Sebuah Buku & Perbincangan di Sisa Sore
Dari kiri: Badauni AP, Syahrul S, Abd Karim, M Farid W Makkulau, Anggraini Amir Foto: Sandi Vatrian |
Pekik azan Asar baru saja
bertalu, suara itu sesumbar terdengar di tengah bising laju kendaraan di depan
patung Andi Mappe, tak jauh dari lokasi itu, dua orang pemuda sedang memasang
spanduk di tembok Cafe Torani. Sore itu (21/4), Komite Komunitas Demokrasi
Pangkep (KKDP) akan menggelar bincang buku Gerak
Demokrasi Lokal, Pergumulan dari Pangkep, Sulawesi Selatan.
Pada kesempatan ini, hadir
Direktur Lapar, Abd Karim, Angraini Amir (Fraksi Demokrat, DPRD Pangkep) M
Farid W Makkulau (Penulis, Pemerhati Budaya), dan Syahrul Syaf (Sekjend KKDP)
selaku narasumber. Bincang buku dipandu oleh Badauni AP, penulis serial ‘Malas’
di jejaring sosial Facebook, yang juga anggota tim kerja advokasi KKDP.
Bincang buku berlangsung
selama kurang lebih tiga jam, selama proses itu, moderator lebih dulu memberi kesempatan
kepada Abd Karim, selaku penanggung jawab atas penerbitan buku pertama yang
mengulas pergulatan politik modern di Pangkep ini. Dalam penjelasannya, Abd
Karim menyebutkan kalau lahirnya wacana demokrasi lokal, itu tak terlepas dari
perkembangan demokrasi di negeri ini yang dimulai ketika Soekarno mencetuskan
demokrasi terpimpin, kemudian Soeharto menghidupkan demokrasi Pancasila. Lalu,
pasca tumbangnya Orba, dimulailah reformasi yang menelorkan UU Pemilu No 22 tahun
1999. Namun, regulasi ini mengalami kelemahan, sehingga perlu direvisi yang kemudian
melahirkan UU No 32 tahun 2004.
![]() |
Dok: Lapar Sulsel |
Pada 2005, dilaksanakanlah
aplikasi UU No 32 tahun 2004, di mana daerah tingkat I dan II berhak menentukan
kepala daerah melalui pemilihan secara langsung. Melalui terapi Pemilukada inilah kemudian
secara bertahap menumbuhkan aktor lokal, istilah untuk menyebut penguasa di
daerah yang memupuk serta menguasai jaringan politik (baca: oligarki). Pada
wilayah ini selanjutnya pergumulan politik lokal di masing-masing daerah
bergulir.
Direktur Eksekutif Lapar,
juga memberikan analisis terkait menguatnya Partai Politik di segala lini,
misalnya, pemilihan ketua lembaga negara, seperti MK, KPK, dan lainnya. Mesti
melaui proses pemilihan di DPR. Gejala ini tentulah bisa melahirkan tirani partai
dalam perjalanan demokrasi. Sedangkan di level bawah. Lembaga masyarakat sipil
(LSM/OMS) tak bisa berbuat sesuai tanggung jawab sosial yang diembannya. Hal
itu diakibatkan persoalan klise, karena tidak adanya basis finansial yang kuat dan berkesinambungan serta banyaknya
aktivis LSM terlibat dalam tim pemenangan di setiap perhelatan pemilihan.
Pengakuan
Legislator
Anggraini Amir, anggota
DPRD Pangkep dari Fraksi Demokrat, yang populer di kalangan aktivis LSM. Karena boleh disebut, beliaulah legislator perempuan paling
vokal di parlemen. Pada kesempatan ini,
ia kembali membeberkan sejumlah ‘rahasia’ perihal kinerja sebagian legislator,
katanya, tidak semua anggota dewan mampu bekerja berdasarkan kapasitasnya.
Itulah yang mengakibatkan progres DPRD Pangkep mandek.
Kemudian kaitannya dengan fungsi pengawasan,
dengan lugas ia mengatakan, “Pengawasan DPRD
sepertinya diamputasi, karena DPRD tidak terlibat dalam pengawasan teknis
terkait penggunaan anggaran.” Hal tersebut sungguh menjadi beban tersendiri
baginya, ia miris melihat adanya anggaran yang tidak sesuai dengan kebutuhan
masyarakat.
