Saturday, 22 October 2016

Siapa Mengingat Kita, Catatan yang Lupa Buat PPIM (Bagian 14)


Andi Patonangi (paling kiri) menjadi salah satu pembicara pada sosialisasi dan reses Anggota DPR RI, Komisi V, Miryam Haryani, M.Si di hadapan sejumlah kepala desa dan warga di kecamatan Balongan, kabupaten Indramayu, Jawa Barat

Separuh Jalan Politik Lelaki Tanrutedong

Makassar tahun 2003 dihebohkan aksi ratusan pelajar berseragam putih abu-abu yang melakukan aksi damai menentang invasi militer Amerika Serikat ke Irak. Perang atau Pelajar, slogan yang diserukan oleh pelajar yang tergabung di PPIM (Perhimpunan Pelajar Indonesia Makassar).

Kehadiran PPIM menjadi wadah pemersatu antarsiswa lintas sekolah di Makassar saat itu, juga merupakan jawaban dari maraknya tawuran antar pelajar beda sekolah yang marak terjadi. Itulah niat awal mengapa PPIM digagas selain tujuan yang lain, tentunya, seperti memulai bangkitnya gerakan pelajar dari Makassar untuk Indonesia.

Sebagai organisasi, PPIM pastilah digerakkan pelajar dari banyak sekolah yang tergabung di dalamnya. Namun, hukum sejarah menunjukkan, dalam setiap kerumunan, tentu ada yang menjadi magnet. Andi Patonangi, pelajar dari SMU Negeri 5 Makassar, adalah sosok itu. Dialah pemantik di balik berhasilnya Kongres Pelajar Makassar yang melahirkan PPIM hingga aksi damai pelajar menentang perang itu.

Sebelum ke Makassar melanjutkan studi, lelaki kelahiran tahun 1984 ini sejak SD hingga SLTP selalu dipercaya menjadi ketua kelas oleh teman-temannya hingga ketua OSIS. Jiwa kepemimpinannya memang ditempah sejak masa SLTP, apalagi setelah mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan Islam (LDKI) yang sangat berkesan di ingatannya.

Setamat SLTP, ia menempuh jarak sepanjang 219,5 km menuju ibu kota Sulawesi Selatan, Makassar. Salah satu peraih Nilai Ebtanas Murni (NEM) tertinggi se kecamatan Dua Pitue, kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) ini sesungguhnya mendapat lampu hijau bebas memilih SMU di Sidrap. Tetapi, terpatri dalam benaknya, ia harus mencoba tantangan berprestasi di kota Makassar.

“Merantau dan keluar dari kenyamanan pelukan keluarga adalah syarat pemimpin masa depan,” ujarnya. Di SMU Negeri 5 Makassar, ia harus membagi waktu belajar dan berorganisasi. Meski begitu, kedua tapak itu dijalani sama baiknya. Dan lagi, ia menjadi Ketua OSIS SMU 5 Makassar yang dipilih secara demokratis oleh seluruh siswa di tahun 2001 dalam Pesta Demokrasi Siswa (Pademsis), jauh sebelum negara ini menerapkan sistem pemilihan langsung dalam Pileg dan Pilkada.

Semasa SMU juga aktif di Paskibra 05 dan Kramnut 05, organisasi pengibar bendera dan remaja masjid dalam lingkup sekolah. Dengan aktivitas yang padat, Ia tetap mampu memadukan kecakapan berorganisasi dan ketekunan belajar. Terbukti, nilai sekolahnya tidak pernah jebol hingga tamat, dan selalu menjadi penghuni kelas unggulan sejak SLTP hingga SMU.

Iqbal Parewangi (Direktur Utama Gama College Indonesia), kini menjabat anggota DPD RI perwakilan Sulawesi Selatan, suatu ketika berujar, “Wajah pergerakan mahasiswa akan berubah jika kalian yang menjalankan,” ungkapan ini disampakan di hadapan pelajar yang tergabung di PPIM pada satu pertemuan di tahun 2003.

Pernyataannya itu mewujud dalam diri Andi Patonangi dan beberapa alumni PPIM lainnya yang melanjutkan studi dan aktif di lembaga intra dan ekstra kampus di beberapa Universitas di Makassar. Dua karibnya, Bambang Sampurno pernah menjabat Koordinator Bidang Kaderisasi PMII Sulawesi Selatan dan Awaluddin bergiat di Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam HMI Cabang Makassar.

