan Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (Jb Publisher: 2017. Cetakan Keempat).
Kekuatan cerpen SGA terletak pada peristiwa yang diakibatkan dari ideologi politik. Ia mengisahkan ulang dengan pendekatan satiris, humor, dan magis. Sejauh ini, dari sejumlah cerpen yang saya baca, belum ada yang mendekati kemahiran SGA meramu dampak kebijakan negara yang menindas secemerlang dirinya.
Saya tidak bisa memilih sejudul cerpen, masing-masing dari tiga kumcer tersebut saya memilih Pelajaran Sejarah (Saksi Mata), Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi di kumcer dengan judul yang sama, dan Kematian Paman Gober (Iblis Tidak Pernah Mati).
*
Di harian Kompas edisi Minggu, saya menjumpai cerpen berjudul Ulat Bulu dan Syekh Daun Jati, di awal tahun ini (2000) cerpen itu saya jumpai kembali di kumcer Cerita Buat Para Kekasih (GPU: 2017. Cet. Kedua). Matinya Seorang Demonstran, cerpen yang didedikasikan buat Eka Kurniawan yang awalnya saya baca di Kompas juga terangkum di sini.
Agus Noor produktif sekali mempublikasikan cerpennya di Kompas, kumcer ini, sayang tidak dilengkapi riwayat publikasi sehingga pembaca tidak memiliki pengantar ingatan. Agus Noor, saya kira, jika menghayati kecenderungan muatan cerpennya ada kemiripan dengan upaya SGA dalam mengelaborasi peristiwa sosial akibat dampak politik. Tentu saja Agus melakukan pendekatan yang lain dengan proses kreatifnya.
Di cerpen Kunang-Kunang di Langit Jakarta bisa menjadi contoh. Sejak Umar Kayam melalui cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, saya kira tidak ada lagi pengarang Indonesia yang mencoba berebut tempat agar diingat dengan frasa kunang-kunang itu. Dari yang sedikit atau malah, sama sekali tidak ada selain Agus Noor. Ia mampu merebut ruang itu di benak pembaca. Kunang-kunang sangat familiar sebagai penggubah cerpen.
Jika nanti ada pertanyaan, siapakah cerpenis Indonesia yang lekat dengan kunang-kunang, jawabnya: ya dua nama itu.
Kita sampai pada cerpenis yang bertutur begitu rapi. Pengalaman membaca saya, Budi Darma merupakan pengarang yang tidak begitu canggih menuliskan cerita. Sejumlah cerpennya lurus-lurus saja mengurai peristiwa dengan penokohan yang kuat.
Kritikus Adinan, cerpen ini termuat di antologi Laki-Laki Lain dalam Secarik Surat (Bentang: 2008). Menujukkan fokus Budi Darma pada penciptaan tokoh dalam selingkup peristiwa yang dialami.
Budi Darman tiba pada ruang yang penuh timbal balik dan itu menjadi respons tokoh yang dihidupkan. Keseluruhan cerpen di antologi ini dihidupi tokoh yang mengisahkan jalannya cerita. Namun, saya menemukan kesalahan teknis karena hilangnya sejumlah halaman yang sangat menganggu melanjutkan pembacaan. Mungkin proses penjilidannya ada yang terlupa. Semoga saja ini tidak terjadi pada keseluruhan buku yang telah dicetak.
*
Nama Arswendo Atmowiloto telat saya baca, secuil sepak terjangnya mengenai survei yang diadakan media tempatnya bekerja: Monitor, yang menempatkan Nabi Muhammad bukan di urutan pertama berujung bui itu saya baca di liputan majalah bekas (lupa nama majalahnya, kalau tidak salah antara Tempo atau Gatra).
Di sepanjang hari-hari membaca karya sastra, khususnya cerpen, Arswendo saya lewatkan. Pernah terbersit ingin membeli novel Blakanis namun terlupa. Di sela itu, saya terkadang menjumpai cerpennya di Kompas dan menurut saya, cara berkisahnya biasa saja. Datar. Tidak ada kejutan.
Mungkin saja, ini dugaan saya, Arswendo terlampau menggampangkan apa itu mengarang. Ya, sebatas membedakan teknik penulisan puisi atau esai, misalnya. Asumsi lain, Arswendo sudah melangkahi teknik yang seperti itu, ia tidak butuh pembuktian apa lagi dalam menuliskan pikirannya ke medium cerpen. Kisahnya mengalir saja berdasarkan pengalamannya mengamati situasi tanpa perlu membebaninya dengan situasi politik yang melatari peristiwa.
