Skip to main content

Posts

Lebaran Kali Ini

Lebaran menjadi ruang temporal. Di dalamnya terkandung beragam kemungkinan. Manusia berjalan menghampirinya dan mendapatkan tapak kakinya di masa lampau yang juga jejak ke depan. Terangkum dalam fase waktu.

Perkara lebaran adalah situasi sunyi. Benar-benar sunyi. Mendobrak bendungan Beddu di hadapan dua anak perempuannya, Salma dan Salwa. Lebaran kali ini hujan turun membawa mayat istrinya. Peristiwa waktu yang paradoks.

“Ayah, Mama tidak pulang ya, ini kan menjelang lebaran, Salma dan Salwa mau dibelikan baju baru sama Mama.” Jawaban apa yang dapat menenangkan rindu atas tanya macam itu. Beddu bergidik. Dua putrinya tidak menuntut penjelasan filosofis.
­_
Lebaran dan kematian. Dua peristiwa dalam hidup umat manusia. Semuanya abadi dan tak dapat dihindari. Lebaran saban tahun barangkali saja ruang yang dinanti berkumpul. Ini dikuatkan dengan rutinitas para perantau berjalan pulang mengunjungi teras kampung halaman.

Kematian juga tapak perjalanan, Mudik ke sumber kehidupan…
Recent posts

Pada Sebuah Kapal

NH Dini menulis novel berjudul Pada Sebuah Kapal yang menjadi salah satu karya terbaiknya. Di novel itu, banyak kritikus menilai kalau NH Dini sedang menuliskan sepetak perjalanan hidupnya sendiri.

Judul novel itu saya pinjam di sini untuk menerangkan buku yang ditulis generasi awal penulis kelahiran Pangkep, H Djamaluddin Hatibu. Di tahun 1988, ia telah menuliskan manuskrip kisah perjalanan sebuah kapal yang menjadi armada perang perjuangan pasukan republik di wilayah Sulawesi Selatan.

Buku ini tipis saja, hanya 27 halaman, itu sudah ditotal dengan halaman judul, daftar isi, kata pengantar, ucapan terima kasih, dan sambutan. Di tahun 2008, Pustaka Refleksi menerbitkannya atas bantuan dari Pemerintah Kabupaten Pangkep. Ir. H. Syafruddin Nur, menjabat bupati kala itu menyebutkan kalau perjalanan kapal di buku tersebut merupakan saksi bisu atas jejak perjuangan anak bangsa melepaskan diri dari penjajahan.

Muasal kapal yang kemudian dijadikan armada perang itu bermula dar…

Bacaan Anak Zaman yang Lahir Lalu Mati Muda

Tidak banyak media yang mengusung tema tertentu beredar luas di daerah. Di sejumlah kota besar pun jenis media cetak melulu membebek pada arus media utama. Jika ada, hanyalah berupa tabloid atau selebaran yang dikerjakan komunitas masyarakat atau di lingkup mahasiswa.

Di Pangkep, pernah diusahakan oleh sekumpulan anak muda yang tergabung di Lentera. Lembaga yang lahir di tahun 2011. Memilih tema segmentif tentulah berisiko tinggi, mana lagi bila ingin dikelola dengan manajemen bisnis. Perih memang. Dan, Lentera bertaruh untuk itu.

Majalah yang dirancang didedikasikan pada pengembangan dan apresiasi kesusatraan, sejarah, kebudayaan, serta analisis keunikan sosial. Memberi ruang yang sebesarnya bagi penulis pemula maupun yang sudah lama merambah belantara dunia kepenulisan. Tegasnya, majalah tersebut hendak melawan kemandekan literasi di tengah masyarakat.

Sebagaimana selanjutnya, edisi perdana Majalah Sastra Lentera, demikian nama media tersebut, terbit dengan oplah tida…

Cerita Kesaksian

Pada dasarnya catatan memanglah endapan kesaksian. Di dalamnya terangkum beragam pengalaman yang disusun secara sistematis, sporadis, atau malah acak saja. Semuanya bukan masalah. Intinya mencatat kesaksian merupakan upaya memberikan nyawa untuk hidup.

Surat Cinta untuk Bidadari Kecilku di Surga, buku kumpulan cerita Etta Adil yang merangkum kesaksiannya ini menawarkan sudut pandang literer. “Ada banyak cerita yang telah saya tuliskan di blog atau sosial blog. Cerita-cerita tersebut terkategori sebagai cerita pendek, cerita mini, catatan harian…” Tulis Etta di catatan pengantar.