Karena itu, ia sangat menghimbau kepada calon
legislator yang akan maju di bursa parlemen 2014, agar meyakinkan dirinya untuk
benar-benar bekerja demi kepentingan masyarakat. “Legislator adalah jabatan publik yang tak boleh menyakiti publik.” Pungkas perempuan berkaca mata ini.
Kritik
Narasumber ketiga, seorang penulis sekaligus
pemerhati budaya, M Farid W Makkulau. Pertama-tama, Ia lebih banyak menyelami
pengerjaan buku ini yang dianggap mengandung sejumlah kelemahan. Secara umum,
buku terbitan Lapar Sulsel ini bisa dibagi ke dalam tiga kategori jenis
penulisan. Artikel, esai, dan reportase, yang mana ketiga kategori inilah
menyimpan kelemahan tersebut.
Tegas ia katakana kalau editor buku tidak bekerja,
yang hanya mengkopi artikel, esai serta hasil reportase yang sebelumnya sudah
dimuat di Majalah Mandat. Lebih dalam, anggota tim penulis buku Mata Qalbu Sahabat, biografi politik
bupati Pangkep, Syamsuddin Hamid ini mengungkapkan, kalau pemaknaan ‘Tiga
Dimensi’ yang ia temukan dalam muatan buku,
dinilai tidak filosofis. Karena ciri tersebut juga melekat di kabupaten
Sinjai yang juga memiliki tipologi wilayah yang sama. Jadi, tiga dimensi
tidaklah tepat jika dilekatkan sepenuhnya untuk wilayah Pangkep sendiri, dan
sebenarnya lagi, penyebutan tiga dimensi itu hanyalah produk bahasa politik
guna memberikan pemetaan dan legitimasi terhadap suatu kawasan. Buktinya,produk
komoditas yang paling menonjol di Pangkep, itu hanya berasal dari pegunungan
dan darat. Kepulauan justru tenggelam dan sepertinya tidak tersentuh terapi
program.
Kritik keras juga dilontarkan terkait
reproduksi penamaan sungai Pangkep yang kini memakai nama ‘Kali Bersih’. Hal
tersebut seolah mengkerdilkan sejarah serta semantik (makna bahasa) sungai itu
sendiri. Padahal sejak dulu, aliran
sungai yang membelah kota Pangkajene itu sudah ada, bahkan aktivitas manusia di
atas sungai sangatlah ramai yang menandai akan adanya suatu gerak kebudayaan
yang melekat di benak masyarakat.
Karena itu, sungai Pangkajene sangat erat kaitannya dengan
cikal bakal penamaan daerah Pangkep itu sendiri (Pangkajen dan Kepulauan), yang
berasal dari bahasa lokal (Makassar) Ampangkai
Je’neka, yang berarti air yang bercabang, maka menjadi lucu dan keliru jika
sungai tersebut dialihnamakan menjadi
‘Kali Bersih’. Imajinasi Pemda ini sunggulah cacat sejarah dan sosiolinguistik,
karena ‘Kali’ berarti saluran air dangkal, sedangkan sungai Pangkajene airnya
mengalir sepanjang tahun. Kecelakaan sejarah ini juga pernah menghampiri pada
masa pemerintahan Baso Amirullah, yang menyematkan nama sungai Citra Mas untuk
sungai Pangkajene.
Mantan jurnalis Ujung Pandang Ekspres ini juga
mengajukan telaah, kalau buku setebal 266 halaman ini belum mewakili wacana
demokratisasi multikultural di Pangkep, karena minimnya analisis kebudayaan.
Olehnya itu, penulis buku Manusia Bissu ini menantang KKDP dan Lapar
Sulsel guna menulis buku yang lebih komprehensif terkait wacana demokrasi
multikultural tersebut.
Provokasi Sekjen
Syahrul Syaf, secara gamblang mengatakan kalau
buku ini perlu dibaca oleh calon pemimpin di Pangkep, kecakapan menulis juga
perlu dikuasai oleh para pejabat publik, karena yang demikian merupakan
cerminan pemimpin itu sendiri.
