Skip to main content

Mati Satu, Tumbuhnya Tertatih



 
Melalui obrolan di Facebook, seorang kawan asal Fak-Fak, Papua Barat, yang pernah menempuh studi di salah satu perguruan tinggi swasta di kota Makassar, mengabarkan keinginannya untuk kembali.

Katanya, ia ingin menyusuri sejumlah jalan menjumpai toko buku yang pernah menjadi tempat nongkrongnya. Kusampaikan, bila toko buku di kota ini ada yang tumbuh sekaligus mati. Di sekitaran tahun 2004, ada beberapa toko buku yang muncul, misalnya saja, di samping jalan Bung pernah ada toko buku yang kini telah tutup. Di gedung pusat Dakwah Muhammadyah di Perintis Kemerdekaan, juga ada yang buka walau tidak bertahan lama. Begitupun di jejeran pintu satu dan dua Universitas Hasanuddin. Kini, semuanya telah tiada.

Noy, nama kawan itu yang 15 tahun lalu membangun sebagian jalan hidupnya di kota Daeng, julukan Makassar. Sebagai pemuda Papua yang hendak melanjutkan jenjang studi, Makasar adalah pilihan realistis selain ke tanah Jawa. Ia sungguh mencintai kota ini, kota yang memberinya segudang pengalaman hidup dan mengenal dunia pemikiran.

Awalnya, ingin melanjutkan studi bahasa Inggris. Ia berkisah, kalau di daerahnya, berprofesi selaku guru bahasa asing sungguh menjanjikan untuk kehidupan mapan. Namun, orientasi itu berubah seiring waktu ia berjejak di kota ini.

Kuliah bukan lagi tujuan, tetapi sekadar hobi dan mengedepankan aktivitas di organisasi ekstra kampus, ia berkhidmat di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ruang belajarnya bukan lagi di ruang perkuliahan melainkan di sekretariat lembaga kemasiswaan. Berdiskusi, berdebat, dan kajian pemikiran. Dengan jalan itulah ia mencintai kota ini, bila dikerucutkan, sebenarnya ia mencintai toko buku yang tak pernah ia dijumpai di kota asalnya.

Bila tak cukup uang, ia selalu betah di toko melahap buku yang dianggap perlu. Hampir semua toko buku yang berdiri di sekitaran tahun 1999 hingga 2003 pernah dikunjunginya. Di jalan Letjen Mappaodang, misalnya, di situ pernah berdiri toko buku Arjuda, dan di jalan Cenderawasih, tepatnya di sekitaran Stadion Andi Matalatta, juga terdapat dua toko buku saling berhadapan, sekarang sisa Makassar Agung yang bertahan. Ketiga toko buku inilah yang selalu dikunjungi karena dapat dijangkau bermodal jalan kaki dari indekosnya di jalan Kakatua.

Ia juga rajin bertandang di jalan Bulukunyi, di sana terdapat dua toko buku yang hari ini masih bertahan. Bina Ilmu dan Dunia Ilmu. Ia gembira ketika toko buku Papirus dibuka di Perintis Kemerdekaan, ia kenal baik pengelolanya, yang juga pemilik toko buku Paradigma di jalan Alauddin II, Sulhan Yusuf. Selain itu, ia turut terlibat ketika Safwan Yusuf, adik Sulhan yang juga mengelola toko buku berpindah lokasi dari area kampus I Universitas Muslim Indonesia (UMI) di Kakatua ke Urip Sumiharjo, dekat lokasi eks terminal Panaikang sebelum kemudian pindah lagi ke pelataran masjid di kampus II UMI. Di sanalah, di Perennial, nama toko buku itu yang selalu ia kunjungi.

Intinya, toko buku di kota ini tak sepenuhnya mati. Tetapi, tumbuhnya lama sekali. Mereka yang menolak mati pada dasarnya berbasis komunitas. Kedai Buku Jenny, Kampung Buku, Papirus, Paradigma, dan Perennial. Adalah contoh yang bisa diajukan. Selebihnya yang bertahan, tentulah mereka yang memiliki modal cukup untuk melanjutkan manajemen. Toha Putra di jalan Sultan Alauddin, Promedia di Tentara Pelajar, serta Grahamedia dan Gramedia yang membangun jaringan gerai di pusat perbelanjaan.

Di tahun 2009, Gabungan Toko Buku Indonesia (Gatbi) merilis data yang menyebutkan kalau dari 5.000 toko buku yang terdaftar, kini sisa 2.000 saja yang masih bertahan. Itupun berpusat di provinsi dan tidak lagi di kabupaten/kota. Jadi, di lingkup Sulawesi Selatan, jangan bayangkan kalau di daerah toko buku dapat hidup. Di kota saja tumbuhnya menyedihkan.

Hal itu tentu saja sebagai lonceng peringatan bahwa hari buku se dunia yang ditetapkan pada 23 April oleh Unesco sejak 1995 telah kehilangan konstruksi di negeri ini. Buku sebagai bentuk perayaan kesadaran boleh jadi hanya tersimpan di hati masing-masing manusia yang masih meyakininya selaku fondasi peradaban.

Berdasarkan pengakuan Sholeh Isrey, koordinator publikasi di gelaran Jakarta Book Fair tahun 2012. Jumlah pengunjung jauh dari target yang ditetapkan dari 150.000 orang di hari kerja dan 200.000 di akhir pekan. Malah, hanya dikunjungi sekitar 10.000 hingga 15.000 saja.

Bila Fernando Baez di bukunya Penghancuran Buku dari Masa ke Masa, mengajukan kaum biblioklas, gen orang berpendidikan tetapi tertutup terhadap kritik sebagai aktor utama dalam menjagal buku. Sebaliknya, saya menduga fenomena kembang kempisnya kehidupan toko buku di Makassar, dipengaruhi oleh kegagapan gempita ruang maya dan matinya dunia kajian di lingkungan kampus dan komunitas.

Pada siapa toko buku miskin itu memperoleh penggila buku kalau bukan mereka yang haus ilmu hasil kelabat perbincangan ide di ruang kajian. Inilah tantangan yang dihadapi dalam dunia literasi, buku dan toko sebagai tempat penyalur bagaikan sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Walau saat ini tengah menjamur online shop dan terbukanya penerbitan e book. Tetapi, ada pengalaman yang tak tergantikan kala berkunjung ke toko buku dan mulai menciumi aroma kertas.

Saya teringat di sisa sore di tahun 2003, ketika Noy berjalan menuju kasir hendak menukar sebuah buku dengan rupiah. Di wajahnya terukir garis yang susah ditebak, apakah itu kebahagiaan atau derita. Sebab, yang kutahu, ia akan melupakan makan sehari lagi demi sejudul buku. Seperti itulah caranya mencintai buku.

Nah, bila ia ke kota ini lagi, apakah pengalaman itu yang hendak ia ulangi. Entahlah, sulit menduganya, yang pasti, beberapa toko buku telah mati. Dan, penggantinya tumbuh tertatih. Termasuk toko buku di gedung kesenian Makassar, Societeit de Harmonie pun telah lama almahrum.

***
Makassar, 23 April 2014

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…