Carilah

Loading...

Tuesday, 12 July 2016

Pada Sepakbola Kita Bermain Dadu




Fajar pagi menjadi teman perjalanan menuju Makassar usai gol tunggal Eder memastikan Portugal juara Piala Eropa. Hal pertama yang muncul di benak, seorang teman di tempat kerja bakal mendapat uang arisan bola yang kami adakan. Dalam proses undian yang dilakukan, ia mendapat gulungan kertas kecil yang di dalamnya tertulis: Portugal.

Sebenarnya, Portugal bukanlah tim favoritnya, ia menjagokan Inggris sejak Beckham masih aktif bermain. Namun, aturannya tidak boleh memilih dan harus menerima hasil undian. Itu aturan yang disepakati. Saya sendiri harus menerima Swiss sebagai takdir. Dan tahulah kalian, gol salto Xerdan Shaqiri yang menyamakan kedudukan pada akhirnya menjadi tim pertama yang gugur di fase 16 besar karena kalah adu penalti dari Polandia.

Saya kira tak perlu mengutip pendapat ulama dari lintas mazhab mengenai hukum judi dalam segala hal. Ini hanya fakta tak terbantahkan. Bola tidak sekadar melahirkan fans lintas generasi dan aliran. Sepakbola adalah media pertaruhan dari keisengan hingga yang serius.

Saya masihlah dalam tahap iseng-iseng saja, belum sampai pada kelas mafia bola. Waktu Italia balas dendam atas Spanyol di Perdelapanfinal dengan skor 2-0, saya harus kasbon di koperasi kantor dua bungkus rokok Sampoerna untuk kemenangan seorang teman. Saya kalah taruhan. Jerman kemudian mengembalikan dua bungkus rokok itu ketika Italia dipinta pulang usai kalah adu penalti di Perempatfinal.

Jadi, begitulah cara saya melibatkan diri dalam pertaruhan bola. Soal hukumnya, kita sama-sama tahulah. “Tuhan maha tahu tetapi Dia menunda.” Tulis Tolstoy, sastrawan Rusia yang ia jadikan judul cerpen.

Sejarah sepakbola tak bisa dilepaskan dari peliknya sebuah taruhan. Andreas Escobar, bek Kolombia di Piala Dunia 1994 di AS harus tewas didor. Dugaan kuat, kelompok mafia yang kalah taruhan geram melihat gol bunuh diri yang dibuatnya.

Bola dengan segala kerumitan taktik diterapkan pelatih jenius. Keterampilan yang diperagakan pemain. Wasit berusaha menerapkan keputusan obyektif. Semuanya tidak masuk hitungan dalam kalkulasi para petaruh bola. Mereka punya hitungan tersendiri yang tak kalah ribet dan kadang mengejek akal sehat.

Di situasi tertentu berdasarkan kesepakatan berengsek yang hanya mereka pahami, ada petaruh yang berdoa supaya tim yang dipilihnya tidak menciptakan gol. Bisakah hal ini kita terima? Bukankah esensi pertandingan sepakbola merupakan upaya menjebol gawang lawan sebanyak mungkin? Bagi mereka, para petaruh bola gila itu, semuanya demi memenangkan taruhan berdasarkan yang tersepakati.

Petaruh bola tipe ini tentu bukan pecinta bola, melainkan memang aslinya petaruh. Padahal, bola tetap bisa dijadikan ajang taruhan tanpa harus membuat aturan baru. Petaruh bola idealis ada pada mereka yang tidak perlu melahirkan kesepakatan. Intinya, siapa yang memenangkan pertandingan, maka dialah pemenangnya. Selesai.

Lalu, apakah sebuah pengetahuan taktik dan strategi tentang bola mampu dijadikan jaminan memenangkan pertaruhan? Tentu saja iya. Franz Beckenbauer, legenda Jerman, menuliskan ulasan menjelang Italia berjumpa Spanyol. Ia memuji taktik yang diterapkan Antonio Conte, pelatih Italia saat menumbangkan tim generasi emas Belgia di penyisihan grup dan melihat Spanyol memelihara celah di lapangan tengah. Iniesta tidak memiliki tandem sepadan usai Xavi pensiun.

Andai satpam kantor saya yang ngomong begitu, tentu saya tidak menyepakatinya. Namun ini seorang Sang Kaisar, julukan sang legenda. Atas apresiasinya itu saya berani memegang Jerman. Karena Tim Panser menurutnya, masih dalam ulasannya, memiliki kekuatan organisasi gelandang kreatif yang dapat meredam Italia yang sedang mengalami krisis generasi.

Meski analisis pakar dapat membantu, tetap saja sepakbola menyimpan misteri yang tak dapat dinalar. Pada akhirnya, bertaruh bola tak lebih sebagai bermain dadu saja, kita hanya bisa menginginkan nomor dadu di pikiran, hasilnya tergantung gelindingan dadu. Adu penalti yang dilakoni Jerman dan Italia sedikit membuktikan asumsi ini.

