Dongeng Bola dari Rantau
![]() |
| Dok. Kamar-Bawah |
Tujuh belas tahun menetap di London, Inggris selaku pekerja media bukanlah waktu yang singkat dan menjadi alasan tidak menampung beragam data yang dipungut langsung. Diakui kalau sepak bola adalah olahraga favorit ditambah mengganrungi salah satu klub asal Inggris. Maka, nikmat Tuhan mana lagi yang didustakan.
Kira-kira, itulah sepotong saripati di pengantar buku Dongeng Dari Negeri Bola (Indie Book Corner: 2017) yang ditulis Yusuf ‘Dalipin’ Arifin. Berbeda dengan buku sepak bola yang sudah banyak beredar. Secara tematik, kumpulan esai di buku ini melulu membahas kehidupan sepak bola di Inggris.
Pilihan memilah esai yang fokus membicarakan sepak bola di Inggris patut diapresiasi, mengingat buku sepak bola yang beredar semata mengulas narasi besar seputaran tokoh dan klub sehingga banyak ditemukan ulasan yang klise.
Ada penyegaran ingatan kalau gaya permainan atraktif, inovatif, dan imajinatif yang, intinya menghibur bukanlah label sepak bola di negara atau di liga tertentu. Premis macam itu sudah lama menyeragamkan pola pikir kita perihal sepak bola indah yang contohnya selalu jatuh pada permainan sepak bola di Amerika Selatan.
Memang, sebagai negeri yang dikenal penemu sepak bola, Inggris pernah terjebak dalam narasi sejarah. Perlahan itu disadari kalau benih yang mereka tabur di wilayah koloni telah bertumbuh dengan kultur masing-masing wilayah.
Inggris tak pernah lupa bagaimana Argentina mengolok-olok mereka di Piala Dunia tahun 1986. Saya kira itu dendam yang terus tumbuh seiring Inggris membuka diri untuk melakukan impor bakat. Patoknya tentu saja bagaimana kompetisi Primer League menjadi magnet para pesepakbola di dunia.
Inggris layaknya negeri dongeng. Narasi demikian tentulah berurat berakar sebagai negeri penemu permainan kulit bundar. Maka, menjadi wajar kalau markas Manchester United dinamai Theatre of Dream.
Tetapi tunggu dulu. Dalipin tengah membicarakan konsep yang lebih luas mengenai idealisasi permainan yang menghibur. Ia terusik ketika mendengar diskusi pendukung Tottenham di radio ketika klub itu memecat Andre Villas Boas. Tegasnya menurut fans itu kalau pelatih tidak memainkan gaya Tottenham (Tottenham Way).
Pada dasarnya semua klub di Inggris oleh para pendukungnya mengakui kalau klub yang mereka idolai memiliki khas permainan masing-masing. Kita tahu kalau Inggris karib diingat sebagai negeri yang memainkan sepak bola kick and rush. Lantas dari mana anggapan permainan yang menghibur itu jika disematkan pada pola atraktif, inovatif juga imajinatif.
Di Italia ada sebutan khusus bagi pemain yang dianggap mampu mengontrol permainan. Misalnya saja fantasista yang disematkan pada Roberto Baggio, Totti dan del Piero. Nah, di Inggris, apakah sebuatan yang sepadan bisa disematkan pada Gasocigne, Mc Manamann, atau Beckham. Komparasi ini tentu saja tidak linear sebab kultur permainan berbeda.
Jadi, pengakuan adanya gaya permainan tertentu pada klub hanyalah idealisasi. Dalipin menunjukkan dengan mengajak melihat kembali data sejarah klub. Sebab jika mengamini anggapan yang demikian, itu hanyalah amnesia selektif.
*
Merasakan langsung euforia masyarakat Inggris dalam gerak industri sepak bolanya, di sebagian esai menunjukkan kalau sepak bola adalah hiburan sekaligus identitas. Dalipin memang sedang membicarakan hal-hal yang jarang diketahui. Seolah itu dongeng yang ia dapati di Inggris dan menceritakan ulang kepada kita.
Mengingat esai dalam buku ini sudah pernah tayang di media guna mengejar momen agar konteks pembahasan dapat dipahami pembaca yang mengakses esai saat dimuat. Meski sudah dijelaskan di pengantar kalau sudah ada upaya agar esai yang terangkum dalam buku ini tidak kehilangan konteks, tetap saja ada beberapa pembahasan yang nampaknya melahirkan kenaifan bagi pembaca.
Namun, bagi pembaca yang mengikuti Primer League secara kontinyu tentu dapat menerka sejumlah hal yang tengah dibahas. Sialnya, pembaca yang tidak cukup bekal, bakal kehilangan sedikit kenikmatan. Tidak ada cara lain selain mengakses informasi lanjutan di mesin pencari sebagai pengantar.
Percobaan menarik dilakukan di buku Shindunata, Bola di Balik Bulan (Yayasan Basis dan Boekoe Tjap Petroek: 2017). Di bagian akhir esai ditegaskan muara topik yang sedang dibahas. Dengan begitu, fantasi pembaca terbantukan dengan konteks kejadian.
Untungnya, Dalipin dibekali pengetahuan sejarah yang dipadukan penulisan jurnalisme mumpuni. Bahwa apa yang dikhawatirkan pembaca (dalam dugaan saya) yang tidak dibekali informasi memadai menyangkut sepakbola Inggris. Tetap bisa menyelami kedalaman esai dan menjadikan informasi di dalamnya sebagai pengetahuan baru.
Harus diingat kembali kalau buku ini ditopang esai yang bahasannya berdiri sendiri dan diselesaikan pada waktu berbeda. Karena itulah dongeng yang dikisahkan begitu kaya dan beragam. Kita bisa terhenyak pada satu esai dan menganggap biasa-biasa saja di esai yang lain.
Mengulas secara rinci pada satu esai bisa begitu panjang dan melahirkan komparasi, juga asumsi untuk mengajukan bantahan sekaligus pembaca dibuat terpukau cara Dalipin menuliskan kesaksiannya. Maksud saya, cara penulisan yang dilakukan Dalipin amatlah mendaki dan tentu saja berat. Tetapi, ia mampu membuat pembaca begitu tabah menjalaninya hingga tuntas.
Sama dengan upaya saya mengulas satu esai yang dimulai pada Paragraf 4 sampai 10 di atas. Itu terdapat di halaman 107 dengan judul esai: Idealisme, Realitas, dan Mitos. Dalipin membantu melihat relasi dari apa yang disebut permainan sepak bola yang menghibur yang sesungguhnya hanyalah idealisasi penonton yang merindukan hiburan.
Jadi, mari nikmati saja bagaimana Dalipin menceritakan dongeng bolanya dari rantau yang dipungut di negeri yang konon, penemu sepak bola.
***
Pangkep, 25 November 2018



Komentar