Wednesday, 1 February 2017

Saat Anak Tidak Mengenal Lelah




Dika Lentera menyempatkan foto di atas scooter milik bikers yang sedang rihat di Taman Musafir


Beberapa status teman di Facebook yang memiliki anak kecil, seringkali menuliskan kalau tingkah anak mereka tidak mengenal waktu istirahat. Selalu ingin bermain. Fasenya bisa dimulai ketika anak memasuki usia enam bulan. Meski belum bisa berjalan, tetapi bayi selalu butuh teman bermain dan kedua matanya kadang terjaga hingga tengah malam. Dan, itu membutuhkan perhatian, jika tidak, si bayi akan menangis. Di situlah tantangannya, menemani bayi bermain sampai lelap.

Pada satu fase tertentu akan berlangsung demikian yang menjadi pengalaman komunal setiap orangtua. Semakin beranjak, tingkah anak akan berubah. Dari merangkak, berjalan, dan akhirnya berlari. Saat ini, tahap berlari itu sedang berlangsung. Anak lelaki saya, Dika Lentera, sedang gesitnya. Usia tiga tahun adalah kematangan kedua kakinya menendang bola dan mengayuh sepeda.

Mengutarakan keinginan juga sudah dipahami. Jika bosan bermain di rumah, ia akan merengek ke taman Musafir bermain papan luncur atau naik odong-odong di bambu runcing. “Bapak Adu, ayo main odom-odom di ambu uncing,” begitu caranya mengajak.
Perjalanan ke sana dari rumah melewati taman Musafir sehingga terlebih dahulu singgah bermain papan luncur. Di siang hari, arena permainan odong-odong memang belum nampak karena pemiliknya baru memasangnya di sore hari. Tetapi, Dika tidak akan percaya kalau tidak melihatnya langsung. Sesampai di bambu runcing: “tidak adapi odom-odom, malampi kapa” ucapnya.

Selanjutnya adalah perjalanan pulang yang selalu berakhir di warung bakso. “Bapak Adu, ayo mamma acco. Acco uwari,” pintanya kemudian. Maka singgalah kami di warung bakso Quary. Sesampai di rumah, sepeda mungil sudah menanti untuk dikayuh hingga magrib. Di selah waktu menuju isya, ia akan bermain atau tepatnya memantik orang dewasa di rumah untuk melarangnya. Televisi akan dimatikan ketika beberapa pasang mata fokus melihat adegan sinetron. Pada akhirnya, ingatannya kembali pada odong-odong. 

*
Dunia anak bukanlah dunia orang dewasa. Anak tidak mengenal larangan. Ia akan menangis sebagai perlawanan jika inginnya tidak dituruti. Namun, benarkah hal demikian. Apakah setiap anak di dunia pada usia itu akan bertingkah sama. Pengalaman sejumlah orangtua mengatakan tidak semuanya. Ada anak di usia dua hingga tiga tahun akan menuruti pinta orangtuanya dan fokus bermain pada satu jenis mainan. 

Relasi anak dan orangtua ada pada pola pengasuhan yang diberikan orangtua. Beberapa penelitian menunjukkan kalau anak sebenarnya tidak bosan bermain pada satu permainan tertentu, melainkan kejenuhan yang hadir adalah tidak ada kawan main.

Nah, di situlah tantangan selanjutnya, orang dewasa saat tertentu menerapkan sisi kedewasaannya ketika bermain dengan anak kecil. Bila mobil mainan ditabrakkan oleh anak ke tembok, seketika orang dewasa melarangnya. Sama halnya kalau anak mencoreti tembok dengan pensil warna atau bulpoin.

Di rumah, semua mainan yang pernah dibelikan sudah pada hancur. Beberapa sudut tembok juga penuh dengan coretan. Saya pernah membelikan crayon dan kertas gambar. Bila ditemani, ia akan telaten menggunakan crayon untuk mencoret sesukanya. Bila dibiarkan bermain sendiri, maka sasarannya adalah tembok. 