Kak Anton, demikian ia disapa oleh adik-adiknya, kala kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin (UNHAS), ruh kebebasan berorganisasi dihirup dalam-dalam. Selain aktif di Himpunan Mahasiswa Jurusan Misekta (Mahasiswa Peminat Sosial Ekonomi Pertanian), ia juga terlibat di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Pertanian.

Ditunjuk mewakili BEM Universitas Hasanuddin mengikuti Workshop Kader Bangsa Berbasis ESQ di Surabaya yang dilaksanakan oleh DIKTI, adalah pengalaman awal terlibat dalam kegiatan kemahasiswaan tingkat nasional. Sejak saat itulah jaringannya dengan aktivis mahasiswa lintas kampus di Indonesia terjalin.

Aktivitas kesehariannya semasa kuliah juga diisi dengan berkhidmat di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar Timur selaku Ketua Bidang Pembinaan Anggota, menjadi penggiat Ikatan Pelajar Mahasiswa Indonesia Sidenreng Rappang (IPMI Sidrap), dan SAPMA Pemuda Pancasila Sidrap.

Kerakusannya meneguk saripati pengetahuan di sejumlah organisasi membuatnya telat menuntaskan studi Strata Satu (S1) yang dijalani tujuh tahun lamanya. “Tujuh tahun sesunggunya waktu yang lama menyelesaikan S1,” ia mengakui. Namun, tak ada yang perlu disesali, akumulasi hari-hari yang panjang itu membuatnya meyakini kalau hidup yang sebatas diisi satu dimensi saja, bukanlah hidup yang layak dipertaruhkan.

Usai menuntaskan pendidikan sarjana, ia sempat kembali di kampung halamannya di Tanrutedong untuk mengabdi, kini kelurahan dalam wilayah kecamatan Dua Pitue, kota kecil di Sidrap dengan ikon Monumen Perjuangan Andi Takko, sosok pejuang 45 yang turut menjadi korban 40.000 ribu jiwa yang dilakukan Westerling.

Andi Takko sendiri merupakan anak ke 9 dari Arung Otting, suatu entitas pemerintahan lokal yang sangat berpengaruh di zamannya di bagian Timur Sidrap. Sebagai cucu pejuang ikonik itu, Andi Patonangi serasa memikul beban jika sebatas pulang kampung dan tidak bisa membuktikan karyanya dan berbuat sesuatu. Sambil tersenyum ia mengatakan, "Dari ibu, saya mewarisi semangat pendidik, nenek saya seorang guru, sedangkan dari ayah saya, mengalir jiwa kepemimpinan yang menurun dari nenek saya.”

Anton meresapinya sebagai semangat untuk kembali menempuh rel yang sudah dilaluinya, melajutkan pendidikan Pascasarjana. Keyakinannya semakin kuat, bahwa pemimpin masa depan tidak hanya dilahirkan, tetapi harus diciptakan.

Mendengar banyak juniornya semasa SMU melanjutkan Strata Dua (S2), hatinya bergejolak untuk segera kembali ke kampus menempuh hal yang sama. Akhirnya memilih Universitas Indonesia (UI), dengan spirit membuka pintu informasi untuk adik-adiknya dari Tanrutedong mengikuti jejaknya kuliah di universitas terbaik di jantung ibu kota itu. Usahanya bersambut karena lulus di Program Magister Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).

Menuju Jakarta melanjutkan studi sesungguhnya dibayar dengan menggadaikan sepetak sawah warisan, itu sungguh berat dan menambah beban tersendiri sebagai janji yang yang harus segera dilunasi kepada orangtuanya. “Di Jakarta, saya harus mencari biaya hidup sendiri dan tambahan biaya kuliah. Saya memilih tidak membebani keuangan negara dengan meminta beasiswa,” ucapnya sambil tertawa.