Jika pernah menonton serial sinetron Keluarga Cemara dan film dengan judul yang sama yang rilis tahun 2019, kisah itu merujuk pada novel, juga judul yang sama karya Arswendo. Situasi yang dihadapi Abah dengan protes pekerja melalui proyek yang digarapnya akibat keterlambatan gaji begitu sederhana dan tidak digali dengan situasi sosial politik.
Abah menerimanya begitu saja dan emoh menelusurinya lebih jauh. Pilihannya menghindari masalah dan menyingkir ke desa memulai kehidupan baru. Kira-kira seperti itulah tema besar cerpen Arswendo di kumcer Senja yang Paling Tidak Menarik (Tera: 2006. Cetakan Kedua). 18 cerpen di antologi ini disunting oleh Dorothea Rosa Herliany.
Selain cerpen Senja yang Paling Tidak Menarik, saya memilih cerpen Kaos Biru Lengan Panjang yang menunjukkan kekonsistenan Arswendo pada ulasan atas amatannya menyaksikan situasi sosial ke dalam cerita.
*
Cerpenis Indonesia yang kini, menurut saya, hilang dari hiruk pikuk pembacaan generasi milenial (juga generasi Z) ialah Sori Siregar. Seorang kawan pernah nyeletuk ketika membaca cerpen Sori Siregar di Kompas yang dianggapnya penulis pemula. Penilaiannya itu bukan berdasar muatan cerpen tetapi nama itu memang baru diketahui.
Jejak kepenulisan pengarang kelahiran Medan tahun 1939 ini sudah lama, namanya sudah dimuat di sejumlah media cetak di dekade 60-an hingga memasuki medio 2000-an karyanya masih kerap muncul di Kompas.
Kumcer berukuran mungilnya bertajuk Kisah Abrukuwah diterbitkan Gramedia di tahun 2003 yang memuat sepuluh cerpennya yang sebelumnya tayang di beberapa media, termasuk cerpen Gobzadeh yang dimuat di Kompas di tahun 2001.
Cerita gubahan Sori sedikitnya memiliki kemiripan dengan karya Putu Wijaya, mungkin karena pengarang ini dulunya pernah aktif selaku jurnalis. Sejak judul, Sori sudah membuat penasaran pembacanya, Kisah Abrukuwah dan Gobzadeh adalah dua cerpen dengan judul beribu tafsir jika tidak membacanya.
Selain Sori Siregar, ada juga nama Indra Tranggono, cerpenis yang kurang dikenal generasi setelahnya. Saya hanya mengoleksi satu saja kumcernya bertajuk Sang Terdakwa dan, sudah saya hibahkan ke komunitas baca di kota saya bersama puluhan buku yang lain. Jadi tidak sempat membaca ulang guna memilih sejumlah cerpen, namun cerpen Sang Terdakwa yang dijadikan judul antologi itu terbilang menarik dan menawarkan perspektif baru.
Arswendo, Sori, dan Indra tiga cerpenis dari zaman berbeda. Sori lebih senior ketimbang Arswendo dan, Indra baru lahir ketika Sori dan Arswendo sudah melekat di benak pembaca sastra.
Kini, mereka (sebelum Arswendo wafat tahu 2019 lalu), karya mereka masih sering muncul di media cetak, utamanya di Kompas. Jejak panjang mereka bersanding di lembaran serupa dengan cerpenis yang baru memulai membangun tapak.
*
Di Festival Literasi Indonesia dalam rangka Peringatan Hari Aksara Internasional di Makassar tahun 2019, saya berkesempatan berbincang banyak dengan Badaruddin Amir. Diusianya yang sudah setengah abad lebih, ia masih layaknya penulis pemula yang riang dan mencoba beragam tantangan. Ia membacakan langsung cerpennya. Saya dan seorang kawan, M Galang Pratama takzim mendengarnya bermonolog di serambi kamar hotel tempat kami menginap.
Risalah (Gora Pustaka: 2019)[8] merupakan kumcer ketiganya yang dibubuhi kata pengantar oleh Maman S Mahayana. "...Kumpulan cerpen karya Badaruddin Amir ini cukup menarik dijadikan contoh kasus bahwa cerpen dapat dikemas seperti permainan..." Tulis Maman.
Memilih cerpen Pak Badar, begitu saya menyapanya, yang mengantarkan namanya diingat di publik sastra ialah Latopajoko. Sayang, cerpen itu terangkum di kumcer Latopajoko dan Anjing Kasmaran (Akar Indonesia: 2007) dan sudah langkah.
Di kumcer Risalah ini terangkum 18 kisah yang menawan dan menampilkan kesahajaan. Pak Badar meminjam lanskap dongeng di beberapa cerpen dan di cerpen lain bertutur licin.
