Skip to main content

Orang Tua dan Sepotong Kayu untuk Tuhan




  

Di usia senjanya, seorang tua ingin berbuat sesuatu, membantu masyarakat di desanya yang sedang merancang pembangunan surau. Hanya saja, ia menolak diketahui, entah apa yang ada di benaknya.

Orang tua itu tidak memiliki jejak kelam. Mungkin ogah saja datang langsung ke pantia pembangunan surau seraya memisang sepotong kayu sambil berucap: “Ini sumbangan kayu yang kutebang sendiri yang hidup di kebun belakang rumah. Kayunya sungguh kuat guna dijadikan tiang utama”.

Ia malah bekerja sama dengan seorang penebang, kemudian kayu dari sebatang pohon nangka itu hendak ia hanyutkan di sungai. Harapannya, tentu saja, sepotong kayu itu terhenti di area dekat pembangunan surau. Dan, orang-orang bergembira karena telah menemukan kayu berkualitas tinggi sekaligus bertanya-tanya, siapa gerangan yang telah berbaik hati mengirimkan kayu tersebut.

Niat Si Orang Tua memang demikian adanya, sepotong kayu itu diperuntukkan untuk Tuhan, maksudnya, untuk pembangunan rumah Tuhan. Hanya saja, rencana gilanya tidak sesuai impian. Banjir mengakibatkan debit air sungai meluap. Sepotong kayu itu hanyut entah ke mana.

Padahal, Si Orang Tua berharap kayu itu sampai di lokasi yang dimaksudkan. Sehingga dengan demikian, kelak, ketika ia sudah berkalang tanah. Ia merengkuh tabungan hari akhiratnya. Dan, orang-orang tak henti mengingat kayu itu setiap kali beribadah di surau yang, artinya secara tidak langsung orang tua itu turut diingat. Begitulah harapan sederhana Si Orang Tua.


Teologi Kayu

Muasal kayu bermula dari sebuah pohon. Diolah guna melengkapi konstruksi bangunan atau dijadikan kursi, meja, hingga lemari. Konteks cerita di atas, merupakan fiksi gubahan Kuntowijoyo dalam cerpennya yang terkenal, Sepotong Kayu untuk Tuhan.

Sosok tua dalam cerita memandang kalau berbuat baik itu tak perlu dikumandangkan, cukup dengan niat saja. Walau, rencananya buyar dan kayu justru hilang. Ia sempat gamang sekaligus tetap ada optimis, apakah kayu itu sudah sampai atau belum. Secara lahiriah tentu saja tidak. Namun dari niat, Tuhan, saya kira, maha mendengar dan mengetahui.

Sepotong kayu, bagi Si Orang Tua, adalah simbol pengorbanan atas ketundukan terhadap yang hakiki. Paham keagamaan demikian menguat di masyarakat pedesaan. Karena bagi Si Orang Tua, kayu itulah satu-satunya yang dapat disumbangkan. Meski memang, metode yang ditempuh mengundang perdebatan.

Segala sesuatu akan kembali kepada-Nya. Segala yang ada bermula dari yang ada. Segala yang bermanfaat akan sia-sia jika tidak difungsikan. Ia melihat pohon nangka yang sudah mati di belakang rumahnya itu masih memiliki manfaat jika diolah menjadi tiang pembanguan surau. Begitulah situasi kesadaran yang diampu Si Orang Tua. Paham teologi ini mengantarnya ke situasi abu-abu yang diciptakannya sendiri.


Nenek Asyani

Di dunia nyata, kita mengomsumsi kasus yang dialami orang tua terkait kayu. Dari Dusun Krastal, Kecamatan Jatibanteng, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Menguaklah peristiwa dugaan pencurian kayu oleh Asyani, nenek berusia 63 tahun.

Pelik bagi Asyani, yang melaporkan justru institusi pemerintah, Perum Perhutani. Kurang lebih senasib, Harso Taruno, kakek yang juga berusia 63 tahun, dari Desa Kepek, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta.

Situasi dua orang tua itu berbeda dengan dengan orang tua dalam cerpen Kuntowijoyo. Meski demikian, obyek yang melatarinya sama. Persoalan kayu. Tuduhannya tidak main-main, dianggap mencuri dan merusak margasatwa dalam lingkup hutan yang dilindungi.

Mewujudnya persoalan ini menjadi kasus di persidangan. Melahirkan tanya yang sungguh memerlukan jawaban besar. Apakah perilaku Kakek Harso menebang sebuah pohon sebagai bahan kayu bakar memengaruhi pemanasan global? Juga yang dilakukan Nenek Asyani, andai ia sepenuhnya sadar mencuri tanpa didukung pertimbangan, bahwa kayu itu dalam pengakuannya warisan mendiang suaminya? Apakah Perum Perhutani merugi triliunan rupiah?

Ah! Rasa-rasanya, ini hanya lelucon para pelapor yang berdalih atas nama hukum yang perlu ditegakkan tanpa pandang bulu. Lalu bagaimana dengan pelaku penebang liar di sejumlah kawasan hutan di beberapa provinsi. Sebutlah misalnya, di Kalimantan, Papua, Sumatera, dan Sulawesi. Pernahkah kita dengar Polisi Kehutanan giat melakukan penangkapan atas mereka, para pelaku, yang jelas-jelas sadar menebang pohon lebih dari satu dan telah berlangsung begitu lama?

Bukankah niat Nenek Asyani dan Kakek Harso beserta sepotong kayunya bukan merintis jalan untuk melakukan perdagangan kayu ilegal? Tujuan mereka amatlah sederhana, memperlakukan kayu agar bermanfaat bagi kehidupan.

Anggaplah terjadi peristiwa begini: seorang nenek atau kakek telah menebang sebatang pohon jati, nangka, atau mahoni di area hutan lindung. Tujuaannya, sama dengan orang tua di cerpen Kuntowijoyo. Karena tak memiliki harta benda berupa uang, tetapi ia tetap ingin berkontribusi dalam pembangunan surau di desanya. Satu-satunya yang bisa ditempuh, menyatukan sisa tenaganya menebang pohon kemudian mengolanya menjadi papan atau balok.

Ia sadar, jika ia jujur kalau kayu itu hasil menebang pohon di hutan lindung. Panitia pembangunan surau bakal menolak. Sehingga ia berencana meniru cara orang tua yang diceritakan Kuntowijoyo.  Tetapi, bukankah kayu itu tidak sampai karena dihanyutkan banjir? Ia lalu menempuh cara lain, di malam buta, ketika semua warga lelap. Kayu itu ia angkut ke lokasi pembangunan surau. Dan, esoknya, orang-orang tentu melihatnya.

Persoalan kayu itu mau digunakan atau tidak, yang jelas, bagi Si Orang Tua, niatnya ingin mengirim kayu untuk pembangunan rumah Tuhan. Kemudian di belakang hari, Polisi Hutan mengetahuinya dan memerkarakan orang tua itu.

Di meja hijau, di hadapan hakim yang terhormat, orang tua itu berkata begini: “Niat saya menebang pohon untuk mengirimkan sepotong kayu untuk Tuhan. Tidak lebih. Lagi pula pohon itu saya temukan telah tumbang diterjang angin, kemungkinan untuk hidup lebih lama sangat kecil. Jadi, saya tebang saja, Tuan Hakim! Berharap sampai ke Tuhan.”

***
Pangkep-Makassar, 28 Maret 2015

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…