Hiruk pikuk Pemilihan Legislatif tahun 2014, menjadi jembatan baginya terlibat dalam jaringan kerja partai politik. Jadi, waktu kuliah tertangguhkan, bahkan studi sudah hampir dilupakan, saat itu dia juga mengambil keputusan besar dalam hidupnya, yakni menikah. Diakui kembali, kalau studi dan menikah sungguhlah dua tapak yang semuanya mendesak ditunaikan. Dan, pilihannya adalah mendahulukan menikah agar memiliki teman seperjalanan melanjutkan agenda yang tertunda.

Keputusannya tepat, sang istri, Andi Tenri Fitriani, SP mendukung jalan hidup yang telah dirintis di dunia politik. Keterlibatannya mengawal proses pemilihan calon legislator Partai Hanura, Miryam S. Haryani, M.Si di Daerah Pemilihan Jawa Barat VIII yang meliputi Kota Cirebon dan Kabupaten Indramayu, mengantarnya menempati satu posisi sebagai Tenaga Ahli Fraksi Hanura DPR RI. Ibu Miryam, yang juga Ketua Umum DPP Srikandi Hanura itu telah menjadi guru politik baginya.

“Saya belajar politik di jantung Kota Wali,” ujarnya. Di sepanjang proses pemilihan Caleg 2014, ia mengunjungi semua kecamatan di Cirebon dan Indramayu, serta akrab dengan sejumlah kuwu, sebutan untuk kepala desa di dua wilayah tersebut. Total, ia mendatangi 316 desa. Sebuah perjalanan yang tidak gampang. Karena itulah ia merasakan sudah menjadi kampung halaman sendiri ketika kembali ke desa-desa itu lagi.

Dengan aktivitas berjibun di kantor Dewan Perwakilan Rakyat. Praktis, studi di UI perlahan terhapus. Boleh jadi ia sudah lupa kalau kedatangannya ke ibu kota, adalah menempuh studi dan kembali ke Sulawesi Selatan mengabdikan hidup. Sungguh ia tidak menyangkah, kalau kehadiran Andi Muhammad Daffa Mahasin Patonangi yang mengingatkan hal itu kembali. Putra pertamanya itulah yang memberikan energi menuntaskan studi yang sudah separuh jalan.

Di Jawa Barat, ia lebih dikenal dengan sapaan Kang Andi. Semangat keilmuannya disalurkan dengan aktif sebagai peneliti muda di Lembaga Studi Demokrasi dan Perubahan Sosial (LESMIDA). Aktifitas politiknya banyak diisi dengan mengawal beberapa suksesi Pilkada di Jawa Barat mengikuti aktivitas Ibu Miryam selaku Korwil Hanura untuk Provinsi DKI, Jawa Barat, dan Banten. Saat ini ia juga banyak terlibat di Dewan Pimpinan Nasional Gerakan Muda Hati Nurani Rakyat (Gema Hanura).

Lalu apa selanjutnya, setelah meraih gelar Master Kesejahteraan Sosial (M. Kesos) yang disandingkan dengan capaian sebelumnya, Sarjana Pertanian (SP). Anak dari pasangan Andi Makkaraka Takko dan Hj. Kismiati Syam Pamanengi ini mengingat pesan tetua di Tanrutedong, kalau dirinya harus menempuh gelar akademik tertinggi (Doktor), itulah yang kini sedang diupayakan mewujudkan mimpinya terbang menuju negeri kelahiran filsuf politik Jhon Locke, Inggris, guna melanjutkan studi doktoral.

Sembari menyiapkan bekal ke sana, ia tetap mematangkan diri bergelut kerja politik di Senayan. Namun, di balik itu semua, ia tetap menanam impian agar kelak bisa pulang ke tanah kelahiran di Sidrap, mengabdikan pengetahuan dan menikmati padi yang tumbuh hijau kemudian menguning.

Kabupaten Sidrap memang sejak dulu dikenal sebagai lumbung padi di Sulawesi Selatan. Itulah salah satu alasan ia menempuh studi pertanian. Hanya saja, di satu sisi, ia melihat tingkat kesejahteraan petani sesungguhnya masih bisa ditingkatkan, agar bekerja sebagai petani menjadi suatu kebanggaan. Studi magister yang dipelajarinya memberikan pemahaman kalau sinergitas antara kegiatan bertani dengan pencapaian kesejahteraan masyarakat tidak terhubung dengan baik.

