Skip to main content

Siapa Mengingat Kita, Catatan yang Lupa Buat PPIM (Bagian 9)



Dr Ahyar Anwar (kanan)





Ahyar Anwar, Suatu Perjumpaan

Sekitar 35 pelajar menengah atas (SMA) dari sejumlah daerah sudah rapi dengan seragam putih abu-abunya. Sebentar lagi mereka akan berkumpul dalam satu ruangan di Lec Bukit Baruga Antang guna mengikuti materi Workshop Pelajar se Sulawesi Selatan tahun 2003 yang diselenggarakan Perhimpunan Pelajar Indonesia Makassar (PPIM) atas dukungan Gama College.
Anton, siswa SMUN 5 Makassar menjadi moderator kala itu. Ia menguraikan sedikit pengantar perihal materi yang akan disampaikan oleh seorang dosen UNM, karib Iqbal Parewangi, direktur Gama College yang memiliki andil besar suksesnya workshop pelajar. Mereka berdua memang akrab sejak kuliah di UGM Yogyakarta. Kemudian terlibat dalam organisasi yang sama: Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA).

Di tahun 2003 itu, saya sendiri tidak mengenal baik siapa itu Ahyar Anwar, Iqbal Parewangi sebatas mengungkapkan kalau ia seorang dosen muda yang cerdas. Saya kira itu bukan hal yang mengada-ada, sebagai panitia pada workshop pelajar itu, saya turut menyimak materi yang ia sampaikan dengan cara yang lain.

Ahyar Anwar tidak duduk rapi di balik meja seraya membaca ulang makalah layaknya seorang guru mendikte muridnya di ruang kelas. Saya terkesima, ia malah membaur dengan peserta. Hal yang tidak pernah saya jumpai dalam workshop sebelumnya. Dengan telaten, ia mendengar pertanyaan dan tanggapan peserta dengan dekat sekali.

Tak berhenti sampai di situ, Ahyar Anwar yang kala itu mengenakan kemeja lengan pendek, mengeluarkan alat peraga yang rupanya telah ia siapkan. Lima peserta tampil, masing-masing kemudian memasang penutup mata berupa kertas yang telah dipasangi karet di kedua ujungnya sebagai pengait di daun telinga. Itulah alat peraga yang dibawa Ahyar Anwar untuk mempraktikkan materi sosiologi kepemimpinan. Ke lima peserta yang telah memakai penutup mata itu lalu diminta berjalan. Alhasil, mereka tak bisa berjalan sebagaimana lazimnya, kedua tangan mesti dibentangkan ke depan guna memastikan tidak ada yang menghalangi. 

Apa artinya, Ahyar Anwar menyimpulkan materinya kalau seorang pemimpin haruslah pandai melihat dalam menjalankan visi misinya. Itulah dasar kepemimpinan yang harus ditahu sejak awal bagi generasi muda. 

Usai beliau menutup materinya, peserta workhsop tentu tak ingin menyiakan kesempatan. Dengan sigap mereka membentuk barisan untuk berfoto bersama. Secara pribadi, itulah awal perjumpaan dengan Ahyar Anwar. Seorang dosen, novelis, esais, dan kritikus.

Perjumpaan Setelah 2003 

Terbilang tujuh tahun baru bisa berjumpa kembali dengan beliau dalam sebuah forum. Tepatnya di tahun 2010, Ia bertandang di tanah kelahiran saya di Pangkep. Saat itu tengah diselenggarakan Sekolah Demokrasi Pangkep (SDP) yang diselenggarakan oleh Lapar Sulsel dan KID Jakarta.  

Wah! Tubunya sedikit berisi dibandingkan kala pertama berjumpa. Pun penampilannya lebih necis, sebuah kacamata hitam bertengger di kepalanya, serupa bando yang menopang rambutnya yang sedikit panjang. Ia mengenakan kemeja batik lengan pendek dipadu dengan jins hitam. 

