Orang-orang di Persimpangan Pinggir Lapangan



Mengapa ada pemain yang setia di satu klub dalam karier sepak bolanya dan mengapa ada yang tidak betah dan selalu ingin pergi. Berbedakah situasinya. Ataukah ada hal lain yang selalu dicari. Rasa-rasanya, kita pernah bergumul dengan pertanyaan ini di setapak jalan terjal di kehidupan masing-masing. Apa pun profesi yang dijalani.

Falcao, pesepakbola cemerlang asal Kolombia yang gagal di piala dunia pertamanya akibat cedera. Merupakan contoh terbaik di era sepakbola modern. Berdasarkan data sejarahnya, ia meraih penampilan terbaiknya di Atletico Madrid dengan 52 gol dari 68 kali bermain, dijalani dari tahun 2011 hingga 2013. Di tengah kedigdayaan pasukan Catalan, Barcelona. Falcao tetap menjadi pembeda, sepertinya, dialah satu-satunya penyerang klasik di pentas La Liga yang memakai nomor 9.

Berjarak sekitar 936 mil, kabar itu berhembus dari sebuah klub yang hendak mengulang kesuksesan masa lalu. Setelah kembali berlaga di level tertinggi Ligue 1 Prancis, AS Monaco memasang radar perburuan pemain berkualitas. Dan, Falcao menjadi incaran utama. Begitulah akhirnya, melawan Real Mallorca di Vicente Calderon merupakan laga terakhir berbaju Atletico Madrid.

Tidak butuh waktu lama bagi Falcao mencetak gol, 11 gol dari 19 laga yang dijalani cukup sebagai bukti sebelum terhenti akibat cedera. Setelah pulih, manajemen AS Monaco yang membelinya selangit memilih meminjamkannya ke Manchester United (MU). 26 laga dengan 4 gol bukanlah performa apik bagi seorang Falcao. Setan Merah, julukan MU yang tengah bergerak mencari penemuan jalan ke tangga juara dibawah arahan meneer, Louis van Gaal, melihat Falcao tak ubahnya anak bawang yang baru belajar menendang bola. MU ogah kursi cadangannya diduduki orang-orang pencari suaka (baca: pemain pinjaman).

Memang, selama di MU, Falcao lebih kelihatan sebagai pemain di persimpangan jalan. Apakah ia dibutuhkan selaku individu dalam sebuah tim ataukah sekadar kelinci percobaan sang meneer yang sedang merancang tim impian. Maklum, memegang jabatan manajer Setan Merah, adalah sebuah kutukan, perlu mengulang takdir sejarah yang telah ditorehkan Sir Alex Fergusson.

Benar saja, Falcao berlabuh ke Chelsea, tentu, masih selaku pemain pinjaman. Sedih sekali kedengarannya. Pemain penting yang membantu Kolombia melenggang ke pentas dunia di Brasil setelah absen sejak 1998. Seolah dijadikan sapi perahan saja oleh AS Monaco, sebagai timbal balik, Chelsea meminjamkan pemain mudanya, Mario Pasalic.

Setelah di Chelsea, Falcao seolah mengulang hari-hari di MU. Ketika dipecundangi Manchester City 3-0 di pentas Liga Inggris, Falcao hanya duduk gelisah di bangku cadangan. Ia tak punya daya tarik yang membuat Mourinho berpaling ke arahnya.

“Falcao, lepaskan jaketmu dan pemanasan,” teriak Special One

Dengan anggukan kepala tanpa suara, Falcao segera bangkit mengikuti perintah.

Faktanya, tidak ada percakapan di atas. Falcao hanya melipat keduatangannya di dada sambil menonton.