Sekjend KKDP yang juga Caleg DPRD Pangkep dari
PBB, juga memaparkan: “Beberapa muatan buku
ini, lahir dari hasil pengamatan
langsung di lapangan selama tiga tahun. Hal tersebut dilakukan oleh
masing-masing angkatan peserta Sekolah Demokrasi Pangkep (SDP) dalam rentang
2010 hingga 2012.”
Alumni SDP angkatan pertama ini, selanjutnya membeberkan
wacana terkait suksesi 2014. Pada pemilihan Caleg mendatang, ia kembali
menempati zona satu, yang meliputi daerah pemilihan Pangkajene, Minasatene, dan
Pangkep. Ia pun sangat optimis melenggang ke
kursi parlemen meski minim modal. Katanya, sudah waktunya DPRD Pangkep
dihuni oleh mereka yang memang menguasai kerja-kerja seorang legislator.
Berbekal pengalaman empat tahun lalu, lelaki
yang selalu tampil sederhana ini, juga sudah memiliki amunisi tambahan. Ia
sangat bangga bisa menuntaskan studi di SDP, tentunya segala pengetahuan yang
ia dapatkan selama mengikuti sekolah tersebut, dirasa sangat membantu dalam
mengembang tugas legislator nantinya.
Harmoni
Karena diadakan di salah satu ruang publik di
Pangkep (Café Torani), olehnya itu,
konsep kegiatan tetap mengedepankan asas deliberatif, menjunjung nilai
kebebasan. KKDP selaku peyelenggara, tentunya sangat paham dengan situasi
tersebut. Bagaimana pun juga, hak seseorang di ruang publik itu setara.
Makanya, di tengah bincang buku berlangsung, pengunjung lain tetap asyik
beramin Catur atau melayar di dunia maya tanpa saling terusik.
Usai narasumber memaparkan pandangannya,
Badauni AP memberikan kesempatan kepada pengunjung, yang sebagian besar
merupakan alumni SDP tiga angkatan. Penanggap pertama, Abbas Nur, sangat senang
dengan adanya bincang buku. Menurutnya, diskusi yang selama ini dilaksanakan di
Pangkep lebih banyak berkutat pada persolan teknis dari pada mendalami suatu
hasil penelitian. “Sebuah buku adalah
sebuah jerih yang telah dilakukan oleh seseorang dengan sangat serius.”
Kata alumni SDP angkatan kedua ini.
Sukma Paramita, Caleg DPRD Pangkep dari
Gerindra, juga bernada sama.”Membincang
buku adalah usaha bagi kita untuk lebih memahami lagi sebuah realitas.” Sedangkan
Syam, Koordinator Advokasi KKDP, melontarkan kritik atas kinerja Pemda selama
tiga tahun terakhir. Menurut ayah tiga orang anak yang akan maju pada Pilkades
Manakku, Labbakang pada September mendatang, ia tidak melihat adanya
perkembangan terkait pelayanan publik. Bahkan, visi Pemda yang hendak
menjadikan Pangkep sebagai daerah terungul dari segi perikanan, juga belum nampak.
Nada lain datang dari Syafar, lelaki tambun
yang kini ikut seleksi komisioner KPU Pangkep, mengungkapkan kalau buku Gerak Demokrasi Lokal merupakan arsip
kekecewaan, kritik, gagasan, dan harapan yang coba dituliskan peserta SDP
selama tiga tahun. Ketua KPU Pangkep, Rahman Kambie, yang telat tiba. Juga
memaparkan pandangannya. Meski buku tersebut belum ia baca tuntas, namun beliau
memberikan apresiasi atas usaha Lapar Sulsel selama tiga tahun memfasilitasi
hadirnya sekolah demokrasi dan menutupnya dengan sebuah buku. “Jadi, buku ini bisa disebut sebagai laporan
Lapar Sulsel yang telah bekerja selama tiga tahun di Pangkep.” Tukas alumni
Al Azhar, Mesir ini.
Di akhir acara, Badauni AP kembali memberi kesempatan
kepada masing-masing narasumber untuk memberikan pandangan penutup, selanjutnya,
pemuda kelahiran 1987 yang juga terlibat dalam penulisan buku Mata Qalbu Sahabat ini mengatakan, kalau
ke depan KKDP akan kembali menggelar bincang santai dengan topik yang berbeda,
usaha yang demikian sebagai usaha guna menggeliatkan demokratisasi di ruang
publik.
***
Pangkep, 22 April 2013
Komentar