Bagi saya itu bukan masalah, tetapi lain cerita jika dilihat sama emaknya. Moralitas orang dewasa akan keluar dari mulutnya. Pada titik itu, telah terjadi sudut pandang melihat objek. Tembok dengan sapuan cat akan terlihat indah di mata sebagian orang dewasa. Bagi sebagian anak yang belum bisa memberikan penilaian, akan memandang lain. Fungsi crayon di tangannya untuk mencoret apa saja.

Pertentangan cara pandang ini bentuk sederhana atas objektifitas sebuah kebenaran. Jadi, musuh kebenaran bukanlah kejahatan melainkan adanya kebenaran yang lain. Pengakuan kebenaran yang lain itulah yang tidak bisa diterima di atas pengakuan jamak atas kebenaran.

Sejarah pengasuhan anak adalah riwayat pertentangan ide. Di titik tertentu bisa dikatakan demikian. Di sepanjang hari selama tiga tahun, pertentangan itu saya rasakan. Didasari pada endapan latar kultur dua keluarga besar. Pada ujungnya, orangtualah yang kadang merasa lelah dan anak tetap saja berlari menjumpai fase demi fase kesadarannya. 

Maughn Gregory dari Montclair State University yang berkedudukan di New Jersey, Amerika Serikat melalui program Philosophy for Children mengupayakan perlunya dialog terhadap anak. Ia mendasarkan asumsi programnya dari hasil penelitian kalau anak sudah memiliki intuisi filosofis, karena itulah anak kadang mengajukan pertanyaan berentetan yang membuat orang dewasa tersenyum atau lelah menjawab.

Ya, Tuhan, anak-anak tidak ada lelahnya.

*
Makassar, 1 Februari 2017

Bacaan terkait:

Wednesday, 7 December 2016

07 Des Sheila on 7 dan Novel 1984 Orwell




7 Desember adalah tanggal di bulan terakhir kelipatan tahun Masehi. Tahun ini tepat hari Rabu, tahun lalu, 2015 jatuh di hari Senin, di tahun 2014 di hari Minggu. Itu bukan kebetulan. Melainkan keteraturan yang acak.

7 Desember, sama dengan tanggal dan hari-hari yang lain. Di dalamnya termaktub peristiwa di belahan ruang di dunia. Di tanggal 7 Desember tujuh tahun lalu, seseorang mungkin saja menggelar acara pernikahannya, juga tidak menutup nalar kalau di tanggal yang sama di tempat lain seseorang lagi kecopetan, misalnya. 

Tentu semuanya kepastian sebab tidak ada kebetulan. Semua berjalan sesuai titik ruang dan waktu ketika peristiwa harus terjadi. Keteraturan yang acak.

Tahun 2002, Sheila on 7, band asal Yogyakarta yang terbentuk di tahun 1996, merilis album ketiga yang dijuduli 07 Des. Tentu saja ada kesan rumit dijabarkan. Sungguh, saya senyum sendiri kali pertama meraba kaset itu. Kok, bisa ya. Apakah Sheila on 7 mendedikasikan album itu kepada mereka yang memiliki kesan khusus dengan 7 Desember. Saat itu beragam dugaan mengemuka.

Cover album 07 Des

Di bangku SMP, Sheila on 7 adalah band idola. Sebisa mungkin sejumlah tembang hitsnya dilantunkan sekerasnya sebagai kode kepada perempuan yang menjadi sasaran godaan. Belajar memetik gitar juga dimulai dengan mempelajari kord tembang Dan, Kita, dan Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki. Di titik itu, hanya ada tiga teman yang mahir memainkannya dan menjadi panutan.

Di hari-hari di sepanjang tahun 2002 hingga 2003, kala pulang ke kampung bermalam Minggu, teman yang pandai bermain gitar itu saya ajak menginap di rumah dan menantang malam bernyanyi meneriakkan tembang Sheila on 7. Utamanya sekali, lagu Pria Kesepian yang terangkum di album 07 Des itu. Alasannya rasional, kami saat itu memanglah kumpulan pria kesepian. Tidak memiliki jadwal bersama seorang dara.