Ketika di MU, Falcao tidak sendiri, pemain berkualitas dari Amerika Latin yang lain, Angel Di Maria, mengalami nasib serupa. Dengan nilai transfer fantastis, Maria hengkang dari Real Madrid. Mulailah Maria berjalan ke masa lalu, ketika Veron, gelandang elegan Argentina di masanya menjalani masa sulit mengembangkan permainan. Pemain yang dianugerahi nomor keramat (7) dalam sejarah MU itu pun tidak bertahan semusim dan dibiarkan mencari suaka ke Paris. 

Sumber
Boleh disebut, Maria termasuk golongan pemain yang pernah mencicipi sakitnya berdiam di pinggir lapangan. Sungguh sebuah persimpangan sebab harganya memecahkan nilai transfer tertinggi di Inggris yang sebelumnya dipegang Torres, 59,7 juta Euro tentu pertimbangan matang guna mematenkan pemain.

Sejarah berulang, pembelian Di Maria dalam lalu lintas transfer tinggi sedikit banyaknya mirip yang dihadapi  Fernando Torres yang bergantu baju dari merah ke biru. Tahun 2011, Chelsea memboyong striker asal Spanyol itu ke Stamford Bridge. Hasilnya, tidak butuh waktu lama bagi Torres berganti baju kembali. Tidak main-main, dia pun berpindah kompetisi ke negara lain, Seri A Italia dengan kostum AC Milan. Lalu apa yang dilakukan pencetak gol penentu di final Piala Eropa 2008 itu di Chelsea? Ah, kita sama-sama tahulah.

Sumber

Pilihan tepatnya kemudian, Torres kembali ke rumahnya, Atletico Madrid. Klub yang pernah dihuni dua penyerang Chelsea sekarang ini, Falcao dan Diego Costa.

Mengapa terjadi imigrasi pemain bertalenta dalam kurung begitu cepat, banyak hal yang menentukan, di antaranya yang mencengkram roda industri sepak bola modern, ialah keberadaan agen pemain. Situasi lain terletak pada iklim kompetisi di setiap negara. Adapun faktor penentu di luar dua hal tersebut, terjadi pada hubungan individual pemain dengan pemain atau dengan pelatih.

Sumber
Apa yang dialami Teves di Manchester City tetap saja lebih parah yang dijalani Balotelli. Pelabelan pemain Bengal untuknya memang terasa pas. Bermula ketika City memboyongnya dari Internazionale Milan di tahun 2010, loncatan Balotelli dari satu klub ke klub lain sangatlah cepat. “Why Always Me”,  teriak Balotelli yang tertulis di kaus dalamnya sebagai selebrasi usai mencetak gol ketika masih di City. Setelahnya, ia sudah berkaus AC Milan, singgah kencing sebentar di Liverpool kemudian kembali ke AC Milan.

Sumber
Mereka bukanlah orang-orang buangan tanpa tujuan jelas. Kompas sudah ada di tangan sejak memutuskan menjalani hari-hari sebagai pesepakbola. Persolan kemudian diingat pesepakbola yang terpinggirkan salah satu klub yang dibela menjadi soal lain.

***
Makassar, 24 Oktober 2015



Merancang Arsip Keluarga






Ingatan

Di tahun 1997, seorang kakak perempuan saya merantau ke Sorong, saat itu masih provinsi Irian Jaya. Hal  itu dilakukan karena mengikuti suaminya berdagang di sana. Setahun berselang, lagi, kakak perempuan menuju Sorong dengan motif yang sama.

Merantau merupakan satu-satunya pilihan dalam merancang ekonomi keluarga, sebab, bertahan di kampung sama sekali bukan solusi. Pilihan profesi cuma satu, menjadi petani. Sialnya, profesi mulia itu bukan jaminan dalam menjaga sumber ekonomi. Apalagi sebatas buruh tani yang menggarap sawah milik orang lain.

