Dalam Sepakbola: Manusia Adalah Anak-Anak Abadi


SEJAK kapan sepak bola dibicarakan di luar lapangan. Ini alegori pembicaraan sepak bola yang bukan melulu soal skor pertandingan. Lalu, dari mana kita mengenal istilah Pele Putih, Maradewa, atau frasa: Gullit tak ubahnya pelepah pisang dan Basten si jarum bengkok.

 

Kita telat tahu istilah itu sebagaimana latar sosial politik di balik kehadiran Maradona di Napoli dan menjadi legenda di kota bagian selatan Italia itu. Di balik aksi memukaunya memperdaya pemain lawan, itu sebatas dikenal teknik menggiring bola yang, hingga kini, hanya beberapa pemain saja yang dapat berbuat sama.

 

Atau, mengapa publik Brasil selalu menyematkan label Pele pada pemain yang dianggap mampu membawa timnas mereka merebut tropi Piala Dunia. Siapa Pele. Siapa Maradona. Kita sebatas tahu kalau keduanya pemain sepak bola terbaik di zamannya.

 

Setahun sebelum gelaran Piala Dunia 199423 tahun sebelum Zen RS menerbitkan Simulakra Sepakbola (Indie Book Corner: 2016) dan Darmanto Simaepa dengan Tamasya Bola (Mojok: 2016). Dua buku terbaik membicarakan bola di luar persoalan teknis yang terbit di tahun 2016. Di tahun 1993, Bola-Bola Kultural lahir dari Emha Ainun Nadjib.

 

Dan, jauh sebelum obrolan sepak bola semakin badar setelah internet memudahkan orang-orang membuat media online. Sejumlah kolom Cak Nun, sapaan Emha, sudah tersiar di media cetak sebelum Soeharto lengser.

 

Saya lupa kalau buku ini pernah saya beli di tahun 2009 di bursa buku bekas masjid Al Markaz, Makassar. Bahkan, ketika Simulakra Sepakbola dan Tamasya Bola sudah tuntas kubaca, saya tak pernah mengingat buku ini. Mestinya ada ingatan ketika dua buku itu kusuntuki. Nyatanya tidak. Artinya, buku ini saya beli saja karena nama besar Cak Nun atau harganya yang memang murah dan tidak pernah membuka lembarannya selama delapan tahun.

 

Bola-Bola Kultural, judulnya tidak mengarahkan ke sosok Cak Nun yang telanjur dikenal sebagai penyair. Di sisa sore, bermaksud membersihkan debu di rak buku yang jarang kukunjungi. Buku ini menampakkan dirinya. Tertindis novelSeratus Tahun Kesunyian dan, mungkin merasa sangat sunyi mendekam di rak selama delapan tahun.

 

Di keterangan buku dituliskan kata pengantar oleh Prof Dr Umar Kayam, namun di akhir pengantar malah tertulis Dody Kuskrido. Entahlah, itu nama lain Umar Kayam atau salah ketik. Nama penerbit juga asing: Prima Pustaka beralamat di jalan Gedong Kuning No. 54 Yogyakarta. Di blog adheoctopus.wordpress.com yang mengulas Silsilah Penerbit Jogja (1984-2007)[1], Prima Pustaka tidak disebutkan.

 

Dalam pengantar sudah cukup jelas menerangkan kerangka isi buku yang dibagi tiga bagian. Pertama, mengulas kehadiran sosok yang disebut bintang lapangan yang seringkali membawa manusia terjebak pola pikir irasionalitas. Kedua, mengaitkan pararelitas politik, budaya, dan sosial di panggung olahraga. Ketiga, berisi ulasan keterkaitan olahraga dengan sentuhan seni dan jenis olahraga yang lain.

 

 

Dua Cara Pandang

 

Meski berupa kolom lepas di media cetak yang mencoba menanggapi seputar peristiwa gelaran olahraga seperti Olimpiade di Barcelona yang digelar di tahun yang sama dengan Piala Eropa tahun 1992, juga merekam secuil olahraga di cabang tinju dan tenis sebagai komparasi melihat geliat dunia sepa kbola.

 

“…Analisis teknis para pakar ditampilkan, tetapi analisis sosial–budaya jarang ditemukan. Perhitungan menang–kalah diumbar, tetapi permenungan filosofis yang menerobos pagar yang membatasi jagad olahraga terabaikan.” Tulis Umar Kayam dalam pengantarnya.

