Skip to main content

Tua


Tak banyak pemain bola profesional yang menghibahkan jejak kariernya untuk satu klub, satu di antaranya, Steven Gerrard yang setia menua di Liverpool FC sejak 1998. Sayang, ada lubang yang belum tertutupi, gelar Primer League, sebagai kompetisi antar klub tertinggi di Inggris.

Gelar bersama Si Merah, Gerrard hanya terlibat dalam perebutan gelar Piala FA musim 2000-2001 dan 2005-2006. Piala Liga Inggris musim 2000-2001, 2002-2003, dan 2011-2012. Piala FA Community Shield di tahun 2001 dan 2006. Ditambah tropi piala Champion musim 2004-2005, pila UEFA musim 2000-2001 serta piala super UEFA tahun 2001 dan 2005.

Nyatanya, Gerrard tetap setia di Anfield berseragam merah, musim Primer League 2013-2014 jalan ke tangga juara sudah terbuka. Hanya, jalurnya sungguh terjal. Liverpool kewalahan menjaga asa yang kemudian disalip Mancester City.

Sedikit berbeda dengan sosok Andrea Pirlo, karirnya dimulai di klub Brescia kemudian sempat ke Internazionale (Inter Milan) lalu bolak balik dari Regina ke Brescia selaku pemain pinjaman. Barulah di musim 2001, AC Milan memakai jasanya hingga musim 2011 kemudian klub itu enggan melanjutkan kontrak karena mencap Pirlo sudah uzur. Si tua lalu menerima pinangan Juventus, tak disangka, ia menjadi bagian penting atas tiga scudeto, gelar juara di liga utama Italia secara beruntun.

Di tim nasional Italia, Pirlo turut terlibat ketika Gli Azzuri, sebutan tim Italia merebut tropi piala dunia di Jerman tahun 2006. Dan, hampir saja melengkapinya dengan tropi piala Eropa di tahun 2008 di Austira-Swis kalau saja tidak takluk dari Spanyol.

Kini di tahun 2014, kedua pesepakbola tua itu kembali hadir di gelaran piala dunia Brazil. Tak tanggung-tanggung, Gerrard yang 34 tahun adalah kaptem tim dan Pirlo setahun lebih tua, 35 tahun ditunjuk wakil kapten. Undian mempertemukan mereka di grup D. Grup yang disebut neraka. Dua tim Amerika Latin juga beradu nasib di sana, Uruguay dan Kosta Rika.

Laga pembuka di grup panas itu dilakoni Uruguay dengan Kosta Rika, selanjutnya pertarungan dua orang tua, Gerrard kontra Pirlo. Namun, melalui visi bermainnyalah impian kemenangan diharapkan. Kita tahu, Liverpool dan Juventus sungguh bergantung pada gelandang itu.  

Ketika Uruguay takluk 1-3 dari Kosta Rika, peta pertarungan berubah dan itu merupakan tanda kalau jalannya semakin terjal. Uruguay membutuhkan kemenangan di pertandingan kedua. Begitupun dengan Inggris yang menyerah 1-2 dari Italia. Konstalasi kembali berubah karena Italia tumbang 0-1 dari Kosta Rika dan Inggris menerima kekalahan keduanya, takluk 0-2 dari Uruguay. Tiga Singa, julukan Inggris jelas sudah tereliminasi. Tinggallah Italia mengaduk takdir guna mendampingi Kosta Rika, tim yang sama sekali tak diperhitungkan ke fase 16 besar.

Jalannya, Italia harus menekuk Uruguay di pertandingan terakhir di fase grup. Tujuan yang sama diemban Uruguay. Jadilah Luis Suarez melakukan segala cara, mengingatkan kita di putaran 16 besar piala dunia tahun 2010 di Afrika Selatan, sengaja menghalau bola yang siap merobek jala Uruguay dengan tangannya. Ulahnya kini lain, si gigi kelinci menggigit bahu bek Italia, Giorgio Chiellini. Hal sama yang pernah ia lakukan di gelaran Primer League, korbannya adalah pemain belakang Chelsea, Branislav Ivanovic.

Pada akhirnya, Italia takluk dengan skor tipis 0-1 akibat tendangan sudut Gaston Ramires yang disambut rombongan pemain Uruguay di kotak penalti. Godin, yan bermain di klub Atletico Madrid itu bermaksud menyundul, tetapi tidak mengenainya, di bahunya, bola itu terbentur lalu meluncur ke gawang yang tak bisa  dihalau lagi Gianluigi Buffon, kapten sekaligus kiper gaek 36 tahun yang belum juga menolak tua.

Di sisa akhir perpanjangan waktu, Pirlo menghadapi satu tendangan bebas, terlihat, ia tak lagi tenang kala menghadapi si kulit bundar. Ia menendang saja melayangkan bola ke kotak penalti lawan. Hasilnya, umpan itu mentah. Tak menghasilkan apa-apa. Tetapi, di sepanjang pertandingan, Pirlo tetaplah penguasa lapangan tengah. Beberapa umpan terukurnya merepotkan bek Uruguay.

Di waktu bersamaan, Inggris melakoni sisa laga kontra Kosta Rika, Gerrard, hanyalah pemain pengganti di menit 73. Roy Hodgson, sang pelatih sadar kalau laga itu bukan lagi petunjuk. Sebatas seremoni saja, jika bisa dikatakan demikian. Dan, kehadiran kapten tua tak mengubah apa-apa. Hingga akhir laga, skor tetap imbang tanpa gol. Tragis. Inggris hanya merengkuh satu poin.

Namun, jasa dua gelandang tua itu patutlah diingat. Di usia senjanya selaku pemain profesional, keduanya tampil gemilang, seolah melupakan usia. Pantang menyerah beradu taktik dan fisik.

Usia tua memang bukan halangan, Ernest Hemingway, sastrawan asal Amerika Serikat, menceritakannya di Lelaki Tua dan Laut, novel tipis yang mengantarkannya meraih nobel kesusastraan di tahun 1954. Tersebutlah Santiago, nelayan tua yang berhasil menangkap ikan Marlin raksasa, ukurannya lebih besar dari perahu yang digunakannya selama 85 hari bertahan di lautan lepas.

Santiago yang tua tidak ciut, di sepanjang hidupnya ia mengenal baik dengan apa yang dilakukannya selaku nelayan. Dari sanalah semangat itu hadir, walau sudah uzur, tak berarti laut menjadi tempat yang menakutkan.

Gerrard dan Pirlo berada di posisi itu, sepak bola merupakan jalan hidup yang dititi sejak belia. Di jejak itu, kemenangan dan kekalahan adalah hasil yang tak dapat dihindari. Keduanya adalah keniscayaan dalam sebuah pertandingan. Perlu diterima.

30 tahun ke atas, tentulah usia tua bagi pesepakbola. Tetapi tidak berlaku dalam dunia politik. 30 justru usia muda. Di tahun 2014, di negeri ini tengah bertarung juga dua pasangan tua di Pilpres. Prabowo Subianto (62 tahun), Hatta Rajasa (60 tahun), Joko Widodo (53 tahun), dan tertua, Jusuf Kalla 72 tahun . Berdasarkan jejaknya selama mengikuti seluruh rangkaian pertarungan (kampanye dan debat). Kedua pasangan kandidat menolak uzur. Tetapi, bagaimana dengan dua keniscayaan dalam pertandingan. Kemenangan dan kekalahan, bisakah itu diterima. Layak dinantikan.

***
Pangkep-Makassar, 25 Juni 2014

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Lemari Abdullah Harahap