Kegelisahannya ini kembali membuncah bila ia pulang ke kampung halamannya menjumpai realitas di depan mata kepalanya. “Jika situasi menuju kesejahteraan sosial berjalan lambat dan penguasa lalai menjamin kualitas pembangunan, maka pulang kampung adalah prioritas,” tegasnya.

Meski berada di Jakarta, ia tetap intens memantau dunia pertanian di Sidrap melalui dialog dengan sejumlah anggota kelompok tani mandiri yang berkiprah di sana. “Anak muda harus tampil merebut panggung politik. Jika jalan itu tidak diberikan maka harus direbut, karena itu regenarsi kepemimpinan politik perlu disiapkan dengan matang dan dipercepat,” ia menambahka.

Kini, ia berjalan di dua jalan, antara melanjutkan studi ke tingkat lebih tinggi atau pulang kampung menuntaskan dendam kegelisahan. Ataukah, dua jalan itu disatukan, menuntaskan studi lalu pulang ke kampung mengabdi. Itulah separuh jalan yang telah ditapaki.

*
Catatan ini dimuat juga di Qureta

Friday, 7 October 2016

Siapa Mengingat Kita, Catatan yang Lupa Buat PPIM (Bagian 13)



 
Echy bersama dua putri dan suami (Dok. Pribadi)


Menafsir Ruang Hidup

Pelajar yang aktif di PPIM banyak dari SMU Negeri 5 Makassar, saya mencatat delapan orang. Mulai dari Anton, Awaluddin, Rini, Yuni, Amma, Arin, Anas, Echy, dan beberapa nama yang sudah saya lupa.

Hampir semua kegiatan yang sempat digelar PPIM, nama yang disebutkan di atas selalu hadir. Dan semuanya, saya kira, berandil dalam setiap jengkal kegiatan. Khusus mengenai Echy, sapaan akrab Hasriani, dara kelahiran Desa Sappewali, Kecamatan Penrang, Kabupaten Wajo tahun 1985, sekali waktu terlibat dalam pencairan dana kegiatan di Kantor Gubernur Sulawesi Selatan.

Kejadian bermula ketika saya dan Bim, panggilan Bambang Sampurno, mengecek proposal di sana, rupanya dana sudah siap senilai Rp. 500.000,- hanya saja, nama kami tidak ada dalam proposal kegiatan Workhsop Pelajar se Sulawesi Selatan yang sedang direncanakan saat itu. Aturan pencairan, yang berhak menerima dana, haruslah ketua panitia atau bendahara.

Saya lupa, apakah Hasriani atau Tri Suci GW. Guritno, nama lahir Yuki, yang dituliskan selaku bendahara. Namun yang pasti, saat itu hari Jumat dan pegawai di kantor Gubernur memberi pilihan untuk segera menghadirkan ketua atau bendahara. 

Karena saya belum bisa mengendarai sepeda motor saat itu, saya yang tinggal memastikan pegawai itu tidak kabur dengan alasan ingin salat Jumat. Waktu yang tersisa saya kira cukup untuk proses pencairan dana sebelum ke masjid. Bim lalu berangkat ke kantor Gama College menjemput bendahara. Lalu lintas kota Makassar di tahun 2003 belumlah semacet hari ini. Sehingga, meski jarak kantor Gubernur ke kantor Gama College lumayan jauh, Bim sudah muncul kembali bersama perempuan mungil.

Proses pencairan dana cepat saja. Kami bertiga lalu pulang dengan riang. Sesampai di tempat parkir, dilema lalu muncul, sepeda motor cuma satu dan tidak mungkinlah saya dan Echy membonceng sekaligus. Ah, intinya dana kegiatan sudah didapat. Saya memilih berjalan kaki keluar dan Echy yang membonceng. Saya juga lupa, apakah saat itu Bim kembali menjemput saya atau tidak. 

Jika saya coba mengingat kembali, peristiwa itulah yang tertanam di benak. Di kesempatan yang lain selama di PPIM, saya jarang berinteraksi dengan Echy. Beberapa cuil peristiwa yang saya dengar tentangnya, diceritakan oleh Bim jika di waktu tertentu saya berkunjung ke rumahnya guna membincang banyak hal.

