Ketika Bapak Pergi, Saya Tidak Menangis



Saya tidak bisa menyepakati kalau di antara kami adalah dua lelaki dewasa yang saling melupakan. Selamat tinggal untuk hidup di dua dunia berbeda. Usia tujuh tahun memang belum bisa mendalami, cukup merekam saja. Kelak, itulah bekal berjalan ke masa lalu menjumpai peristiwa kehilangan yang telat terpahami.

Hubungan bapak dan anak lelakinya mengandung kualitas kekerabatannya masing-masing. Saat ini saya bisa menyebutnya seperti itu. Tentu saja ada banyak contoh untuk membantah asumsi tersebut. Juga, ada banyak kisah yang dapat dijadikan perbandingan mengenai pengalaman yang dirasakan pada masing-masing seorang lelaki yang telah menjadi bapak.

Mengalami sesuatu di situasi tertentu, sebagaimana praktik mengerjakan sesuatu adalah hal yang begitu lekat. Kedalaman yang terasa mengalami fase tingkatan naik turun dan mengandung sensasi yang ukurannya berganti tiap kali prosesnya berbeda. 

Para pendaki, umpamanya, yang melintasi jalan yang sama tiap kali menuju puncak gunung yang sama, akan mengalami pengulangan pengalaman dengan rasa berbeda. Seperti itulah proses mengalami.

Akan lain kisahnya jika proses mengalami itu tidak terulang, akan tetapi prosenya berganti dengan rupa yang sudah berganti wujud. Katakanlah itu artefak dalam ingatan dan fantasi cerita dari tuturan orang-orang dan, pengalaman yang pendek melengkapinya sebagai upaya merangkul lalu menghimpunnya ke dalam imajinasi, kemudian terjadilah percikan resonansi yang menyembul pendek atau panjang. Tetapi, itu tidak berlangsung lama karena segera hilang.

I'm not your son, you're not my father
We're just two grown men saying goodbye

James Blunt merasakan hal berbeda dengan ayahnya, lirik di atas bagian ingatannya yang telah direkontruksi ke dalam lagu Monsters. Pengalaman yang dialami melalui lipatan waktu yang lama memungkinkan ada banyak kejadian yang telah dilakukan dan melahirkan konflik sesama lelaki yang telah dewasa. 

Sesama mantan militer yang menguji nyali di medan perang. Hidup yang dijalani adalah monster itu sendiri. Fase hidup yang (mungkin) heroik dan penuh tragedi. Blunt pada akhirnya mundur dari dinas militer dan mengganti bedilnya dengan gitar.

Musik dalam pengalaman saya serupa menemukan benda yang asing, di usia sekolah dasar, kira-kira kelas lima atau enam, saya mendengar sebuah lagu tentang ayah[1], kala itu saya tidak tahu sedang merasakan apa. Saya tidak tahu menyebutkannya. Tidak terdefenisikan. Bahkan, tidak ada sumbu imajinasi. Namun, lagu itu terus membekas hingga mendengar lagu lain tentang ayah[2]. Kali ini hentakannya berbeda, ada harapan bergembira melalui mimpi. 

Sejauh ini, saya kira, itulah yang terjauh tentang sebuah memorabilia pengantar ingatan dan rasa tentang ayah[3]. Tiap kali mendengar kedua lagu itu dalam situasi apa pun, selalu timbul pengalaman tertentu. Ada sesuatu yang mendorong tubuh bergetar. Bulu kuduk berdiri. Mata berusaha menahan aliran agar tidak tumpah.

Saya menetapkan kesimpulan ini setelah melihat reaksi delapan kakak saya yang pernah mendengar kedua lagu itu dengan biasa saja. Tetapi, hal tersebut bisa jadi asumsi saya saja karena menyandarkannya pada bahasa tubuh dan tidak mengeceknya melalui percakapan[4].

Di lipatan hari-hari dari tahun-tahun yang berganti. Melalui informasi di media sosial, saya temukan ada teman maya mengunggah lagu bertemakan ayah, seperti Dance With My Father, sebuah lagu lawas dari penyanyi Afrika-Amerika bernama Luther Vandross. Selanjutnya saya juga menyimak Father & Son dari Cat Stevens atau yang telah malih nama menjadi Yusuf Islam.

*

Catatan ini rasa-rasanya sudah lama sekali saya garap. Saya memulainya sejak beberapa tahun lalu. Namun, terus mengendap dan selalu terhenti memikirkan kelanjutannya. Di tahun 2013 silam, saya merekam lipatan ingatan tentang bapak saya melalui cerpen, saya pikir itu cara aman menyembunyikan beberapa hal atau tepatnya, elemen fiksi membantu dalam membangun ruang menerangkan secuil pengalaman bersama bapak. Saya merasa lebih bebas berbicara dengan sangat cerewet di medium itu.

Penanda lainnya berupa gambar di pintu pagar rumah. Saya menemukan KTP bapak dan, saya anggap itulah satu-satunya warisan fisik yang ditinggalkan, setidaknya untuk saya. Tetangga yang lalu lalang saban hari baru menyampaikan pendapatnya ketika pintu pagar berbahan bambu itu mulai keropos. Rupanya mereka mengingat gurat wajah itu. Hal yang kemudian mendorong saya kembali membuat penanda ingatan di baju kaos.

