Skip to main content

Cerpen dari Sulawesi Selatan





Dok. Majalah Sastra Lentera: 2012



Karya sastra atau diperas lagi sebentuk cerpen, adalah rekonstruksi dari realitas juga strukturasi pengalaman dan fenomenologi imajinasi serta pembelaan moralitas yang mungkin telah menghilang dari realitas. (Riechard Khuns: 1974).

Mungkin karena bentuknya yang pendek sehingga menjadi salah satu alasan rasional sehingga cerpen yang dipublikasikan ke dalam bentuk buku selalu berakhir dengan antologi (kumpulan). Sebagaimana yang terjadi pada kumpulan cerpen Setapak Salirang (Kumpulan Cerpen dari Sulawesi Selatan), diterbitkan Insist Press tahun 2006.

Karya ini merupakan bentuk gotong royong dari 14 pengarang yang berasal dari komunitas sastra di Makassaar,  masing-masing menyumbangkan sebuah karya dengan mengusung tema lokal. Jadinya, resonansi ingatan kita seakan kembali ke masa lampau, masa di mana telah terjadi pergumulan ingatan dan bahkan pengalaman komunal yang menghampiri setiap jejak waktu anak-anak di Sulawesi Selatan dengan cerita rakyat maupun aneka permainan yang dahulu menjadi pilihan bagi anak-anak.

Simak misalnya, potongan kalimat dalam cerpen Gurenceng yang dibesut Indah Nurwahidah: “Ada beberapa tahap dalam memainkan Gurenceng. Awalnya, tangan kanan melempar bola ke atas. Sementara bola melayang,  si pemain mengambil bola di lantai, lalu menaruhnya di tangan kiri, sebelum menangkap kembali bola yang tadi dilemparkan ke atas” (Hal. 43).

Jenis permainan ini hampir ada di setiap daerah (Kabupaten) di Sulawesi Selatan dengan penyebutan dan penggunaan media yang berbeda. Di Pangkep disebut dengan Gulance, hal ini diakui sang pengarang, menggunanakan bola tenis dengan sejumlah batu-batu kecil, bisa juga penutup botol, dan batu salak. Bahkan di tempat lain, anak-anak  terkadang menggunakan biji buah asam dan lain sebagainya.

Intinya, permainan ini sangat fleksibel tergantung kesediaan media yang bisa digunakan oleh anak-anak yang bisa dijumpai di daerahnya masing-masing tanpa perlu mengeluarkan uang untuk mendapatkannya. Namun, yang menarik dari muatan cerpen ini. Pengarang menyadurkan kisah dengan mengangkat dan sekaligus membongkar paham lama yang bersemayam dalam benak masyarakat kalau permainan ini merupakan sesuatu yang tidak boleh dilakukan. Pamali, jika terus dilakukan maka salah satu dari anggota keluarga akan meninggal.

Diceritakan seorang anak usia sekolah dasar bernama Ida yang mengalami kelambanan dalam berpikir maupun kelemahan fisik. Ia baru bisa berjalan setelah berusia 4 tahun, dan terancam tidak diterima masuk dalam sekolah karena kelambanannya itu. Kalau saja ibunya tidak membawakan kue ke rumah kepala sekolah agar anaknya tetap diakomodasi untuk tetap bersekolah.

Kepandaian Ida memainkan Gurenceng berawal ketika ia datang ke rumah Inna, seorang anak kaya yang pernah mengejeknya, Ida datang untuk menyerahkan selembaran uang 20.000,- milik Inna yang hilang. Dari situlah mata Inna terbuka untuk menerima Ida sebagai teman bermain dan mengajarkan permainan Gurenceng hingga Ida sangat mahir memainkannya dan dijuluki “Ratu Gurenceng” karena tak seorang pun anak yang bisa menandinginya. Dengan kemahiran itu, Ida yang dulu dihindari perlahan menjadi daya tarik tersendiri dengan kelebihannya itu.

