Wednesday, 7 December 2016

07 Des Sheila on 7 dan Novel 1984 Orwell




7 Desember adalah tanggal di bulan terakhir kelipatan tahun Masehi. Tahun ini tepat hari Rabu, tahun lalu, 2015 jatuh di hari Senin, di tahun 2014 di hari Minggu. Itu bukan kebetulan. Melainkan keteraturan yang acak.

7 Desember, sama dengan tanggal dan hari-hari yang lain. Di dalamnya termaktub peristiwa di belahan ruang di dunia. Di tanggal 7 Desember tujuh tahun lalu, seseorang mungkin saja menggelar acara pernikahannya, juga tidak menutup nalar kalau di tanggal yang sama di tempat lain seseorang lagi kecopetan, misalnya. 

Tentu semuanya kepastian sebab tidak ada kebetulan. Semua berjalan sesuai titik ruang dan waktu ketika peristiwa harus terjadi. Keteraturan yang acak.

Tahun 2002, Sheila on 7, band asal Yogyakarta yang terbentuk di tahun 1996, merilis album ketiga yang dijuduli 07 Des. Tentu saja ada kesan rumit dijabarkan. Sungguh, saya senyum sendiri kali pertama meraba kaset itu. Kok, bisa ya. Apakah Sheila on 7 mendedikasikan album itu kepada mereka yang memiliki kesan khusus dengan 7 Desember. Saat itu beragam dugaan mengemuka.

Cover album 07 Des

Di bangku SMP, Sheila on 7 adalah band idola. Sebisa mungkin sejumlah tembang hitsnya dilantunkan sekerasnya sebagai kode kepada perempuan yang menjadi sasaran godaan. Belajar memetik gitar juga dimulai dengan mempelajari kord tembang Dan, Kita, dan Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki. Di titik itu, hanya ada tiga teman yang mahir memainkannya dan menjadi panutan.

Di hari-hari di sepanjang tahun 2002 hingga 2003, kala pulang ke kampung bermalam Minggu, teman yang pandai bermain gitar itu saya ajak menginap di rumah dan menantang malam bernyanyi meneriakkan tembang Sheila on 7. Utamanya sekali, lagu Pria Kesepian yang terangkum di album 07 Des itu. Alasannya rasional, kami saat itu memanglah kumpulan pria kesepian. Tidak memiliki jadwal bersama seorang dara.

Setamat SMP, kami semua berpisah sekolah. Saya memilih ke Makassar karena alasan absurd. Nilai Ebtanas Murni (NEM) saya tidak cukup dipakai mendaftar di sekolah negeri di Pangkep. Jadilah nama saya terdaftar di salah satu sekolah swasta di Makassar yang memang kekurangan siswa. Sebagai ruang reuni, saya harus pulang kampung di akhir pekan jika sempat.

Sebenarnya, Sheila on 7 tak bisa dikatakan sebagai band idola dalam pengertian garis keras. Kami, saat itu sudah menyanyikan tembang Slank, Iwan Falls, Tipe X, Padi, dan Dewa 19. Hanya saja, Sheila on 7 menjadi spesial karena lagunya banyak digemari teman perempuan di masa SMP. Sebab itulah mungkin, sejumlah tembang Sheila on 7 selalu dinyanyikan.

Lebih dari itu, kembali ke saya, Sheila on 7 mengandung makna lain. Beberapa tembangnya serasa menyanyikan perasaan yang dialami anak-anak zaman yang pada galau di eranya. Diam-diam, sering sekali saya nyanyikan Pemuja Rahasia. Lagu ini terbilang sulit dinyanyikan bila diiringi gitar. Duta, si vokalis, melantunkan dengan gaya rap. Ada satu cerpen yang saya buat dan memasukkan lagu ini sebagai titik tolak. Namun, lebih dari semuanya, tentu saja karena album ketiganya itu tadi. 07 Des. Sesuatu sekali. Kok, bisa ya.

