Skip to main content

Fredy S, Politik, dan Kita





Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Sebagaimana tema yang diusung di setiap judul novelnya, tentu kita membutuhkan ruang khusus guna menuntaskannya. Nampak sedikit, sepertinya ada sesuatu yang tidak sreg. Dan, jika ketahuan, rasa-rasanya wajah ini kusut masam. Malu.

Lantas, benarkah Fredy S menghabiskan energinya hanya untuk menceritakan hal vulgar. Sayang, ia tak pernah tampil memberi penjelasan. Dugaan kuat, Fredy S merupakan nama pena dari seseorang yang tak biasa. Produktivitasnya melahirkan karya, saya kira layak diacungi jempol.

Muhidin M Dahlan, pengarang novel Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur, mengutarakan apresiasinya. Katanya, Fredy S bukan penulis picisan. Ia mengajukan bukti berupa heksalogi ‘Terpidana’ yang terdiri enam edisi: Bercinta dalam Gelap, Politik Bercinta, Budak Kehormatan, Penghias Kepalsuan,  Belenggu Dosa, dan Badai Telah Reda. Latar ceritanya seputar intrik 30 September 1965. Jika ditotal, semuanya 1. 200 halaman. Sungguh pekerjaan yang serius.

Bahwa kemasan seks yang melekat pada karya Fredy S, sesungguhnya sebuah metode  jitu dalam menyampaikan realitas politik yang terjadi di medio 1965. Strategi ini boleh jadi merupakan penipuan bagi rezim agar karyanya tidak diharamkan. Sekalipun karyanya ini dijadikan media legitimasi oleh penguasa dalam mengubur bacaan yang terang-terangan melawan kekuasaan.

***

Tidak laik membicarakan seks di ruang publik, adalah nasihat yang selalu kita dengar. Sedangkan seks itu perlu disosialisasikan, adalah teriakan atas petuah purba itu. Situasinya memang ada pada cara pandang kita terhadap seks. Karena bagaimanapun juga, seks di sisi lain, adalah wujud memperoleh keturunan, selain tentunya sebagai muasal segala persoalan.

Nah, olehnya itu, ketika seks ditabukan, disembunyikan, dan ditutupi sedemikian rupa. Maka, sungguh memalukan manakala ia terkuak tanpa sengaja. Ujungnya, menjadi skandal antara dua pasang anak manusia. Lebih runyam lagi jika hal ini terpaut dengan situasi politik.

Kita tentu sudah kenyang dengan pristiwa yang demikian, bahwa apa yang sedang berjalan di panggung politik menuju sehasta kekuasaan. Seks senantiasa menjadi proses, sekali itu ada yang terkuak ataupun berhasil didiamkan.

Lalu, kita mau apakan itu seks. Bukankah perkara ini juga merupakan jejak pradaban. Jika tidak, bagaimana mungkin orang Romawi kuno memiliki kitab Ars Amatoria, buku panduan dalam memahami hakikat persetubuhan, serupa dengan Serat Nitimani di Jawa, dan Assikalabineng di Sulsel. Jika demikian, maka seks merupakan serangkaian ilmu yang harus juga dipelajari, sama dengan ilmu matematika atau ekonomi.

Negeri ini memang ikut melahirkan sejarah, sekaligus tak pernah belajar darinya. Secepat kilat kita melupakan perilaku abnormal itu, malah menjadikannya sebagai prestasi. Fredy S, boleh jadi mengejek kita, bahwa apa yang ia tulis sedikit banyaknya telah mewujud. Mungkin roman pop seksnya tak pernah bertengger di rak perpustakaan kita, sebagai sikap menyepakati hegemoni pemahaman seks yang harus ditangkup. Tapi, karyanya itu menyiratkan kebanalan politik yang dewasa ini menjadi tontonan.

Rupanya, realitas politik kita juga menjadikan seks sebagai kekuatan untuk menjatuhkan rival. Seks yang dikardus itu, secara perlahan dikuak layaknya komoditas yang siap ditawar. Celakanya, kita tak pernah benar-benar malu.

Mungkin inilah yang dimaksudkan Fredy S, secara sistematis pengarang paling misterius itu mencoba membantu kita mengeja pertumbuhan politik. Awal mula kita memasuki ruang gelap, tak ada wajah yang bisa ditatap dengan baik, semuanya samar. Karena itu, tidak ada kawan, yang ada hanyalah lawan sejati.

Fase berikutnya, politik bercinta. Tak perlu setia, sebab itu jalan kemelaratan. Menjadi budak itu wajar-wajar saja asalkan terhormat. Paling tidak, limpahan harta sudah dalam dekapan. Jika sudah demikian, sisa mempertahankan pencapaian ini dengan kepalsuan, peduli apa dengan dosa. Toh, menyisihkan harta hasil curian di panti asuhan atau di rumah ibadah, keadaan menjadi normal kembali.

Yang ditunggu, kapan badai ini berlalu. Apakah kita salah satu yang akan meredahkannya?

***
Makassar, 7 Juli 2013
Catatan terkait: Yang Terkenang yang Tak Dikenal

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Lemari Abdullah Harahap