*
Saya lupa, apakah nama Wawan Mattaliu lebih dulu saya ingat sebagai politikus yang pernah duduk sebagai anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, ataukah lebih awal namanya terimpit di rak lewat kumcernya, Warisan (Tomanurung: 2004).
Saya juga lupa dari mana memperoleh kumcer ini. Apakah saya membelinya di toko buku atau menemukannya di sekretariat UKM Seni UMI (Universitas Muslim Indonesia). Biasanya saya menandai harga buku yang sudah terbeli dengan kode tertentu, tetapi tidak menemukan hal itu di lembaran kumcer ini. Hanya tertera keterangan tanggal, bulan, dan tahun mendekapnya: 2004.
Jika membaca ulang kumcer ini, serasa bukan membaca catatan Wawan yang kerap ia bagikan di beranda Facebooknya. Ada hal yang begitu berbeda. Sejumlah cerpennya memberikan banyak potongan peristiwa untuk diterka.
Selain Warisan, saya memilih cerpen Perempuan yang menurut saya menujukkan fokus Wawan membangun struktur cerita yang bertumpu pada potongan peristiwa yang tidak semuanya diceritakan.
*
Di tahun 2016 kami berjumpa tanpa janji yang disepakati. Sore itu di salah satu teras warkop di jalan Sultan Alauddin dekat dealer kendaraan roda empat. Karena ada janji, ia tidak memesan segelas kopi, setelah basa basi ia menyerahkan kumcernya, Lelaki Gerimis (The Phinisi Press: 2015).[9]
Saya sering membaca cerpennya di rubrik Budaya Fajar yang menjadi ruang mempublikasikan sejumlah karyanya, baik cerpen atau puisi. Lelaki kelahiran Bulukumba ini dikenal dengan nama pena Irhyl R Makkatutu.
Kumcer ini bisa juga disebut antologi puisi karena struktur setiap judul cerpen ada pula larik puisi dengan judul yang sama. Puisi dan cerpen terpisah sekaligus sebagai kesatuan pengalaman di medium yang berbeda.
"Kesan yang tertangkap dalam cerita ini adalah kesunyian dan kesepian..." tulis Nur Alim Djalil, kolumnis Fajar dalam pengantarnya. Hal lain, kita menemukan rekonstruksi kisah yang mungkin, pengalaman pribadi penulisnya.
Irhyl juga melekatkan memori tubuh yang tidak bisa ia tampik untuk disuarakan. Di cerpen Lipa Sa'be, jenis sarung berkualitas tinggi yang menjadi simbol kelas di kultur Bugis karena harganya yang mahal dan diproduksi terbatas, menjadi petunjuk kandasnya hubungan dua muda mudi. Lelaki Gerimis yang dijadikan judul kumcer menegaskan ciri khas Irhyl yang membangun kesunyian.
*
Tiap kali lebaran tiba, para perantau sudah menyiapkan peta perjalanan pulang ke kampung halaman membawa senyum untuk berkumpul dengan keluarga besar. Serasa hari lebaran telah menghapus kesedihan umat manusia dalam menjalani hidup.
Namun, Dul Abdul Rahman di cerpen Lebaran Kali Ini Hujan Turun[10] yang dijadikan judul antologi cerpennya terbitan Nala Cipta Litera di tahun 2006 ini menawarkan hal berbeda. Lebaran menjadi titik kesedihan.
Di tahun 2012 ketika menerbitkan majalah sastra Lentera di Pangkep. Dul saya kirimi surel agar bersedia mengirim karyadan ia kirimkan cerpen Orang Jatuh Cinta Dilarang Pergi ke Dukun. Padahal saya belum pernah bertatap muka dan mengenal lebih dekat. Hubungan kami tak lebih sebagai penulis dan pembaca.
Rentetan kisah dalam kumcer ini bersoal getir yang dialami manusia. Dul menghidupkan tokoh yang tegar menjalani nasib dengan merawat kesedihan. Jadinya, kita menjumpai manusia yang melewati nasib yang diterima sebagai takdir yang terlepas dari pra kondisi sosial yang melatari. Hal ini begitu terasa di cerpen Lebaran Kali Ini Hujan Turun.
Di cerpen Sampara dan Anaknya juga dijumpai narasi serupa. Manusia hanyalah partikel kecil di tengah badai tragedi yang datang menghampiri.
*
Di cerpen Lebaran Kali Ini Aku Pulang menampilkan situasi yang terbalik. Tokoh Aku di cerpen ini menjadikan indra matanya sebagai penyaksi yang tidak dijumpainya ketika dulu masih kecil. Ia menjumpai beragam perubahan di kampung halamannya. Tegasnya, cerpen ini tidak melepaskan situasi sosial politik walau tidak dijelaskan mendetail. Narasi perubahan yang disaksikan merupakan potongan kesaksian yang terpisah namun memiliki relasi jika memakai cara pandangan politik.
