Skip to main content

Sabtu Sore sebelum Azan Asar



Ardika Lentera setelah lahir



#1

Pangkep, 31 Januari. Hujan sepertinya enggan mengguyur sebelum ritual Jumatan usai. Awan kelabu bergantungan begitu saja di langit. Hari ini merupakan tahun baru Imlek, umat Tionghoa merayakannya di seluruh dunia.

Tak lama setelah imam mengucap salam. Hujan turun. Deras sekali, sepertinya sedang merayakan kebebasan setelah sebelumnya tertahan. Tak ada waktu menantinya reda, saya ingin segera pulang ke rumah. Usai salat Jumat, adalah kesepakatan untuk ke klinik. Sejak semalam, istriku telah berkelahi dengan sakit yang membuatnya meringis menuntaskan malam. Seperti yang dikatakan dokter kandungan, akhir bulan Januari ia akan melahirkan.

Perlahan hujan mulai reda. Bentor telah menunggu. Siap meluncur ke klinik yang diasuh bidan Tari di jalan Coppo Tompong, tak jauh dari perpustakaan daerah. Mertua perempuanku juga melahirkan anak-anaknya melalui bidan Tari. Dan sekarang, ia tengah menanti kelahiran cucu ketiganya. Anak pertama saya dengan anak keduanya.

Setelah diperiksa, rupanya proses persalinan masih lama. Istri saya yang sudah mengeram sakit dipinta berjalan untuk mempercepat pembukaan. Tetapi, itu sungguhlah sulit. Ia bilang, tak ada lagi sakit sesakit ini. Baring saja sulit apalagi harus bergerak. Namun, itulah cara alamiah yang perlu ditempuh.

Azan magrib berkumandang, mertua perempuanku meminta seorang anak lelakinya segera pulang ke rumah mengambil air doa dari mertua lelakiku. Sejak mula memang, emak istriku selalu menceritakan pengalaman kala ia akan melahirkan. Ia hanya meminum air doa dari suaminya yang membuat segala prosesnya berjalan lancar. Istriku juga mengingatkan sejak awal. “Tidak ada sumur yang mencari timbah,” ucapnya. Tetapi, saya tak jua mengajukan tanya pada sang mertua lelaki.

Sedikit sengal, adik iparku datang membawa sebotol air dan sebuah pesan: “Kau tidak boleh berada di samping istrimu bila sakit menderah, itu pantangan keluarga besar Tetta” Sulit kuterima. Namun saya menurut juga dan berlalu ke warung kopi. Sebenarnya saya tidak membutuhkan cairan hitam itu. Tetapi hal itulah yang bisa kulakukan dengan doa-doa yang coba kurapal.

Telepon datang silih berganti dari saudara, semuanya mengucap kata yang sama. Memang seperti itu. Sakit tak terkira. Setelahnya baru berganti air mata bahagia.

Kucoba menyepakatinya.

Telepon genggamku kembali berdering. Sebuah pesan dari istriku. Wah, apakah ia telah berhasil membunuh sakit dan memintaku segera menjumpainya guna merayakan kemenangan. Pesan kubuka, hampir saja gelas terjatuh. Malah teleponku yang terpental ketika sepeda motor hendak kulaju. Saya harus memesan bentor lagi untuk berpindah ke rumah sakit. Bidan di sana memberikan rujukan.

Istriku menampik bila harus ke rumah sakit umum Pangkep. Pun saya teringat Aisyah, warga desa Panaikang yang harus menerima jabang bayi dalam kandungannya meninggal akibat buruknya pelayanan yang diterima pada Mei tahun lalu. Pilihannya, lebih baik langsung ke Makassar, di rumah bersalin Dika di jalan Wahidin Sudirohusodo (dulu jalan Irian). Istriku memang memeriksa kandungan di sana karena saran seorang kakak perempuanku yang melahirkan kedua putrinya di rumah bersalin yang lebih mirip rumah toko ketimbang ruang beranak itu.

Perjalanan ke Makassar ditempuh di sekitar pukul sepuluh malam. Sesampai di depan rumah toko itu, maksud saya rumah bersalin. Pintu besinya tertutup rapat, pesan kakak perempuanku memang seperti itu bila sudah di atas pukul sembilan malam. Ketuk saja, maka satpamnya akan membukakan. Tunggu dulu, wajah yang muncul di lubang seukuran pigura di pintu besi malah seorang lelaki paruh baya berambut kusuk. Jelas bukan satpam, tetapi ia membuka juga pintu besi. Saya makin yakin kalau ia hanya peronda, sehelai sarung melingkar di bahunya. Mungkin inilah satpam yang dimaksud kakakku itu.

