Skip to main content

Aku Mau Sekolah Seribu Tahun Lagi



Chairil Anwar

Sebuah panggung sederhana berdiri di halaman gedung sekolah, beratap tenda plastik biru. Esoknya, akan diadakan lomba baca puisi untuk menyambut libur panjang usai ulangan penaikan kelas.

Dua hari yang lalu, wali kelas telah menjelaskan ulang siapa itu Chairil Anwar, beserta beberapa puisinya yang harus dibacakan, tak lama berselang, ia mengeluarkan gelas berisi potongan kertas yang digulung ke dalam pipet, serupa perlengkapan arisan. Para siswa diminta untuk mengeluarkan potongan kertas itu melalui lubang kecil yang menjadi penutup gelas. itulah pilihan puisi yang akan dibacakan saat lomba nanti.

Sama dengan dua tahun sebelumnya, saya mengintip di balik jendela menyaksikan teman-teman mengantre. Saya tidak mau terlibat dalam lomba itu, saya ingin menjadi penonton saja. Saya merasa tidak bisa dan dan tidak tertarik dengan lomba baca puisi.

Hari yang dinanti, siswa-siswi yang yang telah menggenggam secarik kertas berisi puisi, tampak tegang, di wajahnya menggantung awan tebal. Tak ada senyum sama sekali, meski saya bertingkah aneh di hadapan salah satu siswa yang merupakan teman sebangku. Ia menampik tingkahku. Rasa-rasanya, ia tak sadar ketika aku berbisik di telinganya. “Kalau kau juara, saya akan mencuri mangga milik tetangga sebagai hadiah untukmu.”

Sepintas, kulirik kertas di genggaman tangan kirinya, ia kebagian puisi berjudul Aku. Ya, puisi itu sangat kami hafal, Chairil Anwar. Guru di sekolah pernah memberi tugas untuk menghafal karya monumentalmu itu, katanya, puisi itu berisi letupan semangat. Ia juga bercerita tentang pengalamannya menjuarai lomba baca puisi tingkat Kecamatan, kala guru kami itu duduk di bangku SMP.

Usai kepala sekolah menyampaikan kata sambutan yang  serupa tahun kemarin, Protokoler mengambil alih jalannya acara. Ia juga memperkenalkan dewan juri dan nama peserta.

Teman sebangkuku itu, menutup matanya rapat-rapat saat namanya disebut. Tanggannya terkepal, tubuhnya sedikit gemetar. “Ada apa.” Pikirku.

Oh, ia, Tuan Chairil. Total ada 20 peserta, 9 siswi dan selebihnya lelaki. Terdiri dari 3 siswi kelas 4, 6 siswa kelas 5, 2 siswi kelas 5, 2 siswa kelas 5, 3 siswi kelas 5, dan sisanya 4 siswa kelas 6.

Teman itu merupakan salah satu perwakilan dari siswa kelas 5. Di antara 30 siswa di kelas saya, teman itulah yang memiliki daya ingat paling kuat perihal karya dan riwayat hidupmu Chairil Anwar!

Musim kemarau kala itu, terik matahari begitu menyengat kulit. Sebagian besar penonton bergeser dari depan panggung mencari perlindungan di bawah rindang pohon Mangga. Saya tetap terpaku di belakang meja juri, sedikit mendapat bayangan tenda untuk berlindung.

Akhirnya, tibalah giliran nama teman sebangku saya disebut. Sesaat ia terdiam, kemudian melipat kertas konsep puisi yang akan dibacakannya, lalu memasukkannya di saku celana. Ia berjalan tegak menuju panggung, meraih pengeras suara, mengucap salam dan menunduk menatap ketiga dewan juri. “Ia ingin membaca puisi tanpa teks,” gumamku.

“Aku, Karya Chairil Anwar.” Suaranya pelan.

“Kalau sampai waktuku/Ku mau tak seorang kan merayu/Tidak juga kau/Tak perlu sedu sedan itu/Aku ini binatang jalang/Dari kumpulannya terbuang/Biar peluru menembus kulitku/Aku tetap meradang menerjang/Luka dan bisa kubawa berlari/Berlari/Hingga hilang pedih peri/Dan aku akan lebih tidak perduli/Aku mau sekolah seribu tahun lagi”

Tepukan tangan bergemuruh, Dewan juri saling menatap. Dan, saya tersenyum sesal. Akh! Saya harus memanjat pohon mangga lagi.

Esoknya, adalah hari untuk mengetahui siapa yang juara pertama. Guru bahasa Indonesia mendapat tugas untuk mengumumkannya secara langsung di atas panggung.

Penyebutan juara diurut secara mudur. Juara harapan 3 diberikan pada…, juara harapan 2, diberikan pada…, dan juara harapan satu, diberikan pada….! Selanjutnya, Juara ketiga, diberikan pada…., Juara kedua, diberikan pada…., dan juara pertama, diberikan padaaaaaaaa…!!! Saya kaget, tidak mungkin guru bahasa Indonesisa kami salah menyebut nama. Saya pun sudah siap untuk mencuri mangga untuk teman itu.

Di selah penyerahan hadiah, saya menemui salah satu juri, mengajukan keheranan soal teman sebangku yang tidak mendapat juara. “Ia, salah sebut pada bait terakhir, coba kamu perhatikan lagi teks puisi itu baik-baik, Nak!” Katanya. Saya menutup mata mencoba melafalkan puisimu, Chairil Anwar. Tak puas dengan itu, saya meraih buku catatan, kueja sedetail mungkin. Apanya yang keliru.

Saya menemui lagi juri itu, “Kelirunya di mana, Pak!” Ucapku, sambil menyodorkan teks puisi itu. “Hehehe, pada bait terakhir, ia menyebutkan, Aku mau sekolah seribu tahun lagi. Semestinya, Aku mau hidup seribu tahun lagi. Paham, Nak!”

Saya berlalu, pulang ke rumah. Dalam langkahku, saya berkelahi dengan diriku sendiri. Apakah saya harus mencuri mangga atau tidak. Ah!

Chairil Anwar, demikianlah suratku ini, cerita di atas merupakan episode ketika masih sekolah dasar. Semoga kau tersenyum di sana.

***
Makassar, 7 November 2012

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…