Skip to main content

Lalat Penolong Manusia



 
Lalat Hitam (Sumber di sini)

Manusia adalah gerak yang membatasi dirinya sendiri, beragam aktivitas manusia sepertinya akan berhadapan hasil akhir yang ditimbulkan. Menyangkut sisa makanan, misalnya, sampah rumah tangga ini akan menjadi pembatas gerak bagi manusia yang telah memproduksinya.

Tengoklah tata laku manusia yang hidup di perkotaan, dengan berkurangnya lahan karena konsep pembangunan semata dipahami sebagai wujud fisik. Maka, dengan sendirinya manusia lupa kalau hasil akhir dari sebuah proses mengasup makanan tak tahu di mana harus dialokasikan.

Memang ada tempat sampah yang dibangun sendiri maupun disediakan pemerintah kota lengkap dengan petugas. Tetapi, itu serasa tak pernah cukup. Artinya, sampah tetap menjadi momok terhadap eksistensi kota dan manusia yang berjejak di dalamnya.

Kota sering dimaknai sebagai kawasan padat penduduk dilengkapi infrastruktur pendukung aktivitas agar warga tetap efisien dan praktis. Hanya saja, menyisakan ruang bagi tumbuhnya sikap pragmatis. Kita bisa lihat di titik tertentu pemukiman warga yang tak terjangkau fasilitas tong sampah. Ruang untuk membuang sampah adalah masalah yang tak pernah selesai.

Itulah mengapa seringkali kita saksikan bila ada lahan kosong, seketika  menjadi tujuan warga membuang sampah, walau di lahan tersebut si empuhnya tanah telah memajang peringatan bertuliskan: “Dilarang membuang sampah di sini.” Peduli amat, sebab di mana lagi mereka membuang sampah, sikap yang demikian barangkali dianggap selaku perwujudan mental pragmatis. Namun, mau bagaimana lagi, warga yang kekurangan atau malah tak mendapat akses, malah ditunjuk sebagai biang kerok atas masalah sampah.

Bisakah asumsi menyalahkan warga yang kekurangan akses tersebut diterima. Saya kira sungguhlah keliru. Pemerintah kota selaku pengendali tata ruang tak bisa seenak perut menyalahkan warga. Apatisme warga terhadap sampah adalah protes senyap yang seharusnya dijadikan pelecut kreatifitas bagi pengelola kota.

Kita sepakat bila sampah berserakan di lingkungan pemukiman kita merupakan musuh bersama. Tidak ada yang sepakat kalau sampah yang baunya menyumbat hidung adalah berkah bagi kelangsungan kehidupan. Kejijikan semakin bertambah bilamana tumpukan sampah tersebut menjadi warung makan ratusan lalat.

Tetapi, usai membaca laporan Angger Putranto di Kompas (23/11) tentang pergulatan seorang Guru Besar Riset Ekonomi Pertanian, Agus Pakpahan melalui penelitannya bersama perusahaan gula tertua di Lampung, PT Gunung Madu Plantations, sejak 2010 telah mengujicobakan lalat sebagai penolong dalam menyulap sampah, khususnya jenis organik menjadi sesuatu yang berguna.

Tak semua jenis lalat dapat ditugaskan untuk tugas mulia ini, hanya jenis lalat hitam (Hermetia illucens), serangga asli asal Amerika Utara. Keluarga lalat ini berbeda dengan lalat sampah atau lalat hijau (Musca demostika). Perawakannya lebih panjang dan ramping, gerakannya pun sedikit lambat. Tahapan bertumbuhnya bermula dari telur selama 3 hari, maggot 18 hari, prepupa 14 hari, pupa 3 hari, lalat dewasa 3 hari, kemudian mati setelah kawin.

Berdasarkan pengalaman Agus dan keberadaan perusahaan gula yang tentu saja memproduksi limbah tebu begitu banyak, diitambah lingkungan rumah tangga milik perusahaan. Sampah organik adalah tantangan yang perlu disikapi. Lalat hitam ini sendiri sengaja dikembangbiakan. Dirawat layaknya anak yang nantinya berguna.

Terbukti, kemampuan lalat hitam berdasarkan proses metamorfosisnya dalam mengurai sampah sungguh berguna. Sebab setiap ekor menghasilkan 500 maggot, bila ada 20 ekor, maggot bertambah menjadi 10.000. Nah, dalam satu hari 10.000 maggot mengurai 1  kilogram sampah rumah tangga. Sampah yang telah terurai disebut kasgot yang bisa langsung digunakan sebagai pupuk organik.

Kelanjutan metamorfosis berikutnya, prepupa, mengandung protein hingga 45 persen plus lemak 35 persen yang dapat dihidangkan untuk pakan unggas dan ikan. Guna menjaga populasi, pupa disisakan sebagai embrio. Selanjutnya lalat hitam dewasa dapat menyuburkan tanah.

Manfaat ini pastilah menguntungkan perusahaan. Pasalnya, lalat hitam mengurai sisa endapan pengolahan tebu yang disebut blotong menjadi pupuk organik. Keuntungan ganda yang didapat dikarenakan hasil kerja maggot juga demikian. Pupuk organik inilah kemudian yang digunakan perusahaan di perkebunan tebu miliknya.

Fantastis, saya kira. Lalat yang semula dianggap musuh umat manusia, nyatanya, untuk spesies tertentu merupakan dewa penolong. Menarik, bila metode ini diterapkan pemerintah kota dalam menanggulangi sampah. Bayangkan saja, pemerintah kota akan mempunyai ratusan atau ribuan pegawai lalat dalam artian sesungguhnya untuk menjadikan sampah sebagai barang berguna.

***
Makassar, 23 November 2014
Dimuat di Koran Tempo Makassar edisi 19 Desember 2914

Comments

  1. Wah.. Manfaatnya tak terduga ya.
    great post ^^

    ReplyDelete
  2. Rizky Erim, iya, baru tahu juga setelah baca laporannya di Kompas. Terima kasih telah berkunjung

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Lemari Abdullah Harahap