Carilah

Loading...

Thursday, 22 September 2016

Siapa Mengingat Kita, Catatan yang Lupa Buat PPIM (Bagian 12)





Lelaki Berkacamata Itu        


Saya tidak ingat pasti kapan mulai akrab dengan Awal. Di beberapa pertemuan PPIM yang saya ikuti ia jarang terlihat. Jika ada hal tak terlupakan tentangnya, itu terjadi di pelataran Monumen Mandala. Kerumunan pelajar dari pelbagai sekolah sudah berkumpul. Semuanya sudah bersiap mengikuti longmarch aksi damai menentang invasi militer AS ke Irak.

Waktu terus bergerak dan tak tahu harus berbuat apa memulainya. Sudah terdengar suara pelajar menanti kapan dimulai bergerak. Mereka jenuh duduk saja. Mereka tak tak sabar lagi terlibat dalam peristiwa yang mungkin, tak pernah lagi diwujudkan pelajar di belakang hari. Meredam kebosanan itu, pelajar dipinta berbaris sesuai asal sekolah masing-masing.

Saya juga tidak tahu pasti apa yang ditunggu. Saya merasakan keherenan tersendiri menyaksikan jumlah pelajar yang ada. Sungguh di luar ekspektasi. Jika tidak keliru, yang membuat bingung adalah, rute perjalanan yang akan ditempuh. Aksi turun ke jalan ini diharapkan tidak menganggu arus lalu lintas. Lah, kalau massanya berjibun begini bagaimana bisa tidak memacetkan laju kendaraan.

Anton mengajak menentukan rute saat itu juga. Sesaat Alwia muncul, Ipa, Jamil, Bim, dan tentunya teman-teman yang lain. Saya lupa siapa saja yang turut terlibat dalam breefing mendadak. Tidak ada yang dapat memberikan kepastian rute yang bakal dilalui. Tentu saja tidak. Pasalnya, tidak ada yang hafal betul lokasi di situ.

Sampai akhirnya terdengar suara. Seorang pelajar berkacamata bernampilan rapi. Tas punggung melekat di punggungya. Dalam hati, siapa anak ini, berani sekali mencampuri perbincangan. Tetapi, semuanya diam dan, pelajar itulah yang menjelaskan nama jalan apa saja yang akan dilalui.

Itulah kali pertama melihat Awal, pelajar berkacamata dan berbadan tambun. Walau semua pelajar di PPIM sudah kenal satu sama lain. Tetap saja terbangun jalinan khusus sesama pelajar. Misalnya saja, Awal membangun hubungan khusus dengan Anton. Keduanya serasa dua sisi mata uang. Tak terpisahkan. Meski mereka berbeda sekolah. Mungkin karena keduanya mengikuti kelas bimbingan belajar di Gama College. Keduanya menabung rahasia masing-masing sebagaimana yang terjadi pada teman-teman yang lain.

*

Awaluddin L, atau yang diakrabi Awal. Lahir di kota berjuluk Bandar Madani, Kotamadya Pare Pare di tahun 1984. Ia anak tunggal dari pasangan Lachamuddin Dandeng dan Hj. Arwati Adama. Dibesarkan dalam kultur keluarga religius. Sejak kecil dididik berdisiplin dan bersikap santun dalam pergaulan.

Di usia tiga tahun enam bulan, ia ditinggal pergi sang ayah untuk selamanya. “Ayah saya adalah panutan dalam keluarga besar yang berada di Polewali Mandar. Ibu sayalah yang sering menceritakan di waktu tertentu,” kenangnya.

Lewat ibunya pula, ia mengetahui kalau ayahnya mengenyam pendidikan di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri dan menjabat Bagian Protokol Kantor Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan. “Ayah saya meregang nyawa karena kecelakaan. Beliau tak sengaja memegang kabel listrik bertegangan tinggi.”