*

Mungkin sikap kita selalu sama, menolak jika sepetak hidup hendak ditelusuri. Hal ini berlaku pula pada Alwia ketika saya mengajukan wawancara. Semula, Echy juga menolak karena menganggap tidak ada yang perlu dikisahkan. Ia menilai perjalanan hidupnya datar saja.

Pada dasarnya, ini menyangkut sudut pandang. Biografi yang tertanam di benak kita melulu kisah hidup orang-orang besar. Hasil konstruksi wacana macam itulah yang meminggirkan kita ke sudut. 

Padahal, liku hidup manusia selalu unik dan mengandung heroisme tertentu sesuai situasi yang dihadapi. Tiga tahun terakhir, satu-satunya media cetak yang masih saya baca, hanya Kompas, saya intens mengikuti rubrik sosok yang tayang saban hari. Kiprah mereka yang dikupas bukanlah orang-orang besar hasil definisi media arus utama, melainkan sosok dari pelosok yang membangun jejak dan menjadi lentera di sekitarnya.

Sebelumnya juga, di program Kick Andi Heroes, melakukan hal yang sama. Mewartakan pada publik perihal kehadiran pahlawan tanpa sorot kamera namun setia menjaga asa. Mereka adalah kesunyian benderang yang luput dari mata kita.

Di tahun 2006, saya merasa ditampar dengan suster Rabiah, oleh sineas muda Makassar, Arfan Sabran, adik kandung Saiful Haq (Kak Iful, salah satu yang mendampingi PPIM selain Kak Irfan dan Kak Marwan) yang mengangkat kiprahnya di ajang film dokumenter Eagle Award Metro TV. Sungguh, tidak ada yang tahu pengabdiannya selama 30 tahun lebih memberikan pelayanan kesehatan di kepulauan terluar di Pangkep. 

Kira-kira, dasar itulah sehingga metode penulisan semacam ini saya tempuh. Saya pikir penting mengawetkan sejarah hidup meski itu masihlah secuil dan belumlah berdampak kemasyarakat luas. Jika ada yang mengatakan kalau pergulatan hidup sebagai orangtua yang sebatas berputar di rumah saja sesuatu tidak penting diketahui publik. Menurut saya itu cara pandang kolonial. Menempatkan diri di ruang inferioritas. 

*

“Sebenarnya, tidak ada yang menarik dalam hidup yang kujalani. Saya juga tidak pernah mendapat penghargaan,” jawab Echy ketika kutawarkan proses wawancara.

Usai meyakinkan mengenai cara pandang bekerja, barulah ia bersedia mengisahkan jejak hidup yang pernah ditapaki. Sebagai anak sulung dari dua bersaudara, kedua orangtuanya berharap banyak padanya dalam mengangkat derajat keluarga. 

Dan, jalan perbaikan taraf hidup itu ditanam di dunia pendidikan. Sejak sekolah dasar di SDN 309 Desa Lawesso, hingga sekolah menengah pertama di SMPN 1 Desa Walanga, Kecamatan Penrang. Echy hanya fokus belajar yang membuatnya tak memiliki pesaing menggenggam peringkat satu di kelas. 

Di masa SMP, ia salah satu pelajar yang berhak mewakili Kabupaten Wajo mengikuti jambore nasional di Kecamatan Batu Jajar, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Sebelumnya, sewaktu masih sekolah dasar, ia juga mewakili Wajo dalam lomba catur pelajar tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. Meski kalah telak di babak penyisihan, ia menolak kalau kekalahannya bukan karena strategi menjalankan bidak. “Papan caturnya saja yang lebih besar dari badan saya sehingga tidak fokus,” kilahnya. Semua kontribusinya itu diingat oleh pemerintah daerah dan diganjar dengan pilihan bebas memilih sekolah menengah atas di Wajo.

Namun, ia menolak hidup dalam tempurung. Kota Sengkang, ibu kota Kabupaten Wajo dirasa sempit. Ia perlu melihat geliat kehidupan di kota yang lain. Tontonan di teve menggugahnya mencoba kehidupan di kota besar. Makassar lalu menjadi pilihan yang dapat ditinggali melanjutkan studi di tingkat sekolah menengah atas.