Adik iparku yang turut serta malah lebih dulu menggerutu, tidak yakin kalau yang didatangi merupakan rumah bersalin. Saya hanya menunjukkan papan nama dokter yang menjuntai di ujung atas pintu. Dan, datanglah seorang perempuan berkerudung menyambut kami. Mungkin ia bidan yang lagi jaga malam. Istriku dipinta masuk ke dalam ruangan untuk diperiksa. Saya menurunkan beberapa barang. Tak lama, si perempuan tadi itu memberikan keterangan bila malam ini istri saya belum dapat melahirkan. “Masih pembukaan satu,“ ucapnya. Saya tidak paham apa yang dimaksud. Adik ipar saya menerjemahkan kalau kandungan kakaknya belum siap keluar.

Malam itu kami tidak jadi memesan kamar dan memutar arah ke rumah kakak perempuanku untuk menginap.

Waktu sudah pukul satu malam, sakit tak juga mau beranjak. Istriku mengeluarkan air mata. “Saya tidak tahan lagi,“ lirihnya. Malam itu sepertinya malam terpanjang yang harus dilewati.

#2

Makassar, 1 Februari. Tidak ada mentari, sejak subuh hujan perkasa dan masih menyisakan keperkasaannya menguasai pagi. Saya memilih tidur mengisi stamina setelah semalam suntuk begadang.

Sayup terdengar obrolan emak, kakak, dengan kedua mertuaku. Mungkin mereka sedang bergantian mengutarakan pengalaman kala menanti anak pertama. Kuyakin, emakku tidak mau kalah dengan besannya. Waktu istriku menjalani prosesi mappasili, emakku membiarkan kupingnya dijejali cerita perihal melahirkan anak tujuh orang. Setelahnya, barulah mertua perempuanku mengakui bila besannya lebih super menyangkut anak. 12 kali melahirkan tentulah sulit mendapati tandingannya. Semuanya dijalani di rumah sendiri bekal bantuan dukun beranak. Kala itu jelas belum ada rumah khusus melahirkan. Banggalah emakku, sebab besannya sudah mengenal bidan lulusan sekolah formal.

Tidurku sungguh tidak lelap. Sakit itu rupanya belum mau pergi di tubuh istriku. Sebenarnya sakit yang demikian adalah normal. Sebab kelahiran diawali dengan sakit, dan rasa sakitlah yang mendorong jabang bayi menjumpai dunia. Meninggalkan rumah sepi di perut emaknya. 

Kakak perempuanku memintaku ke rumah kakak yang lain untuk mengambil air doa. Tiba-tiba saja emakku mengingat bila ada kemenakannya yang pandai menyangkut hal demikian. Mendengar itu, istriku menampik. Katanya sudah terlalu banyak air doa yang diminum dan sakitnya belum berhenti. Sia-sia, istriku malah memperoleh teguran dari emaknya. Semua jalan harus ditempuh. Bila ada seratus orang yang mengirim air doa, semuanya harus diminum. Dan berangkatlah saya menerobos rinai.

Sepulang mengambil air doa, derita istriku bukan hanya sakit. Saya ingin marah dan berteriak menghentikan nasihat yang kupikir telah usang. Selama ini memang, istriku kepala batu. Tidak mau menuruti pantangan. Semisal meminum air dingin, ngemil sambil berjalan, dan jarang berjalan di pagi hari. Menyangkut yang terakhir, saya turut menyesal. Saya jarang pulang ketika usia kandungannya sudah sembilan bulan guna menemaninya menyusuri jalanan.

Emakku mencoba mengimbanginya. Katanya, istriku akan melahirkan di sore hari. Sama ketika saya dilahirkan. Waktunya tepat, hari Sabtu. “Tenang dan lawan saja sakitnya,“ mendengar itu, hanya mertua perempuanku yang diam dan memilih baring. Saya sungguh berutang budi padanya, semalam suntuk juga tak menjumpai lelap. Istriku terus saja melanjutkan ringis yang ingin sekali kugantikan posisinya bila itu bisa.

Sekitar pukul sepuluh pagi, taksi sudah terparkir yang dipesan via telepon. Siap mengantar ke rumah bersalin. Saya lebih dulu melaju dengan sepeda motor dan menanti cemas di depan pintu besi. Begitu istri masuk diperiksa, saya mengekor di belakang seorang petugas yang memintaku ke sebuah ruang.  Di sanalah saya mengajukan tanya sehati-hati mungkin dengan volume suara yang kira-kira tidak bisa dikuping kedua mertuaku. Dan, si petugas menjawabnya dengan senyum, seolah ia tahu isi sakuku.

Usai diperiksa, gilirian istriku yang bertanya menyangkut kelas kamar yang kupilih. Senyum si petugas membuatku merasa kalau dompetku tiba-tiba saja menebal. Kuyakinkan kalau semuanya akan teratasi. Jadilah ia rebahan di sebuah kamar yang dilengkapi penyejuk udara, sebuah pesawat televisi dan lemari pendingin.

Saya baru sadar bila rumah bersalin ini bukanlah rumah toko atau semacam gudang. Dari luar memang tidak mirip, tetapi di dalam sudah melengkapi kriteria untuk disepakati sebagai bangunan khusus melahirkan. Mungkin berlaku pula pada adik ipar dan mertua perempuanku yang diam-diam sulit untuk tidak mengajukan pendapat.