Kehangatan ayah tidak mengiringi perkembangannya. Bahkan, sangat sedikit momen indah yang dapat diingatnya. Usia tiga tahun belumlah cukup menampung memori. Meski begitu, ia beruntung dikasihi ibu yang sekaligus menjelma sebagai ayah baginya. Berkat dorongan ibu, ia menuntaskan studi hingga selesai kuliah.

Sejak kecil, Awal tumbuh seiring berubahnya wajah kota Makassar. Awal kecil bermain dan bernyanyi di Taman Kanak Merpati Pos lalu melangkah ke SD Inpres Tamamaung, Kecamatan Panakkukang. Sejak kelas 5, ia sudah aktif di Pramuka. Bekal yang terus menuntunnya mencintai organisasi.

Lulus di tahun 1997, ia berhasil meraih satu bangku di sekolah favorit, SLTP Negeri 8 Makassar. Lagi, ia aktif di Pramuka sejak mula dan terlibat sebagai pengurus OSIS ketika menginjak kelas dua. Pada saat kelas tiga, bersama teman-temannya mengikuti Diklat Dasar  PMR. Ia juga tercatat sebagai penggagas pertama berdirinya organisasi Palang Merah Remaja Madya 08.

Setamat SLTP, ia harus kembali ke tanah kelahirannya di Pare-Pare melanjutkan sekolah. Di sana ia diterima di SMA Negeri 1. Namun tak lama berselang, selepas catur wulang pertama. Ia kembali ke Makassar dan masuk di SMA Negeri 16. Meski berbadan tambun, ia tak kalah gesit dengan pelajar yang lain. Kembali ia menemukan keasyikan meluangkan waktu di organisasi.

Namanya tercatat menjadi anggota Paskibra, OSIS, dan PMR Wira Smunels. Di akhir masa sekolah, ia berkhidmat di PPIM. “Saya beruntung bisa berjumpa dengan Anton, Bim. Alwia, Okta, Yuni, Irex, Rini, Ayu, Ari, Arief, Anas, Echy, Amma, Arin, Fika, Yuki, Jamil, dan teman-teman pelajar yang lain. Kebanggaan tersendiri pula bisa dibimbing langsung sama Kak Iqbal, Iful, Marwan, dan Irfan,” terangnya.

Tahun 2003, ia lulus dengan predikat terbaik ke dua dengan nilai UAN tertinggi di sekolahnya. Sayang, presetasi itu tidak menjadi jaminan lulus di sejumlah sekolah Ikatan Dinas dan Perguruan Tinggi Negeri (PTN), baik yang ada di Jawa maupun di Sulawesi Selatan. “Saya sempat putus asa. Ibu saya lalu meyakinkan kalau sekolah negeri bukanlah tujuan utama. Intinya kehidupan dapat berguna bagi masyarakat.”

Dorongan sang ibu membuatnya tidak meratapi kegagalan. Ia lalu memilih mendaftar di Universitas Muslim Indonesia (UMI) dan bebas tes di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM). Situasi kampus yang dijumpainya berkebalikan dengan impiannya. Banyak mahasiswa justru terjebak pada gaya hidup hedonis. Tidak ada pilihan lain, ia tak mungkin lagi pindah kampus hanya karena situasi itu. Ia bertahan di kampus perjuangan, label yang disematkan pada UMI sejak peristiwa AMARAH (April Makassar Berdarah) tahun 1996.

Selama kuliah di UMI, tentu saja ia aktif di beberapa organisasi, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar dipilih sebagai ruang belajar di luar kampus. Di internal kampus, ia mencurahkan waktu di Senat FKM UMI dan menduduki jabatan srategis. Ia juga menggerakkan Socrealthy, Study Club Angkatan 2003. Di sini ia dipercaya sebagai Dewan Pembina. Sebelum menuntaskan studi, menjabat Ketua Umum Majelis Perwakilan Mahasiswa FKM UMI Periode 2006-2007.

Satu titik balik dalam hidupnya diperoleh ketika mengikuti Pencerahan Kalbu di Pondok Pesantren Darul Mukhlisin, Padang Lampe, Pangkep. Di UMI memang tengah digalakkan program itu dan menjadi kewajiban bagi mahasiswa.

