Skip to main content

Endapan Luka Air





Air bagi masyarakat di kampung saya, juga berlaku bagi manusia Bugis di daerah yang lain, lebih dari kebutuhan lahiriah. Air diyakini sebagai obat segala penyakit. Walau, ragam bakteri yang menyerang tubuh manusia hadir pula melalui air.

Sanro, sebutan bagi orang yang memiliki keahlian tertentu dalam mengobati. Penyebutan ini bisa panjang, tergantung jenis pengobatan yang diampuhi. Sanro Pammana, mengurus perempuan hamil yang akan dan sesudah melahirkan. Sanro Pangnguru, merawat orang yang mengalami patah tulang.

Adapun penyematan Sanro untuk keahlian yang lain, diingat sesuai spesifikasi yang dimiliki. Waktu kecil, jika mengalami luka. Emak akan membawa saya pada seorang yang pandai mengobati. Begitupun bila keselak tulang ikan hingga pipi bengkak.

Sanro. Maknawinya, orang yang mengetahui rahasia atau yang diberi pengetahuan khusus. Menggunakan air sebagai perantara dalam menunjang prosesi pengobatan yang dilakukan. Dengan rapalan doa, air disarankan diminum sebagaimana lazimnya dan menyekanya ke luka atau di bagian tubuh yang perlu mendapat sentuhan air doa itu.

Di tapak waktu di situasi berbeda. Di tahun 1994, usia sepuluh tahun sudah cukup menyimpan ingatan kenangan. Di musim kemarau. Ketika tanah retak. Sumur di belakang rumah mengering. Setiap rumah tangga akan melakoni perjalanan menuju sumur komunal berjarak sekitar setengah kilo dari rumah saya dan lebih dari 2 km bagi sebagian orang.

Di sana, terbangun kebersamaan sekaligus memantik luka sosial. Bagaimana tidak, lubang cuma satu dengan debit air tanah yang payah. Perlu menunggu berjam-jam baru bisa antre menimbah. Keserakahan, tentulah tumbuh subur pada mereka yang tak betah. Itulah mulanya luka mengangah.

Air adalah berlian. Menjadi penyembuh sekaligus pencipta luka. Ada penantian panjang dan aktivitas melebihi membajak sawah demi memperoleh se ember. Di saat itu, air penyembuh luka yang lain. Luka dahaga. Kemarau kadang bertahan hingga tujuh bulan, dimulai Juni hingga akhir November. Di sepanjang itu, mengantre di sumur komunal menjadi aktivitas bersama. Semua anggota keluarga yang sudah bisa menjinjing wajib dalam perayaan.

Bagi saya, saat itu bukanlah derita. Memahaminya sebagai perputaran waktu saja. Sebab, siklus itu terulang kembali hingga saya menginjak SMP. Hingga parit di depan rumah digali kembali untuk ditanami pipa panjang mengitari seluruh kampung. Air lalu mengalir dengan jadwal yang ditetapkan dari jam 7 pagi hingga lepas magrib.

Mulanya, tak banyak warga mendaftar guna dipasangi keran. Lucu sekaligus menjadi penemuan terpenting bila di permukaan parit itu dirembesi air. Segera saja warga membuat kubangan menampung mata air buatan PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) tersebut kemudian dijadikan sumber mata air bersama. Mengantre demi se ember air dari pegunungan.

Dua puluh tahun setelahnya. Perlahan muncul tanya menuntut jawab. Mengapa ada desa yang didindingi pegunungan kekurangan pasokan air di musim kemarau. Kukira, pengalaman ini hanya dialami generasi saya. Namun, keterangan dari cerita orang-orang yang terpaut usia 20 tahun, juga mengalaminya di masa mereka kecil. Di dekade 70-an.

Tetua di kampung menerjemahkannya sebagai proses alamiah. Bumi sudah tua dan kekurangan air. Tegasnya, merupakan takdir. Air melimpah di musim penghujan lalu menghilang di musim setelahnya. Begitulah.

Enam belas tahun sebelum saya lahir, berjarak dua desa dari desa saya, perusahan semen pertama di Sulawesi Selatan juga di kawasan Indonesia bagian timur mulai beroperasi di tahun 1968. Menempati lokasi bernama Tonasa di kecamatan Balocci kabupaten Pangkaene dan Kepulauan (Pangkep), PT Semen Tonasa, itulah nama yang diingat.

Tidak ada yang tidak membutuhkan air. Dalam prosesnya, pembuatan semen pun memerlukan air. Sebagaimana Sanro menggunakannya sebagai pengantar menyembuhkan luka.

Air menjadi wajib bagi industri dan rumah tangga. Dari keduanya, tentulah terjadi penggunaan sesuai kadar yang diperlukan. Jelas, perbandingannya jauhlah berbeda. Menghidupi industri sebesar perusahaan semen tidaklah menggunakan setakar sebotol air kemasan layaknya yang biasa digunakan para Sanro, juga bukan se ember yang membuat orang-orang di kampung menjadikannya hasil kerja paling hebat di musim kemarau.

Sebab sumur berupa galian, air yang didamba muncul dari dasar merupakan rembesan air hujan yang mengendap yang melekat di tanah itu sendiri dan juga bebatuan. Tumbuhan, berupa pohon, melalui akarnya juga menjadi bank air tanah. Ketika pasokan air dari atas berkurang. Endapan air itulah, yang disebut air tanah mulai keluar dari penampungannya.

Jika tidak ada penggunaan berlebih. Ukurannya berdasar kebutuhan rumah tangga yang kira-kira memerlukan pasokan air 200 hingga 300 liter perharinya. Maka, kebutuhan domestik sangat dimungkinkan tercukupi.

Letak desa saya, berada di sisi barat PT Semen Tonasa berjarak sekitar sepuluh kilometer yang kini sudah tidak beroperasi lagi. Dan, jika orang-orang di kampung telah mengalami kekurangan air di musim kemarau di tahun 1970-an, di mana pabrik pertama PT Semen Tonasa beroperasi di tahun 1968. Dugaan saya, pertempuran (dominasi) perebutan air tanah memang terjadi.

Keberadaan pabrik di sisi timur memotong rembesan air tanah di sebelah barat. Kira-kira begitu logika sederhananya.

Hilangnya pasokan air tanah, mengubah perilaku masyarakat mensiasati kemarau. Perlahan, di musim kering selanjutnya, sumur komunal bukan lagi tujuan. Pipa yang semula ditanam di parit, mulai bercabang memasuki rumah warga. Tetap menjadi dewa penolong walau musim penghujang tiba. Kini, bisa dihitung jari, warga yang masih merawat lubang di belakang atau di depan rumahnya.

Tetapi, setelah pabrik semen berpindah ke wilayah yang lumayan jauh dari desa saya (masih di wilayah Pangkep) Peristiwa kekeringan masih saja berlangsung. Tentu, masyarakat dan generasi sekarang tidak perlu lagi mengantre di sumur komunal. Sebab, hanya perlu membayar jasa PDAM setiap bulan sesuai pemakaian.

Tercermin, air membentuk perilaku umat manusia. Satu sisi, menjadi komoditas. Sisi yang lain, merupakan obat penyembuh luka. Luka dalam arti seluas-luasnya. Di kampung saya, sisa di tangan Sanro, air belum menjadi dagangan. Sebab, setelah episode menjalarnya pipa di rumah warga. Kegiatan menjerang air untuk diminum sudah tergantikan keberadaan depot isi air galong. Yang cikal bakalnya sudah ada sejak kita mengenal air kemasan.

***
Pangkep-Makassar, 7 Januari 2015
Catatan terkait: Air

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…