Selanjutnya di Makassar, ia tinggal di rumah paman dari pihak ibu, pamannya itulah yang menjadi orangtuanya selama menjalani studi di SMU Negeri 5 Makassar. Liku luka hidup tentu saja menghampirinya. Malah, sempat merasa pilihannya ke Makassar keliru. “Rupanya hidup di Makassar tidaklah seindah tontonan di teve. Mungkin karena teve di rumah hitam putih ya,” ujarnya sembari tertawa mengenang awal hijrahnya.

Di satu sisi, ia merasa bersyukur tinggal di rumah pamannya yang telah lapang dada menerimanya. Namun, bagaimana pun, jauh dari orangtua tetap saja ada ruang kosong yang tak terisi. Echy merasakan semua itu. Termasuk mengikuti rutinitas di rumah tersebut lengkap dengan aturan yang perlu dipatuhi. Di titik itu, ia harus meninggalkan kegiatan pramuka di sekolah agar bisa pulang lebih awal.

Sisi yang lain, ia bisa fokus belajar sehingga prestasi kelas tetap diraihnya sebagaimana di masa SD dan SMP. Hingga pelulusan tiba, ia mendapat undangan bebas tes masuk di jurusan Psikologi Universitas Padajajaran (UNPAD) Bandung, Jawa Barat. Hanya saja, undangan itu harus ditampik. Kabar dari orangtuanya, terlalu jauh jika harus melintasi samudera. Biaya dan rindu menjadi sandungan.

*

Echy, nama yang disematkan padanya oleh dua karibnya, Yuni dan Rini kala di kelas satu sekolah menengah atas. Echy yang berarti Enhy kecil dimaksudkan untuk membedakan dengan tiga nama Hasriani yang ada dalam satu ruangan. 

Keterlibatannya di PPIM mengalir saja. Setelah mundur dari kegiatan pramuka, ia melihat peluang untuk membunuh sepi di rumah dengan aktif di PPIM. Lagi pula beranjak di kelas dua, ia juga mengikuti bimbingan belajar di Gama College dimana program PPIM dirancang.

Satu hal yang tak bisa dilupakan waktu terlibat kegiatan di PPIM, waktu itu ia sudah meminta izin pada mertua pamannya untuk menginap di Lec Bukit Baruga. Saat itu pamannya sedang dinas luar kota. Di luar dugaan, sang paman datang memarahinya hingga ia dipukul pakai kursi. “Saya tidak marah, juga tak bisa menangis. Hanya bisa diam dan berdoa semoga paman saya percaya kalau apa yang saya lakukan bukanlah perbuatan hina,” ujarnya. Echy memahami kemarahan pamannya sebagai sikap kasih sayang. Itu tak bisa ditawar karena padanyalah dia tinggal di kota. Kekhawatiran orang dewasa memang kerap demikian.

Memastikan tidak berangkat ke Jawa Barat untuk kuliah di UNPAD, ia mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SMPTN), pilihannya memilih arsitektur tergugah dengan sepak terjang Dame Zaha Mohammad Hadid yang akrab dikenal Zaha Hadid, arsitek perempuan Inggris kelahiran Irak. Lebih dekat karena pamannya juga arsitek. Dua sosok inilah sehingga ia membelokkan pilihan yang sebelumnya ingin masuk di Fakultas Sosial dan Politik (Sospol) dan mengabaikan impian ibunya agar dirinya berkarier sebagai dokter.

Sayang, impian membangun karya arsitektur dalam imajinasinya terhalang kekuatan politik dan pemodal tertentu yang mengedepankan ruang sebagai misi meraup modal ketimbang menghayati karya arsitektur sebagai wahana memanusiakan manusia. Mengenai penggusuran rakyat miskin di bantaran sungai, umpamanya, oleh pemerintah disebut sebagai relokasi. Menurut Echy, kawasan di sana bisa dilakukan dengan cara lain agar warga tetap dapat hidup layak jika yang disoalkan mengenai kekumuhannya. Ia sepakat dengan konsep yang pernah dikembangkan Mangun Wijaya di Kali Code di Yogyakarta.

*

Tiga tahun tinggal di rumah paman dirasa sudah cukup. Menapaki jejak baru sebagai mahasiswa, ia memilih indekos agar ruang yang selama ini dirindukan dapat direngkuhnya. Ia ingin hidup mandiri dan menjalankan hidup sederhana. “Selama kuliah, bisa dihitung jari saya berkunjung ke mall. Jika ada kesempatan, itu artinya saya diajak teman yang mungkin kasihan melihat hidup saya di kosan,” tuturnya.

