Buku Puisi yang Membunuh 50 000 Kata di Rak Buku



Barangkali saja puisi merupakan karya paling ganjil yang pernah dilahirkan manusia. Ia tidak diinginkan menjadi menu makan karena sedikitnya hidangan dari harganya yang mahal.

Misalkan kita di toko buku dan segera melupakan agenda membeli sebuah buku puisi karena buku cerita yang gemuk harganya setara. Ini kalkulasi kebutuhan ataukah keinginan makan kenyang di waktu bersamaan. Tepatnya, sesungguhnya ini bentuk sesat pikir karena melupakan esensi dan membuat persamaan dari hal berbeda.


Ukuran kenyang tentu saja tak bisa diperhadapkan pada banyaknya menu yang tersaji. Tujuan dari kenyang memenuhi kebutuhan. Mungkin, dengan asumsi ini, kita bisa bersikap adil pada buku puisi yang struktur kata di dalamnya masihlah lebih sedikit dengan sumpah serapah kita tiap kali mengomentari sesuatu di media sosial.

 

Sejauh ini, saya membaca buku puisi tidak sampai selusin. Sangat sedikit. Dan, itu ulah mempertahankan sesat pikir tiap kali berada di toko buku. Dari sedikit buku puisi itu, saya kiratelah memenuhi tugasnya sebagaimana jenis buku yang lain.

 

Sejudul puisi dengan sedikit kata namun padat makna itu, jika harus dibandingkan dengan sejudul cerpen dengan 3.000 kata untuk tema tertentu. Persoalannya memang terletak pada medium yang digunakan dalam menyampaikan gagasan.

 

Saya ingin memulainya berdasarkan tahun pembelian. "Puisi adalah suara yang lain"  parafrasa inilah yang menjadi pemantik ingin membaca puisi. Saya lupa pernah membacanya di mana. Di tahun 2003 buku puisi penyair yang menuliskan parafrasa itu saya jumpai di toko buku Promedya di jalan Tentara Pelajar, Makassar yang sudah tutup.

 

Saya hendak mengisahkan strategi. Ceritanya begini: di hari pertama berkunjung ke toko buku itu dan melihat harga buku puisi yang tertera, saya ciut dan meletakkannya kembali ke rak. Di kunjungan kedua, berselang beberapa hari kemudian, buku itu masih di rak yang sama dengan harga yang tidak berubah. 

 

Entah dari mana ide inimemindahkan label harga buku yang murah ke buku puisi itu. Danhal itu saya lakukan juga tanpa dilihat penjaga. Setelah berhasil, saya meninggalkan toko buku dan balik beberapa hari kemudian. 

 

Di hari kedatangan yang ketiga, saya langsung menuju rak buku puisi dan label harga yang telah kuganti masih menempel rapi di sampul belakang. Segera saja membawanya ke kasir. Strategi yang selalu gagal kulakukan di Toko Buku Makassar Agung di samping Stadion Mattoanging (namanya saat itu).

 

Si kasir tampak bingung karena menemukan katalog harga di komputer berbeda. Keringat saya mulai bercucuran. Pencurian buku paling menakjubkan di dunia ini akan terbongkar di depan kasir bermata sayu yang baru saya lihat di toko buku itu.

 

Tuhan maha tahu, dan kali ini kembali menunda kebenaran. Saya memenangkan pertaruhan siang itu. Buku puisi itu saya bawa pulang seharga buku resep masakan: 15.000. 

 

Itu buku kumpulan puisi dan esai pilihan Octavio Paz (Bentang: 2002). Diterjemahkan Arif B Prasetyo dari Octavio Paz: Selected Poems (Penguin Books, 1979), The Other Voice: Essays on, Modern Poetry (Harcourt Brace, Jovanovich, 1991) dan dari Nobel e-Museum. Gambar sampul oleh Agus Suwage dan didesain oleh Buldanul Khuri.

 

Di buku ini, selain puisi, juga ada pidato Paz sewaktu dianugerahi Nobel Kesusastraan tahun 1990. Puisi sebagai suara yang lain, menurut Arif yang juga membubuhkan pengantar bukanlah latar puisi Paz, sebagaimana yang diakui Paz sendiri, suara yang lain itu merupakan kesaksian tersendiri dalam lingkupan arus sejarah.

 

Masih di tahun 2003, enam bulan lebih awal, Pembawa Matahari (Bentang: 2002) karya Abdul Hadi WM. Buku ini merupakan Seri Pustaka Puisi dari Bentang yang fokus menerbitkan penyair terkemuka Indonesia. Tentu ada banyak penerbitan seri ini, namun hanya ini satu-satunya yang saya beli.

