Impian Purba Kereta Api di Sulawesi Selatan: Kini Sudah Ada, Tetapi Hanya Jadi Wahana Odong-Odong
Sewaktu sekolah dasar, saya ingat sabda guru kelas: jalan kereta api itu tidak ada yang berbelok seperti jalanan mobil, semua jalan kereta itu lurus. Mengapa? Guru kami lalu menggambar rel kereta di papan tulis lalu mengambil sapu sebagai perumpaan kereta.
“Coba perhatikan sapu ini, anggaplah kereta yang sedang melaju. Jika ada jalan yang berbelok, maka gerbong bagian belakangnya akan keluar jalur,” ucapnya mantap.
Kami sebagai murid yang patuh dan belum pernah melihat wujud kereta, menerima saja penjelasan itu. Mungkin memang benar jalur kereta itu semuanya lurus.
Romansa kereta bagi warga di Sulawesi Selatan hanya mengenalnya melalui tayangan berita mudik di teve, film, atau lirik di sebuah lagu. Kami berutang budi pada intro lagu Perjalanan Franky Sahilatua dan Jane yang mendekatkan imajinasi kami mengenai kereta.
Juga di lagu Iwan Falls tentang seorang sahabat dikebut rindu menjemput karibnya di stasiun kereta, meski jam kedatangannya ngaret. Kami juga memiliki kenanangan visual melalui film Warkop DKI, khususnya di film Mana Tahan.Ada adegan Dono jumpalitan bertemu dengan Indro yang memerankan banyak figur di pembukaan film itu.
Bertahun-tahun kemudian, proyek pembangunan kereta di Sulawesi mulai dibangun di tahun 2015, melalui master plan yang dicanangkan, jalur kereta ini bertolak di Makassar, Ibu Kota Sulawesi Selatan hingga ke Manado, Ibu Kota Sulawesi Utara.
Kini, setelah sebelas tahun, stasiun kereta yang berfungsi hanya ada di tiga kabupaten: Maros, Pangkep, dan Barru (ketiganya masih wilayah Sulawesi Selatan). Total baru ada sepuluh stasiun yang beroperasi dengan jarak 123 km yang dimulai dari Stasiun Mandai di Maros yang berfungsi sebagai gerbang penghubung dan akhir hingga di Stasiun Garongkong di Barru.
Jadi, rute itulah yang menjadi lalu lalang kereta hingga kini. Iya, hingga tulisan ini rampung.
Menumpang kereta di sini serupa janji untuk pergi bertamasya. Perlu dibicarakan di grup-grup percakapan. Contohnya seperti ini:
“Minggu depan, bagaimana kalau kita wisata naik kereta,” ini sebuah chat seorang kawan di grup Wasap. Ia memulai percakapan.
Tak berselang lama balasan chat datang bertubi-tubi. Ada yang setuju, ada pula yang menolak karena sudah keseringan. Sudah bosan. Ada juga yang menawarkan diri memesan tiket. Pasalnya, jika tiket tidak dipesan sehari atau dua hari sebelumnya, maka sudah tidak kebagian.
“itu pun kalau tidak ada kenalan di dalam, susah dapat tiket,” tulisnya kemudian.
Sejak beroperasi tahun 2022, warga di Sulawesi Selatan rasa-rasanya punya wahana baru menikmati waktu di akhir pekan. Meski tentu saja, akomodasi untuk menjangkau stasiun jauh lebih terjal ketimbang naik kereta itu sendiri.
Bayangkan saja, seseorang harus mendatangi salah satu stasiun yang jaraknya lumayan jauh. Jika menggunakan kendaraan pribadi, maka ia harus kembali di stasiun yang sama tempat ia memarkir kendaraannya. Ambil contoh, jika perjalanan dimulai di Stasiun Mandai di Maros lalu menempuh perjalanan ke Stasiun Garongkong di Barru, maka dari sana ia harus kembali lagi ke stasiun semula.
