Skip to main content

2014 dan Drama Kaum Muda




Theatre Of Dreams, itulah nama stadion klub sepak bola Ingris, Mancester United. Banyak bibit muda pesebak bola maupun mereka yang sudah sah menyandang sebutan pemain profesional yang mengimpikan berlaga di sana. Tentunya memerankan lakon dengan mengenakan seragam Setan Merah, julukan tim yang pernah diperkuat David Beckham itu.

2014 kini, teater impian semua pemain sepak bola di dunia barang tentu tertuju ke Brasil yang akan dihelat pada 12 Juni hingga 13 Juli mendatang bertitel piala dunia FIFA ke 20. Sialnya, tak semua pemain di dunia atau bahkan mereka yang berlaga di liga Eropa memperoleh peran. Kuotanya hanya 32 negara yang sudah definitf memperoleh tiket setelah bertarung di babak kualifikasi.

Berdasarkan sejarahnya, perhelatan piala dunia selalu didominasi pemain muda, sebutlah misalnya, Pele yang masih 17 tahun kala memperkuat Brasil tahun 1958 di Swedia. Michael Owen masihlah 20 tahun kala memperkuat Inggris menahan imbang Argentina  di putaran 16 besar piala dunia tahun 1998 di Perancis. Dan sekarang, pemain muda profesional dari masing-masing negara akan tampil berjibaku di ajang sepak bola paling bergengsi di dunia ini.

Inilah drama sesungguhnya, mereka akan memerankan lakon membunuh untuk tampil di podium merayakan kemenangan sambil mengibarkan bendera dan mengumandankan lagu kebangsaan negara. Lalu! Bagaimana dengan Indonesia! Sudahlah, negeri ini masih memupuk impian untuk tampil di Theatre Of Dreams.

Kaum muda di negeri yang sudah berusia 68 tahun ini, juga akan memerankan peran di ranah yang lain. Di atas lapangan politik. Merekalah pemilih muda yang berusia 17 hingga 30 tahun yang akan menentukan kualitas pemilu 2014. Pemilih cerdas adalah sebutan lainnya, sebab memiliki akses yang lebih luas dalam memperoleh informasi menyangkut kontestan.

Simaklah bagaimana lalu lintas di dunia maya, kaum muda membangun hunian di sana. Membentuk jaringan dan membincangkan persoalan nyata. Meski realitasnya masihlah menyimpan pertanyaan lain. Sebab dunia maya tentulah dunia sementara dan di dunia nyatalah orang bertarung.

Tetapi rupanya, dunia maya menjadi ruang kampanye juga. Perhatikanlah laman Facebook Anda, dengan mudah akan dijumpai sejumlah tokoh yang digadang atau mempromosikan dirinya sendiri untuk maju selaku kandidat bakal calon presiden. Distribusi informasi di dunia maya tentu sangat mudah berkembang. Hanya dengan sekali klik (baca: membagi tautan) maka iklan sang tokoh segera menghiasi dinding Facebook Anda. Itu baru satu akun sosial, belum Twitter, We Chat, Blog, dan lainnya.

Gejala ini haruslah dicermati dengan seksama, mengingat iklan sang tokoh sangat memungkinkan memotong ingatan kita perihal sepak terjang, integritas, dan kapabilitasnya. Sekaligus fenomena ini perlu dikaji. Mengapa dan apa tujuan di balik kampanye masif itu di dunia maya. Jawabnya sederhana, kaum muda merupakan subyek aktif paling banyak. Lantas, ada apa dengan mereka. Tak dimungkiri, sejumlah survey menabalkan jika konstelasi pemilu 2014 bakal ditentukan pemilih muda.

Data yang dilansir Ayo Vote, one-stop portal yang intens mensosialisasikan pemilu kepada kaum muda menyebutkan dari 6.608 calon legislatif DPR, sepertiganya sudah membangun tim pemenangan yang aktif melakukan kampanye di dunia maya dengan membuat akun dihampir semua jejaring sosial yang ada. Bukti yang tidak main-main kalau kaum muda sangat dibutuhkan.

Saya menganggap jika kaum muda merupakan kelas dalam masyarakat yang memiliki potensi kuat guna merancang perubahan. Menyangkut asumsi ini, saya kira kita tak perlu lagi mengulang-ulang teriakan purba Soekarno yang meminta sepuluh orang pemuda untuk menaklukkan dunia. Selaku kaum muda, bersegeralah menyambut gemuruh politik di negeri ini. negeri yang sudah terlalu lama membuat kita malu sendiri.

Memang harus disadari bahwa posisi kaum muda berdiri di tengah-tengah, dengan mata yang sama bisa digunakan untuk melihat masa lalu dan masa yang akan datang. Karena itulah, kesadaran sungguh diperlukan sebagai fondasi untuk menegaskan bahwa tahun 2014 adalah titik balik itu. Titik dimulainya kembali rekonstruksi sejarah bangsa ini. Namun, kesadaran di sini bukan semata datang mengantre di hari pencoblosan. Sama sekali bukan itu. Melainkan kesadaran dari seluruh hasil olah pikir kita yang bersentuhan dengan mata rantai sejarah.

Tan Malaka (1894-1949), aktivis kemerdekaan Indonesia yang terlupakan telah mewariskan cara pandang yang brilian. Memandang materialisme tak cukup dengan dialektika semata. Sebab yang demikian sudah fitrah, diperlukan logika agar tak labil memandang zaman. Paradigma ini memungkinkan kita melihat jika tokoh-tokoh yang akan bertarung merupakan sejarah masa lalu. Ada musuh dan kawan sejarah yang terus hidup. Sebagai kaum muda, itu patut diketahui.

Kaum muda perlu mencoba cermin warisan Tan Malaka itu untuk memantapkan peran dalam drama politik di 9 April 2014 yang sebentar lagi akan mengganggu tidur kita. Itulah Theatre Of Dreams untuk kaum muda Indonesia. Bersiaplah.

***
Pangkep, 2 Januari 2013
Versi lebih pendek dimuat di rubrik Perspektif Tribun Timur 8 Januari 2013
Versi lainnya bisa juga dibaca di sini

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…