Siapa Mengingat Kita, Catatan yang Lupa Buat Teman-teman PPIM (Bagian 7)
![]() |
Jadwal pertemuan PPIM yang sempat saya catat |
Catatan Harian
yang Terlupakan
Menindaklanjuti enam bagian catatan
sebelumnya yang telah memeroleh hak untuk hidup di benak para pembacanya
dengan adanya tanggapan balik yang membuat catatan itu dapat tumbuh
melawan waktu dan ruang.
Begitulah adanya sejarah, berhak untuk diingat dan diperbincangkan dan memperlakukannya secara layak yang berlaku bagi entitas yang pernah terpaut dengannya semasa ia dicipta maupun bagi penginterpretasi di luarnya.
Begitulah adanya sejarah, berhak untuk diingat dan diperbincangkan dan memperlakukannya secara layak yang berlaku bagi entitas yang pernah terpaut dengannya semasa ia dicipta maupun bagi penginterpretasi di luarnya.
Sebuah lembaga yang dibentuk oleh
siapapun dengan tujuan apapun, adalah suatu usaha sadar yang mendorong
orang-orang yang terlibat di dalamnya. Tentu merupakan produk sejarah yang
berkaitan erat dengan situasi zaman di mana ia digagas. Hal ini tak terkecuali
dengan PPIM (Perhimpunan Pelajar Indonesia Makassar) yang merupakan bentuk
pencapaian kualitas kesadaran kritis pelajar Makassar di tahun 2002 silam.
Sebuah zaman ketika pelajar di sebuah kota yang sedang tumbuh menuju bias
modernitas. Dikatakan demikian, sebab kata
modernitas seolah sebuah simbol terbaru yang tidak lahir di negeri ini.
Jadinya, ia menjadi sebuah tujuan.
Padahal sesungguhnya, Sulawesi Selatan sudah punya aplikasi modernitas tersebut
sejak abad ke 14. Dalam catatan Cristian Pelras, Indosianis asal Prancis, yang menulis buku Manusia Bugis. Sulawesi
Selatan sudah memiliki aksara lontara, dermaga, pusat perniagaan,
pemerintahan, dan merupakan persinggahan lalu lintas perdagangan dunia.
Realitas inilah yang dimaksud dengan modernitas.
Hubungan di atas sedikit banyaknya
memengaruhi gejala dan motif terhadap persinggungan langsung perjalanan waktu para
pelajar yang dulunya memilih sebuah kesibukan tambahan di luar rutinitas
sekolah. Lalu di mana mereka kini. Jawabannya ada pada sikap politik hidup yang
telah dipilih yang ditetapkan berdasarkan kesadaran, kekalahan, pengevaluasian,
dan apatisme.
Jika sekiranya kita memiliki data
materil akan perilaku, sikap, dan catatan yang lengkap terkait hiruk pikuk
aktivitas yang dulu dilakoni. Tentunya akan menjadi kompas yang sangat berguna
untuk mengingat secara detail akan sikap yang telah dipilih. Contoh ini bisa
kita lihat pada catatan harian Soe Hok Gie yang ia tulis sejak usianya baru 16
tahun. Sepanjang nafasnya, ia
selalu lurus dengan sikap politik hidupnya hingga ia tewas di puncak gunung
Semeru.
Bagi kita yang pernah terlibat
kerja-kerja di PPIM yang arsipnya hanya berupa sejarah benak. Kalaupun ada
guntingan koran, catatan harian, dan foto. Itu sangatlah terbatas. Kita lupa
menyimpan catatan harian yang luar biasa di tahun 2002 hingga 2004. Tetapi itu
bukan soal untuk selanjutnya mengisi ruang publik di era yang sudah terbuka
lebar saat sekarang ini.
Ruang Publik
Anak Zaman
Tahun 2012 saat sekarang ini masih
merupakan gulungan waktu dari tahun 2000-an. Jungkir balik perilaku anak-anak
zaman di ruang waktu ini pada dasarnya tak jauh berbeda dengan situasi
ditingkatan peralihan tahun 2001, 2002, 2003, 2004 dan seterusnya hingga tahun
2012. Tingkatan lulusan pendidikan masih disibukkan dengan kegalauan untuk
mencecah masa depan.
Sebuah fase yang sebenarnya merupakan keterasingan dari dalam tubuh pendidikan yang selama ini diselami. Angkatan pendidikan yang lulus sejak tahun 2000-an masih berkutat pada realitas di atas.