Kuliah di jurusan di arsitektur sebenarnya tidak mudah. Diperlukan tunjangan alat gambar yang memadai. Nah, semua itu tidak dimiliki oleh Echy, ia juga tak memaksa orangtuanya membelikan alat yang terbilang mahal itu. Jangankan alat peraga, hape saja tak digenggam. Namun, ia tak merasa harus malu. Keluwesannya bergaul dan kemampuan belajarnya yang tinggi menjadikian dirinya selalu mendapat dukungan dari teman-temannya. Selain dipinjamkan alat gambar, ia sering sekali ditraktir makan sebagai imbalan berbagi ilmu.

Ruang berorganisasi yang dulu terpotong sewaktu sekolah, menjadi balas dendam ketika kuliah. Tentu aturan ia sendiri yang buat selaku anak indekos. Selain menyibukkan diri di himpunan, ia terlibat pula di organisasi pecinta alam. “Suatu kesyukuran tersendiri berinteraksi dengan organisasi yang dominan lelaki. Artinya, saya tidak perlu menambah uang belanja untuk berdandan ke kampus,” pungkasnya. Sebab itulah hingga sekarang, meski sudah menjadi ibu dua orang putri, tetap saja tak memiliki lipstik. 


Dalam nomenklatur Jerman, ada istilah klasik desain interior yang disebut raumdeuter, mengacu pada sempitnya ruang, karena itulah dibutuhkan kejelian memanfaatkan ruang yang sedikit itu agar bermanfaat dan tepat guna. Nah, saya kira Echy telah melakukan itu dalam hidupnya. Keterbatasan yang dimiliki menempuh jurusan arsitektur tidak membuatnya diam. Ia tetap bisa menuntaskan studi tepat waktu dan terlibat dalam proyek prestius dalam pengembangan tata ruang masa depan di Sulawesi Selatan yang dikenal Mamminasata (Makassar, Maros, Sungguminasa, dan Takalar) yang dipimpin Danny Pomanto, wali kota Makassar saat ini.


Selesai kuliah, ia salah satu dari sepuluh alumnus terbaik yang direkomendasikan pihak Unhas terlibat dalam proyek pembangunan infrastruktur di Kabupaten Luwu Timur di tahun 2008 yang dijalani setahun. Kemudian, terlibat kerja proyek lagi di Indosat, juga selama setahun. Hasilnya, ia menghadiahkan sebuah mobil bekas buat orangtuanya. Dan, di sini pula ia berjumpa dengan lelaki yang kelak menjadi pendamping hidupnya.

Echy terus menafsirkan ruang-ruang baru guna menemukan hal yang lain dan bermanfaat dalam hidupnya. Lepas dari kontrak kerja yang lain, ia terikat lagi dengan kontrak yang baru. Lebih menantang, tentu saja, dimana ia bisa bertualang. Maka jadilah ia ke wilayah terpencil di lokasi tambang nikel eksplorasi perusahaan PT. Integra Mining Nusantara di Kolonedale, Morowali Utara, Sulawesi Tengah di tahun 2010 hingga 2012. Andai lelaki yang telah dikenalnya ketika bekerja di Indosat tidak memberinya harapan, besar kemungkinan ia bertahan di lokasi tambang.

Setelah memegang harapan berumah tangga, ia meninggalkan lokasi tambang dan mencari pekerjaan di kota. Tantangan yang dihadapi serasa kisah sinetron, lelaki pujaan melamar ketika ia harus menjalani diklat perbankan. Echy lulus kerja di BNI Syariah ketika itu. Tibalah dia pada dua pilihan, melanjutkan karier di bank atau menikah. Aturan kontrak di bank, diharuskan tidak menikah dalam tempo dua tahun. Jika kontrak dibatalkan maka harus membayar denda sesuai di kontrak. 

Setelah melakukan konsultasi dengan calon suami, Echy memilih menikah karena undangan sudah disebar dan selanjutnya ia mengikuti suami yang bekerja di Gorontalo. Setahun usia pernikahan, ia dianugerahi anak perempuan yang dilahirkan dengan cara operasi cesar. “Melahirkan cesar itu rupanya meninggalkan luka tersendiri. Serasa bukan ibu yang sempurna,” ia membatin. Pilihan cesar saat itu karena menurut dokter pinggulnya kecil, rawan jika dipaksakan secara normal.