Sebagaimana 7 Desember. 1984 lebih dari bilangan. Bisa dibaca sebagai tahun. Di tahun 1984 ada banyak sekali peristiwa di sepanjang 12 bulan di dalamnya. Apakah kebetulan jika di tahun 1949, George Orwell, pengarang Inggris yang lahir di India merilis novel bertajuk 1984 ketika Indonesia baru lima tahun memproklamirkan kemerdekaan di tahun 1945. 

Novel 1984


Mengetahui nama Orwell dan novel legendarisnya itu saya baca di buku Revolusi Harapan karya Erich Fromm di tahun 2003. Dan lagi, saya merasakan sesuatu yang lain. Kok, bisa ya. Sejak saat itu, mencari novel 1984 yang mengingatkan hal khusus itu menjadi agenda. Sayang, tak satu pun toko buku di Makassar yang menjual. 

Barulah di tahun 2014 lalu, novel itu saya beli setelah Bentang menerbitkan hasil terjemahan Landung Simatupang. Di tahun 2011 tanggal 7 Desember, saya menulis status di akun Facebook kalau di hari lahir, saya ingin sekali membaca novel itu. Butuh tiga 7 Desember baru bisa berjumpa. Jika direkap sejak 2004, maka terhitung sepuluh 7 Desember.

Hari ini 7 Desember, ucapan selamat ulang tahun dari istri yang dikirim lewat WhatsApp baru saya baca di pukul tujuh lewat sekian menit. Karena situasi pekerjaan, saya dan istri hanya berjumpa dua kali seminggu. Empat kali sebulan, dan empat puluh delapan kali dalam setahun. Meski faktanya tentu berubah jika hari libur nasional dimasukkan sebagai pengurang dan situasi tertentu terjadi. 

Tepat ketika salah satu stasiun televisi menyiarkan berita gempa di Aceh. Saya yakin sekali sebagaimana kita semua meyakini. 7 Desember tahun ini seyogianya 7 Desember yang sudah-sudah. Ada banyak sekali peristiwa. Salah satunya, Timnas Indonesia tengah berjuang melewati semifinal leg kedua melawan Vietnam. Juga, kalian tengah membaca catatan ini. Halah!
*

Makassar, 7 Desember 2016

Saturday, 22 October 2016

Siapa Mengingat Kita, Catatan yang Lupa Buat PPIM (Bagian 14)


Andi Patonangi (paling kiri) menjadi salah satu pembicara pada sosialisasi dan reses Anggota DPR RI, Komisi V, Miryam Haryani, M.Si di hadapan sejumlah kepala desa dan warga di kecamatan Balongan, kabupaten Indramayu, Jawa Barat

Separuh Jalan Politik Lelaki Tanrutedong

Makassar tahun 2003 dihebohkan aksi ratusan pelajar berseragam putih abu-abu yang melakukan aksi damai menentang invasi militer Amerika Serikat ke Irak. Perang atau Pelajar, slogan yang diserukan oleh pelajar yang tergabung di PPIM (Perhimpunan Pelajar Indonesia Makassar).

Kehadiran PPIM menjadi wadah pemersatu antarsiswa lintas sekolah di Makassar saat itu, juga merupakan jawaban dari maraknya tawuran antar pelajar beda sekolah yang marak terjadi. Itulah niat awal mengapa PPIM digagas selain tujuan yang lain, tentunya, seperti memulai bangkitnya gerakan pelajar dari Makassar untuk Indonesia.

Sebagai organisasi, PPIM pastilah digerakkan pelajar dari banyak sekolah yang tergabung di dalamnya. Namun, hukum sejarah menunjukkan, dalam setiap kerumunan, tentu ada yang menjadi magnet. Andi Patonangi, pelajar dari SMU Negeri 5 Makassar, adalah sosok itu. Dialah pemantik di balik berhasilnya Kongres Pelajar Makassar yang melahirkan PPIM hingga aksi damai pelajar menentang perang itu.