Cerpen ini terangkum di kumcer Kukila (GPU: 2012) karya M Aan Mansyur. Kukila, oleh banyak pembaca meresponsnya dengan pendapat: cerita Kukila sebaiknya diterbitkan tersendiri sebagai novela karena cerita ini terbilang panjang dibanding cerita yang lain.
Aan Mansyur yang lebih akrab dikenal penyair memang menampilkan hal berbeda ketika menulis cerita. Padahal, ia juga menerbitkan novel dan sejumlah esainya terangkum di beberapa buku antologi. Kekuatan tutur Aan, saya kira, terletak pada diksi yang sederhana dan membawa misi perubahan sosial.
Celana Dalam Rahasia Terbuat dari Besi merupakan cerpen yang sangat ambisius membongkar perilaku patriarki dan represifsnya sebuah sistem. Karena ini bukan khotbah, maka tak perlu dibebani pesan moral.
*
Saya hampir melewatkan kumcer Setapak Salirang, Kumpulan Cerita Pendek dari Sulawesi Selatan (Insist Press: 2006)[11]. Kumcer ini bagi saya sungguh istimewa, merangkum 15 cerpen dari penulis di Sulawesi Selatan. Terdapat nama Nurhady Sirimorok dan M Aan Mansyur, dua nama yang terus kita ingat sebagai penulis dari Sulawesi Selatan yang terus aktif membagikan pikirannya melalui karya-karyanya sampai hari ini. Sejumlah nama yang lain sepertinya asing bagi saya, padahal di bionarasi di halaman akhir, mereka semua punya jejak kepenulisan yang tidak bisa dikatakan pendek.
Baiklah, kumcer ini mencatat nama Phutut EA sebagai penyunting dan di dalamnya ada nama Anwar Jimpe Rahman yang memeriksa aksara. Jika kita tilik tahun terbit, relasi nama-nama yang ada di balik lahirnya kumcer ini berkaitan erat dengan Ininnawa, komunitas yang sampai hari ini punya andil besar dalam diseminasi kajian Sulawesi, juga di saat itu ada Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY), lembaga yang fokus pada sastra dan transformasi sosial yang memiliki hubungan erat dengan Insist.
Menurut saya, ke 15 cerpen yang terangkum begitu kuat. Selain Setapak Salirang, cerpen Nurhady Sirimorok yang dijadikan judul kumcer, juga ada cerpen Lojo-Lojo karya Asha Ray. Kisahnya memorabel dengan pegalaman waktu kecil ketika memainkan jenis permainan itu.
*
Pangkep, 2020
Catatan:
Dimuat kembali untuk pengarsipan catatan. Naskah ini pertama kali tayang di Kompasiana di tahun 2020, saat itu era Pandemi Covid 2019. Menyuntuki kembali sejumlah buku cerpen dan menuliskan pendapat, menjadi obat melewati informasi horor di masa itu. Sejumlah kumcer yang saya bahas, tentu bertarikh sampai tahun 2000 saja, kumcer yang saya baca setelah tahun itu tidak ada terangkum di sini.
Di Kompasiana, tulisan ini saya bagi menjadi enam bagian, di blog ini saya satukan dengan perbaikan sejumlah konteks dan penambahan catatan kaki yang merujuk pada catatan tersendiri atas kumcer tersebut.
Di bawah ini merupakan tautan publikasi di Kompasiana:
[1] https://kamar-bawah.blogspot.com/2015/02/orang-tua-dan-anak-anak-peliharaan.html
[2] https://kamar-bawah.blogspot.com/2015/01/ini-menyangkut-luka-kawan.html
[3] https://kamar-bawah.blogspot.com/2012/04/mengingat-dn-aidit-dan-kesaksian.html
[4] https://kamar-bawah.blogspot.com/2015/03/cerita-corat-coret.html
[5] https://kamar-bawah.blogspot.com/2015/03/perkara-burung-yang-menjadi-dendam.html
[6] https://kamar-bawah.blogspot.com/2016/02/melacak-sejarah-filosofi-mojok-puthut.html
[7] https://kamar-bawah.blogspot.com/2018/09/puncak-tertinggi-dari-horor-adalah-humor.html
[8] https://kamar-bawah.blogspot.com/2023/01/mengeja-permainan-badaruddin-amir.html
[9] https://kamar-bawah.blogspot.com/2018/02/sehimpun-tragedi.html
[10] https://kamar-bawah.blogspot.com/2018/03/lebaran-kali-ini.html
[11] https://kamar-bawah.blogspot.com/2013/01/cerpen-lain-dari-sulawesi-selatan.html



Komentar