Skip to main content

Orang Tua yang Menolak Tua




“Pak Tua, sudahlah, kami sudah sanggup untuk bekerja.” Potongan lirik tembang yang dicipta Iwan Falls kemudian diteriakkan grup musik Elpamas ini mengingatkan tentang seorang tua bangka rakus. Walau sudah berbau tanah, tetap saja bersikukuh di atas kenyamanan kekuasaan yang seharusnya sudah perlu ia tinggalkan. Memberikan kesempatan pada mereka yang muda untuk melanjutkan jalannya kekuasaan.

Kita perlu sadar, bahwa konteks kritik tembang itu sungguhlah terpaut erat sebuah era di mana lirik diciptakan. Elpamas, grup musik genre balada rock tentu paham dengan situasi. Jejak ketika kekuasaan orde baru bertumpu pada kesepuhan almahrum Soeharto.

Walau sosok tua dalam tembang itu merujuk pada presiden kedua di republik ini. ‘Pak Tua’ tetap saja sebuah metafora. Tembang ini bisa hadir di era mana saja ketika sosok tua bangka rakus kekuasaan kembali menguak.

Tetapi, benarkah ketuaan itu melulu mengundang kejenuhan. Saya rasa tidak, penyair Yunani, Horatius boleh saja mengutuk usia tua sebagai kesialan dan membanggakan usia muda sebagai kebahagiaan. Namun, hal demikian bukanlah suatu traktat yang sepenuhnya benar.

Manusia menjadi tua memanglah keniscayaan. Hanya saja, keuzuran bukanlah simbol ketidakberdayaan. Di sudut lain, dalam sepak bola, misalnya. Kita tercengang melihat Zinedine Zidane, pesepakbola Prancis berdarah Aljazair itu seolah sendirian membongkar tata kelola
keindahan sepak bola Brazil di perempat final piala dunia tahun 2006 di Jerman. Ia sudah berusia 34 tahun kala itu, umur yang tak lagi muda bagi pesepakbola profesioanal yang selalu menuntut kecepatan dan kegesitan.

Dan kini, di piala dunia tahun 2014 Brazil. Hantu pemain tua tetap bergentayangan. Lihatlah bagaimana Inggris dipimpin gelandang gaek 34 tahun, Steven Gerrard. Italia malah dikomandoi kiper 36 tahun, Gianluigi Buffon dan wakilnya hanya terpaut setahun, Andrea Pirlo yang 35 tahun.

Hasilnya, Inggris dan Italia memang tereliminasi di fase grup D, grup neraka, demikian pengamat menyebutnya. Tetapi, simaklah kembali kiprah pemain uzur itu. Kepadanyalah visi permainan disematkan. Bahkan, di klubnya masing-masing, keduanya tak tergantikan di lapangan tengah. Jantung permainan sebuah tim.

Mereka, saya pikir tidak sedang bermain dadu dengan usianya. Menjadi tua bukan halangan, Ernest Hemingway, sastrawan asal Amerika Serikat, menceritakannya di Lelaki Tua dan Laut, novel tipis yang mengantarkannya meraih nobel kesusastraan di tahun 1954. Tersebutlah Santiago, nelayan tua yang berhasil menangkap ikan Marlin raksasa, ukurannya lebih besar dari perahu yang digunakannya selama 85 hari bertahan di lautan lepas.

Santiago yang tua tidak ciut, di sepanjang hidupnya ia mengenal baik dengan apa yang dilakukannya selaku nelayan. Dari sanalah semangat itu hadir, walau sudah uzur, tak berarti laut menjadi tempat yang menakutkan.

Zidane, Buffon, Gerrard, dan Pirlo berada di posisi itu, sepak bola merupakan jalan hidup yang dititi sejak belia. Di jejak itu, kemenangan dan kekalahan adalah hasil yang tak dapat dihindari. Keduanya adalah keniscayaan dalam sebuah pertandingan. Karena itu perlu diterima.

30 tahun ke atas, tentulah usia tua bagi pesepakbola. Tetapi tidak berlaku dalam dunia politik. 30 justru usia muda. Di tahun 2014, di negeri ini tengah bertarung juga dua pasangan tua di Pilpres. Prabowo Subianto (62 tahun), Hatta Rajasa (60 tahun), Joko Widodo (53 tahun), dan tertua, Jusuf Kalla 72 tahun . Berdasarkan jejaknya selama mengikuti seluruh rangkaian pertarungan (kampanye dan debat). Kedua pasangan kandidat menolak tua.

Jelaslah, pilihan kita di transisi kepemimpinan kali ini hanya menjumpai orang tua. Lantas, apakah gaung tembang Pak Tua masih relevan? Tentu saja iya, penafsirannya terletak pada cara pandang kita selaku pemilih.

Pertanyaannya! Kita tidak sedang menonton pertandingan sepak bola antara Inggris dan Italia. Pemilu kali ini adalah transisi yang perlu ditapaki sebagai jalan melanjutkan ke Indonesiaan kita.

Usia tua hanyalah capaian sebagaimana usia muda. Keduanya mengandung dua sisi yang sama. Mengembangkan kebajikan atau keburukan. Olehnya itu, saya kira, perlu pembacaan terhadap pada siapa capaian itu bersandar. Sebab, penyebutan tua bangka apa bedanya dengan muda goblok. Bukankah keduanya tak berguna sama sekali.

Orang tua yang menolak tua, metaforanya perlu dipahami sebagai semangat, dedikasi, dan pengabdian. Tiga suku kata yang mudah dicaplok. Tetapi, pilihannya hanya itu, orang tua. Tiada yang lain.

***
Pangkep-Makassar, 27 Juni 2014

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Lemari Abdullah Harahap