Skip to main content

Di Bawah Naungan Bambu Runcing, Saya Melihat sebuah Patung Raksasa sedang Tersenyum






Andi Mappe

Sepulang dari rumah kerabat di Tondong Tallasa, Saya dan dan beberapa teman memilih ke taman Segitiga sebelum berpisah, pulang ke rumah masing-masing.

Perjalanan yang melelahkan menerobos siang yang terik, adalah pilihan untuk melepas lelah di salah satu taman di kota Pangkajene itu. Sebelumnya seorang teman menyela, “Mengapa bukan di taman Musafir saja.” Tidak ada yang menggubris.

Sesampai di taman, kami memesan es kelapa muda sebagai penyejuk dahaga. Di samping kiri taman, tampak sungai Pangkajene sedang tertidur. Di depan, bambu raksasa menunjuk matahari, yang di bawahnya berlindung beberapa pebentor sedang berbincang.

Usai bersenda gurau dan menceritakan kembali kejadian-kejadian yang dialami selama perjalanan, saya lalu beringsut ke depan tugu bambu runcing, kupastikan sepasang mataku melihat laju kendaraan yang melambat. Pas di depan sebuah patung raksasa yang sedang duduk memegang tongkat.

Tak ingin sendiri, saya lalu mengajak teman-teman untuk menyaksikan kejadian yang sedang berlangsung. Satuan polisi lalu lintas sedang melakukan pemeriksaan kepada pengendara yang melintas.

Andi Mappe, apakah engkau tidak letih duduk menyaksikan pengendara yang lalu lalang di depan Anda? Atau, adakah engkau sangsi melihat satuan petugas yang  mencegat pengendara guna memastikan kelengkapan surat-suratnya, yang konon kabarnya, oknum Polisi terkadang menjadikan kegiatan itu sebagai penghasilan tambahan. Ah! Entahlah, engkau hanya tersenyum. Sulit rasanya menerkanya.

Andi Mappe yang Terhormat.

Tak jauh dari posisi engkau duduk, terdapat stasiun radio yang dilengkapi warung kopi. Di sanalah guyonan anggota DPRD Pangkep sering berlangsung. Suatu ketika, salah satu LSM menggelar dialog publik bertemakan APBD Pangkep. Isu itu menjadi hangat setelah pemerintah daerah menetapkan anggran belanja pegawai 70% dan sisanya adalah anggaran pembangunan publik.

Dialog itu sangat riuh Andi Mappe! Sekretaris Daerah hadir selaku perwakilan Pemda, dan sejumlah anggota dewan serta aktivis LSM bersama tokoh masyarakat terlibat adu argumentasi. Suasana memanas. Semua berbicara atas kepentingan masyarakat banyak.

Saya yakin, engkau pasti mendengar pembicaraan itu, Andi Mappe. Engkau mengulum senyum kala seorang anggota dewan berkata: “Kami ini sudah bekerja siang dan malam tak mengenal lelah untuk kepentingan rakyat!” Senyummu makin renyah saat salah satu Kepala Dinas yang telat datang memotong pembicaraan anggota dewan itu. Dengan licin ia pun berujar: “Satuan kerja dinas yang saya tangani sekarang ini, telah mencanangkan program yang berkeadilan bagi masyarakat Pangkep yang mendiami tiga tipologi wilayah. Laut, darat, dan pegunungan.”

Andi Mappe!

Kira-kira begitulah yang sempat saya kabarkan, semua merasa sebagai pahlawan yang telah berjuang untuk kepentingan orang banyak. Tetapi, adakah yang mengingat riwayat Anda! Seorang kawan menulis buku perihal sejarah perjuanganmu melawan Belanda, niatnya tulus agar nama Tuan tidak terlupakan. Hanya saja, niat tulus yang demikian masih sangat terbatas di lingkungan pemerintahan di Pangkep. Sebagaimana niat tulusmu angkat senjata melawan penjajah. Meski sampai detik ini, pemerintah pusat belum memberi gelar pahlawan nasional. Tetapi bagi kami, engkau adalah pahlawan yang selalu kami kenang dan banggakan.

***
Makassar, 14 November 2012

Catatan:
Andi Mappe adalah pejuang kemerdakaan di Pangkep, Sulawesi Selatan. Namanya diabadikan sebagai nama Stadion dan Patungnya dibangun di titik nol kota Pangkep.

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…