Sebab jika tidak, ia bakal kerepotan mencari angkutan pulang ke rumah. Perlu diingat, di Pangkep dan di Barru ojek online belumlah maksimal. Memang ada jasa platform on-demand lokal bernama Drive, tetapi jumlahnya masihlah sedikit. Jalan satu-satunya Anda perlu menelpon kawan atau keluarga untuk datang menjemput.
Itulah mengapa naik kereta di Sulawesi Selatan perlu persiapan matang. Perlu membicarakan rencana berangkat dan kembali dengan saksama. Juga perlu menyiapkan bekal selama di perjalanan karena sesampai di stasiun yang disinggahi belum tersedia rest area untuk istirahat dan mengisi perut.
Ini pula alasan mengapa naik kereta di Sulawesi Selatan belum menjadi moda transportasi umum. Sejauh ini memang masih wahana liburan, semacam cara untuk healing menikmati panorama alam bentangan karst di tiga wilayah kabupaten yang dilintasi. Menurutku seperti itu, tidak lebih.
Mungkin memang sebaiknya pihak pengelola kereta menawarkan iklan wisata mengenai wahana baru ini. Tetapi, tanpa iklan pun, gerbong kereta selalu berderit. Gerbongnya tetap menjadi alasan WAR tiket bagi warga yang belum pernah merasakan duduk di kursi kereta.
Seorang teman mengutarakan rasa senangnya usai menempuh perjalanan pulang pergi dari Stasiun Pangkajene di Pangkep menuju Stasiun Garongkong di Barru. “Seperti naik odong-odong,” ucapnya. Ada sensasi goncangan di beberapa lintasan. “Saya bisa menikmati baca buku di sepanjang perjalanan,” ucapnya kemudian.
Begitulah, sejauh ini belum ada drama tentang ngaretnya jadwal kereta seperti di lagu Iwan Falls. Anda tidak perlu duduk menunggu lama, jika tiket sudah di tangan, maka sisa menunggu jadwal laju kereta dan, Anda bisa membayangkan diri serupa bocah menunggangi kereta mainan di wahana bermain di pasar malam.
Naik kereta api….tut…tut…tut
Siapa hendak turut
ke Bandung, Surabaya…
Jaringan Transportasi Publik yang Belum Terhubung
Jika dipikir-pikir keberadaan kereta di Sulawesi Selatan sebenarnya hendak menjawab apa. Apakah ingin mendorong penggunaan angkutan publik. Jika iya, bukankah jaringan antar kabupaten tidak terhubung melalui kebutuhan tenaga kerja yang padat, seperti misalnya, Jabodetabek atau jaringan kota di Jawa secara umum.
Lagi pula ya, sesampai di stasiun sulit menjumpai moda transportasi umum. Jika harus menyewa kendaraan lagi, tentu biaya yang dikeluarkan bisa bertambah ketimbang menggunakan kendaraan pribadi atau moda transportasi darat lainnya.
Jarak tempuh pun terbilang lambat, dari Maros ke Barru perjalanan memakan waktu satu jam lebih, tidak jauh berbeda jika menumpang mobil yang juga menempuh perjalanan sekisara dua jam.
Pernah satu kejadian, rombongan teman hendak menghadiri acara aqiqah di Barru. Sebagian berangkat menggunakan kereta, lalu seorang ditugasi menyetir sendiri ke Barru untuk menjemput di Stasiun Garongkong. Jika tidak seperti itu, rombongan yang naik kereta tentu kerepotan mencari lagi kendaraan menuju lokasi rumah teman yang menggelar hajatan aqiqah anaknya itu.
Jadi memang, selain belum maksimalnya ekosistem keterhubungan transportasi darat, juga sejauh ini, moda kereta di Sulawesi Selatan boleh dibilang hanya sebuah dummy dari sebuah proyeksi perkeretaan yang dibayangkan bakal ramai di masa mendatang.
*
Pangkep, 5 Mei 2026


Komentar