 

Cak Nun tidak mengenalkan frasa moralitas yang diagungkan pecinta sepak bola indah. Menengahi perbedaan antara yang pro dan kontra, ia menggunakan rasionalitas dan irasionalitas. Di Piala Eropa tahun 1992, irasionalitas bertumpu pada kehadiran pemain bintang sehingga banyak penonton sulit menerima ketika Belanda tersingkir karena kalah adu penalti dari Denmark.

 

Denmark yang menjadi tim tamu di turnamen itu dianggap biang kemunduran dan pudarnya pamor Piala Eropa. Terlebih, Jerman dipermalukan 2-0 di laga final. Cak Nun menjungkirbalikan logika itu dengan menunjukkan kalau sepakbola bukanlah pertarungan kambing dengan banteng.

 

Jerman dan Belanda tak bisa disebut banteng dan Denmark bukanlah kambing. Pada latar demikianlah lahir istilah tim underdog dari ketidakmampuan menerjemahkan rasionalitas dalam pengertiannya yang luas. Istilah abstrak: Dewi Fortuna digelorakan lebih lanjut menutupi kegagalan–atau tepatnya irasionalitas yang bersemayam di batok kepala.

 

Rasionalitas dan irasionalitas menjadi dua cara pandang yang terus berseteru mengiringi anak-anak manusia pada posisinya sebagai pecinta sepak bola. Di dalamnya diternakkan mitologi guna menangkup segala duka.

 

Marco van Basten yang menjadi dewa di Piala Eropa 1988 dengan tendangan guntingya ke gawang Rusia berubah menjadi jarum bengkok di hadapan Peter Schmeichel. Kakinya yang panjang serasa mendorong bola di titik putih dan gagal berbuah gol. Peristiwa itu ditangisi publik Belanda dan penggemarnya di belahan dunia.

 

Sepak bola tak juga dipahami selaku perpaduan saintik, etika, dan estetika. Aplikasi konsep yang lahir dari rekayasa (sains) teknis sepak bola dan sesekali bila diperlukan, aliran bola harus dihentikan walau wasit tidak membunyikan semprit. Apa yang perlu dihadirkan di situ, sikap (etika) pemain jika melihat ada pemain yang lain membutuhkan waktu khusus untuk menghentikan nyeri di kaki, misalnya, sehabis melakoni tekel.

 

Nah, dimanakah wilayah estetika itu. Jika satu tim terlihat sibuk sendiri menguasai bola tetapi tak juga mencipta gol. Lalu, sebuah operan yang hanya diperagakan tiga pemain lawan lantas mengubah skor. Maka, itu bisa juga disebut estetika. Efektivitas dalam pertandingan adalah kunci.

 

 

Tipologi Sepak Bola

 

Pada empat esai: Sepakbola Kita Perlu Ikut Globalisasi, Mencari Cermin: Mengapa Produk Sepakbola Kita Selalu Tumpul, Sepakbola Kultural, dan Rekayasa untuk Sepakbola Indonesia. Walau berbeda ulasan, tetapi pada dasarnya keempat esai itu bertumpu pada asumsi tiga tipologi: sepak bola rakyat, sepak bola negara, dan sepak bola perusahaan.

 

Di pertandingan sepak bola antar kampung, sudah pasti yang bakal didukung adalah tim dari kampung sendiri. Itu menjadi ruang meleburkan diri dalam kerumunan. Seseorang yang cukup gila bola akan menyumbangkan air kemasan bila tim akan berlaga di kampung sebelah dan pulangnya– menang atau kalah akan dijamu makanan.

 

Siapa saja boleh masuk dalam tim ketika seseorang sudah mampu membeli sepasang sepatu bola dan bermain kala sore di lapangan. Tidak ada batasan usia, seorang tua sekalipun layak masuk tim jika masih menyimpan sisa-sisa kejayaan.

 

Nah, kira-kira, sepak bola kultural yang hendak disampaikan Cak Nun seperti itu. Sepak bola adalah ruang berkumpul masyarakat. Tidak ada kepala pelatih yang mengatur pergantian pemain dalam pertandingan. Satu-satunya alasan mengapa tipologi ini bertahan dan penting sebagai tahapan suprastruktur sepakbola di Indonesia ialah, mengingat tanah lapang di kampung sama urgennya dengan rumah ibadah. Tidak ada yang berani menggusurnya. Sepak bola telah memasyarakat.

 

Lambang garuda di kostum tim nasional kita adalah petunjuk kalau negara hadir di sana. bukankah garuda juga merupakan lambang negara. Di paragraf pertama di pengantar, Umar Kayam menuliskan: “Apa yang berkelabat di benak anda ketika pejabat setingkat menteri dipercaya memimpin sebuah induk organisasi olahraga, semisal PBSI atau Pelti.” 