Orangtua merelakan semuanya. Berpisah dengan anaknya setelah menikah. Saya sendiri masih mengisi kesibukan di tingkat sekolah menengah pertama (SMP) kala itu. Satu hal yang kuingat, adalah menunggu surat dari dua saudara dalam mengabarkan kehidupannya. Saban bulan, selalu saja petugas pos bertandang ke rumah membawa surat. Selanjutnya, menjadi pekerjaan saya membaca surat itu di hadapan emak. Juga, menjadi tugas saya menulis surat balasan.

Situasi demikian berlangsung lumayan lama, kira-kira, di tahun 2001, saya masih memeroleh surat sebelum semuanya berganti dengan pesan pendek (SMS) dalam mengabarkan jalannya kehidupan. Perkembangan media telekomunikasi tidak terhindarkan. Memiliki ponsel bukan lagi kuasa orang kaya. Di hari kini, siapa saja boleh membelinya karena harganya terjangkau.

Saya pikir, tidak ada yang keliru dengan perkembangan media komunikasi. Begitulah perubahan bekerja. Satu hal, jika kemudian ada abai yang berjalan. Ialah nasib surat-surat tersebut. Di mana sekarang wujud puluhan atau bahkan ratusan helai kertas yang ditulis tangan itu. Ya, Tuhan! Saya tidak tahu rimbanya. Saat itu menyimpannya hingga waktu yang lama bukanlah prioritas. Padahal, seingat saya, surat itu sangat penting. Kadang, emak atau tetangga meminta dibacakan kembali jika rindu kembali memuncak.

Prosesnya, saya kira, seiring waktu ketika surat bukan lagi bagian dalam berkomunikasi. Maka, surat-surat itu pun raib. Tak jarang, di dalam surat juga diselipkan sejumlah foto. Beberapa di antaranya masih tersimpan. Tetapi, surat itu. Sungguh, tidak ada lagi yang dapat dilihat. Padahal, bukankah sepucuk surat merupakan sesuatu yang berharga dalam merekam peristiwa masa lalu dan bisa dijadikan rujukan di masa kini.

Saling mengabari melalui surat dalam suatu keluarga, tentu menjadi tren dalam kurun ketika jalur informasi belumlah seramai sekarang. Posisi surat menjadi penting sebagai usaha dalam merekam perisitiwa yang dilalui. Di dalamnya, yang ditulis bukan sekadar informasi menyangkut kegiatan yang sedang dijalani. Lebih jauh dari itu semua, ada semangat dalam merekam laku kehidupan.

Lalu, di mana urgensinya sepucuk surat dalam sebuah keluarga. Bisakah surat menjadi pedoman dalam menentukan sebuah keputusan menyangkut sebuah keluarga. Umpamanya saja, mengenai hal-hal dalam menjalankan keputusan kaitannya dengan semua anggota keluarga. Cakupannya bisa saja tidak menjurus ke arah demikian.  Namun, berbicara dalam kenangan di dalam keluarga, surat memiliki posisi kuat. Sebab di dalamnya terkandung sejumlah data pergerakan salah satu anggota keluarga. Tepatnya, jika sebuah keluarga berkeinginan merancang semacam museum keluarga, barangkali memang, surat menjadi penting untuk ada sebagai salah satu arsip.

Kita tahu, sejauh ini, jika berbicara mengenai arsip. Apalagi mengenai arsip sebuah keluarga. Memangnya siapa yang peduli dan apa pula manfaat yang hendak dicapai. Gagasan ini masihlah utopis dan terdengar absurd. Mungkin saja, ada satu keluarga yang memiliki data-data material berupa foto, surat, atau benda berharga yang lain. Namun, besar kemungkinan, kegiatan demikian masihlah kepedulian seorang anggota keluarga saja. Belum menjadi program bersama dalam menyimpan memori yang pernah ditapaki.

Saya sering merenungkan asal-usul kedua orangtua saya. Jika kita bertanya pada emak atau bapak kita. Paling jauh ingatan mereka mentok pada nenek orangtuanya. Lebih jauh ke belakang, tidak bisa diingat lagi. Rasanya, kita pun demikian. Berdasarkan pengalaman, ingatan kita hanya sampai pada orangtua emak dan bapak kita.

