Skip to main content

Soe Hok Gie dan Ingatan yang Menyertainya





Eks Ruang IPRI. Dok. Kamar Bawah: 2010
         

"Catatan ini didedikasikan buat teman-teman Retorika untuk mengenang keangkuhan, canda, kelaparan, dan impian"

Saya masih ingat di tahun 2003 ketika di Yogyakarta, untuk pertama kalinya saya mendengar nama Soe Hok Gie dari mulut seseorang yang bersedia mengantar kami ke tempat yang akan kami tuju di kota Gudek tersebut. Siapa orang ini, sungguh saya tidak tahu. Begitupun dengan nama yang disebutkannya.

Saat itu saya masih kelas tiga SMU dan berani mengambil risiko meninggalkan sekolah selama sebulan untuk ikut serta dalam kegiatan UKM IPRI (Unit Kegiatan Mahasiswa Ikatan Pecinta Retorika Indonesia)[1] . Yakni, Tour Intelektual 2003. Selain Yogyakarta, Bandung dan Jakarta juga menjadi agenda dalam jelajah ini.

Kembali soal Soe Hok Gie, nama ini terus terngiang di benak saya. Tetapi tak cukup waktu berbincang dengan teman-teman. Maklum, nama yang lagi hangat diperbicangkan saat itu, adalah Murtadha Muthahari, Ali Syariati, Tan Malaka, Mansour Fakih, Roem Topatimasang, Pramoedya Ananta Toer, dan Paulo Freire. Maka secepat itu pula nama Soe Hok Gie menghilang dari benak saya.

Sepulang jelajah dari ketiga kota tersebut, saya kembali menjalani rutinitas sekolah sebagaimana adanya. Bangun pagi, pulang jam satu, terkadang azan zuhur di masjid Abu Bakar As Shiddik kampus satu UMI (Universitas Muslim Indoensia), lalu tidur-tiduran sambil membaca buku atau menyiapkan hafalan Alquran untuk saya setor ke esokan pagi pada pembimbing Tahfizul Quran[2].

Kamar saya di asrama Tahfiz berhadapan dengan kamar Khalid. Mahasiswa sastra Arab asal Gorontalo. Ia juga merupakan anggota UKM Retorika dengan ratusan judul buku di lemarinya. Sekaligus anggota Tahfiz dengan hafalan yang banyak. Saya tidak tahu persis berapa Juz hafalannya. Pada suatu simaan,[3] ia membaca juz ketujuh dengan lancar.

Karena sudah akrab denga Khalid, maka setiap saat saya selalu bebas membaca buku di kamarnya. Ia tak begitu mengarahkan untuk membaca buku ini atau itu. Melalui isyarat tidak diutarakan yang bisa kuterka. Ia menghendaki agar buku yang harus saya baca adalah, buku yang tergelatak di atas meja. Sebenarnya lagi, ia sangat menjaga keberadaan bukunya. Karena sesama pecinta buku di kalangan anggota Retorika, terkadang mencuri buku teman lainnya. Saya yakin, Khalid menaruh kekhawatiran yang sama padaku. Makanya begitu saya masuk, serta merta buku ia letakkan di atas mejanya. Tak apalah, sebagai tamu saya senang dengan suguhan itu.

Suatu ketika buku yang tergelatak di atas meja adalah buku yang berjudul Orang-orang di Persimpanagan Kiri Jalan yang ditulis Soe Hok Gie. Hanya, buku itu tak menarik saya baca. Saya lebih senang membaca Madilog karya Tan Malaka.

Hingga IPRI bubar dan kami semua berpisah tanpa meninggalkan jejak sama sekali. Kami serasa tak pernah berjumpa, mungkin karena tak satu pun di antara kami yang memiliki telepon genggam kala berpisah. Dan, Buku Soe Hok Gie itu tak juga saya sentuh. Jika hari ini saya mengingatnya kembali. Sungguh mengingatkan rasa sesal.

Sebagaimana selanjutnya saya memilih ke Sorong, Papua Barat di akhir tahun 2004, ketika Tsunami melanda Aceh. Tak ada perayaan untuk kepergian ini. di sisa magrib yang pekat. Saya meninggalkan Noy, mahasiswa asal Papua yang masih mendekan di sekretariat Retorika, sebutan akrab IPRI dengan sebatang rokok Surya kegemarannya dan secangkir teh. Ia melepas dengan mata yang dijaganya agar tidak tumpah. Tetapi kesedihan itu telanjur saya tangkap. Saya gemetar memulai langkah. Papua itu realitas, kawan. Sampai ketemu lagi, lirihnya.