 

Di situ tidak ditambahkan PSSI, tetapi marilah ditambahkan kalau induk olahraga sepak bola kita telah lama menjadi ajang lalu lintas para pejabat. Cak Nun menyitir kalau kemungkinan pejabat itu selalu dari militer. Nah, bukankah saat ini seorang jenderal kembali menahkodai PSSI.

 

Sepak bola negara ya begitu. Berisi tumpukan agenda tetapi jauh dari apa yang hendak dicapai dari apa yang diinduki. Sepak bola di sini adalah anak yang menyusu pada keputusan taktis birokratis dan tentu saja politis. Begitulah sepak bola negara bekerja.

 

Sejak teve menyiarkan langsung pertandingan tim di Seri A Italia, La Liga Spanyol, Bundesliga Jerman, atau Primer Leage Inggris. Maka pecinta bola di tanah air dan di belahan bumi yang lain membentuk kerumunan atas kesamaan minat pada klub tertentu. Di antara kelompok fans itu tidak mengenal baik siapa manajer atau pemain di tim yang mereka idolai sebagaimana pendukung tim kampung.

 

Ketika Atletico Madrid kontra Real Madrid pada dua final Champions di tahun 2014 dan 2016, tidak ada dari kedua manajer tim melakukan mobilisasi massa ke Indonesia agar menggelar nonton bareng dan mendukung salah satu tim agar juara. Lantas, apakah yang mendorong umat manusia terbangun di sepotong malam menyaksikan pertandingan final itu.

 

Cak Nun menegaskan kalau sepak bola perusahaan berutang budi pada infrastruktur sepakbola kultural. Terjadi kajian intensif untuk melahirkan pemberdayaan dan partisipatoris masyarakat dan mendapatkan gaungnya pada kelompok fans tim sepak bola di seantero dunia.

 

Sepak bola perusahaan bukan tanpa cela. Kekuasaan subyektif bisa berujung pada pengebirian  potensi dan di dalamnya lahir pula keputusan politis walau tidak terkait birokrasi negara. Ketiga tipologi memiliki ruangnya masing-masing memberi kontribusi pada orientasi sepakbola nasional kita. Bagaimana pun juga, bukankah muara dari pertandingan ke pertandingan adalah untuk diingat sebagai tim peraih predikat juara.

 

Komparasinya bukan soal seberapa besar sumber daya. Indonesia masih kaya jika dibandingkan dengan negara Afrika. Namun, di tahun 1990 di gelaran Piala Dunia, Kamerun dicatat sebagai tim Afrika pertama yang pernah mengalahkan Argentina 1-0 di fase grup.

 

“Kita butuh menerjemahkan konteks globalisasi, pengilmiahan, industrialisasi, dan profesionalisasi sepakbola. Kita sudah telanjur meninggalkan fase sepabola kultural. Kalau kita tak capai fase sepak bola industrial secara ilmiah dan mendasar, mungkin keadaan kita akan tetap sama seperti orang melepas ayam di tangan, tak tergapai burung di angkasa.” Tulis Cak Nun di akhir esai Sepakbola Kultural.

 

Kita patut mencurgai titik tolak Cak Nun dalam mengajukan tiga tipologi sepak bola. Berdasar tahun terbit, esai ini ditulis di awal tahun 1990-an. Peristiwa akbar sepakbola dunia yang sudah tersaji adalah Piala Eropa 1992 dan 1988, Piala Dunia 1990, 1986, 1982 dan gelaran sebelumnya.

 

Dari dalam negeri, fase liga amatir Perserikatan beralih ke semi profesional Liga Sepakbola Utama (Galatama) kemudian digabung menjadi Liga Indonesia di tahun 1994. Jadi, di buku ini, fase Liga Indonesia yang baru digelar setahun sebelum buku terbit belum menjadi lapangan pandangan Cak Nun.

 

Maka menjadi realistis ketika pesepakbola kita perlu belajar silat dan ikut globalisasi. Ilmu silat dibutuhkan bukan sebagai persiapan ketika suporter menyusup ke lapangan ketika wasit bersin dan sempritnya berbunyi, pas ketika seorang pemain melakukan tembakan berbuah gol. Sialnya, si wasit belum sempat menjelaskan dan berkomunikasi dengan hakim garis, pemain sudah mencekik leher dan menendangnya. Diperparah dengan membeludaknya suporter merangksek masuk. Seolah itu tawuran antar berandal di sudut kota.