Sebelum ke Makassar melanjutkan studi, lelaki kelahiran tahun 1984 ini sejak SD hingga SLTP selalu dipercaya menjadi ketua kelas oleh teman-temannya hingga ketua OSIS. Jiwa kepemimpinannya memang ditempah sejak masa SLTP, apalagi setelah mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan Islam (LDKI) yang sangat berkesan di ingatannya.

Setamat SLTP, ia menempuh jarak sepanjang 219,5 km menuju ibu kota Sulawesi Selatan, Makassar. Salah satu peraih Nilai Ebtanas Murni (NEM) tertinggi se kecamatan Dua Pitue, kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) ini sesungguhnya mendapat lampu hijau bebas memilih SMU di Sidrap. Tetapi, terpatri dalam benaknya, ia harus mencoba tantangan berprestasi di kota Makassar.

“Merantau dan keluar dari kenyamanan pelukan keluarga adalah syarat pemimpin masa depan,” ujarnya. Di SMU Negeri 5 Makassar, ia harus membagi waktu belajar dan berorganisasi. Meski begitu, kedua tapak itu dijalani sama baiknya. Dan lagi, ia menjadi Ketua OSIS SMU 5 Makassar yang dipilih secara demokratis oleh seluruh siswa di tahun 2001 dalam Pesta Demokrasi Siswa (Pademsis), jauh sebelum negara ini menerapkan sistem pemilihan langsung dalam Pileg dan Pilkada.

Semasa SMU juga aktif di Paskibra 05 dan Kramnut 05, organisasi pengibar bendera dan remaja masjid dalam lingkup sekolah. Dengan aktivitas yang padat, Ia tetap mampu memadukan kecakapan berorganisasi dan ketekunan belajar. Terbukti, nilai sekolahnya tidak pernah jebol hingga tamat, dan selalu menjadi penghuni kelas unggulan sejak SLTP hingga SMU.

Iqbal Parewangi (Direktur Utama Gama College Indonesia), kini menjabat anggota DPD RI perwakilan Sulawesi Selatan, suatu ketika berujar, “Wajah pergerakan mahasiswa akan berubah jika kalian yang menjalankan,” ungkapan ini disampakan di hadapan pelajar yang tergabung di PPIM pada satu pertemuan di tahun 2003.

Pernyataannya itu mewujud dalam diri Andi Patonangi dan beberapa alumni PPIM lainnya yang melanjutkan studi dan aktif di lembaga intra dan ekstra kampus di beberapa Universitas di Makassar. Dua karibnya, Bambang Sampurno pernah menjabat Koordinator Bidang Kaderisasi PMII Sulawesi Selatan dan Awaluddin bergiat di Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam HMI Cabang Makassar.

Kak Anton, demikian ia disapa oleh adik-adiknya, kala kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin (UNHAS), ruh kebebasan berorganisasi dihirup dalam-dalam. Selain aktif di Himpunan Mahasiswa Jurusan Misekta (Mahasiswa Peminat Sosial Ekonomi Pertanian), ia juga terlibat di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Pertanian.

Ditunjuk mewakili BEM Universitas Hasanuddin mengikuti Workshop Kader Bangsa Berbasis ESQ di Surabaya yang dilaksanakan oleh DIKTI, adalah pengalaman awal terlibat dalam kegiatan kemahasiswaan tingkat nasional. Sejak saat itulah jaringannya dengan aktivis mahasiswa lintas kampus di Indonesia terjalin.

Aktivitas kesehariannya semasa kuliah juga diisi dengan berkhidmat di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar Timur selaku Ketua Bidang Pembinaan Anggota, menjadi penggiat Ikatan Pelajar Mahasiswa Indonesia Sidenreng Rappang (IPMI Sidrap), dan SAPMA Pemuda Pancasila Sidrap.

Kerakusannya meneguk saripati pengetahuan di sejumlah organisasi membuatnya telat menuntaskan studi Strata Satu (S1) yang dijalani tujuh tahun lamanya. “Tujuh tahun sesunggunya waktu yang lama menyelesaikan S1,” ia mengakui. Namun, tak ada yang perlu disesali, akumulasi hari-hari yang panjang itu membuatnya meyakini kalau hidup yang sebatas diisi satu dimensi saja, bukanlah hidup yang layak dipertaruhkan.