Seminggu sebelumnya saya hanya berdua dengannya di sekretariat. Melakoni kebiasaan lama, bersandar di tembok dengan buku di depan mata. Tampaknya ia belum juga memulai tanda untuk menyelesaikan studinya. Selama seminggu itu, saya berdiskusi banyak hal. Di antara teman-teman Retorika, cuma Noy yang sudah memulai menulis di buku catatannya,  jika sempat dan punya biaya, ia akan ke rental komputer guna menyalinnya. Setelahnya, ia menujukkannya ke saya untuk dibaca. "Sepertinya saya membaca Ali Syariati. Setiap paragraf mengundang kemarahan," ia tertawa saat kukatakan itu.

Di pekan itu, sudah jarang teman-teman berkunjung. Kalau saja Sukman belum berangkat ke Kediri untuk memperlancar bahasa inggrisnya. Kami pasti masih bertiga dan menertawai tingkah laku mahasiswa sastra yang jarang baca buku.

Seingat saya. Noy jarang menceritakan sepak terjang Soe Hok Gie. Saya juga tak menemukan  koleksi bukunya. Di antara anak Retorika, hanya Khalid yang memiliki buku Gie. Itu mungkin wajar karena peredaran buku di Makassar tak sepadat di Jawa. Terkait buku Catatan Seorang Demonstran hanya sayup terdengar. Seolah buku itu tak akan diterbitkan lagi. Di sepanjang tahun itu pun saya tak pernah menjumpai seseorang menenteng buku itu.

*
Setelah setahun di Sorong, tepatnya 2005 saya melihat video klip di televisi yang melantunkan tembang seperti ini: ....sampaikanlah pada ibuku/aku pulang terlambat waktu/kuakan menaklukkan malam..... yang menyanyikannya nama yang asing bagiku. Namun gitarisnya sudah tak asing lagi. Awalnya saya pikir kalau Eros membuat band baru. Agak lama saya mengetahui kalau tembang itu merupakan soundtrack untuk film yang didedikasikan buat almahrum Soe Hoe Gie. 

Untunglah kasetnya sudah beredar di Sorong. Sepuluh judul dalam album itu menemani hari-hari saya di Sorong dengan fantasi segera pulang ke Makassar dan menonton filmnya. Karena di sini CD/VCD filmnya belum beredar dan jelas tidak ada bioskop.

Setahun kemudian, saya meninggalkan Sorong. Begitu tiba di Makassar saya keliling mencari CD film tersebut. Sial, saya tidak menemukannya. Pada akhirnya saya menonton juga film itu di laptop seorang teman. Sangat memuaskan dan menutup rasa penasaran selama setahun lamanya.

Lalu, kesempatan perlahan menghampiri. di salah satu toko buku di Makassar, saya mendapati buku Soe Hok Gie yang berjudul Zaman Bergerak terbitan Galang Press. Di dalamnya memuat tulisan-tulisan Soe Hoe Gie yang pernah terbit di media. Namun buku itu luput dari pengawasan saya. Tak tahu di mana, yang jelasnya, setelah Sukman sudah pulang dari Kediri dan sering  berkunjung ke rumah. Buku itu tak lagi saya jumpai

*
Makassar, 5 Juni 2013


[1] Salah satu UKM yang ada di Universitas Muslim Indonesia. Lembaga ini bubar dengan sendirinya karena tidak adanya regenerasi setelah semua pengurusnya menyelesaikan masa studi. Anggota terakhir yang selesai, adalah Noy, pada 2005. Mahasiswa Sastra Inggris asal Fakfak, Papua Barat. Ia merupakan anggota Retorika yang terakhir meninggalkan sekretariat Retorika di Kampus I UMI di Jalan Kakatua, Makassar.

[2] Tahfizul Quran juga merupakan UKM yang berada di UMI. Satu-satunya UKM yang memberikan fasilitas seperti asrama, beras, gula, kopi, dan teh pada anggotanya setiap bulan. Syarat untuk bergabung di UKM ini sangatlah sederhana, meski agak sulit. Semua anggotanya diwajibkan menghafal Alquran. Saya sendiri sempat mengahafal sampai 4 Juz . Tetapi hafalan itu perlahan kabur begitu saya aktif di UKM IPRI. Kewajiban di lembaga ini, setiap anggotanya diharuskan banyak membaca buku. Saya kira bukan karena itu hafalan saya kabur. Semuanya ada pada strategi yang saya pakai. Dengan banyaknya kegiatan yang saya geluti. Saya jadi malas menambah atau mendaras hafalan.

[3] Simaan adalah program rutin dari UKM Tahfizul Quran yang diadakan dua minggu sekali. Yakni, setiap anggota tampil membacakan hafalannya dan disimak anggota yang  lain. Kegiatan ini merupakan ajang untuk mengetahui kualitas hafalan setiap anggota.

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…