 

Keinginan membaca puisi Abdul Hadi WM karena terpantik dari namanya, akronim WM yang berarti Wiji Muthahari membawa asosiasi ke nama filsuf Murtadha Muthahhari. Abdul Hadi memang kerap dilabelkan dengan puisi bernafas sufisme. Di buku kumpulan esainya, Kembali ke Akar Kembali ke Sumber (Pustaka Firdaus). Lupa tahun terbit dan buku itu juga lupa entah di mana, tetapi saya yakin kalau buku itu raib dicuri temanAbdul Hadi banyak mengupas karya sastra yang lekat dengan nafas sufistik.

 

Sama halnya di buku puisi Pembawa Matahari, Abdul Hadi menampilkan larik yang dalam sebagai pengantar menuju ke pemikiran asal muasal kejadian dan penciptaan.

 

*

 

Setahun berselang, di tahun 2004 saya menjumpai Golf untuk Rakyat (Bentang: 1994). Kumpulan puisi Darmanto Jatman yang disatukan dari buku puisi yang telah terbit terpisah, yakni Bangsat (12 puisi), Sang Darmanto (12 puisi), Ki Blakasuta Bla Bla (19 puisi),  Karto Iya Bilang Mboten (12 puisi), dan Golf untuk Rakyat (10 puisi). Oleh penerbit memilih judul terakhir sebagai judul kesatuan atas pertimbangan judul itu mewakili keberpihakan penyair pada situasi sosial.

 

Menilik tahun terbit dan tahun-tahun Darmanto menuliskan puisinya, bentuk puisinya unik dan campur aduk. Penggunaan bahasa Inggris, Indonesia dan Jawa melebur. Poros puisi semacam ini memang lebih baik jika dideklamasikan dan menikmati bagaimana sang penyair bemonolog di panggung.

 

Era Darmanto berjejak dimulai di medio 70-an. Karier akademisi berjalan seiringan membacakan puisi-puisinya di sejumlah tempat, utamanya di TIM. Di zamannya, ia disebut sebagai salah satu pendekar puisi.

 

Nama Kuntowijoyo sudah akrab sebagai pemikir kebudayaan. Corak pemikirannya sering dibahas dan dijadikan patokan di meja diskusi dan obrolan di kalangan teman sejawat di tahun 2004. Selamat Tinggal Mitos Selamat Datang Realitas, buku kumpulan esainya sudah saya baca setahun sebelumnya.

 

Heran saja melihat buku puisi tipis berjudul Isyarat (Pustaka Jaya: 2000. Cet. Ketiga) seharga 7.000. Kuntowijoyo penulis buku puisi itu. Berdasarkan tahun terbit, rupanya cetakan pertamanya di tahun 1976. Tapak tahun yang menunjukkan jika Kuntowijoyo telah lama memulai jalan sastra.

 

Kali ini di kota Sorong, Papua Barat, di perpustakaan Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi, saya menemukan Tirani dan Benteng (Yayasan Ananda: 1993). Perihal buku puisi ini sebelumnya sudah saya ketahui di beberapa ulasan yang saya baca di Majalah Horison atau di koran.

 

Tirani dan Benteng ini merupakan dua kumpulan puisi Taufiq Ismail yang disatukan. Inilah rekaman kesaksian Taufiq menyaksikan dan terlibat dalam melawan rezim Soekarno. Kira-kira dapat dikatakan seperti itu. Buku ini saya curi dari perpustakaan kampus itu di tahun 2006.

 

Membaca puisi Taufiq Ismail di tahun itu serasa terbang ke masa lampau duduk di depan layar kaca menyaksikan berita tentang aksi demonstrasi. Belakangan, setelah jelajah bacaan, cara pandang ikut berubah menerima kesaksian. Hal ini persoalan lumrah saja. Sebab, bukankah sudah seperti itulah jalannya dialektika.

 

*

Rentang waktu lima tahun bukanlah petunjuk jeda membaca buku puisi. Persisnya saya tidak tahu, mengapa puisi saya butuhkan lalu melupakannya seketika. Di tahun 2009 barulah kembali mendekap buku puisi: Nikah Ilalang(IndonesiaTera: 2003. Cet. II).

