Skip to main content

Ijtihad Intelektual Garis Miring



Soekarno

Di meja makanmu tersaji tiga menu, kau memakan semuanya, kau bahkan mampu menghafal resep ketiga menu itu, yang lebih fantastis lagi, kau pernah meracik ketiga resep itu menjadi satu resep. Hasilnya, lahirlah Nasakom (Nasionalisme, Agama, dan Komunis).

Kau seorang koki yang andal, tuan! Tentunya, kau perlu menjaga arti sebuah selera agar pelangganmu tidak beralih ke warung lain atau malah membangun warung sendiri. Hanya saja, racikanmu itu tak bertahan lama, mungkin di luar perkiraanmu. Lidah pelangganmu tak terbiasa mengunyah jenis makanan terbaru apalagi itu berupa resep campur aduk.

Tetapi, tahukah kau sang Proklamator! Penolakan atas idemu itu harus dibayar mahal.

Nasionalisme kehilangan bentuk, terasa hambar, dan menyakitkan. Apa kau tahu di mana sakit itu menghantam? Saya yakin, kau bisa menerkanya, karena kau menolak penambangan tanah ibu pertiwi oleh pihak luar. Di eramu, penanaman modal asing (PMA) itu musuh yang harus diganyang, karena kau ingin anak-anak yang lahir dari rahim negeri inilah sebagai pewaris sah zamrud khatulistiwa ini.

Tuan Soekarno!

Kebernasan idemu tak perpahami, padahal kau sengaja memilih garis miring, bukan vertikal atau horizontal.

Lihatlah kini, agama di negeri yang telah kau proklamirkan sibuk saling mengharamkan, bahkan membunuh. Padahal idemu sangat sederhana. Kau hanya ingin berkata: “Kewajiban sebuah negara, adalah melindungi warga dari ancaman penistaan kemanusiaan.” Termasuk prilaku orang-orang yang menyusun agenda kekerasan di balik tembok rumah-rumah ibadah. Karena agama yang kau teladani adalah paham kebijaksanaan.

Bapak Bangsa!

Garis miring yang kau goreskan adalah sebuah tanda. Ya, tanda atas negara yang ditopang oleh keberagaman paham dan keunikan sosial. Sungguh merupakan manifestasi pluralisme.

Saya kira kau mafhum akan keabadian sebuah paham. Sehingga, penyatuan ketiga resep itu hanya sebuah strategi, agar kelak anak-anak di negeri ini dapat tidur bersama dan menyantap makanan secara berkecukupan dengan seleranya masing-masing.

***
Makassar, 29 Oktober 2012

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…