Tetapi suatu hari, Cece sepupu satu kali Ida meninggal dunia, dan ibunya memarahi Ida kalau kematian Cece disebabkan karena Ida selalu memainkan Gurenceng. Dengan teguran itu, Ida jatuh sakit. Ibunya baru sadar ketika Kepala Sekolah menyerahkan rapor Ida yang menunjukkan peningkatan yang cukup berarti dalam belajar. Ternyata, permainan Gurenceng yang selama ini dilakoninya perlahan membantu Ida dalam melawan kelambanan berfikirnya menerima pelajaran. Dan, kematian Cece tentu bukanlah karena peramainan Gurenceng yang dilakukan oleh Ida.

Muatan cerpen lainnya dapat disimak pada cerpen “Lojo-Lojo” (Asha Ray). Ini juga merupakan jenis permainan anak-anak yang semuanya ada di masing-masing daerah. Lojo-lojo, lojo pakkanre tai, sare bunga tonjong, jappu. Maka jemari anak yang terlambat diangkat akan tertangkap, maka dialah yang akan mengejar anak-anak lain.

Fase Lojo-Lojo ini juga terkadang digunakan untuk main petak umpet. Jemari siapa yang tertangkap maka ia yang akan mencari anak-anak di persembunyiannya. Melalui cerpen ini, Asha Ray menjadikan permainan Lojo-Lojo sebagai instrumen untuk meneropong batin tokohnya. Amma Lolo, seorang sanro (dukun) yang di setiap kampung di Sulawesi Selatan masih bisa dijumpai. Namun, Amma Lolo adalah seorang sanro passaula (Tukang Urut) yang biasa mengurut perut orang hamil agar nantinya dapat melahirkan dengan mudah, dan tentunya dapat pula menebak jenis janin yang sedang dikandung.

Kecamuk batin itu digambarkan dengan keinginan dasar Amma Lolo yang juga menghendaki seorang cucu dari anaknya, Kasma. Ia sangat ingin melihat cucunya bermain Lojo-Lojo dan memintanya masuk ke rumah sebelum magrib menangkap. Hanya, keinginan itu tak terkabul karena Pai, pacar Kasma tak kunjung datang melamar. Dan celakanya, Kasma telah hamil di luar nikah dan menggugurkan kandungannya atas permintaan pacarnya itu. Namun, di balik diamnya Kasma dan Amma Lolo yang sebenarnya mengetahui hal itu semakin membuat keinginan Amma Lolo terkubur dalam-dalam untuk melihat seorang cucu bermain Lojo-Lojo sebagaimana yang ia lakoni dahulu ketika masih anak-anak.

Dari kedua cerpen ini sudah tampak rekonstruksi realitas yang mungkin saja menjadi strukuturasi pengalaman sang pembuat karya yang dibalut dengan fenomenologi imajinasi untuk suatu pembelaan. Atau sebentuk teriakan moral dari apa yang dulu ada yang kini telah tercerabut oleh kekuatan-kekuatan modernitas yang tak terpahami.

Menelaah keseluruh cerpen dalam antologi ini membawa pada injeksi kesadaran untuk membongkar hal-hal tabu dan mengantar pada paradigma yang terbuka lebar dalam mencecah untuk menemukan makna lain dari makna usang yang sudah terlanjur tertanam dalam benak kita. Hal itu bisa dijumpai pada cerpen “Nandong” (Rahmat Hidayat), yang merefleksikan kembali pada ingatan kolektif perihal keberadaan Parakang (Siluman pemakan manusia dalam legenda Bugis).

Tanpa menapikan cerpen lainnya, Cerpen Setapak Salirang (Nurhady Sirimorok) juga membawa resonansi ingatan tentang hal-hal yang hilang dari suatu desa serta kegigihan seorang Ayah yang memperjuangkan agar anaknya tetap bersekolah.

Selanjutnya cerpen ini menjadi judul utama dalam antologi cerpen yang saya kira menyemburkan pembacaan lain dari sebuah cerpen. Memang bukan suatu model baru, tetapi berpeluang menjadi abadi dengan ingatan-ingatan yang ada dalam benak kolektif setiap pembacanya.

***
Pangkep, 3 September 2011
Dimuat di Majalah Sastra Lentera Edisi I, 2011

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Lemari Abdullah Harahap