Usai menuntaskan pendidikan sarjana, ia sempat kembali di kampung halamannya di Tanrutedong untuk mengabdi, kini kelurahan dalam wilayah kecamatan Dua Pitue, kota kecil di Sidrap dengan ikon Monumen Perjuangan Andi Takko, sosok pejuang 45 yang turut menjadi korban 40.000 ribu jiwa yang dilakukan Westerling.

Andi Takko sendiri merupakan anak ke 9 dari Arung Otting, suatu entitas pemerintahan lokal yang sangat berpengaruh di zamannya di bagian Timur Sidrap. Sebagai cucu pejuang ikonik itu, Andi Patonangi serasa memikul beban jika sebatas pulang kampung dan tidak bisa membuktikan karyanya dan berbuat sesuatu. Sambil tersenyum ia mengatakan, "Dari ibu, saya mewarisi semangat pendidik, nenek saya seorang guru, sedangkan dari ayah saya, mengalir jiwa kepemimpinan yang menurun dari nenek saya.”

Anton meresapinya sebagai semangat untuk kembali menempuh rel yang sudah dilaluinya, melajutkan pendidikan Pascasarjana. Keyakinannya semakin kuat, bahwa pemimpin masa depan tidak hanya dilahirkan, tetapi harus diciptakan.

Mendengar banyak juniornya semasa SMU melanjutkan Strata Dua (S2), hatinya bergejolak untuk segera kembali ke kampus menempuh hal yang sama. Akhirnya memilih Universitas Indonesia (UI), dengan spirit membuka pintu informasi untuk adik-adiknya dari Tanrutedong mengikuti jejaknya kuliah di universitas terbaik di jantung ibu kota itu. Usahanya bersambut karena lulus di Program Magister Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).

Menuju Jakarta melanjutkan studi sesungguhnya dibayar dengan menggadaikan sepetak sawah warisan, itu sungguh berat dan menambah beban tersendiri sebagai janji yang yang harus segera dilunasi kepada orangtuanya. “Di Jakarta, saya harus mencari biaya hidup sendiri dan tambahan biaya kuliah. Saya memilih tidak membebani keuangan negara dengan meminta beasiswa,” ucapnya sambil tertawa.

Hiruk pikuk Pemilihan Legislatif tahun 2014, menjadi jembatan baginya terlibat dalam jaringan kerja partai politik. Jadi, waktu kuliah tertangguhkan, bahkan studi sudah hampir dilupakan, saat itu dia juga mengambil keputusan besar dalam hidupnya, yakni menikah. Diakui kembali, kalau studi dan menikah sungguhlah dua tapak yang semuanya mendesak ditunaikan. Dan, pilihannya adalah mendahulukan menikah agar memiliki teman seperjalanan melanjutkan agenda yang tertunda.

Keputusannya tepat, sang istri, Andi Tenri Fitriani, SP mendukung jalan hidup yang telah dirintis di dunia politik. Keterlibatannya mengawal proses pemilihan calon legislator Partai Hanura, Miryam S. Haryani, M.Si di Daerah Pemilihan Jawa Barat VIII yang meliputi Kota Cirebon dan Kabupaten Indramayu, mengantarnya menempati satu posisi sebagai Tenaga Ahli Fraksi Hanura DPR RI. Ibu Miryam, yang juga Ketua Umum DPP Srikandi Hanura itu telah menjadi guru politik baginya.

“Saya belajar politik di jantung Kota Wali,” ujarnya. Di sepanjang proses pemilihan Caleg 2014, ia mengunjungi semua kecamatan di Cirebon dan Indramayu, serta akrab dengan sejumlah kuwu, sebutan untuk kepala desa di dua wilayah tersebut. Total, ia mendatangi 316 desa. Sebuah perjalanan yang tidak gampang. Karena itulah ia merasakan sudah menjadi kampung halaman sendiri ketika kembali ke desa-desa itu lagi.