Sakit tidak benar-benar menghilang, sedikit reda kemudian datang lagi yang direspons istriku dengan rintih. Berkali-kali ia dipinta untuk tidak mengeluh. “Bersalawatlah, nak,“ mertua perempuanku mengingatkan.

Azan zuhur telah berlalu sekitar sepuluh atau lima belas menit, saya memilih rebahan di salah satu sofa setelah salat. Saat itu tidak ada lagi erang yang kudengar. Sedikit sadar kulihat istriku dipandu emaknya berjalan. Ia juga tidak menegurku dan saya tidak tahu apa yang terjadi beberapa menit kemudian sebelum adik iparku menggoncang tubuhku.

Istriku kini rebahan di kamar bersalin. Tetapi bidan yang menanganinya menggeleng kepala ketika kutanyakan perihal kesiapan melahirkan. Mala memintaku menuntunnya ke kamar USG untuk diperiksa. Ruang itu telah kuakrabi sejak dua bulan lalu, di sanalah saya melihat perkembangan janin di perut istriku melalui layar komputer.

“Ini pilihan, saya tidak bisa menutupinya. Istri Anda tidak bisa melahirkan normal,“ ucap dokter kandungan.

“Saya percaya pada keputusan Anda, Dok.“

Kutemukan sesuatu di mata istriku, saya tidak ingin menatapnya lebih lama dan kupilih keluar mengikuti bidan yang memintaku mengikutinya. Dari tangannya, saya menerima sebuah amplop yang harus kubawa ke PMI. “Pastikan saja golongan darah tersedia. Tidak perlu memesan.“ Tegasnya.

Mertua perempuanku berbicara di ujung telepon. Emakku duduk mengelus kedua lututnya yang sejak beberapa tahun terakhir sering mengeluhkan nyeri. Mertua lelakiku berdiri dengan rokok tersulut. Menerawang jauh sejumlah kemungkinan. Adik iparkulah yang menemani kakaknya ketika saya meninggalkan ruangan segera menuju ke PMI.

Hujan kembali menderas begitu amplop kuserahkan ke petugas di kantor PMI. “Darahnya siap, tetapi saya tidak bisa memastikan satu atau dua jam kemudian, Pak!“ Saya memahaminya dan meminta nomor kontak.

Saya tidak tahu apakah saya perlu segera kembali ke rumah bersalin ataukah tetap menunggu telepon dari bidan. Tetapi saya tidak betah duduk di kursi tunggu di kantor penyedia darah ini. Kusulut sebatang rokok. Itulah yang bisa kulalukan. Dan, kupikir Tuhan tahu saya juga sedang berdoa.

Hujan mulai reda dan saya belum menerima telepon dari bidan. Kutetapkan keputusan, saya harus kembali. Di perjalanan saya teringat pesan adik iparku: “Kata Tetta, jangan mendekat bila istrimu kesakitan. Itu pantangan bagi garis keturunannya,“ kuputar haluan kembali ke kantor PMI. Ada baiknya saya duduk diam di sana saja. Menanti telepon dari bidan, apa pun kabar yang akan kudengar.

Ruang tunggu begitu ramai, ada puluhan orang yang menanti panggilan. Saya juga bertemu dua kerabat lama yang punya maksud sama. Memesan darah. Bapaknya sedang terbaring di rumah sakit Labuang Baji. Sejenak kami melepas kangen dan melupakan sejenak tantangan hidup yang sedang dihadapi karena sudah sepuluh tahun tidak berjumpa. Mereka adalah tetangga saya di jalan Kakatua ketika saya masih sekolah tingkat atas di SMK UMI Makassar.

Lepas kangen tak berlangsung lama, sebab harus sadar kalau yang sedang dihadapi menyangkut nyawa. Saya menjelaskan lebih dulu menyangkut istriku yang menjalani proses operasi anak pertama. Dan ia mengatakan kalau memesan darah sudah menjadi rutinitasnya tiga tahun terakhir. Mendengar itu, saya tidak ingin bertanya lebih dalam.

Azan asar terdengar dan saya belum menerima telepon. Saya memilih diam. Menanti.

Kedua kerabat lama kembali membuka obrolan, kutanggapi apa adanya dan mereka kembali diam.

Kembali kubuat keputusan, saya harus segera kembali. Sepeda motor kulaju menerobos rinai. Mengapa saya belum menerima telepon dan apakah ramalan emakku meleset. Ah! Macet sungguh menganggu. Kusinggah di tepi jalan dan menelepon adik iparku.

Kabar yang sedari tadi ingin kudengar: “Pulang saja, semuanya berjalan baik, tidak usah memesan darah, sudah lahir dengan selamat sebelum asar. Lelaki.“

***
Makassar-Pangkep, 8 Februari 2014

Ardika Lentera, enam bulan kemudian

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Lemari Abdullah Harahap