Skip to main content

Mother in Child dan Wawancara Menjelang Dua Tahun







Mother In Child
I see forever, alive in your eyes
Breaking the hearts hold
Forever a moment, wasted your love song
On the last of the brave one
Cleansed by time, you will find me
You will find me in silence

Hey ooo wey… teach me to fall to fly
I see forever… mother in child… mother in child

Learning in circles, all what you are
Truth will lead you through fire
Where love comes, love will stay
We burn away

Hey ooo wey… teach me to fall to fly
I see forever… mother in child… mother in child

*
Seingat saya, malam itu sudah pukul dua belas lewat, hampir mendekati pukul satu. Dua nenek perempuanmu, satu emakku dan satu emak emakmu bergantian membantu emakmu menjagamu. Berusaha menenangkanmu jika kau menangis minta disusui tetapi emakmu kadang menampik jika merasakan sakit, efek dari operasinya tiba-tiba kambuh. Dan kau, bayi yang tentu tidak memahami itu. Kau, terus saja menangis.

Dua orang suster selanjutnya muncul. Bukan dipinta datang, melainkan jam membesuk pasien sudah tepat. Mereka datang di saat dua jarum jam sama-sama berhenti sejenak di angka dua belas. Tidak salah lagi, ingatan saya sudah tepat. Saya keluar mencari supermarket yang masih buka di sisa malam. Saya tidak peduli dengan nasihat dua suster itu. Katanya, bayi harus mengomsumsi air susu ibu ekslusif minimal enam bulan. Ya, saya paham soal itu. Di sisi lain, emakmu merintih menahan sakit. Jika bisa, sebentar saja, hanya sebentar setelah sakit itu pergi, maka kau sudah bisa menyusu.

Diam-diam saya menyelinap keluar mencari susu formula. Jalan kota sungguh sepi. Semakin lama, semakin saya menjauh dari lokasi rumah sakit. Di jalan mana lagi ada toko buka di sisa malam ini. Ilham datang, di sudut tertentu, ada lokasi di mana kota tidak benar-benar tidur. Saya menuju jalan Nusantara, dikenal sebagai lokalisasi. Saya meyakini keramaian dari pelabelan wilayah penjaja seks komersial tersebut. Di sanalah saya menemukan minimarket dilimpahi cahaya. Supermarket berjejaring itu memang tidak berada di tengah himpitan klub malam, gedungnya berpisah dari keramaian.

*
Susu formula yang kudapatkan dengan, ah sudahlah, akhirnya tidak jadi kau minum. Disimpan saja hingga pada waktunya susu itu kubuang. Saya buang saja, sebab kau terus saja menyusu di emakmu hingga sekarang. Jika emakmu melakukannya hingga sekarang, ia berdiri di antara dua kesadaran. Air susu ibu memang perlu dan gaji suaminya tidak bisa diandalkan membeli susu formula hingga kau benar-benar tidak membutuhkannya lagi.

Saya harus mengakui kalau emakmu kuat untuk urusan ini. Ia melawan keterbatasan. Saya kira, begitulah hidup dijalankan. Tetapi, saya amati dua tahun berjalan, menyusui, baginya merupakan jalan sederhana. Tidak membebaninya. Bukan rutinitas bangun tergopoh di malam buta mengaduk bubuk susu formula. Dengan demikian, tidak perlu menyediakan air panas setiap saat. Begitu kau menangis, cukup kalian berdua rebahan di kasur atau kau telentang di pangkuannya. Selanjutnya, dunia indah segalanya.

Bagi ibu, menyusui merupakan lagu cinta. Momen yang tak bisa dihapus waktu. Band rock asal Bali, Navicula, menyiarkan tembang bertemakan hubungan intim ibu dan bayinya. Mother in Child, judul tembang itu, terangkum dalam album kedua mereka, Tatap Muka. Tribut terhadap ibu yang setia menyusui bayinya. Peristiwa yang sesungguhnya sedikit. Di petak itu dirasakan perjalanan hidup dari kecil hingga besar. Dari terjatuh dan bergerak untuk terbang kembali.

Lirik tembang Mother in Child saya kutipkan seutuhnya di awal catatan ini. Saya mendengarkan Navicula ketika industri musik sudah lama bergeser dari menyiapkan tape recorder dengan menggantinya gawai. Namun, saya lebih banyak mendengarkan band ini ketika di warung kopi. Layanan Youtube dan Souncloud menjadi pilihan utama memutar tembang-tembangnya. Saya tertarik dengan Navicula karena di beberapa website yang kubaca banyak menyamakan band ini dengan Nirvana, katanya, mengusung musik grunge, genre musik rock yang dahulu di populerkan Kurt Cobain, Dave Grohl, dan Krist Novoselic, personil band yang dibentuk di tahun 1987. Saya memiliki kaset album MTV Unplugged in New York. Di kala senggang, saya masih memutarnya dan mendengarkan dengan hikmat All Apologies.

*
Sebulan sebelum 1 Februari, saya mewancaraimu. Itu cara bermain sembari mengecek perkembanganmu. Rupanya, kau punya adaptasi fonetik dari apa yang kau dengar dan lihat.

Jika saya menunjuk ini, kau menyebutnya:

No
Nama Benda
Adaptasi Fonetik
1
Buku
Apu
2
Minum
Amung
3
Sarung
Anung
4
Mobil
Nono
5
Celana
Nana
6
Karpet
Atte
7
Topi
Aci
8
Bobo
Dodo
9
Tivi
Cici
10
Kipas
Uppa
11
Berak
Eja
12
Sepeda
Eda
13
Ayun
Anung
14
Bantal
Anna
15
Sapu
Apu
16
Mandi
Anni
17
Kecap
Eca
18
Jeruk
Aju
19
Sayur 
Ayu
20
Baca
Aca
21
Bangku
Duduk (Menyebut kata kerja)
22
Bedak
Ba
23
Kerupuk
Oppo
24
Botol Parfum
Ommu
25
Obat Nyamuk
Amu
26
Memanjat
Annya
27
Laptop
Etto
28
Nasi Kuning
Aning
29
Ikat Rambut
Emu
30
Uang
Mama (Menunjuk Ibunya)

Tiga puluh daftar di atas berdasarkan benda yang bisa saya tunjukkan di rumah indekos yang sudah ditempati sekitar lima bulan lalu di Batangase kabupaten Maros. Mengenai mobil, benda itu saya tunjukkan di majalah. Hal menarik, jika uang yang diperlihatkan, Dika Lentera akan menyebut: Mama.

*
Pagi ini saya berangkat lebih dahulu menembus sisa subuh ke Makassar menjalankan rutinitas kerja. Kau masih lelap di rumah nenekmu di desa Kabba. Begitu kau bangun, emakmu akan membawamu ke rumah nenekmu dari pihak emakmu di jalan Andi Caco. Di sana, emakmu mungkin akan membelikanmu kue ulang tahun dengan lilin angka dua. Di hari Rabu, kita kembali berjumpa di indekos. Itu siklus yang saat ini ditapaki.

Begitulah hidup. Menjalaninya perlu ketenangan. Iwan Falls, melalui salah satu tembang lawasnya, Hidup, menuliskan lirik: “Jalani hidup tenang/tenang/tenanglah seperti karang/sebab persoalan bagai gelombang/tenanglah tenang/…”

*
Pangkep-Maros-Makassar, 1 Februari 2016
Catatan terkait:
1. Kau di Dalam Sana 
2. Sabtu Sore Sebelum Azan Asar 
3. Serasa Baru Sehari 

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…