Kategorisasi penulisan yang dimaksudkan merupakan kunci untuk memberikan jarak kepada pembaca agar menjadi dasar menelusuri muatan kesaksian. Terdapat 21 cerita yang bisa dipilih sesuka hati untuk mengenal ruang yang pernah dilalui Etta dalam perjalanan hidupnya.

Buku ini sekaligus memberikan kesan yang lain dari sosok Etta, yang merupakan nama pena yang digunakan M Farid W Makkulau. Kita ketahui …

Mengeja Kegelisahan Zohra Andi Baso

Zohra Andi Baso di Sulawesi Selatan, adalah sosok yang tidak lepas dari perannya selaku pejuang hak konsumen. Memimpin Yayasan Lembaga Konsumen (YLK) Sulsel sejak tahun 1992 telah menjadi tonggak keteguhannya untuk terus peduli pada pengguna akhir sebuah produk, yakni konsumen.

Zohra lahir di Labakkang, Pangkep pada 17 April 1952. Menyelesaikan studi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Hasanuddin tahun 1980, kemudian S2 ditempuh di Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 1984. Gelar akademik yang didapat tidak digunakan kembali ke kampus menjalani hidup sebagai dosen. Zohra memilih keluar dan aktif di organisasi non pemerintah (Ornop).

Buku ini merupakan kumpulan makalah yang dibawakan kala mengisi lokakarya, seminar, atau pun diskusi yang ditapaki dari tahun 1995 hingga tahun 1999. Terbit di tahun 2000 silam. Tentu sudah banyak situasi kurang relevan degan hasil perkembangan situasi sekarang ini. Namun, masih banyak yang dapat dipelajari mengenai jejak wacana…

Sehimpun Tragedi

Saya mengingat Irhyl R Makkatutu sebagai teman di Facebook, entah siapa yang memulai melayangkan permintaan pertemaman di media sosial bikinan Mark Elliot Zuckerberg itu. Sebelumnya, namanya kerap saya baca di rubrik Budaya Harian Fajar, cerpennya selalu dimuat di sana.

Di tahun 2012, kami berjumpa kali pertama di kedai baca Sipakainga, ruang baca yang didirikan seorang tua, Anwar Amin di jalan Veteran Selatan, Makassar. Entah lagi, perjumpaan itu dimulai dengan janji ataukah pertemuan tanpa rencana. Satu yang pasti, kami saling bertukar buku. Ia menyerahkan kumcer berisi cerpen dari banyak pengarang di dalamnya. Hal yang sama saya lakukan, memberinya kumcer yang isinya buruk sekali.

Setelah itu, bisa dikatakan, sewindu gerimis berlalu, kami tak pernah berjumpa. Di Facebook, sebatas saling mengelik suka pada status yang dianggap perlu. Sekali dua kali, jika sempat membeli Fajar edisi Minggu, kadang menjumpai cerpennya dimuat. Ia lelaki yang produktif menulis cerita.
D…

Mereka yang Menyapa Dedaunan

Biar lambat asal selamat. Pepatah lama ini bisa jadi, sepenuhnya bukan semboyan yang dijadikan kompas hidup. Tetapi, sangat berguna bagi mereka yang menolak selalu tergesa.

Jumat sore, 25 Maret, Zul dan Koko sudah menyiapkan tunggangan yang akan digunakan menantang jalan berkelok menanjak menuju perkampungan di kaki gunung Bulusaraung. Desa Tompobulu. Tur yang dinamai Camping Ground Pangkep Bersatu itu melibatkan lima klub motor scooter di Pangkep.

Kelima klub pecinta sepeda motor berbodi montok itu, Vespa Indevendent Pangkep (VIP), Persaudaraan Scooter Kabba (PSK), Pangkep Scooter Club (PSC), Vesva Comunty, dan Komves. Mereka berkumpul dan melakukan turing bersama sebagai sarana dalam mengikat emosional sesama pengguna scooter.

Zul dari PSK yang menggunakan scooter produksi tahun 1988, mengungkapkan kalau turing kali ini merupakan jelajah dalam mengunjungi desa terpencil di Pangkep. “Jika selama ini turing selalu identik dengan perjalanan luar daerah, maka PSK dan klu…