Di sanalah ia merenungi kembali makna hidup. Di sana pula ia berjumpa kembali dengan karibnya di PPIM, Bambang, yang juga melanjutkan kuliah di UMI. Keduanya lalu mengajak teman-temannya yang lain membentuk wadah alumni Pencerahan Kalbu. Forum Halaqah Islamiyah, nama forum itu.

Walau berjubel kegiatan di organisasi, Awal masih mampu meraih presetasi akademik sebagai mahasiswa berprestasi di tahun 2006. Paduan antara prestasi akademik dengan pengalaman berorganisasi, ia selalu disepakati sebagai pemimpin. Sepotong jejak itu dijalani ketika menjalani Kuliah Pengalaman Belajar Lapangan di Kecamatan Galesong Selatan, Kabupaten Takalar di tahun 2005-2006. Ia dipercaya selaku koordinator kecamatan.

Begitu pula saat KKN Profesi di tahun 2007, kembali ditunjuk sebagai Koordinator Puskesmas Minasa Upa. Tidak sampai di situ, selama menjalani proses kuliah, dirinya selalu mewakili mahasiswa FKM mendampingi dosen tingkat fakultas maupun univeritas di pelbagai penelitian di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.

Kecintaanya dengan dunia kesehatan masyarakat terus digeluti, ia aktif di Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam (LKMI) cabang Makassar hingga menjadi pengurus besar BAKORNAS LKMI. Di lembaga ini ia banyak mendapat pengetahuan tentang kesehatan yang saling menunjang dengan pengetahuan disiplin ilmu yang dimiliki. Dari tahun 2006 hingga 2008, dipercaya sebagai sekertaris di Muda Berdaya Yayasan Hati Kita Makassar, lembaga yang bergerak pada konsentrasi penanganan Narkoba dan HIV/AIDS.

Dalam fase hidupnya, kembali ia harus menjumpai titik kegagalan. Serasa mengulang roda nasib setamat SMA. Usai menuntaskan studi di kampus, ia berusaha mengikuti jejak mendiang ayahnya menjalani hidup selaku abdi negara. Tetapi, sekali lagi, jalur ke sana tidak bersambut. Saat itulah pesan ibunya kembali terngiang: “Kehidupan harus berguna bagi masyarakat”.

Berkat pengalaman organisasi dan keilmuan yang dikuasai. Ia membulatkan tekad memenuhi wawancara di Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2009. Dan, ia memenuhi kualifikasi sebagai Pengelola Monitoring dan Evaluasi hingga saat ini. “Saya bersyukur dan tidak sia-sia menjalani proses kuliah di UMI. Pengetahuan dan pengalaman yang saya dapatkan menjadi penunjuk jalan di mana saya harus melangkah mengabdikan hidup bagi masyarakat,” pungkasnya.

Di lembaga itulah ia mengabdikan ilmu dan menghibahkan waktu hidupnya hingga tahun-tahun yang akan datang. Baginya, saat ini HIV dan AIDS adalah sebuah masalah yang tumbuh di masyarakat. Selama di KPA (Komisi Penanggulangan Aids) ia mengetahui lebaih detail mengenai estimasi pemetaan populasi. Hal itu mengantarnya di tahun 2014 lalu menjadi koordinator Pelaksana Survei Cepat Perilaku Pengguna Napza Suntik.

Berangkat  dari pengalaman  di penanggulangan HIV, ia juga banyak dilibatkan dalam kegiatan tingkat nasional dan di daerah terkait pengembangan KPA Kabupaten/Kota di Sulawesi Selatan. Jiwa berorganisasinya tetap saja tumbuh. Bersama sejawatnya, ia membentuk Monever’s, merupakan forum para pengelola monitoring dan evaluasi KPA se Indonesia yang setiap tahun bertemu untuk memantau kemajuan penanggulangan HIV. Di Monever’s ini, ia diberi amanah sebagai wakil ketua untuk merangkul pengelola di 34 provinsi di Indonesia.

