Skip to main content

Si Cantik dari Eka



Pertama kali berjumpa dengan novel Cantik Itu Luka di rak toko buku Insist (Indonesian Society for Social Transformation) di Belimbing Sari, Yogyakarta di tahun 2003. Kala itu, saya dan beberapa kawan dari Makassar melakukan perjalanan ke Jawa Tengah.

Ada empat mahasiswa dan satu siswa dalam perjalanan itu, Sukman, Adi, Mahfud, dan Tini.  Semuanya kuliah di Universitas Muslim Indonesia (UMI). Dan, sayalah siswa yang nekat meninggalkan sekolah selama sebulan. Perjalanan ini memang kami rancang dan dipersiapkan secara matang. Kira-kira sebulan bergerilya mencari dana dan saban malam berkumpul guna mengevaluasi dan mendiskusikan agenda.

Tujuan pertama, tentu saja kota Yogyakarta, kami memang membaca banyak buku yang diproduksi dari ibu kota Jawa Tengah itu yang kemudian membuat kami mengenal Mansour Fakih dan Roem Topatimasang. Keduanya pendiri Insist. Itu salah satu agendanya, mengunjungi kantor Insist dan berjumpa dengan kedua tokoh tersebut.

Karena kami menginap di pendopo Insist selama dua malam, kami pun leluasa mengamati kerja orang-orang yang ada di sana. Termasuk nongkrong membaca di toko buku yang terdapat di bagian depan kantor Insist. Pada umumnya, buku-buku yang kami jumpai di situ tidak terlalu banyak tetapi tidak pernah kami lihat di Makassar.

Di salah satu rak bersusun lima, misalnya, hanya diisi sebuah buku. Sampulnya menggoda, seorang perempuan sedikit menunduk seperti berusaha membuka kancing gaunnya. Atau bisa pula dimaknai baru saja melepaskan gaunnya dan mengenakannya kembali. Saya lalu meraih dan menatapnya dengan seksama. Oh, rupanya sebuah novel gubahan Eka Kurniawan, segerah buku itu saya simpan kembali. Novel adalah sesuatu yang tak perlu dibaca, dan saya belum membaca riwayat sang pembuatnya. Kesimpulanku ketika itu.

Saya hanya membaca buku teori perubahan sosial sekelas Paulo Freire dan sejumlah buku ulasan Erich Fromm. Saya kapok membeli novel tebal, Bumi Manusia Pram saja belum saya tuntaskan yang saya beli di tahun 2002. Meski begitu, saya tertarik juga dengan sebuah news letter bersampul merah maron. On/Off, nama media itu. Di dalamnya terdapat ulasan Eka Kurniawan mengenai proses kreatifnya menuliskan novel.

Perjumpaan kembali yang tidak diduga. Saya  menemukan Si Cantik (Baca: Novel Cantik Itu Luka) di toko buku samping stadion Andi Mattalata, Makassar. Dejavu, gambar sampulnya kembali menggoda. Dan, tak terasa saya telah membaca sebagian isinya. Niat awal ingin membeli buku lain, tetapi kemudian novel gemuk itulah yang kubawa ke kasir untuk menukarnya dengan sejumlah uang. Itulah awal mula saya kembali membaca novel setelah gagal menuntaskan Bumi Manusia.

Pertanyaan awal yang mengganggu usai novel ini saya tuntaskan: Begitu sakitkah sebuah keluarga di zaman kolonial, tepatnya ketika rezim Jepang berkuasa di negeri ini.

Dewi Ayu, tokoh utama dalam novel ini. Keturunan Belanda dan memilih menjadi (atau dipaksa) melacur di rumah Mama Kalong. Tetapi, itu boleh jadi sebentuk taktik, protes, dan perlawanannya atas kondisi sosial yang ada. Hasilnya, Ia dianugerahi empat orang anak perempuan  yang tak jelas dari lelaki mana yang menyimpan benih dalam rahimnya, yang kemudian anak-anaknya itu melewati hari-hari yang tak kalah rumitnya.

Dewi Ayu benar, kecantikan itu muasal bencana. Cucunya, Rengganis mengaku telah dihamili seekor anjing. Maman Gendeng, sang ayah, kemudian mengamuk membunuh anjing-anjing di kota begitu buah hatinya dengan Maya Dewi, anak ketiga Dewi Ayu, kabur bersama bayinya. Kejadian itu pula membuat Ai, sepupunya, anak dari Shocando bersama Alamanda, putri pertama Dewi Ayu, terkejut dan mati.

Adapun Krisan, anak dari Kamerad Kliwon dengan Adinda, putri kedua Dewi Ayu. Dialah yang membunu sepupunya sendiri, Rengganis. Duka itu masih ada, Maman Gandeng wafat dalam pencarian anaknya. Shocando lebih tragis lagi, tewas tercabik karena dikeroyok kawanan anjing liar. Dan, Kamerad Kliwon mati dalam sunyi, gantung diri.

Jadilah ketiga putri Dewi Ayu menjanda. Kemudian ia hamil lagi dan melahirkan anak keempatnya. Semasa kehamilan, ia berdoa agar kelak anaknya itu lahir dengan wajah buruk. Doanya terkabul, hidung jabang bayi itu menghadap ke atas, hampir menyerupai hidung babi. Meski begitu, ia menamainya Si Cantik.

Tetapi rupanya, derita belum berakhir. Setelah dewasa, Si Cantik malah hamil sebelum menikah, dan itu dilakukan oleh sang pangerannya. Tahukah Anda, siapa pangeran itu, tak lain anak kakaknya sendiri, Adinda. Ya, Krisan yang melakukan perbuatan itu. Anak ini sendiri kemudian mati di tangan seorang penggali kubur.

Saya bahagia telah membaca novel yang menurut kritikus, memadukan gaya realis dan surealis dalam membangun cerita. Eka memang memulainya dengan menceritakan kebangkitan Dewi Ayu dari dalam kuburnya setelah 25 tahun. Mungkin agak mirip dengan awal mula Metamorfosis, novel Frans Kafka. Eka memang mengakui kehebatannya, ia sendiri menulis di laman blognya. “Gregor Samsa terbangun dari satu mimpi buruk dan menemukan dirinya menjadi seekor kecoa besar.” Adakah yang lebih sempurna dari pembukaan cerita semacam itu? Tulis Eka.

Di sisi lain kita menemukan semangat Gabriel Garcia Marquez dengan menciptakan kota Halimunda dan latar zaman kolonial yang mungkin dipinjam dari Pramoedya Ananta Toer. Candu ketiga sastrawan itu tentulah tak bisa dilepaskan oleh pengarang sesudahnya. Termasuk Eka, kita, dan Anda semua yang tergugah oleh sebuah novel.

Ketika novel ini kemudian diterbitkan ulang Gramedia di tahun 2004, saya sedikit kecewa dikarenakan sampulnya berubah. Ada kemiripan dengan cover novel Paulo Coelho, Veronika Memutuskan Mati. Kemudian berubah lagi setelah dicetak ulang di tahun 2012, covernya malah mengaburkan konteks. Melihat sampulnya, asosiasi orang akan menduga kalau cerita dibangun di sebuah kota metropolitan. Tetapi, itu urusan penerbit dengan kalkulasi penjualannya. Dan, saya menolak membeli novel ini sebagai hadiah kepada seorang kawan, hanya karena perubahan cover saja. Saya senang dengan cover pertamanya, terbitan Jendela kerja sama Akademi Kebudayaan Yogyakarta tahun 2002.

***

Pangkep-Makassar, 12 Desember 2013

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…