Skip to main content

Anarkisme sebagai Budaya Tanding

 


Pada dasarnya penyebutan anarkis terhadap suatu kelompok dicirikan dengan sikap pemberontakan dan tidak menuruti kemauan pemerintah. Istilah anarkis sendiri menjadi melebar di telinga dan merayapi benak masyarakat karena propaganda media massa yang turut mengkampanyekan makna anarkis sebagai sebuah tindakan kekerasan, sering merusak fasilitas publik, atau menutup jalan raya. Anehnya lagi, aksi-aksi mahasiswa yang kerap berakhir bentrok dengan aparat juga di sebut sebagai tindakan anarkisme.

Jadi sejauh ini belum bisa dibedakan antara anarkis dengan tindakan brutal. Mengapa? Karena kurangnya minat untuk menelaah dan mempelajari sebuah pahaman, terlebih karena aksi yang dilihat lebih dititik beratkan pada akibat yang ditimbulkannya. Padahal pengaruh sebuah sebab jauh lebih penting untuk di telaah sehingga tidak memunculkan kerancuan dalam menanggapinya.

KBBI edisi ketiga tahun 2007 terbitan Balai Pustaka. Mendefinisikan anarkisme sebagai sebuah ajaran yang menentang setiap kekuatan negara dan teori politik yang tidak menyukai adanya pemerintahan dan Undang-undang. Sedangkan brutalisme dimaknai sebagai perbuatan yang kurang ajar. Jadi secara pemaknaan teks bisa kita analisis kalau anarkisme adalah sebuah disiplin ilmu sosial yang memiliki pondasi filosofis, pendirian politik, dan pengalaman sejarah yang panjang, meski makna dalam kamus tidak lepas dari kepentingan tendensi ideologi tertentu. Beda dengan tindakan brutalisme yang terjadi karena spontanitas dari person atau kelompok dalam melanggar tata krama yang ada.

Muasal Anarkisme

Jika di lihat dari segi semangat dan bentuk gerakan, istilah anarkisme sendiri bukanlah hal yang baru tapi sudah sering digunakan dan berkembang hingga saat ini dengan nama, gaya dan bentuk yang berbeda-beda. Merujuk pada gagasan William Godwin (1756-1836) yang menjadi inspirasi oleh Owen dalam mengembangkan koperasi sosialis. Sosok terpenting dari anarkisme tentu tak lepas dari tokoh pemikir Prhoudon yang melihat kalau kekuatan modal sinonim dengan kekuatan negara, sehingga omong kosong memperjuangkan nasib kaum proletar dengan bergantung pada negara. Namun pasca Prhoudon, Mikail Bakunin dan Peter Kropktin memaknai sempit semangat anarkisme dengan pendekatan revolusioner dan kekerasan dalam membangun kolektivisme, serta menganjurkan gagasan kalau segala sesuatu adalah milik orang dan pembagian didasarkan pada tingkat kebutuhan. (Mansour Fakih: 2002).

Pada perkembangan praktik anarkisme selanjutnya diadopsi oleh kaum buruh yang melahirkan sempalan baru yang bernama anarcho syndicilsm. Gerakan ini selanjutnya merevisi perjuangan buruh klasik yang sebatas memperjuangkan kenaikan upah. Lebih jauh mereka harus merebut pabrik-pabrik dan menghancurkan kaum kapitalis. Olehnya kemudian kaum buruh juga dituntut untuk menguasai  manajemen dan administrasi pasca revolusi. Singkatnya, kaum anarcho syndicalism di masa lalu sangat percaya dengan kekuatan massa untuk melumpuhkan jalannya negara dan kaum kapitalis.

Secara ideologis, corak anarkisme memang berakar dari ide liberalisme yang memberikan semangat kebebasan individu. Dari sini kaum anarki terbagi ke dalam dua kubu, yakni kaum anarkis kanan dan anarkis kiri. Anarkis kanan dicirikan oleh mereka yang selalu ingin menguasai hak hajat orang banyak menjadi kegiatan ekonomi dan membangun garis demarkasi yang sangat jauh antara kaum miskin dan orang kaya. Belakangan golongan ini tidak lagi disebut sebagai kaum anarkis tapi lebih disebut sebagai kaum kapitalis. Kontras dengan anarkis kiri yang melihat kalau dari proses penguasaan ekonomi secara sepihak akan menimbulkan ketimpangan sosial, makanya mereka mengorganisir diri kedalam bentuk-bentuk perlawanan massal berdasarkan konteksnya masing-masing dan perlawanan-perlawanan secara individu yang terhampar kedalam ragam bentuk medium perlawanan yang konsisten dengan paham anarkisme.