Sudah sepuluh tahun ia bergerak di isu ini. Ia mengakui kalau banyak kalangan akademisi meliriknya untuk dengar pendapat mengenai ilmu dan pengalaman. Ia kemudian menjadi asisten dosen untuk membawakan mata kuliah HIV dan AIDS di beberapa universitas di kota Makassar.

Lelaki tambun berkacamata itu telah banyak memunguti pengalaman dalam hidupnya. Meski begitu, satu fase kehidupan yang dilalui di Padang Lampe tegas menjadi penuntun. “Satu hal yang tidak pernah saya lupakan. Kita harus bersyukur atas apa yang diberikan serta senantiasa berzikir. Barangsiapa bersyukur, niscaya bertambah nikmatku. Tetapi, barangsiapa yang kufur, maka azab Allah sangat pedih,” pesannya.

*
Pangkep, 22 September 2016


 

Sunday, 18 September 2016

Siapa Mengingat Kita, Catatan yang Lupa Buat PPIM (Bagian 11)




Berjalan Pulang ke Tanah Kelahiran

Jauh sebelum jilbab menjadi tren di kalangan pelajar Makassar, di tahun 2003, khususnya lagi di PPIM, dua pelajar yang sudah diselimuti jilbab, seingat saya cuma Alwia dari SMA Negeri 4 dengan Ipa, pelajar SMK Negeri 4 Makassar.

Alasan jilbab itulah sehingga rikuh membangun dialog lebih lekat. Takut bila keduanya mengeluarkan hadis. Namun rupanya, tidak demikian dengan Ipa, sikecil gesit itu. Saya dan dia bersama teman yang lainnya, jika tidak salah, Bim, Echy, Jamil, Yuki, dan almahrum Arief (Alfatiha untuknya) juga ikut serta kala mengantar proposal permintaan bantuan dana di PT. Bosowa Berlian Motor, depan kampus II Universitas Muslim Indonesia (UMI). Ipa orangnya ceriwis dan tidak membuat jarak.

Khusus Alwia, di sejumlah pertemuan PPIM, dia jarang terlihat. Tetapi namanya kerap disebut. Mungkin dirindukan hadir sebagai oasis. Saya tidak tahu dari mana Irex berhasil menemukan nomor kontaknya dan memasukkannya di grup WhatsApp Alumni PPIM. Dulu, di tahun 2012, ketika membentuk grup Facebook, nama teman-teman saya cari di media sosial ciptaan Mark Zuckerberg itu, namun hasilnya nihil.

Obrolan di grup WA beberapa hari lalu membuka beragam sudut pandang. Utamanya sekali ketika Alwia mengatakan kembali ke Ambon. Sebelumnya juga, si Irex sempat bilang demikian, kalau Alwia bertugas di Ambon. Hanya saja, omongan Irex selalu dianggap guyon. Jadi, dari seribu pernyataannya baru satu dianggap sebagai kebenaran. Itu pun, kadang masih perlu diragukan.

*
Ambon, ibu kota Provinsi Maluku, kota yang terluka di tahun 1999. Satu fase sejarah umat manusia yang memilukan terjadi di kota ini. Saya tak sanggup mengenang dan menuliskan ulang di sini. Terlalu banyak luka terkuak. 

Waktu SMP, di sekolah saya kedatangan dua siswa baru. Semuanya perempuan, pindahan dari Ambon. Saat itu, siaran berita di televisi sudah menayangkan kerusuhan yang terjadi di Ambon. Diperkuat lagi dengan pengakuan perantau yang berhasil pulang. Di kampung saya ada banyak orang yang menjadikan Ambon sebagai kota labuhan mengadu nasib. Semuanya pulang meninggalkan harta benda. Mereka hanya membawa cerita yang mengerikan. 

