Skip to main content

Sudut-Sudut Pangkep Persfektif Kuliner




Dimulai dari bibir jembatan Kalibone sampai di warung terakhir di ujung Mandalle, itulah batas wilayah kabupaten Pangkaene dan Kepulauan (Pangkep) antara kabupaten Maros dan kabupaten Barru.

Dari sana ada sejumlah keragaman yang bisa dijumpai, salah satunya soal kuliner. Jika perjalanan dimulai dari arah selatan, maka tempat persinggahan bisa dilakukan di warung ikan bakar di sepanjang jalan poros ruko Kalibone sampai Soreang sebelum jembatan Male’leng. Lalu, di depan kantor pemerintah daerah Pangkep hingga di pusat kota, jejeran warung Sop Saudara siap disinggahi. Jedah sedikit, jejeran warung dimulai lagi dari Bungoro sampai di Labakkang dan Segeri. Bila dibandingkan dengan warung makan lainnya, jenis warung yang menghidangkan Sop Saudara dan ikan bakar memang lebih banyak.

Selanjutnya, ragam makanan yang lain merupakan warung yang di kelola oleh para perantau dari Jawa, seperti Sari Laut, Bakso, Nasi Pecel, dan lain sebagainya yang tentu tak kalah enaknya dengan hidangan Sop Saudara. Dugaan kuat yang melatar belakangi banyaknya warung ikan bakar itu dikarenakan karena potensi hasil tambak di Pangkep memang besar terutama ikan Bandeng.

Hanya saja, masih terbatas warung yang menyediakan udang bakar sebagai menu hidangan, padahal potensi Udang juga sama besar. Terkait dengan hal tersebut, riset yang dilakukan menemukan kalau hasil udang lebih diutamakan untuk diekspor karena harganya yang tinggi. Sehingga sangat jarang sekali warga Pangkep menjadikan doang sitto (udang ukuran besar) sebagai menu makanan sehari-hari. Hanya sesekali saja bila ada hajatan yang dilakukan, semisal acara pesta pengantin dan hari raya.


Salah satu sudut jejeran Warung Sop Saudara di Pangkep. Dok. Kamar Bawah 2012


Hal lain yang tak bisa dilupakan ketika memasuki wilayah Pangkep, ialah penjual buah Jeruk di kecamatan Segeri yang berjejer di pinggir jalan poros. Hasil kebun yang satu ini memang sangat banyak dan menjadi tumpuan ekonomi masyarakat setempat. Selain Jeruk,  hasil kebun lainnya seperti Jambu Mete juga menjadi ikon, yang hasilnya banyak diekspor ke pulau Jawa.

Sudut-sudut Pangkep lainnya yang menyajikan jenis makanan lokal, adalah jejeran warung Dange di Mandalle. Dange merupakan jenis kue tradisional yang terbuat dari beras ketang dicampur dengan gula merah kemudian dibakar dalam tungku, pada umumnya kue ini hanya disajikan pada acara-acara tertentu saja mengingat bahan dasarnya tergolong langka dan  pembuatannya yang lumayan sulit. Namun kini, kue tersebut bisa dinikmati setiap hari dan setiap waktu.

Satu hal yang harus diingat, bahwa perjuangan para pewarung Dange tersebut untuk terus bertahan sangat luar biasa, yang mungkin dalam benak mereka kalau kegiatan menjual peganan tersebut hanyalah suatu kegiatan ekonomi. Namun di balik dari usaha tersebut. Mereka tidak menyadari akan kontribusi besar dalam memperkenalkan Pangkep di Sulawesi Selatan ini. Sebagaimana pula yang terjadi para pelaku warung Sop Saudara.

Karena akan terpatri di benak kita akan sejumlah asosiasi kuliner di tiap kabupaten, semisal Maros yang terkenal dengan Roti Maros, Jeneponto dengan Coto Kuda, Takalar dengan Jagung Rebus, Pare-Pare dengan Roti Manto, Majene dengan Baje, dan Gowa dengan Putu Cangkir.