“Saya niatkan jika kelak dikaruniai anak lagi. Maka saya harus berjuang supaya melahirkan normal,” tekadnya. Dua tahun di Gorontalo, ia memutuskan pulang ke Makassar setelah membeli rumah. Pertaruhan dimulai setelah ia hamil anak kedua. Jauh dari suami tentu memunculkan khawatir tak terjabarkan. Ia lalui sendiri karena suami juga berada di dua pilihan, antara mendampingi istri di masa kehamilan tua atau tetap bekerja memastikan ekonomi keluarga berjalan normal.

Karena sudah diniatkan sejak awal, Echy rajin melakukan tukar pendapat dengan seseorang yang dianggap mampu memberinya keyakinan mengenai melahirkan normal. Bahkan menjalin konsultasi dengan dr. Reza Gunawan, ahli hypnobirthing. Di tapak itu, ia masih seorang diri mengasuh anak pertama dengan segala aktivitasnya. Apa yang dilakukannya ini sengaja tak disampaikan pada suami. Ia tak ingin suaminya turut mengaduk emosi mengenai keberadaannya. 

Echy memegang teguh prinsip kalau suami harus tenang menjalani rutinitas kerja, apalagi sang suami di rantau. Ia meneguhkan dirinya sebagai perempuan Bugis yang kokoh bagai karang ditinggal jauh suami mencari nafkah.

Dan, ia melewati proses melahirkan normal dengan baik. Ia berjuang selama empat hari di rumah sebelum ke rumah sakit Siloam Makassar. “Saya melahirkan anak kedua Jumat malam, 14 Agustus 2015, kira-kira pukul 20.20 Wib. Begitu anak saya lahir, tak lama Nagita Slavina, istri Raffi Ahmad, juga melahirkan,” pungkasnya.

Suaminya heran mendengar kabar baik itu. Saking herannya, ia memberinya hadiah berupa kendaraan roda empat. Satu hal yang tak disangka oleh Echy kalau sang suami bakal segembira itu. Setelah berhasil melewati masa itu, ia sempat ingin membuat blog mengenai Varginal Birth After Cesarean (VBAC) sebagai upaya berbagi tips dan pengalaman sesama perempuan yang sebelumnya melahirkan cesar kemudian menjalani persalinan normal. Hingga kini, impiannya itu masih dipendam dan berusaha diwujudkan sebagai ruang mengisi waktu di sela aktivitas mengurus bua hati.

Di usia empat tahun pernikahannya, ia kukuh sebagai ibu rumah tangga yang mengasuh dua anak, semuanya perempuan, Insyirah Janeeta Ihsan dan Indira Khairani Ihsan dijalaninya dengan ikhlas. Ijazah sudah ia simpan dengan sadar kalau semuanya akan berjalan baik-baik saja meski tidak melanjutkan karier sebagai arsitek. 

“Menjalani hidup selaku ibu rumah tangga memang tidak gampang,” tuturnya. Ia menolak berkarier di dunia kerja sebagai upaya melepas rutinitas mengurus anak yang bisa saja ditalangi pengasuh anak. Sebab baginya, ingin memastikan anak-anaknya tumbuh di tangannya sendiri sebagaimana dulu ia dirawat oleh ibunya.

Ibu rumah tangga bukanlah jalan mengurung diri di rumah. Ruang bersosialisasi tetap bisa dijalankan. Memang perlu pandai membahagiakan diri ketika suami jauh. “Selama empat tahun berumah tangga, saya memosisikan diri sebagai perencana keuangan keluarga. Menjadi istri yang luwes agar suami nyaman menjalankan tugas,” ujarnya lagi.

Begitulah. Meresapi kembali ketangguhannya menjalani hidup, sudah ditempah sejak SMU hingga aktif di Mapala ketika kuliah. Kamus hidupnya sudah penuh dengan tantangan. Sisa ia menafsirkannya ke dalam bentuk ruang sebagai tempat menjalankan roda hidup.

*
Pangkep, 6 Oktober 2016