Dua murid baru itu, di kala senggang sering dikerumuni untuk mendengar ceritanya. Tentu saja cerita yang berulang karena hampir terjadi saban hari. Nah, ketika Alwia mengatakan dirinya orang Ambon. Kabel ingatan saya tersambung ke zaman SMP. Bisa jadi, dua murid baru itu satu kapal dengan Alwia ketika mengungsi ke Makassar di tahun 1999.

Tetapi, Alwia tidak menunjukkan diri sebagai orang yang lahir dan melewati masa kecilnya di Ambon. Perawakannya sama saja dengan perempuan Bugis atau Makassar. 

Rupanya memang, Alwia masih dialiri darah Bugis. Kakeknya dari Bone. Kemungkinannya, ayahnya yang berdarah Ambon-Arab membangun jejak hidup di Ambon dan Alwia lahir di sana di tahun 1985. Hanya berselang setahun dengan Anton yang lahir di tahun 1984 di wilayah terpencil di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), sosok pelajar yang paling diingat di PPIM. Anak-anak zaman memang dilahirkan dalam satu dekade.

“Memoriku tentang PPIM hampir hilang,” ucap Alwia. Ia tak menyangka bakal bersapa kembali dengan anak-anak yang pernah dia jumpai di tahun 2003 ketika masih SMA. Tapak hidup memang misteri. Di tahun 1999, ia dan keluarganya di Ambon dipaksa angkat kaki demi keselamatan. Pihak keamanan mengkhawatirkan lebih banyak korban bila tidak menetapkan keputusan evakuasi warga. Alwia, yang masih SMP saat itu harus meninggalkan tanah kelahiran dan berpisah dengan jejak masa kanaknya. Lokasi sekolahnya berada di komunitas umat Kristen, semakin meneguhkan tekad orangtuanya kalau semuanya harus ditinggalkan.

Pilihan ke Makassar adalah jalan yang paling wajar dikunjungi. Keluarga besar ibunya yang berdarah Bone masih di kota ini. Cap eksodus menjadi jalan lapang bagi Alwia melanjutkan sekolah di SMP Negeri 4 kemudian di SMA Negeri 4.

Memasuki kelas tiga SMA, ia terpilih mewakili sekolahnya untuk disatukan dengan pelajar dengan kemampuan di atas rata-rata dari sekolah lain ke dalam program kelas III khusus yang berpusat di Balai Pusat Guru (BPG). Ia masih ingat, ada wakil dari SMA Negeri 5, SMA Negeri 1, SMA Negeri 16, dan SMA Negeri 11 Makassar. Dari daerah, ada dari SMA Negeri Takalar, SMA Negeri 1 Barru, SMA Negeri 1 Pangkep, SMA Negeri Sidrap, SMA Negeri 1 Pare-Pare, SMA Negeri 1 Rantepao, dan SMA Negeri Bulukumba. “Jika tidak salah, semua daerah mengirim wakilnya,” terangnya.

Setamat SMA, melalui program PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan) ia bebas tes di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (UNHAS) di tahun 2003. Capaian itu diperolehnya tentu tidak mudah. Konsentrasi di program kelas III se Sulawesi Selatan dijalani dengan bersungguh-sungguh. Bagaimana pun, di benaknya terpatri sebagai anak rantau di Makassar. Ia tak ingin menyiakan kesempatan yang diperoleh.

Menuntaskan studi kedokteran di tahun 2009, ia lalu menempuh perjalanan ke utara kota Makassar sejauh ratusan kilometer untuk menunaikan tugas magang di Puskesmas Rappang, Sidrap selama tiga bulan. Selanjutnya, ia terus melakukan perjalanan, menjauh meninggalkan Makassar, kota dimana sebagian hidupnya ditempah.

Ibu kota negara, Jakarta, adalah kota selanjutnya mencari peruntungan nasib sebagai dokter muda. Tetapi, ia hanya bertahan hingga tahun 2011. “Saya tidak sanggup menjalani hidup di Jakarta. Ibu kota itu kejam. Masih di tahun 2011, saya mendapat tawaran kerja di Ambon, sinyal untuk pulang ke kampung halaman,” ujarnya.