Sebuah fase yang sebenarnya merupakan keterasingan dari dalam tubuh pendidikan yang selama ini diselami. Angkatan pendidikan yang lulus sejak tahun 2000-an masih berkutat pada realitas di atas.
Sehingga dalam proses campur baur dari
khusus ke umum (pelajar ke masyarakat) ada banyak sekali pengecualian yang
harus diamini untuk masuk ke dalam suatu kekhususan baru. Pilihan itu adalah
jalanan yang penuh rambu yang tak semuanya sepakat.
Kita bisa lihat dengan sepak terjang
Bim yang dalam catatan nafasnya memasuki dunia politik dengan bergabung di
Partai Golkar. Ini tentu suatu pencapaian kesadaran anak zaman dalam menjawab
persinggungan semangat dan cita-cita untuk memasuki ruang pusat (negara). Di lain tempat, pembacaan kita
soal sejarah tentulah merujuk pada keberadaan partai berlambang pohon beringin itu di masa lalu.
Melalui diskursus kekuasaan Michel
Foucolt, menjelaskan kalau tirani memang beranak pinak dan tentu tak mengenal
sepak terjang anak zaman. Pilihan yang ditetapkan oleh Bim adalah sejarah
persinggungannya dengan jalan raya kehidupannya. Secara pribadi, Bim bukan satu-satunya teman
sejarah saya yang bergabung di partai, termasuk di Golkar. Ada banyak teman
sejawat saya dari tahun 2003 yang hari ini memilih memasuki ruang bernama
partai. Pilihannya itu adalah tanggung jawab sekaligus penanda kalau perjuangan
politik itu penting.
Selain itu, ada Awal. lelaki
berkacamata yang dalam sepak terjangnya semasa mahasiswa aktif di Himpunan
Mahasiswa Islam (HMI). Ia pun
berdesakan memasuki ruang pusat di organisasi tersebut. Resonansi semangat dari PPIM
adalah bekal baginya untuk tidak lebay di kampus. Dan, hari ini terlibat aktif dalam
ruang sosial melalui lembaga yang bertujuan menekan populasi AIDS.
Dalam kesan ingatan saya, Awal tak
ingin berkelahi dengan konflik apalagi menyelam dalam pusaran global.
Ironisnya, ia setia menyimpan data konflik. Dalam realitasnya ia mapan secara
ekonomi sekaligus bukan borjuis yang pelit. Dalam suatu perbincangan,
Anton berkelakar kalau Awal pernah melunasi kopinya Kak Iqbal di Dg. Sija.
Ingatan yang lain, Anton, eks ketua OSIS SMU Negeri 5
Makassar belum menetapkan sikap politik hidup yang berwarna, semuanya serba
abu-abu. Setidaknya dalam pembacaan saya. Sisa kejayaan yang masih bersemayam,
tak lain predikat mahasiswa dari sebuah gedung universitas paling bergengsi di
Indonesia Timur, UNHAS (Universitas Hasanuddin).
Pada dasarnya, Anton menyimpan minat yang sama dengan Bim untuk terlibat aktif dalam partai politik. Hanya saja, pilihan itu belum ia tetapkan. Perbincangan terakhir menunjukkan espektasi ke salah satu organisasi sayap sebuah partai baru. Tetapi entahlah, apakah ia sudah di sana atau belum. Karena rantaunya ke tanah Jawa untuk melanjutkan studi ke jenjang strata dua yang ia rencanakan di UI (Universitas Indonesia) atau di IPB (Institut Pertanian Bogor).
Pada dasarnya, Anton menyimpan minat yang sama dengan Bim untuk terlibat aktif dalam partai politik. Hanya saja, pilihan itu belum ia tetapkan. Perbincangan terakhir menunjukkan espektasi ke salah satu organisasi sayap sebuah partai baru. Tetapi entahlah, apakah ia sudah di sana atau belum. Karena rantaunya ke tanah Jawa untuk melanjutkan studi ke jenjang strata dua yang ia rencanakan di UI (Universitas Indonesia) atau di IPB (Institut Pertanian Bogor).
Bayang-bayang teman yang lain nampak sekilas di dunia
maya saja. Setelah sepuluh tahun terpisah. Persinggungan yang sedikit hanya
terbangun di jejaring sosial. Ada Siska Rini, Uni, Senja (semuanya sudah
berkeluarga), Jamil, Amma, dan Yuki. (untuk selanjutnya, saya masih membedah
isi informasi dari akun Facebook
teman-teman di atas untuk kemudian dituliskan narasi jejak waktu kehidupannya).
*
Makassar, 16 Mei
2012
Komentar