Hal ini membuktikan kalau fondasi sejarah suatu daerah tidak hanya ada pada satu titik saja, karena sejarah suatu daerah hingga dikenal tidak diukur hanya dengan titik-titik infrastruktur dari proyeksi kebijakan pemerintah daerah. Karena jika demikian, maka tidak ada keadilan sejarah bagi kaum bawah.

Sebagaimana sejarah klasik yang menjelaskan kalau hanya mengagungkan nama para raja yang memabangun tembok raksasa di China atau Piramid Agung di Mesir. Padahal, ada ribuan kuli yang kelaparan demi tegaknya fondasi bangunan tersebut. Hal seperti itu mengisyaratkan akan begitu banyaknya pewartaan dalam menuliskan ingatan sejarah, sindir Bertolt Brecht, penyair Jerman dalam sepotong puisinya: 

Siapa yang membangun tujuh gerbang Thebes
Di buku-buku kalian akan menemukan nama raja-raja
Namun apakah raja-raja yang menangkut batu berbongkah-bongkah
Dan Babilonia berapa kali dihancurkannya
Siapakah yang mendirikannya kembali? Di rumah mana
Yang bersimbah emas di Lima, tinggal dimanakah para pembangunnya?
Kemanakah, di malam setelah Tembok Besar China selesai berdiri,
Kemanakah para tukang batu pergi? Di Roma yang Agung
Yang penuh dengan kuil-kuil kemenangan, siapakah yang mendirikannya? Caesar menang atas siapa?Bukankah Byzantium, yang dipuja-puji dalam lagu hanya istana bagi para penghuninya? Bahkan di Atlantis yang melegenda, di malam ia ditenggelamkan samudera, samudera menangisi budak-budak mereka… (Suatu Pertanyaan dari Buruh yang Membaca)

Kita tahu betul akan adanya gagasan dalam benak kita untuk diketahui dan dikenal oleh banyak orang dari segi mana saja. Dan, itu tentu membutuhkan suatu rancangan strategis akan pengolahan potensi lokal yang sudah ada.

Kota Pangkep hari ini memang masih terus hamil dan melahirkan sejarah-sejarah sesuai dengan keinginan yang menghamilinya. Artinya arah sejarah masih satu arah, yakni dari atas ke bawah. Inilah konsep sejarah kekuasaan yang bermata satu, menurut Azyumardi Azra (2011), disebut sebagai sejarah dari “pusat”. Akibat akhirnya, cerita yang akan kita dengar hanya berkisar pada kontribusi kebijakan para pemangku kebijakan yang datang silih berganti.

Lalu apa yang harus dilakukan untuk menyeimbangkan ingatan sejarah? Tentu saja ada banyak pilihan selain menggeser pahaman sejarah dari “pusat”. Langkah pertama adalah sikap kepedulian pemangku jabatan di kabupaten ini untuk menancapkan visi yang terukur dalam program lima tahun kedepan, visi itu tidak harus abstrak sehingga memungkinkan masyarakat bawah memaknainya tidak sebagai slogan semata, tapi sebagai spirit yang harus dijalankan. Memang dibutuhkan program yang nyata dalam pembangunan mental agar masyarakat merasa memiliki dan diayomi hak-haknya. Terutama hak akan penguatan ekonomi di tingkat bawah.

Segala bentuk-bentuk gerakan ekonomi yang bersumber dari potensi alam seperti yang telah disebutkan di atas haruslah dibukakan jalur pemasaran yang lebih luas dan menguntungkan bagi pengelola kebun, penjual, dan masyarakat secara umum yang terlibat dalam sejarah komunal pengolahan sumber alam tersebut.

Melalui dinas yang terkait, juga mesti mempunyai program yang jelas dan terukur dalam mengenalkan potensi kuliner yang ada. Karena itu jelas merupakan suatu pendobrak nafas ekonomi bagi masyarakat yang melakoni hidupya sebagai pekerja jajanan kuliner.

