Skip to main content

Pemilih Muda dan Masa Depan Demokrasi




Di tengah daftar pemilih tetap (DPT) yang masih karut marut, sepertinya bukan masalah serius bagi partai politik yang akan bertarung di pemilu 2014 mendatang. Buktinya, partai politik terus bergerilya di dunia nyata dan maya. Tujuannya tentu saja merebut empati pemilih.

Khusus di dunia maya, perkembangan teknologi informasi menjadi media yang efekif untuk terus eksis di benak khalayak. Simaklah laman Facebook Anda, dengan mudah akan dijumpai sejumlah tokoh yang digadang atau mempromosikan dirinya sendiri untuk maju selaku kandidat bakal calon presiden. Distribusi informasi di dunia maya tentu sangat mudah berkembang. Hanya dengan sekali klik (baca: membagi tautan) maka iklan sang tokoh segera menghiasi dinding Facebook Anda. Itu baru satu akun sosial, belum Twitter, We Chat, Blog, dan lainnya.

Gejala ini haruslah dicermati dengan seksama, mengingat iklan sang tokoh sangat memungkinkan memotong ingatan kita perihal sepak terjang, integritas, dan kapabilitasnya. Sekaligus fenomena ini perlu dikaji. Mengapa dan apa tujuan di balik kampanye masif itu di dunia maya. Jawabnya sederhana, kaum muda merupakan subyek aktif paling banyak bersebaran di dunia maya. Lantas, ada apa dengan mereka. Tak dipungkiri, sejumlah survey menemukan jika konstelasi pemilu 2014 bakal ditentukan oleh pemilih muda. Adalah mereka yang berusia di bawah 30 tahun dan kelompok pemilih pemula itu sendiri.

Pemilih muda merupakan kekuatan yang perlu segera didekati. Tak hanya mereka yang menembak kursi presiden. Data yang dilansir Ayo Vote, one-stop portal yang intens mensosialisasikan pemilu kepada kaum muda menyebutkan dari 6.608 calon legislatif DPR, sepertiganya sudah membangun tim pemenangan yang aktif melakukan kampanye di dunia maya dengan membuat akun dihampir semua jejaring sosial yang ada. Bukti yang tidak main-main kalau kaum muda sangat dibutuhkan.


Sadar kelas

Saya menganggap jika kaum muda merupakan kelas dalam masyarakat yang memiliki potensi kuat guna merancang perubahan. Menyangkut asumsi ini, saya kira kita tak perlu lagi mengulang-ulang teriakan purba Soekarno yang meminta sepuluh orang pemuda untuk menaklukkan dunia. Selaku kaum muda, bersegeralah menyambut gemuruh politik di negeri ini. negeri yang sudah terlalu lama membuat kita malu sendiri.

Memang harus disadari bahwa posisi kaum muda berdiri di tengah-tengah, dengan mata yang sama bisa digunakan untuk melihat masa lalu dan masa yang akan datang. Karena itulah, kesadaran sungguh diperlukan sebagai fondasi untuk menegaskan bahwa tahun 2014 adalah titik balik itu. Titik dimulainya kembali rekonstruksi sejarah bangsa ini. Namun, kesadaran di sini bukan semata datang mengantre di hari pencoblosan. Sama sekali bukan itu. Melainkan kesadaran dari seluruh hasil olah pikir kita yang bersentuhan dengan mata rantai sejarah.

Tan Malaka (1894-1949), aktivis kemerdekaan Indonesia yang terlupakan telah mewariskan cara pandang yang brilian. Memandang materialisme tak cukup dengan dialektika semata. Sebab yang demikian sudah fitrah, diperlukan logika agar tak labil memandang zaman. Paradigma ini memungkinkan kita melihat jika tokoh-tokoh yang akan bertarung merupakan sejarah masa lalu. Ada musuh dan kawan sejarah yang terus hidup. Sebagai kaum muda, itu patut diketahui.

Di zaman sekarang, bersembunyi saya kira bukan strategi yang tepat. Meski kita lari ke gunung dan berdiam di hutan. Percayalah, kaum licik itu akan terus menjajah dan memperlakukan kita tak manusiawi. Tetaplah di tempat dan melawan. Demokrasi ini hanyalah petak jalan yang saat ini perlu dilalui. Dan, kita tidak sendiri.


Pendidikan politik

Penggalakan proses pendidikan memanglah perlu sebagai jalan sederhana memantapkan kesadaran kaum muda. Sayangya, hal ini tak banyak dilakukan. Akun sosial para tokoh masihlah membeberkan hal yang tidak penting. Padahal, jalan itu sudah bisa dilakukan sebagai media pendidikan politik.

Rupanya mereka belum beranjak dari paham lama, kaum muda masih ditempatkan sebagai obyek suara ketimbang subyek yang perlu diajak berdialog. Metode ini mengingatkan kita pada Paulo Freire (1921-1997), pendidik asal Brasil yang mengkrtik sistem pendidikan yang tak ubahnya proses menabung di bank (banking education). Siswa ditempatkan sebagai bejana kosong yang harus selalu diisi. Mungkin begitu pandangan para tokoh atau tim pemenangan melihat para pemilih.

Jika tak segera diubah, besar kemungkinan kaum muda yang dikejar di dunia maya akan berpaling. Di sisi lain, cerminan ini merupakan bahan evaluasi para pemilih muda guna mengecek dan memastikan suara agar tidak tenggelam begitu saja di kotak suara nantinya. Sehingga dengan begitu, masa depan demokrasi bisa terkawal sebagaimana layaknya.

***
Makassar, 17 Desember 2013

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…