Muhammadiyah vz NU di Kampung Kami Tidak Selesai di Meja Makan, Tetapi Diselesaikan di Lain Waktu
Rasa-rasanya sudah lama sekali tidak pernah singgah di mojok.co untuk membaca beberapa tulisan nyeleneh yang serius, atau serius sekaligus lucu. Sejak perang Israel-Amerika versus Iran di bulan Ramadhan tahun ini, saya merasa dunia kehilangan mazhab kelucuannnya. Tak terbayangkan betapa ngerinya.
Lalu iseng buka lagi mojok.co dan berjumpa dengan tulisan Thariq Ibrahim tentang perbedaan Muhammadiyah versus NU yang dapat diselesaikan di meja makan (https://mojok.co/esai/muhammadiyah-vs-nu-di-rumah-kami/2/#google_vignette). Mulanya saya pikir itu sebuah metafora untuk menyebut hal lain soal perbedaan kedua ormas tersebut yang dapat diselesaikan di meja tambang. Rupanya murni menyangkut menu makan di hari lebaran yang tersaji dalam keluarga beda latar belakang ormas keagamaan.
Sampai di situ, persisnya sampai pada persoalan makanan, saya teringat bagaimana perang dingin kaum Muhammdiyah dan NU di kampung saya. Nun jauh di dekade awal 90-an, ketika masih remaja, saya kerap menyaksikan dan mendengar bagaimana perdebatan kecil tersaji antara orang NU dan Muhammadiyah.
Padahal mereka, para tokoh-tokoh NU dan Muhammadiyah di kampung itu masihlah rumpun dekat. Hanya sekali tarik saja garis silsilah maka kakek nenek mereka akan ditemukan dari rahim yang sama. Alih-alih berdebat panjang lebar soal haram atau tidak, orang Muhammadiyah yang minoritas lebih memilih diam dan membangun lembaga keagamaan sendiri.
Jadi, orang Muhammadiyah di kampung saya itu punya masjid sendiri dan ogah salat di masjid orang NU. Bagi warga NU yang mayoritas tentu saja bukan masalah. Saya salut dengan sikap konsisten orang Muhammadiyah di kampung yang terus konsisten membangun legitimasi keagamaan, selain punya masjid, mereka juga punya lembaga pengajian untuk anak-anak.
Saya ingat di suatu hari ketika masih bocah di dekade 90-an, di siang hari ketika hendak belajar mengaji, saya berpisah dengan teman sepantaran di pertigaan jalan karena dia mengaji di lembaga pengajian Muhammadiyah dan saya mengaji di rumah seorang tua yang menuntun kami mengeja huruf hijaiyah dengan dialek Bugis.
Jika coba diingat-ingat ya, mencuatnya perbedaan cara pandang NU dan Muhammadiyah ke publik bisa dilacak sejak reformasi 98. Lalu semakin ke sini, khususnya mengenai penetapan awal Ramadhan hingga adanya dua kali lebaran Idul Fitri: lebaran verzi Muhammadiyah dan lebaran versi NU, atau tepatnya versi pemerintah. Semakin tahun sudah semakin biasa saja.
Namun, ada yang tetap tidak biasa, tetapi ini skalanya kecil saja. Orang Muhammadiyah di kampung saya, katakanlah yang paling fundamentalis tetap ogah memakan olahan makanan di hari lebaran dari dapur orang NU. Mengapa, karena sajian makanan di hari lebaran itu telah melewati prosesi berkat. Bahasa lokal di kampung kami di sebut massure baca`.Jadi, makanan berkat itu ogah dimakan karena masuk dalam kategori bid’ah.
Dari sikap itulah lahir joke dari orang NU kalau orang Muhammadiyah ogah memakan makanan berkat karena takut keselek. Lalu, dari joke inilah yang mendasari kalau perseteruan Muhammadiyah dan NU di kampung kami sepertinya sulit diselesaikan di meja makan. Tentu sangat disayangkan.
Oh iya, sejauh ini, sepasang muda-mudi di kampung saya yang memutuskan menikah dari latar keluarga Muhammadiyah dan NU baru ada satu pasangan. Tindakan itu jelas berani dan menjadi pembicaraan seantero kampung. Melalui peristiwa itu juga kami akhirnya tahu kalau seorang lelaki NU bisa juga jatuh cinta pada perempuan Muhammadiyah. Lantas, apakah pernikahan itu merupakan tonggak rekonsiliasi umat Muhammdiyah dan NU di kampung kami. Jawabanya tidak.
Tentu saja tidak, karena pernikahan itu mungkin lebih tepat disebut sebagai proses pengkaderan keluarga baru Muhammadiyah di kampung kami, sebab sang mempelai lelaki di kemudian hari dan di lebaran-lebaran tahun berikutnya tidak lagi muncul di lapangan sepak bola, ia selalu lebaran sehari lebih awal di masjid kecamatan yang menjadi salah satu basis Muhammadiyah.
Warga NU meyakini kalau pernikahan itu murni urusan cinta dua pasangan, terbukti kalau cuma pihak lelaki yang menggelar pesta dengan menyewa organ tunggal untuk menghibur tamu undangan dan warga.
Tak lama setelah pernikahan, joke baru kemudian lahir, kalau lelaki di kampung kami akan lebih saleh jika menikah dengan perempuan Muhammadiyah. Betul sekali, sang lelaki tidak lagi menenggak tuak dan rajin beribadah. Ia telah meninggalkan masa kelam kehidupannya.
Di tongkrongan kala itu, ia kerap diledek oleh tetua NU, jangan-jangan dia tidak lagi makanan berkat.
Saya pikir, memang seperti itulah, tiap masa ada tokohnya. Tiap wilayah ada kisahnya. Tidak semuanya bisa diselesaikan di meja makan seperti kisah yang dituturkan Thariq Ibrahim. Konteks Muhammadiyah versus NU di kampung saya lain lagi, persoalan-persoalan yang terjalin di dekade 90-an itu baru bisa melebur seiring waktu. Seiring tokoh-tokoh tua Muhammadiyah dan NU di kampung kami mangkat.
Era kini adalah waktu yang lain, kontras Muhammadiyah dan NU perlahan memudar seiring lintas generasi yang terus tumbuh bersama dan mendapati kalau musuh bersama bukan lagi soal bid’ah. Tetapi kebodohan dan kemiskinan struktural.
Kini, salah satu anak seorang tokoh orang Muhammadiyah sudah ikut berjemaah di masjid orang NU. “Jauh kalau harus ke masjid Muhammadiyah,” ucapnya suatu ketika. Namun, kalau lebaran tentu saja bergabung dengan jemaat Muhammadiyah yang lain di masjid kecamatan.
Sedangkan menyangkut makanan, baginya, sepanjang belum basi, tentu tidak masalah jika diajak makan bareng di hari lebaran.


Komentar