Dari sini dapat kita lihat kalau gagasan awal dari pendirian filosofis dan politik kaum anarkis meletakkan posisi manusia sebagai suatu entitas yang bisa hidup secara alamiah dalam menciptakan tatanan kehidupan yang baik. Pengekangan serta kooptasi pemodal (kaum kapital) dan negaralah yang mengakibatkan manusia terasing dari lingkungan sosial. Di wilayah ini kemudian dijadikan pondasi dasar kaum anarkisme untuk melawan regulasi-regulasi negara yang tidak memihak kaum kecil.

Sehingga lebih tepat kalau dikatakan semangat atau wujud mutakhir dari anarkisme itu adalah gerakan budaya tanding. Kontribusi inilah kemudian yang menginjeksikan semangat dalam berdemokrasi untuk dijadikan acuan dalam menjalankan sistem ketatanegaraan. Semangat ini pula pernah dicontohkan oleh Mahatma Gandhi di India yang membangun bentuk perlawanan nir kekerasan (budaya tanding) terhadap kaum kolonial Inggris.

Di sisi lain, jika kita sering miris melihat hasil akhir dari praktik-praktik hukum positif yang serasa tidak adil dalam mengadili suatu perkara, lalu pada saat persamaan ingatan kita meneropong jauh kebelakang tentang penerapan hukum adat di masa lalu sebagai sesuatu yang ideal, maka pada saat bersamaan semangat anarkisme datang bergelayut dalam hati kita.

Pembusukan-pembusukan seperti itulah yang hendak dilawan oleh kaum anarkis. Tegasnya ada kekuatan kesadaran untuk melakukan tindakan. Jika kemudian dalam praktiknya di lapangan terjadi bentrokan, maka hendaknyalah jangan melihat dari sepotong kejadian saja. Karena pemicu bentrokan bisa muncul dari dua kubu yang berseteru. Kita tak bisa menyalahkan aksi massa yang bisa saja disusupi oknum dengan maksud tertentu  dari kedua belah pihak. Atau keikutsertaan person dalam massa yang tidak lahir dari ruang diskusi, hanya sebatas solidaritas semu dan pengaruh agitasi mobilisasi massa.

Resistensi Sosial

Berdasarkan sejarahnya yang panjang, perlawanan sosial selalu muncul seiring tegaknya kevakuman sosial pada satu titik. Gerakan perlawanan seperti anti proyek pembangunan Narmada Dam di India tahun 1980 terinspirasi dari semangat anarkisme yang tidak pernah mati, sehingga pada tahun 1992 perlawanan ini berhasil mendesak Bank Dunia untuk mengakhiri dukungan finansialnya terhadap proyek tersebut. (Mansour Fakih: 2002).

Semangat anarkisme pulalah sehingga lahir gerakan-gerakan perlawanan yang berskala lokal, nasional sampai internasional. Hal itu terbukti dengan seringnya aksi massa ketika terjadi pertemuan-pertemuan internasional membahas seputaran globalisasi, gerakan anti hutang, dan gerakan bersama menentang watak Neolib sebagai ciri dari penjajahan mutakhir di muka bumi ini.

Dari rentetan masalah yang ada di negeri ini seakan meneror pikiran kita hingga lemas tak berdaya dan tidak bisa lagi mengfungsikannya untuk berfikir analitik yang pada akhirnya membuat kita tidak punya lagi ruang untuk merenung. Bahwa apa yang dilakukan oleh gerakan kapital dunia, merekalah yang lebih brutal dalam memangkas tali-tali kehidupan. Penguasaan sumber daya alam secara sepihak dan diperdagangkan untuk kepentingan korporasi (perusahaan). Maka jangan heran kemudian kalau ada manusia di dunia ini yang memiliki akumulasi kekayaan melebihi penadapatan asli sebuah negara.

Seperti yang diuraikan sebelumnya, secara sederhana semangat anarkisme ada dalam diri tiap manusia. Sikap untuk menentang otoritarian yang ada baik dalam lingkup bernegara maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Bahwa ada nilai dasar kemanusiaan yang hendak diperjuangkan. Secara anarkis, dunia memang tempat pertarungan ide-ide seperti yang dicontohkan dalam sejarah para Nabi. Di mana Nabi Musa menentang Fir’aun, Nabi Muhammad SAW harus berhadapan dengan watak jahiliyah masyarakat Arab, dan cucunya Imam Husain berbenturan dengan kelicikan Yazid bin Muawiah.

Sampai di sini, saya tak ingin melegitimasi data sejarah yang ada, tapi cukuplah kita memaknai ulang tentang hakikat dari anarkisme itu sendiri. Kalau sepanjang sejarah umat manusia semangat untuk melawan selalu ada jika manusia sudah sadar akan ketertindasaanya. Anarkisme lahir karena ada rasa kecintaan terhadap kehidupan yang bisa berjalan normal menuju kebaikan.
***
Pangkep, 17 Mei 2010
Makassar, 27 Februari 2013 (Revisi)

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…