Skip to main content

Posts

Hujan yang Turun Malam Itu Telah Melindunginya, Jenderal!

Di tahun 1984, Wiji Thukul sudah merilis dua buku kumpulan puisi: Puisi Pelo dan Darman dan Lain-lain. Taman Budaya Surakarta menerbitkan keduanya. Sepuluh tahun berselang, penerbit Belanda, Manus Amici menerbitkan Mencari Tanah Lapang di tahun 1994. Dua tahun setelah ia dihilangkan, Indonesia Tera merilis Aku Ingin Jadi Peluru di tahun 2000.

Di tahun 2013, Majalah Tempo menurunkan liputan khusus mengenai Wiji Thukul, melengkapi reportase itu, disisipkan kumpulan puisi tipis 37 halaman bertajuk Para Jenderal Marah-marah-Kumpulan puisi Wiji Thukul dalam pelarian. Dibagi ke dalam tiga bagian: Puisi Lepas, Puisi Jawa, dan Puisi Lepas.

Puisi di bagian pertama pernah dimuat di jurnal Dignitas Volume VIII Nomor 1 Tahun 2012. Stanley Adi Prasetyo, pernah menjabat wakil ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia mendapat manuskripnya dari tangan Wiji Thukul menjelang pelariannya. Stanley menulis artikel di jurnal terbitan Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat itu mengupas puisi pemberi…
Recent posts

Komedi Satir Manusia dan Binatang

Membaca sepuluh halaman pertama O, saya mengira Si O merupakan monyet jantan. Menjelang bab pertama usai, rupanya, Si O itu betina. Barulah kembali menyadari kalau Eka Kurniawan selalu menempatkan betina (perempuan) dalam situasi penuh penderitaan.

Seperti tiga novel sebelumnya. Eka memulai O dengan adegan. Teknik bercerita yang baru akan diketahui muasalnya di bab selanjutnya. Paragraf pembuka adalah kunci.

Seekor monyet mengacungkan revolver ke arah polisi. Kelak, Entang Kosasih, monyet bengal itu membunuh Joni Simbolong, polisi yang bertugas di daerah pinggiran, Rawah Kalong.

Jalinan kisah timbul tenggelam. Semua tokoh memiliki ruang mengenalkan siapa dirinya. Tak terkecuali kaleng ikan sarden yang dijadikan Betalumur sebagai alat menampung receh pengunjung yang merasa perlu berderma usai menonton pagelaran topeng monyetnya yang diperagakan O.

Muasal kelumit kisah hanya milik O dan Betalumur. Monyet ingin menjadi manusia dan manusia hendak belajar menjadi binatang. S…

Dalam Sepakbola: Manusia Adalah Anak-Anak Abadi

Sejak kapan sepakbola dibicarakan di luar lapangan. Ini alegori pembicaraan sepakbola bukan melulu soal skor pertandingan. Lalu, dari mana kita mengenal istilah Pele Putih, Maradewa, atau frasa: Gullit tak ubahnya pelepah pisang dan Basten si jarum bengkok.

Kita telat tahu istilah itu sebagaimana latar sosial politik di balik kehadiran Maradona di Napoli dan menjadi legenda di kota bagian selatan Italia itu. Di balik aksi memukaunya memperdaya pemain lawan, itu sebatas dikenal teknik menggiring bola yang, hingga kini, hanya beberapa pemain saja yang dapat berbuat sama.

Atau, mengapa publik Brasil selalu menyematkan label Pele pada pemain yang dianggap mampu membawa timnas mereka merebut tropi Piala Dunia. Siapa Pele. Siapa Maradona. Kita sebatas tahu kalau keduanya pemain sepak bola terbaik di zamannya.

Setahun sebelum gelaran Piala Dunia 1994. 23 tahun sebelum Zen RS menerbitkan SimulakraSepakbola dan Darmanto Simaepa dengan Tamasya Bola. Dua buku terbaik membicarakan bola…

Humor Bajingan

Sesungguhnya, hal yang ingin sekali diketahui dari seorang penulis bukanlah proses kreatifnya. Melainkan diri penulis itu sendiri. Asumsi ini boleh diterapkan pada penuls favorit Anda.

Boleh saja Anda membaca semua karya tulisnya dan fasih menjelaskan pada orang-orang di sekitar Anda. Tetapi, lebih dalam, Anda ingin tahu lebih detail kedirian penulis idola Anda itu. Contoh sederhana, Anda memilih Maxim Gorki sebagai idola, prosesnya didapat dari bacaan yang mengupas Gorky atau dari seorang penulis hebat negeri ini juga menganggap Gorky sebagai inspirasi dan menerjemahkan satu karyanya.

Anda lalu mencari dan membeli novel Ibunda dan Pecundang. Anda, tentu saja menempatkan dua novel itu sebagai kitab suci yang harus dibaca. Peduli setan jika kemudian gagal memahami isinya. Intinya, Gorky adalah idola Anda. Itu saja.

Lalu, semuanya terserah Anda. Remeh temeh soal Gorky selalu Anda cari. Ada kaos yang menjadikan wajah Gorky sebagai gambar, Anda tidak mau ketinggalan ingin …

Zen: Ingatan dan Usaha yang Diupayakan

#1

Tinggal di sebuah kota bukanlah jaminan akses cepat. Kota di sini tentu saja bukan macam Jakarta. Akses yang dimaksudkan bukan pada jalur transportasi. Kota yang lengang dengan akses informasi lambat dapat dirasakan di ruang yang juga disebut kota di Papua.

Patoknya di awal tahun 2005 hingga akhir 2007. Dalam peta menempati kepala burung sebagai pintu gerbang memasuki rimba Papua. Sorong, nama kota itu. Sebelum Irian Jaya berubah nama menjadi Papua yang dibagi ke dalam dua wilayah provinsi. Sorong menjadi kota utama setelah Irian Jaya.

Papua dan Papua Barat. Itulah nama provinsi yang memetakan geopolitik di bumi Cenderawasih. Irian Jaya tetap menjadi ibu kota Papua dan Manokwari ditetapkan ibu kota Papua Barat. Waktu di Sorong, saya heran mengapa bukan Sorong yang, dari segi infrastruktur sudah lebih maju ketimbang Manokwari.

Seminggu menetap di Sorong, saya mencari surat kabar sebagai jendela informasi mengetahui gerak perkembangan kota. Hasilnya cuma satu, sayang…

Panduan Membaca Berita dalam Rimba Media