Kali ini ia tidak melengkapi materinya dengan sebuah makalah atau berupa slide power point, juga tidak meminta peserta tampil dalam memperagakan suatu lakon. Saya yakin kalau hal tersebut tak perlu dilakukan, ia tahu dan pandai memosisikan diri dalam suatu forum. Sebab yang dihadapinya bukan lagi manusia yang mengenakan seragam putih abu-abu.

Ia lebih banyak mengurai tentang multikulturalisme dan perkembangan demokrasi. Selama kurang lebih dua jam, ia lebih banyak membuka ruang dialog dan mengungkapkan sejumlah pengalamannya kala kuliah di Yogyakarta. 

Sekali waktu ketika menjalani prose KKN (Kuliah Kerja Nyata). Ia dan teman-temannya mementaskan lakon di acara perpisahan KKN. Ada tantangan membentang, karena mereka berasal dari daerah dan suku yang berbeda. Cerita rakyat dari manakah gerangan yang akan ditampilkan.

Dan, mereka berhasil melewatinya tanpa perlu mengedepankan adat daerah masing-masing. Sebuah pentas berhasil tersaji dengan menampilkan semua teman KKN sebagai pementas di mana mereka menggunakan pakaian khas masing-masing daerah. Itulah multikulturalisme, tak perlu saling curiga dan mengedepankan kesukuan. Sebab tidak ada budaya inferior dan superior.

Usai materi ditutup, kami pun makan bersama sebelum berpisah. Tentu tak ketinggalan foto bersama atau mengabadikan gambar dengan berdua. Kesempatan itu pula yang kuraih, berbekal kamera telepon genggam, sebuah potret tercipta .


Setelahnya

20 Maret 2013, di Aula Amanagappa tengah diadakan program Temu Penulis Makassar yang diinisiasi Jurusan Sastra dan Bahasa UNM kerja sama dengan penerbit Ombak, Yogyakarta. Lembaga pertama, tempat Ahyar Anwar berkhidmat. Kedua, lembaga yang menerbitkan sejumlah buku karya kolumnis dua harian di Makassar ini (Fajar dan Koran Tempo). Di antaranya Teori Sosial Sastra yang terbit di tahun 2010. 

Di acara ini, Ahyar Anwar tampil selaku empuhnya program yang menghadirkan sejumlah penulis Makassar, seperti Asdar Muis RMS, Aslan Abidin, M Aan Mansyur, Andika Mappasomba, Muhary Wahyu Nurba, Khrisna Pabicara, dan Dul Abdul Rahman. Di acara ini pula, Aforisme Cinta diluncurkan ke publik dan dibedah, buku terbaru Ahyar Anwar.

Kira-kira seperti itulah jejak perjumpaan saya dengan dosen yang mendidik dengan buku ini, sebelum sebuah pesan pendek seorang kawan membangunkan tidurku menjelang pukul 12 malam yang mengabarkan kalau beliau telang pulang ke maha segala cinta. Sungguh tiba-tiba sekali. Dan, Ingatanku tersambung ke tahun 2003. Kaulah salah satu yang telah menanam benih di hati ini, benih yang akan tumbuh menjadi pohon kerinduan menuju cintaNya.

*
Makassar, 28 Agustus 2013
Catatan ini termuat di buku Ahyar Anwar-Yang Menidurkan dan Membangunkan Cinta (Sebuah Obituari) Penerbit Ombak, Yogyakarta 2013




Catatan ini termuat di buku Ahyar Anwar-Yang Menidurkan dan Membangunkan Cinta (Sebuah Obituari) Ombak, Yogyakarta 2013

Comments

  1. salam saudara.

    saya azizah.te,an dr ahyar dari universiti kebangsaan malaysia.benar abg ahyar sudah tiada?saya baru menerima perkhabaran lewat sms.allah.

    ReplyDelete
  2. Salam, iya, beliau telah wafat semalam di RS Grestelina, Makassar.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Lemari Abdullah Harahap