Skip to main content

Ini atau Itu



Jika direnungkan, kita hidup hanya untuk memilih ini atau itu. Tulisan bertema yang demikian pertama kali saya baca di blog Eka Kurniawan, penulis novel Cantik Itu Luka. Tak berselang lama, tulisan serupa saya dapatkan di blog Erni Aladjai, juga seorang novelis. Saya pikir, kita kadang mengalami hal yang sama.

Liverpool atau Mancester United:

Saya akan memilih Liverpool, sejak siaran liga Inggris disiarkan di televisi Indonesia. Saya langsung kepincut dengan aksi Patrik Berger, penyerang Liverpool asal Ceko. Saat itu Stevan Gerrad masih sering duduk di bangku cadangan. 

Real Madrid atau Barcelona:

Tak dimungkiri, jika ketertarikan kita mengidolakan klub sepak bola tak bisa dilepaskan dari sang pemain. Untuk itu saya memilih Real Madrid, bukan karena Cristiano Ronaldo atau Garret Bale. Melainkan di klub ini Fernando Redondo pernah berlabuh. Aksi heroik pemain asal Argentina ini sangat memukau pada final Champion musin 1999-2000. 

Timnas U 23 atau U 19:

Tegasnya, kedua keseblasan ini telah berjuang melawan takdir untuk mengubah sejarah. Saya pikir tidak adil jika ukurannya adalah sebuah tropi.

Metallica atau Guns N Roses:

Dari kedua band cadas ini, saya lebih senang mendengarkan Nirvana atau AC/DC. Meski ada beberapa tembang mereka yang saya gemari. Seperti Enter Sandman-Metallica dan Civil War dari GNR.

Franky Sahilatua atau Iwan Falls:

Sulit membedakan, selain kedua penyanyi balada ini, saya juga menggemari tembang Ebit G Ade, Doel Sumbang, Gombloh, Leo Kristy, Anto Baret, dan Dama Gaok.

Soekarno atau SBY:

Akh, saya tidak mau panjang lebar, selain Soekarno saya hanya bangga dengan Gusdur sebagai presiden republik ini.

Pramoedya Ananta Toer atau Asrul Sani:

Kedua sastrawan angkatan 45 ini, saya hanya membaca karya Pramoedya. Karya Asrul Sani hanya saya dapatkan di lembaran majalah.

Facebook atau Twitter:

Jika saja bukan karena syarat lomba, saya tidak akan membuat akun Twitter. Dan, Facebook, sepertinya telah menjadi kebutuhan. Hanya saja, layanan Facebook gratis via hape telah ditutup.

LSM atau Partai Politik:

Keduanya bukanlah tujuan, sebagai instrumen untuk terlibat dalam proses pendidikan politik dan pengorganisasian. Saya masih memilih LSM sebagai ruang untuk visi itu.


***

Makassar, 23 Oktober 2013

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Lemari Abdullah Harahap