Menjadi wajar, sebab informasi mengenai silsilah keluarga hanya  melalui cerita. Tidak berdasar pada tulisan yang dapat disimpan menjadi arsip yang nantinya dapat dibaca generasi selanjutnya. Tidak dimungkiri, tradisi menuliskan silsilah keluarga belumlah menjadi kebutuhan. Paling banter sekarang ini, nama-nama anggota keluarga hanya tercatat dalam Kartu Keluarga yang dikeluarkan Dinas Catatan Sipil.


Proses Pengembangan

Pertanyaan mendasar, apakah ada peluang menuju proses perancangan arsip keluarga. Jika ada, apa manfaat bagi keluarga itu sendiri dan apa kaitannya dengan publik. Selain itu, apa sajakah standarisasi arsip sebuah keluarga.

Jika sering membaca biografi seorang tokoh, maka sesungguhnya kita sedang diajak menelusuri jejak peristiwa tokoh bersangkutan. Dan, bila sudah menyangkut peristiwa, tentu di sana ada tokoh yang lain. Ada data pendukung berupa lokasi atau infrastruktur yang lain. Tegasnya, ada data berupa arsip yang dijadikan sumber rujukan guna melengkapi perjalanan tokoh dalam biografi tersebut.

Artinya, biografi itu tak lain merupakan arsip seseorang kaitannya dengan keluarga dan publik. Tetapi, kembali kepada urgensi pengumpulan arsip keluarga. Biografi boleh saja ditempuh, hanya saja, penulisan buku demikian masihlah tergolong elitis bagi keluarga tertentu. Penulisan biografi sejauh ini masihlah didominasi orang-orang terkenal saja di mana publik merasa perlu untuk membaca kisahnya.


Cakupan Arsip Keluarga

Mengukur adanya sebuah arsip dalam keluarga bisa dimulai dengan penelusuran tertulis berupa surat menyurat antar anggota keluarga. Surat wasiat, surat berharga, atau benda pusaka. Kesemua itu bisa menjadi penanda kalau dalam keluarga bersangkutan menjadikan arsip sebagai peta dalam melestarikan hubungan.

Di titik itu, saya kira, menjadi penting kaitannya dengan proses dalam menjalankan keputusan yang dapat dijadikan pedoman bersama bila saja kepala keluarga mengalami kematian. Jadi, sudah ada ketetapan yang dapat diakses bersama.

Tantangannya kemudian, sejauh mana arsip keluarga ini dapat dijalankan. Apakah proses penciptaan dan penyimpanan segala hal yang dapat dijadikan arsip mendapat kategorisasi. Cakupan yang demikian tentu saja boleh dilakukan. Namun, semuanya tergantung pada kesepakatan dalam keluarga itu sendiri.

Gagasan ini sepenuhnya, merupakan bentuk keprihatinan saya saja melihat minimnya media dalam sebuah keluarga yang dapat dijadikan wisata ke masa lalu. Misalnya saja, ada konflik internal yang menyebabkan renggangnya hubungan antar saudara atau bahkan antara orangtua dan anak. Nah! Di sinilah, peran arsip keluarga berupa foto, surat, atau kalau perlu ingatan dapat berperan sebagai bahan perbaikan hubungan menjadi harmonis kembali.

Peristiwa yang demikian ini saya rasakan ketika saudara saya bertengkar akibat persoalan sepele. Patut dicatat, umumnya keluarga di Indonesia merupakan perantau. Maksud saya, dalam satu keluarga terdapat beberapa anggota keluarga yang melakukan rantau. Meski asumsi saya ini tidaklah didasari proses penelitian. Tetapi, kita dapat melihat fenomenanya saban tahun ketika  menjelang lebaran idul fitri. Arus mudik para perantau sudah cukup sebagai bukti atas keluarga di Indonesia berciri perantau.

