Skip to main content

Orang Baik Tanpa Negara





“Indonesia harus diurus oleh orang baik, bersih dan kompeten. Republik ini didirikan oleh para pemberani, kaum terdidik yang sudah selesai dengan dirinya.” Tulis Anies Baswedan dalam opininya bertajuk Memenangkan Indonesia  di rubrik opini Kompas (16/14).

Menelaah lebih dalam isi artikel rektor Universitas Paramadina itu, mengantarkan pada dua asumsi. Pertama, interupsi seorang intelektual yang menolak urung angan menyaksikan negeri ini terseok. Kedua, genderang perang bagi peserta konvensi partai Demokrat lainnya atau malah peringatan bagi elite partai itu sendiri bahwa jangan main-main dengan proses konvensi yang telah berlangsung.

Apa yang ditunjukkan oleh Anies Baswedan, hampir ditempuh oleh Nurcholis Madjid, walau itu hanya isu di konvensi partai Golkar menjelang Pilpres tahun 2004. Hadirnya seorang intelektual yang memiliki latar belakang pendobrak zaman memang merupakan angin segar.

Kita tahu, Cak Nur, sapaan akrab Nurcholis Madjid, adalah salah satu yang memberi penyegaran pemahaman menyangkut Islam. Hal yang sama dilakukan Anies Baswedan di bidang lain, sepak terjangnya di dunia pendidikan merupakan gugatan tentang miskinnya kreativitas dalam mendobrak tembok kebuntuan. Indonesia Mengajar dan Kelas Inspirasi, adalah dua program yang ia cetuskan dan berhasil menggerakkan anak muda untuk meraih kembali arti sebuah pengabdian.

Lingkaran

Membaca langkah Anies Baswedan yang berjalan memasuki ruang konvensi dari partai yang di benak publik adalah partai yang bertentangan dengan dirinya sendiri karena partai tersebut getol mengampanyekan anti korupsi, justru bintang iklannya sendiri yang terjerat.

Hal inilah yang rumit dipahami. Tetapi, Anies Baswedan bersikukuh kalau cara baca yang demikian keliru. Orang baik dan jahat ada di setiap partai. Di situlah letak pertarungannya, diam dan sekadar urung angan atau bergerak dan turun tangan langsung merebut posisi strategis.

Lebih lanjut, Anies Baswedan mengajukan pembelaan, ketika negeri ini masih berkutat pada persoalan mendasar, seperti pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, transportasi, dan energi. Tantangan semua partai tetap sama, yakni menjawab kebutuhan dasar tersebut.

Hanya saja, partai Demokrat sulit mengajukan calon presiden setelah hasil Pileg. Jika ingin tetap di lingkaran kekuasaan, partai ini harus terlibat dalam koalisi. Dan, sedihnya, sulit rasanya membayangkan partai ini merancang peta baru menuju istana. Kecuali, jika berhasil mengamankan koalisi partai tengah di mana partai ini dan partai lain yang tidak masuk tiga besar bersatu melawan partai di tiga besar. Utopis memang.

Lagi pula, gagasan kebangsaan Anies Baswedan sepertinya angin lalu dan sulit diimbangi elite partai atau malah tidak dimaknai sama sekali. Jika hal ini yang terjadi, mungkin saja sebagian kader partai Demokrat akan berkata: “Memangnya siapa Anies Baswedan.” Perlu diingat, peserta konvensi juga diikuti kader partai. Marzuki Ali, misalnya, yang sebelumnya mengikuti bursa ketua umum partai tentulah mempunyai nilai tersendiri dan telah memiliki jaringan kuat di internal partai.

Selain itu, penentuan dalam konvensi disandarkan pada elektabilitas peserta dan pertimbangan majelis tinggi partai. Tegasnya, walau peserta memiliki latar belakang yang bersih, cerdas, futuristik, dan mampu mendobrak zaman, bukanlah pertimbangan utama. SBY dan elite partai yang lain, saya kira memiliki kriteria khusus. Jadi, ada lingkaran dalam lingkaran. Dan, Anies Baswedan adalah orang luar yang mencoba memasuki lingkaran.

Tantangan

Kebutuhan dasar yang ringkih menjadi jualan ketimbang menjawabnya dengan solusi. Salah satu hal klise yang tersisa dari Pileg, ialah tontonan mengenai pemenuhan kebutuhan dasar itu. Memberi dan meminta saling berdesakan. Matinya pendidikan politik menjadi sebabnya.

Dengan apakah tantangan itu dijawab, sebuah kredo: Saya relawan bukan bayaran. Menyentil kemanusiaan kita yang juga mengundang iri dan mungkin ketakutan bagi penjaja materi. Anies Baswedan dengan kredo itu, mengingatkan kalau ide lebih berharga daripada rupiah.

Tetapi, mengingat kebutuhan dasar tadi, masyarakat terlalu lapar untuk mengunyah sebuah ide. Saya teringat Gandhi, “Orang lapar lebih butuh sebungkus nasi daripada secarik puisi.” Namun, teriakan Anies Baswedan patut dipertimbangkan dan ditanam untuk dijadikan peta.

Bagaimanapun, orang bersih, baik, dan berkompeten perlu mengambil alih kemudi negeri ini.  Sebab itulah jalan untuk melunasi kemerdekaan yang telah direbut oleh pendiri negara ini.

***
Pangkep-Makassar, 17 April 2014

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Lemari Abdullah Harahap