Skip to main content

Lebaran di Batok Kepala Anak-Anak


Zaman berubah, itu jelas. Perilaku berubah, tentu saja. Lalu apa sebab zaman bergerak. Dan, siapa yang memengaruhi pergeseran perilaku. 

Bahwa kita pernah kecil, ini kenyataan tak terbantahkan. Bersama geraknya waktu kita terus tumbuh menjadi dewasa. Dalam prosesnya kita melewati beragam pengalaman yang terus diingat hingga sekarang. Tentu ada beberapa kesan yang tak mampu lagi diingat dengan jelas. Namun menyangkut sesuatu hal yang teramat berarti, endapan ingatan itu serasa hidup mengiringi kehidupan yang ditapaki.

Misalnya saja, siapa perempuan yang pernah membuat kita susah tertidur. Oh, bukan situasi ini. Maaf, saya harus sepakat kalau di usia anak-anak yang, walau sudah mulai menunjukkan ketertarikan pada lawan jenis, tidur ya tidur saja, perempuan sama sekali bukan halangan. Berbeda dengan manusia yang sudah masuk fase dewasa. Bahwa bayangan perempuan yang mengganggu tidur harus dilenyapkan dengan obat anti nyamuk dahulu baru bisa pulas. Memangnya perempuan sejenis serangga.

Ingatan masa kecil yang masih tersimpan hingga di usia kita saat sekarang ini, merupakan bukti kalau situasi yang dialami merupakan wahyu dari Tuhan. Saya menyebutnya saja demikian, jika tidak sepakat dengan argumen tersebut, sudah bukan urusan saya. Dan anda, saya kira, tidak perlu melaporkan ke emak atau ke nenek anda. Saya tidak menyebut ayah, karena ayah saya sudah mangkat ketika saya belum paham arti menangis atas kehilangan.

Ketika anak-anak dahulu, hal yang paling ditunggu-tunggu menjelang lebaran, ialah kebanggaan memiliki meriam bambu. Bareccung, itu namanya dalam bahasa Bugis. Bareccung yang bagus haruslah dari bambu terbaik yang bercirikan kulit tebal dan lubang berukuran besar. Di kampung saya, di desa Kabba, rumpun bambu tumbuh layaknya Tuhan menganugerahkan Maradona untuk Argentina. Aduh! Komparasi ini sungguh lebay. Maafkan ketidaknyamanan ini. Tetapi saya tidak memiliki pengandaian yang lain.

Bambu terbaik itu lalu dipotong berukuran empat atau lima meter. Tunggu dulu, haruskah saya menjelaskan mendetail proses pembuatan bareccung di sini. Apakah ini tidak terlalu menggurui dan menganggap kalian tidak hidup di tanah Bugis-Makassar dan sejujurnya, masa kecil kalian juga mengenal mainan ini.
Baiklah, saya harus hentikan ulasan ini. Mari memulai kembali berdasarkan kalimat kunci dari paragraf ketiga. Selain ingatan mengenai kuasa perempuan, ingatan yang tertanam di batok kepala kala masih anak-anak, yaitu bareccung. Aduh, kembali lagi.

Berkunjung ke rumah tetangga guna menyantap burasa atau mandura, penganan yang dibuat khusus di hari raya. Apakah perlu saya mengulas sejarah makanan ini? Saya kira tidak perlu. Makan burasa dan mandura menjadi satu-satunya kenangan yang membuat kita tetap menjadi anak-anak. Ketika dewasa, kita bisa saja tidak memainkan bareccung, tetapi menolak makan burasa atau mandura dan meminta emak menanak nasi, itu sama saja meminta emak memencet tombol masa lalu agar kita kembali ke masa kanak-kanak di mana emak akan memukul betis kita dengan sapu lidi karena permintaan ngawur.

Massiara, itulah sebutan berkunjung ke rumah tetangga, keluarga, atau kerabat di hari raya. Fokusnya hanya makan dan makan. Jika ada kejahilan yang perlu dilakukan, adalah memindahkan isi kacang dari stoples ke saku celana kemudian dijadikan ransum di kala bermain. Keahlian itu selanjutnya menjadi cerita heroik di antara teman-teman, bahwa sayalah yang paling jago, karena ketika dibawa emak membeli celana lebaran di pasar, saya sengaja memilih celana yang memiliki saku yang banyak dan besar-besar.

Salah satu sifat anak-anak, yakni lugu dan polos. Namun tak pernah terbersit niat menadahkan tangan meminta uang kala massiara. Ada rasa malu jika harus berbuat demikian. Bahkan ketika disodori uang pun, kita sungkan menerimanya. Sungguh kebalikan dengan hari ini. Situasi demikianlah yang tersimpan di batok kepala anak-anak. Beberapa tahun terakhir, pemandangan anak-anak datang ke rumah hanya menghendaki uang. Di antara mereka kita tahu, anak dari keluarga lumayan berada.

Zaman berubah diikuti perilaku. Siapa di balik semuanya. Saya harus menyebutkan, bahwa tontontan di layar kaca berupa sinetron picisan tuna pendidikan karakter salah satu penyebab utamanya. Tidak salah memang jika anak-anak diberi uang di hari raya. Hanya saja, haruskah mereka menolak tawaran kue, burasa, dan mandura ketika diajak makan? Rombongan anak-anak yang saya jumpai ada yang berbuat demikian. “Uangmo saja, bikin tonji mamakku burasa.” Tssaah! Ya iyalah, kamu kira emakmu gali sumur di hari raya.

Saya bukan moralis yang mengutuk perilaku anak-anak yang demikian. Juga bukan penganut paham strukturalis yang harus menyesuaikan dengan situasi yang berkembang. Sebagai orangtua, ayah satu orang anak lelaki (sejauh ini), saya hanya perihatin saja. Tidak lebih. 

Tak perlulah saya ulas dampak kekhawatiran itu di sini. Paragraf keempat dan kelima bisa dijadikan pisau analisis.
*
#onedayonearticle
#bloggerpangkep
#lebaran

Pangkep, 7 Juli 2016

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…