Setiap kali mudik itulah terjadi kembali pergumulan melepas rindu. Di antaranya dilakukan dengan rekreasi bersama ke tempat wisata atau menggelar syukuran yang kemudian direkam ke dalam bentuk foto dan video. Proses perekaman itu berpotensi dijadikan rekaman kenangan (arsip) keluarga unruk dilihat kembali dalam menyelesaikan pertikaian.

Masalah sekaligus tantangannya, ada pada kita sendiri untuk mau melakukannya. Caranya bisa dilakukan oleh mereka yang sadar akan pentingnya penciptaan dan penyimpanan arsip keluarga itu.

Saya teringat petuah di novel Milan Kundera, Kitab Lupa dan Gelak Tawa, perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa. Mau tidak mau, kalimat itu mengingatkan akan pentingnya sebuah arsip. Walau konteksnya berbeda. Dalam keluarga pun bisa dimulai proses melawan lupa dengan merancang arsip keluarga sendiri.
***
Pangkep-Makassar, 7 Oktober 2015

Tiada Oranye di Paris





Sumber

Judul di atas bukan plesetan atas buku Seno Gumira Adji Darma, Tiada Ojek di Paris. Ini menyangkut pertaruhan tim sepakbola sebuah negara yang dijuluki Tim Oranye, Belanda. Setelah kalah di pertandingan terkahir kualifikasi Piala Eropa 2016 dari Republik Ceko dengan sekor 3-2. Praktis, tidak ada lagi tiket menuju Paris, ibu kota Perancis di mana pertarungan tim nasional benua biru digelar.

Akhirnya, pesimisme Arjen Robben: “Kami sedih karena nasib tim bukan lagi kami yang tentukan” menemui wujudnya. Tiada oranye di Paris. Meskipun Belanda memenangkan laga terakhir dengan skor 100 kosong sekalipun, tetap saja bukan jaminan. Perbuatan paling keji, Belanda harus berdoa agar Turki kalah dari Eslandia. Mengapa, sebab itulah garansinya supaya Belanda mengikuti babak playoff merebutkan empat tiket tersisa.

Dalam sejarahnya, Belanda telah tiga kali gagal melangkah ke putaran final pertandingan besar, justru ketika dalam tim masih bercokol pemain hebat. Ruud Gullit, Frank Rijkaard, Marco van Basten harus memupus impian berlaga di Piala Dunia tahun 1986 di Meksiko. Patrick Kluivert, Denis Bergkamp, Jaap Stam, termasuk Clarence Seedorf dan si gimbal Edgar Davids tidak merumput di Jepang-Korsel kala Piala Dunia tahun 2002 digelar di dua negara itu. Dan kini, kembali, Belanda alpa di Perancis, seolah mengulang peristiwa 31 tahun silam ketika kota Paris tidak diwarnai lautan oranye di Piala Eropa 1984.

Belanda sebagaimana negara Eropa yang lain, memiliki pembibitan pemain muda yang apik sehingga tidak pernah kehabisan stok pemain hebat di zamannya masing-masing. Tim Oranye hari ini, yang gagal meraih tiket ke Perancis, masihlah sisa Piala Dunia tahun 2010 dan 2014. Tulang punggung tim ada pada Wesley Sneijder, Arjen Robben, Nigel de Jong, Robbin van Persie. Senior ini dipadukan dengan pemain muda bersinar di Piala Dunia 2014, Memphis Depay atau Daley Blind.

Berpijak pada statistik, mestinya Belanda melewati kualifikasi dengan baik-baik saja. Bukankah sisa fondasi tim selaku finalis di Piala Dunia tahun 2010 dan juara ketiga di Piala Dunia berikutnya, tahun 2014 masih berlaga. Tetapi, ada yang belum dapat dijawab oleh pelatih pengganti Louis van Gaal, Guus Hiddink yang, malah mundur usai menerima lima kekalahan dari sepuluh laga selama kualifikasi.