Setamat SMP, kami semua berpisah sekolah. Saya memilih ke Makassar karena alasan absurd. Nilai Ebtanas Murni (NEM) saya tidak cukup dipakai mendaftar di sekolah negeri di Pangkep. Jadilah nama saya terdaftar di salah satu sekolah swasta di Makassar yang memang kekurangan siswa. Sebagai ruang reuni, saya harus pulang kampung di akhir pekan jika sempat.

Sebenarnya, Sheila on 7 tak bisa dikatakan sebagai band idola dalam pengertian garis keras. Kami, saat itu sudah menyanyikan tembang Slank, Iwan Falls, Tipe X, Padi, dan Dewa 19. Hanya saja, Sheila on 7 menjadi spesial karena lagunya banyak digemari teman perempuan di masa SMP. Sebab itulah mungkin, sejumlah tembang Sheila on 7 selalu dinyanyikan.

Lebih dari itu, kembali ke saya, Sheila on 7 mengandung makna lain. Beberapa tembangnya serasa menyanyikan perasaan yang dialami anak-anak zaman yang pada galau di eranya. Diam-diam, sering sekali saya nyanyikan Pemuja Rahasia. Lagu ini terbilang sulit dinyanyikan bila diiringi gitar. Duta, si vokalis, melantunkan dengan gaya rap. Ada satu cerpen yang saya buat dan memasukkan lagu ini sebagai titik tolak. Namun, lebih dari semuanya, tentu saja karena album ketiganya itu tadi. 07 Des. Sesuatu sekali. Kok, bisa ya.

Sebagaimana 7 Desember. 1984 lebih dari bilangan. Bisa dibaca sebagai tahun. Di tahun 1984 ada banyak sekali peristiwa di sepanjang 12 bulan di dalamnya. Apakah kebetulan jika di tahun 1949, George Orwell, pengarang Inggris yang lahir di India merilis novel bertajuk 1984 ketika Indonesia baru lima tahun memproklamirkan kemerdekaan di tahun 1945. 

Novel 1984


Mengetahui nama Orwell dan novel legendarisnya itu saya baca di buku Revolusi Harapan karya Erich Fromm di tahun 2003. Dan lagi, saya merasakan sesuatu yang lain. Kok, bisa ya. Sejak saat itu, mencari novel 1984 yang mengingatkan hal khusus itu menjadi agenda. Sayang, tak satu pun toko buku di Makassar yang menjual. 

Barulah di tahun 2014 lalu, novel itu saya beli setelah Bentang menerbitkan hasil terjemahan Landung Simatupang. Di tahun 2011 tanggal 7 Desember, saya menulis status di akun Facebook kalau di hari lahir, saya ingin sekali membaca novel itu. Butuh tiga 7 Desember baru bisa berjumpa. Jika direkap sejak 2004, maka terhitung sepuluh 7 Desember.

Hari ini 7 Desember, ucapan selamat ulang tahun dari istri yang dikirim lewat WhatsApp baru saya baca di pukul tujuh lewat sekian menit. Karena situasi pekerjaan, saya dan istri hanya berjumpa dua kali seminggu. Empat kali sebulan, dan empat puluh delapan kali dalam setahun. Meski faktanya tentu berubah jika hari libur nasional dimasukkan sebagai pengurang dan situasi tertentu terjadi. 

Tepat ketika salah satu stasiun televisi menyiarkan berita gempa di Aceh. Saya yakin sekali sebagaimana kita semua meyakini. 7 Desember tahun ini seyogianya 7 Desember yang sudah-sudah. Ada banyak sekali peristiwa. Salah satunya, Timnas Indonesia tengah berjuang melewati semifinal leg kedua melawan Vietnam. Juga, kalian tengah membaca catatan ini. Halah!
*

Makassar, 7 Desember 2016