Saya tidak ingat persis apakah dulu bapak sering memarahi saya atau sebaliknya, menunda emosinya karena saya adalah si bungsu. Sedepa ingatan yang tersimpan: bapak pernah membuat gasing untuk saya jual ke anak tetangga supaya ada uang jajan, bapak juga membuatkan alat pikul kecil untuk memanggul padi di sawah. Suatu ketika ada PR menggambar dari sekolah dan bapak dengan baik sekali menggambarkan seeokor macan, gambarnya sungguh realis. Bapak juga kerap membuatkan mainan tembak dari bambu bila permainan itu lagi musim. Juga, di suatu sore yang basah bapak menjolok buah jeruk di belakang rumah yang sudah ranum. 

Bila hari pasar tiba, bapak akan bolak-balik hingga tiga kali lalu pulang tanpa membawa barang belanjaan. Waktu itu saya tidak tahu persis seperti apa situasinya, belakang hari, kakak tertua bercerita kalau bapak melakukan itu hanya untuk menunjukkan kepada tetangga kalau dalam jadwalnya ada juga belanja mingguan untuk keluarga. Meski sebenarnya tidak ada uang untuk membeli segala macam kebutuhan. Nampaknya memang begitu, karena jika ada barang belanjaan, hanyalah berupa gulungan tembakau hitam yang kemudian menjadi teman bapak di malam-malam yang panjang. 

Bersama karib sejawatnya, keduanya bercerita banyak hal di kolong rumah dengan kepulan asap tembakau. Mungkin, itulah semacam cara dua lelaki tua saling menghibur. Saya menguping dari atas rumah dan sesekali mengintipnya dari celah lantai papan. Rupanya tembakau itu hasil utang, bapak tidak langsung membayarnya. Teman bapak itulah yang kadang menebusnya.

Bila teman bapak sudah hendak pulang, saya pun beranjak turun menjumpainya di anak tangga, dengan begitu ia sudah paham: selembar uang kertas seribu perak akan dia keluarkan dari selipan di peci hitamnya. Terkadang juga tidak ada, mungkin tuak yang dijualnya tidak banyak laku.

Di hari ke 6.120 setelah kematian bapak, di usia ke 16 di tahun 1999, perlahan muncul kesedihan-kesedihan tertentu. Saya tidak menemukan talian imajinasi seperti hubungan bapak dan anaknya di lagu Luther Vandroos sebagaimana dalam lirik James Blunt. Melankolia yang terhubung jika ada, sebatas tebasan cuplikan lazim. Sebenarnya juga di lagu Rinto Harahap, itu teramat melankolik dan panjatan sosial kultural yang berbeda. Pada bagian ini sering kali memang hubungan faktual yang terjalin dihapus lalu digantikan dengan susunan moral.

Jangankan berdansa, hal yang begitu jauh dalam kultur di keluarga Bugis. Saya bahkan belum sampai pada percakapan seperti di lagu Father & Son. Satu-satunya ingatan yang mendekati terdapat di metafora lirik Titip Rindu Buat Ayah. Situasi agraris di keluarga petani di desa mendekatkan jalinan perisitiwa yang kemudian berusaha saya jahit menjadi selimut, paling tidak bisa selebar sapu tangan agar bisa kupakai menyembunyikan raut wajah bila kesedihan tertentu itu hadir. 

Saya tidak menangis, sejak awal memang begitu. Saya hanya menangis bila kalah main kelereng dengan teman bocah di tahun-tahun awal kepergian bapak. Saya tidak tega bila sebutir saja kelereng berpindah tangan.


[1] Titip Rindu Buat Ayah dari Ebiet G Ade.

[2] Ayah dari Rinto Harahap.

[3] Koreksi jika penelurusan saya tentang lagu Indonesia bertemakan ayah hanya pada kedua lagu tersebut.

[4] Saya jarang terlibat percakapan mendalam dengan ke delapan saudara saya. Jika kami semua berkumpul di hari lebaran, saya lebih banyak menyimak. Jika mengingat muasalnya, besar kemungkinan karena kami hidup terpisah. Empat kakak tertua (semuanya perempuan) lebih awal melakoni migrasi lokal ke Makassar ketika saya masih kecil (bocah). Seorang kakak perempuan lagi menghabiskan masa kecilnya di Maros (tinggal di rumah nenek dari pihak emak) hingga ia menikah. 

 

Seorang lagi menikah di usia muda kemudian merantau ke Sorong, Papua Barat. Kakak lelaki tidak lama berada di kampung karena segera menyusul ke Makassar kemudian menempuh perjalanan rantau ke Sorong. Sisa satu lagi saudara perempuan yang tinggal di kampung hingga menyelesaikan sekolah menengah atas sebelum menikah dan kemudian merantau ke Timika, Papua Tengah mengikuti suaminya. 

 

Garis besarnya seperti itu, meski enam dari sembilan saudara pernah kembali lagi ke kampung, tetapi tidak lama sebelum memilih membangun penghidupan di rantau masing-masing. Saat ini empat saudara menetap di Makassar, satu orang di Morowali, Sulawesi Tengah, di Sorong sisa satu, perantau dari Timika kini sudah kembali dan menetap di kampung, kakak lelaki juga di Pangkep, tetapi bukan di kampung kelahiran melainkan di Desa Coppo Tompong, Mandalle. Kini, kami semua sudah berteduh di bawah atap rumah masing-masing.

Komentar

Postingan Populer