Pembawa Laut


 
Daratan berjejer di tepian hembusan ombak yang dikuatkan akar pohon kelapa. Berhamparan di atas jangkar berlingkar. Perahu-perahu masih melawan maklumat arus. Sia-sia kelopak mata bersinar binar, namun kilaunya tak menetes. Tetap diam menyerupai benda mati. Sebenarnya kutampakkan padanya kelompok awan di atas sana dan membiarkan berkeliaran di terpa lambaian sayap burung yang beterbangan rindang bagai tak berhenti.

Teruslah mengalir dibukitan jauh serta terjal. Jangan akhiri kisah padanya. Menggulung gelaran-gelaran berdampak hijau bersama terus lajuh tujuan bukan akhir dari pencarian. Tampaklah sekali lagi agar keraguan masih juga betah menunggu datangnya kebenaran pasti.

Bergumul kadang kala dapat melupakan lalapan api pada bara, bersatunya gilas atas rerumputan yang menanti. Dapatkah merangkul dan mendamba harapan. Cerita pernah ada menjalin kisah basih. Muak mengingatnya. Sekejap berhenti, apalagi bakal terjadi embrio pemberontakan

Bertanya-tanya dikilasan pada lintas akhir sebuah zaman yang kabur mataharinya. Pagi pun tak nampak di sana. Sesekali hanya terlihat di barat saat dijemput malam. Lalu kuhabiskan detik jam bersama bulan ke 15 kemudian kupalingkan wajah. Sengaja, agar matahari pagi tak mengetahuinya.

Kalau malam bertanya pada bulan, mengapa sinarnya panas. Karena di terik tepi laut telah memakan apa saja dan tak pernah puas pada sesuatu. Saking serakahnya dan congkaknya kembali di muntahkan kembali dengan bau pada dirinya masing-masing.

Bertanya lagi, tapi janganlah kalian menjawabnya di tengah kelopak mata berbuih di tepi dermaga yang pernah di telan ombak. Kehidupan ada di sana membawa kedamaian tanpa aturan dan hukum.

*

Pertama kali di tulis di Pangkep, 10 Januari 2004
Di tulis ulang di Makassar, 9 Maret 2012

Komentar

Anoe mengatakan…
mantap gan...
keren

Postingan Populer