Skip to main content

Yang Terkenang yang Tak Dikenal





Fredy S

Suatu ketika, seorang kawan memintaku untuk menemaninya ke dokter guna memeriksakan penyakit kulit yang dideritanya. Sesampai di lokasi, sekitar sepuluh orang tengah duduk di ruang tunggu. Sepertinya antrean akan berlangsung lama.

Saya lalu memilih keluar usai kawan itu mengambil nomor antrean. Tak jauh dari klinik itu terdapat Warnet. Tak berpikir lama, saya beringsut ke sana guna mengecek akun Facebook. Dua pesan, dan 13 pemberitahuan tertera di sudut kiri atas. Namun, tautan terbaru Muhidin M Dahlan memaku kedua bola mataku. Tertulis jelas: Fredy S, Seks, dan G30S.

Pikiranku berkelabat, ada apa dengan penggubag novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur itu. Apakah ia termasuk pembaca setia Fredy S, pengarang roman pop bertema seks paling produktif? Lalu, apa hubungannya dengan peristiwa pembunuhan 7 jenderal di tahun 1965.

Selaku pembaca setia Blog pengarang Gus Muh, sapaan akrabnya. Jelas saya tak ingin melewatkan pembahasan yang kali ini ditawarkan. Perlahan kueja opini 19 paragraf itu dengan serius. Dan kepalaku serasa terbalik. Rasanya ingin kembali ke masa kecil kala roman-roman itu dijual layaknya sebungkus krupuk. Karena selama ini, saya mengharamkan diri membaca roman-roman pop bertema seks. Kupikir, bacaan yang demikian tak berguna.

Tuan Fredy S! sebenarya Anda ini siapa! Sosok Anda sangat misterius, tak ada secuil pun penjelasan mengenai jati diri Anda. Bahkan perpustakaan tercanggih di dunia sekalipun tidak mengarsipkan riwayat Anda. Sekali waktu saya mencari di laman Google, malah yang tampil penjelasan tentang seks. Heran saya, Tuan Fredy S!

Jelajah yang ditulis Gus Muh perihal Anda, sungguh mencengangkan. Ahmad Tohari saja hanya punya karya Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Pramodeya Ananta Toer menggubah Tetralogi Buruh. Anda malah merancang Heksalogi Terpidana yang terdiri enam edisi: Bercinta dalam Gelap, Politik Bercinta, Budak Kehormatan, Penghias Kepalsuan,  Belenggu Dosa, dan Badai Telah Reda. Jika ditotal, semuanya 1.200 halaman. Ini pekerjaan yang amat serius Tuan Fredy S. Apalagi, keenam seri ini memakai latar belakang intrik peristiwa gerakan 30 September 1965.

Jika ada petunjuk mengenai tahun-tuhun ketika Tuan bersua. Itu dari kalimat yang anda tuliskan: “Ah, Manikebu itu kan kelompok kecil. Manifes Kebudayaan kan? Orang-orang itu kan cuma Jassin, Larto, Gunawan, Bur…” (Politik Bercinta, hal. 89-90. Dalam Muhidin M Dahlan).

Nampaknya Tuan akrab dengan tokoh-tokoh Manikebu. Jadi, jika boleh saya menerka, mungkin Tuan salah satu pemain di balik riuh polemik kebudayaan tahun 1965 antara Lekra dengan Manikebu.

Ah! Itu cuma dugaan saya saja Tuan! Saat ini, saya ingin berburu roman-roman pop Anda. Mungkin saja saya menemukan kalimat yang bisa menjadi susunan petunjuk untuk mengenal Anda lebih jelas lagi.

***
Pangkep, 15 November 2012

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Lemari Abdullah Harahap