*
#onedayonearticle
#bloggerpangkep
#pialaeropa2016

Makassar, 12 Juli 2016

Monday, 11 July 2016

Imajinasi Pendukung, Kegilaan Pelatih, dan Tragedi Pemain



Saya gagal bangun di pukul dua dini hari untuk menghadiri nonton bareng di D’Corner. Dan, hampir saja melewatkan final Piala Eropa andai adik ipar tidak bangun juga. Sabda Sigmund Freud benar. Mimpi itu bawaan alam bawa sadar yang memenuhi sebagian isi kepala. Tertidur di pukul sepuluh malam, saya bermimpi sedang bermain bola.

Ulasan saya, sila klik di sini, mengenai dua tim yang berlaga di final antara Portugal dan Perancis, oleh kawan-kawan dianggapnya saya ini mendukung Perancis. Padahal tidak demikian, dalam ulasan itu saya juga memaparkan sepak terjang Portugal. Lagi pula, saya bukan orang yang mengidolakan satu tim tertentu.

Saya sepakat dengan Zen RS, sepakbola itu sebagai kisah, ulasannya bisa dibaca di sini. Itulah alasan yang mengubah cara pandang saya menonton sepakbola sebagai permainan dan kisah tragik para atlet bola yang bergulat di dalamnya. Dulu memang, saya fans berat Belanda karena di sana ada si Gimbal, Edgar Davids. 

Tidak dimungkiri kalau sepakbola merupakan satu-satunya olahraga yang dapat menyatukan imajinasi manusia di bumi. Umat manusia yang mendiami negara yang masih diselimuti konflik pun menunjukkan gejala demikian. Malah sepakbola bisa melahirkan gagap budaya. Messi, misalnya, dianggap melakukan penghinaan kala ia menyumbangkan sepatunya untuk dilelang di Irak.

*
Suara ribut televisi menyudahi mimpi saya. Kutatap istri dan anak, raut wajahnya menunjukkan kalau keduanya juga sedang bermimpi. Jika harus menerka, istri saya pasti bermimpi kalau saya sedang tidur nyenyak di kursi dan melewatkan final. Ia memang tidak setuju kalau saya harus bangun di sisa malam menuju D’Corner. Dan anak saya, bermimpi sedang asyik main kuda-kudaan pelepah pisang yang saya buatkan.

Pertandingan sudah berlangsung selama 27 menit. Saya tidak melihat proses terhentinya lari Cristioano Ronaldo. “Paccei bela, keluarmi Ronaldo, tidak adami harapan.” Ujar adik ipar saya. Satu bukti kalau pesona pemain bintang belum menemui ajal. Ungkapan tersebut wajar saja. Dapat dibayangkan semua pendukung garis keras Portugal bakal berkomentar sama.

Sisi baiknya saya lihat, Portugal mampu mengorganisir permainan tanpa adanya Ronaldo. Penguasaan bola meningkat dan memaksa duo gelandang jangkar Perancis, utamanya Pogba lebih banyak membantu pertahanan. Peran vital lapangan tengah Portugal tentu tak bisa lepas dari akselerasi pemain 18 tahun, Renato Sanches.

Saya termasuk geram kala Fernando Santos, pelatih Portugal menggantikan si Gimbal itu dan memasukkan Eder. Sama halnya ketika Deschamps menarik Payet dan memilih Coman. “Dasar pelatih gila!” Gumam saya dalam hati. Namun itulah pertaruhan pelatih yang mengaduk emosi penonton dan menciptakan jalan tragedi bagi pemain.

Deschamps juga menarik Giroud yang digantikan Gignac, pemain bernomor punggung 10 ini mencipta peluang di sisa waktu normal babak kedua. Gocekannya di kotak penalti sudah membuat Pepe terkecoh, sayang sepakannya membentur tiang.

Di sepanjang turnamen Piala Eropa, Santos memang tidak memakai penyerang murni, formasi 4-3-3 diterapkan sebagai jalan bagi Ronaldo dan Nani yang sejatinya gelandang sayap dibiarkan bermain lepas. Santos tahu kualitas mereka, utamanya ego seorang CR7. Inilah alasan utama mengapa Portugal paceklik gol di penyisihan. Andai tidak bermain imbang dengan skor 3-3 melawan Hungaria maka pupuslah harapan Portugal ke putaran 16 besar. Portugal hanya menang selisih gol dengan Albania.

Keputusan Santos akan menyempurnakan tragedi Ronaldo yang harus berhenti bermain andai Eder tidak melesakkan gol semata wayang hasil usahanya membaca situasi longgar pertahanan Perancis yang terbuai membantu serangan. 

Di sisa akhir pertandingan, lagak Ronaldo melampaui pelatihnya dan terlihat melangkahi garis wilayah official tim Perancis. Ia berjalan tanpa sungkan di hadapan Deschamps. Dialah Ronaldo yang terseduh di final tahun 2004 dan kini mengangkat trofi Piala Eropa kali pertama untuk Portugal.
*
#onedayonearticle
#bloggerpangkep
#pialaeropa2016

Pangkep-Makassar, 11 Juli 2016