Dengan aktivitas berjibun di kantor Dewan Perwakilan Rakyat. Praktis, studi di UI perlahan terhapus. Boleh jadi ia sudah lupa kalau kedatangannya ke ibu kota, adalah menempuh studi dan kembali ke Sulawesi Selatan mengabdikan hidup. Sungguh ia tidak menyangkah, kalau kehadiran Andi Muhammad Daffa Mahasin Patonangi yang mengingatkan hal itu kembali. Putra pertamanya itulah yang memberikan energi menuntaskan studi yang sudah separuh jalan.

Di Jawa Barat, ia lebih dikenal dengan sapaan Kang Andi. Semangat keilmuannya disalurkan dengan aktif sebagai peneliti muda di Lembaga Studi Demokrasi dan Perubahan Sosial (LESMIDA). Aktifitas politiknya banyak diisi dengan mengawal beberapa suksesi Pilkada di Jawa Barat mengikuti aktivitas Ibu Miryam selaku Korwil Hanura untuk Provinsi DKI, Jawa Barat, dan Banten. Saat ini ia juga banyak terlibat di Dewan Pimpinan Nasional Gerakan Muda Hati Nurani Rakyat (Gema Hanura).

Lalu apa selanjutnya, setelah meraih gelar Master Kesejahteraan Sosial (M. Kesos) yang disandingkan dengan capaian sebelumnya, Sarjana Pertanian (SP). Anak dari pasangan Andi Makkaraka Takko dan Hj. Kismiati Syam Pamanengi ini mengingat pesan tetua di Tanrutedong, kalau dirinya harus menempuh gelar akademik tertinggi (Doktor), itulah yang kini sedang diupayakan mewujudkan mimpinya terbang menuju negeri kelahiran filsuf politik Jhon Locke, Inggris, guna melanjutkan studi doktoral.

Sembari menyiapkan bekal ke sana, ia tetap mematangkan diri bergelut kerja politik di Senayan. Namun, di balik itu semua, ia tetap menanam impian agar kelak bisa pulang ke tanah kelahiran di Sidrap, mengabdikan pengetahuan dan menikmati padi yang tumbuh hijau kemudian menguning.

Kabupaten Sidrap memang sejak dulu dikenal sebagai lumbung padi di Sulawesi Selatan. Itulah salah satu alasan ia menempuh studi pertanian. Hanya saja, di satu sisi, ia melihat tingkat kesejahteraan petani sesungguhnya masih bisa ditingkatkan, agar bekerja sebagai petani menjadi suatu kebanggaan. Studi magister yang dipelajarinya memberikan pemahaman kalau sinergitas antara kegiatan bertani dengan pencapaian kesejahteraan masyarakat tidak terhubung dengan baik.

Kegelisahannya ini kembali membuncah bila ia pulang ke kampung halamannya menjumpai realitas di depan mata kepalanya. “Jika situasi menuju kesejahteraan sosial berjalan lambat dan penguasa lalai menjamin kualitas pembangunan, maka pulang kampung adalah prioritas,” tegasnya.

Meski berada di Jakarta, ia tetap intens memantau dunia pertanian di Sidrap melalui dialog dengan sejumlah anggota kelompok tani mandiri yang berkiprah di sana. “Anak muda harus tampil merebut panggung politik. Jika jalan itu tidak diberikan maka harus direbut, karena itu regenarsi kepemimpinan politik perlu disiapkan dengan matang dan dipercepat,” ia menambahka.

Kini, ia berjalan di dua jalan, antara melanjutkan studi ke tingkat lebih tinggi atau pulang kampung menuntaskan dendam kegelisahan. Ataukah, dua jalan itu disatukan, menuntaskan studi lalu pulang ke kampung mengabdi. Itulah separuh jalan yang telah ditapaki.

*
Catatan ini dimuat juga di Qureta