***

Pernah dimuat  di Buletin ilalang UKM SENI STAI DDI Pangkep  edisi I Oktober 2009 dan Majalah Mandat edisi IV Agustus-Oktober 2010

Comments

  1. Semangat mengindonesiakan indonesia...
    semangat Indonesia!!
    salam anak negeri

    Blogwalking & Mengundang juga blogger Indonesia hadir di
    Lounge Event Tempat Makan Favorit Blogger+ Indonesia

    Salam Spirit Blogger Indonesia

    ReplyDelete
  2. ya...pangkep memang terkenal dengan kuliner sop saudara sebagai ciri khas pangkep....namun sayang ada pelaku usaha rumah makan di pangkep terkadang melakukan usaha2 penipuan terhadap pelanggang yang dianggap baru datang ke rumah makannya...seperti yang saya alami kemarin sore...rumah makan sumber daya (sebelah kiri dalam gambar di atas) melakukan penipuan kepada saya....sperti biasa tatkala sy melakukan perjalanan dari pare ke mks atau sebaliknya maka sy singgah di rm pangkep untuk mengisi perut yang lagi lapar....biasanya langganan saya rumah makan tujuh-tujuh namun pada saat saya parkir mobil arahnya tidak di depan rm tujuh2 tapi kelewatan sedikit ke arah dekat dengan rm sumber daya...oleh teman sepakat ya sudah di rm sumber daya aja yg lebih dekat padahal sy maunya ke tujuh-tujuh....tp kmi berfikir ya mungkin rejekinya itu rm, krn kita parkir didekatnya....itung2 juga mencoba menunya apakah sama rasanya dg tujuh-tujuh.....akhirnya sy dan teman (berdua) masuk ke rm sumber daya...memesan menu yg biasa nasi+ikan bakar bolu dengan kuah sop tanpa daging......pada saat kami makan ternyata ikannya bagian dalam belum masak masih merah dan terasa dingin...(mungkin ikannya dari kulkas yg baru dibakar)....klo rasanya ya... dibawah dari rm tujuh2....namun yang sangat mencengankan waktu selesai makan dan saya hendak membayar....datanglah kasirnya seorang gadis perempuan bertutup kepala (bukan berjilbab krn prilakunya ga aza) menghitung bp yg sy harus bayar..setelah mengutat katik kalkulator...dia berkata 120 ribu pak (untuk saya berdua)....haa? kataku coba liat apa yg sya makan jangan menipu...menu segitu harganya 120? sya katakan di rm sebelah langgananku (rm tujuh2) menu serupa tidak lebih dari 30 ribu perorang...akhirnya dia kembali mengotak atik kalkulator dan menyebut kembali 85 ribu...yaaa sudah pasrah saja (walapun dongkol dihati) sya pun membayar 85 ribu....saya kecewa atas perlakuan itu...bukan karena sy menbayar 85 ribu (karena biasa juga membayar ratusan ribu untuk makan tp menu yang sesuai)tapi penipuannya yg tidak sesuai antara menu makanannya dengan harga yg harus sy bayar!!!! HATI-HATIKI MAKAN DI RUMAH MAKAN INI (RM SUMBER DAYA) KALO BARUKI KESITU...KARENA PENIPUAN BISA TERJADI PADA ANDA...MENDING DI WARUNG SEBELAHNYA (YG MENURUT SYA JUJUR)...KALAPUN TERPAKSA TANYAKAN DULU HARGANYA SEBELUM ANDA MAKAN....SUPAYA TERHINDAR DARI PENIPUAN SEPERTI YG SAYA ALAMI!!!!

    ReplyDelete
  3. Wah, kenapa bisa begitu, memang sih,warung makan di daerah itu sedikit lebih mahal dibanding di daerah Kalibone, tak jauh setelah lewati sungai perbatasan Maros-Pangkep

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…