 

Sewaktu menujukkan ke seorang kawan diskusi di tahun 2004 mengenai buku puisi Isyarat Kuntowijoyo, ia malah nyengir dan menggaruk kepalanya. "Orang menulis puisi sepertinya mudah ya," ketusnya seketika.

 

Benarkah menulis puisi itu mudah? Saya sangsi dengan asumsi itu. Penyebab utama mengapa puisi tidak peroleh tempat yang memadai di otak para pembaca seperti kawan saya itu, mungkin akibat pola pendidikan di sekolah. Tidak bisa tidak. Di sekolah orang pertama kali mengenal apa itu puisi sebagai menu makanan di pelajaran Bahasa Indonsia. Sialnya, puisi yang dikenalkan tentu saja bukan puisi WS Rendra.

 

Kawan saya itu hanya satu sampel. Kita termasuk korban dari metode bagaimana selera dibentuk di sekolah. Tentu bukan hanya puisi, garis besarnya adalah pengenalan kesusastraan. Perlahan saya baru menyadari hegemoni ini usai membaca Prahara Budaya (Mizan: 1995. Cet. IV) susunan DS Moeljanto dan Taufiq Ismail dan buku yang menentang buku itu serta pendapat sejumlah tokoh melalui artikel di koran.

 

Puisi sebagai produk sastra bukanlah karya tulis hiburan. Kedudukannya sama dengan produksi intelektual yang lain. Di buku Kuasa Kata (Mata Bangsa: 2000) karya Benedict Anderson memperlakukan puisi setara dengan karya tulis yang lain sebagai referensi.

 

Dorothea Rosa Herliany di buku puisi Nikah Ilalang itu menunjukkan hal lain dari buku puisi sebelumnya (yang telah saya baca). Kehidupan digarap sedemikian subtil yang menjadi ruang membongkar perilaku manusia di dalamnya.

 

Tentu kita bisa mencium kemarahan dengan mudah dari puisi Wiji Thukul, misalnya, Dorothea juga mengusungnya dengan cara lebih metafor. Delik ini bisa ditelusuri lebih jauh dengan membaca pra kondisi dan sitausi sosial sang penyair. Namun, di sini, saya tidak sedang membahas hal itu karena membutuhkan referensi tambahan.

 

Di buku puisi ini terdapat epilog Afrizal Malna yang menjelaskan duduk perkara Dorothea sebagai penyair berkelamin perempuan dan puisinya sebagai suara.

 

Nampaknya memang, puisi merupakan karya tulis yang tidak berbentuk tunggal. Puisi adalah petak tanah yang bebas dibanguni rumah oleh pemiliknya berarsitektur yang digemari. Di Makassar, Lembaga Advokasi dan Pendidikan Anak Rakyat (LAPAR). Lembaga ini lebih dari LSM. Mereka juga menerbitkan buku, salah satunya buku puisi bertajuk Republik Korupsi (LAPAR: 2005).

 

Suradi Yasil penggubah sajak panjang di buku puisi itu tidak menjuduli larik puisinya, temanya bersumber pada judul saja dan selanjutnya hanya ditandai nomor tiap larik dengan rujukan informasi soal berita korupsi yang tayang di media atau opini soal korupsi.

 

Jadi, Suradi Yasil menggunakan informasi itu sebagai bahan perenungan menuliskan diksi protesnya. Tiap nomor larik merekam informasi media yang temporal. Hal ini sedikit mengingatkan pada bentuk pusi esai Deni JA yang banyak diprotes itu. Tetapi, tak bisa juga disamakan soal politik yang sedang dibangun. Buku puisi ini peredarannya terbatas dan saya tidak begitu yakin beredar luas di luar Sulawesi Selatan.

 

LAPAR menjadikan buku terbitannya sebagai media advokasi di setiap program yang dijalankan. Termasuk buku ini ketika LAPAR melaksanakan program Sekolah Demokrasi di Pangkep, Sulawesi Selatan. Kedudukan buku puisi ini penting menjadi referensi alternatif melihat bagaimana evolusi korupsi di tapak waktu yang telah lalu.

 

*

Pangkep, 2020

 

Publikasi pertama naskah ini disiarkan di kompasiana dengan dua bagian:

1.     https://www.kompasiana.com/fdausar/5e2ba92dd541df21e0620fd3/buku-puisi-yang-membunuh-50-000-kata-di-rak-buku-bagian-1?page=1&page_images=1

2.     https://www.kompasiana.com/fdausar/5e2e1eb3097f36157e064fa2/buku-puisi-yang-membunuh-50-000-kata-di-rak-buku?page=all#section1

Komentar