Dua belas tahun sudah, sejak ia meninggalkan Ambon di tahun 1999. Alwia kembali ke Maluku meski tidak bertugas di kota Ambon. Namun, itu sudah cukup mendekatkan diri kembali ke halaman tanah kelahiran. Kampung halaman yang dijejaki sejak lahir hingga usia SMP.

“Setelah satu setengah tahun di Jakarta, saya mengikuti program pemerintah yang disebut dokter PTT (Pegawai Tidak Tetap) dan ditempatkan di daerah terpencil. Perjalanan ke daerah itu harus mendaki gunung dan melewati lembah layaknya petualangan ninja Hatori,” ia menjelaskan.

Desa Tehua, Kecamatan Telutih, Kabupaten Maluku Tengah. Di sinilah tapak hidup dilewati penuh rintangan. Untuk mencapai desa ini yang dimulai dari kota Ambon, mula-mula harus naik kapal menuju kabupaten Maluku Tengah yang ditempuh selama dua jam. Singgah dulu di desa terdekat, Amahi, kemudian naik mobil ke kota kabupaten, Masohi. Dari sini, naik mobil lagi sekitar tiga jam menuju desa Tehoru melewati jalanan yang rusak parah. Selanjutnya, mengarungi lagi sungai dan lautan menggunakan perahu yang digerakkan mesin tempel sekitar satu jam. Sesampai di dermaga kecil, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki  baru sampai di lokasi kerja.

Dilematisnya muncul ketika harus ke kota Masohi hanya untuk mengambil gaji atau membeli kebutuhan hidup. Bukan apa-apa, medan yang harus dilalui pulang pergi serasa dibayangi malaikat maut. Hal itu bisa diperparah lagi dengan kondisi cuaca. Kadang, di saat tertentu, ia dan temannya harus mengarungi lautan dengan ombak setinggi tiga meter.

Ia bertugas di sana selama enam bulan baru dipindahkan ke desa Pelauw, pulau Haruku. Meski medannya tidak seterjal di desa sebelumnya. Tetap saja harus melintasi lautan diiringi gulungan ombak yang bisa saja menelan para penumpang, dimana Alwia salah satu penumpang itu.

“Sedih rasanya mendengar kabar bila ada teman seprofesi sampai meninggal di lokasi kerja,” lirihnya. Program PTT dijalani di kurung waktu 2011-2013. Ia tabah menjalani sebagai tapak hidup yang harus dilewati. Menghibahkan diri pada peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat di daerah terpencil.

Menjadi PTT barang tentu sudah menjadi jaminan melangkah ke status sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Namun, Alwia memilih mengundurkan diri. Jiwa aktivisnya tak bisa ia dustakan. Mengundurkan diri dengan pilihan sadar. Ia mencium permainan birokrasi yang tidak sehat. Menurutnya, penempatan PTT di daerah terjauh tidak didasarkan pada analisis kebutuhan melainkan faktor orang dalam yang mengatur.

Ia meradang ketika menjalani masa kehamilan hingga memasuki usia kandungan di bulan ke delapan. Dispensasi yang diajukan supaya ditempatkan sementara di kota Ambon tidak digubris dinas pemerintah setempat. Padahal, itu merupakan hak yang bisa ditempuh. Jadi, selama proses kehamilan itu, ia harus pulang pergi dari kota Ambon ke pulau Haruku. “Usai melahirkan, saya mengundurkan diri jadi PTT,” tegasnya.

Sekarang, ia memilih bertugas di klinik swasta Al Aqsha kota Ambon sembari merawat anaknya, seorang putri, sekaligus menjadi istri yang baik bagi suaminya. “Saya sudah mensyukuri semuanya. Doa saya dikabulkan supaya bisa kembali melanjutkan hidup d Ambon,” ucapnya. 

*

Pangkep-Makassar 18 September 2016