 

Persisnya bukan di situ, belajar silat juga alegori. Fase kultural dan ke fase profesional membutuhkan sudut pandang yang lain. Semisal petinju Evander Holyfield mempelajari gerakan balet untuk kelenturan ketika bertanding. Cak Nun menceritakan kalau Ronny Pattinasarany kaget ketika ia menyampaikan kalau tulisannya berjudul Manusia Sepakbola Indonesia dimuat di Kompas di tahun 1978. “Apaan tuh! Tidak paham saya!” tanggap salah satu pendekar legendaris sepak bola Indonesia (istilah Cak Nun) kepada Ronny.

 

Sama halnya dengan konsep globalisasi sepak bola dimaksudkan pada kehadian pemain asing yang masih dianggap duri dalam tim. Sayang, ulasan Cak Nun tidak dilengkapi data mengenai hal ini. Namun, mengingat konteks tulisannya menanggapi gelaran Galatama yang belum sepenuhnya lepas dari fase sepak bola kultural dan sepak bola negara. Tentulah bisa dilihat sisi mana yang dimaksudkan.

 

Esai Cak Nun terlampau luas dan sepertinya menyasar pembaca yang sudah memiliki referensi luas mengenai sepak bola. Tetapi, bisa dimaknai kalau fase sepak bola perusahaan yang hendak dicontohkan merujuk pada klub di Eropa. Napoli tidak bakal menganggu dominasi tim kuat Juventus merebut scudeto jika masih menutup diri. Kehadiran Maradona adalah metode yang coba diterapkan sebagai rekayasa di tubuh Napoli.

 

 

Gejala Sepak Bola

 

Terdapat 34 esai yang terangkum di buku ini, cara pandang yang ditawarkan Cak Nun melampaui zaman pembaca yang disasar sekali itu diperuntukkan kelas menengah di kota. Sebagai bekas pemain bola kultural yang, umumnya pengalaman komunal banyak manusia Indonesia di kampung. Setidaknya, ketika Cak Nun menulis sepak bola sudah tidak asing baginya.

 

Selain kuartet esai yang mendasari asumsi tipologi sepak bola yang telah dibicarakan di atas. Esai yang lain tetap membawa peristiwa yang melatarinya. Hanya saja, sekali lagi, ulasan Cak Nun membutuhkan referensi tambahan di luar pengetahuan sepak bola itu sendiri.

 

Di akhir buku, terdapat epilog yang tidak terangkum di daftar isi. Sepakbola sebagai Gejala Sejarah, demikian judulnya. Cak Nun menegaskan kalau dirinya tidak sungguh mengenal apalagi menguasai seluk beluk sepak bola. “Saya sekadar menyukainya,” tulisnya.

 

Sepak bola mengalami fase lalu memasuki polarisasi. Kontra cara pandang tentu saja terus terjaga dan tumbuh. Sepakbola sebagai kesenian masihkah perkasa di hadapan indsutri. Teknologi mulai mendapatkan ruangnya untuk menghapus subyektivitas manusia dan keterbatasan panca indra. Inggris tidak bakal dipermalukan Maradona sedemikian kejam jika sensor anggota tubuh yang diperbolehkan mencetak gol sudah diketemukan. Sialnya, hingga kini, barulah sensor gari gawang yang mulai diterapkan.

 

Sepak bola yang dimainkan di kampung bertelanjang dada tanpa alas kaki tetap merebutkan sebiji bola adalah situasi bergembira yang kelak melahirkan melankoli sekali gawang lawan dijebol dengan cara melemparkan bola.

 

Di ruang lain, ketika sepak bola juga dimainkan dengan sebiji bola yang diperebutkan 22 pemain akan melahirkan ingatan berbeda. Kegagalan penalti van Basten, gol tangan tuhan”  Maradona adalah tragedi dan dosa dalam sepak bola modern.

 

Meski demikian, melankoli dan tragedi tetaplah rekayasa yang membuat hidup ini tetap hidup dalam menikmati sepakbola. #Bukankah di hadapan aturan dan polarisasi sepak bola yag terus berkembang,” tulis Cak Nun, manusia adalah anak-anak abadi yang tetap merebutkan sebiji bola. Dengan demikian yang fana itu sepak bola. Manusia (anak-anak) abadi.

 

***

Pangkep, 2 Juli 2017


[1] Lihat link di sini: https://adheoctopus.wordpress.com/2016/08/10/silsilah-penerbit-jogja-
1984-2007/

Pernah dimuat rubrik pustaka saraung.com

Komentar

Postingan Populer