Melanjutkan sisa perjuangan, Danny Blind selaku asisten naik jabatan menemani pasukan Tim Oranye melewati hari-hari penuh teror. Belanda pincang dan tidak dapat menjalankan kerangka kerja Total Footbal sebangga-bangganya. Perlu diketahui kalau van Gaal menolak menggunakan pola menyerang klasik 4-3-3 dan lebih senang mengoptimalkan potensi setiap pemain dengan pola 5-3-2. Hasilnya, Belanda menambah catatan selaku juara tanpa trofi.

Legenda Belanda, Johan Cruyff, menyimpulkan kalau pencapaian di Brasil tidak dianalisis secara tepat, dan pelajaran tidak dipelajari. Sebenarnya apa yang ingin dipelajari dari Brasil. Belanda menempati urutan ketiga setelah mengalahkan tuan rumah 3-0. Cukupkah dikatakan kalau Belanda harusnya berjuang ke Perancis kemudian memasang target masuk empat besar saja. Tentunya tidak, Belanda yang alpa di tahun 1984 akhirya juara empat tahun kemudian di Piala Eropa tahun 1988 di Jeman Barat, Gullit dan van Basten menumbangkan Uni Sovyet dengan masing-masing sebiji gol. Itulah yang diingat Belanda selaku juara yang menjalankan Total Footbal sehormat-hormatnya.

Pelajaran yang tidak dipelajari, adalah peralihan skuat tim. Selepas Piala Dunia 2010, sejumlah punggawa menungundurkan diri dan dilanjutkan calon legenda yang lain. Giovanni van Bronckhorst dan Mark van Bommel mau tidak mau harus angkat kaki akibat seleksi alam, saat itu usianya sudah kepala tiga. Sedangkan John Heitinga yang mendapat kartu merah di partai puncak didepak van Gaal, juga faktor usia sehingga jajaran bek Belanda di Piala Dunia 2014 dijaga wajah baru.

Nah, lantas yang perlu dipelajari dari kritik Jhon Cruyff terletak di mana. Lumayan sulit diterjemahkan. Namun, jika merujuk pada dua gelaran piala dunia. Legenda Tim Oranye itu hendak mengatakan kalau perlu penyegeran di tubuh tim. Tidak perlu semuanya karena seeokor anak ayam butuh bimbingan induknya. Namun, bukankah semua tim melakukan metode yang sama. Perpaduan pemain senior dengan yunior. Sampai di sini, perlukah Belanda belajar pada Spanyol yang menampik penyerang karismatik Raúl González di Piala Eropa tahun 2008. Si Tua Bangka Luis Aragones bertaruh dengan memainkan penyerang muda 24 tahun Fernando Torres dan David Villa 27 tahun.

Sebenarnya kuota pemain muda di Belanda tidak jauh berbeda dengan Jerman dan Inggris. Artinya, skuat tim Jerman dan Inggris masih diisi pemain berkepala tiga dipadu dengan pemain berusia muda. Jika ukurannya sama, sebab apa Belanda gagal memaksimalkan kekuatan pemain senior dengan yunior.

Menggunakan pola 4-3-3 ataupun 5-3-2, Belanda tetap bergantung pada Robben. Sialnya, dua laga krusial di penyisihan, pemain yang bertumpu pada kaki kirinya itu absen akibat cedera. Memphis yang digadang sebagai suksesor kewalahan berkembang. Kelihatan sekali kalau lapangan tengah tidak mengalami koneksi secara teratur. Sneijder sepertinya kepayahan bila operannya langsung ke depan buntu. Biasanya ia punya ruang di sisi kiri yang ditempati Robben.

Kaus yang Tertukar

Sebagaimana Sneijder, van Persie tumbuh di Tim Oranye dengan bayang-bayang pesaing. Huntelaar, adalah penyerang langganan Belanda selain eks bomber Arsenal dan MU itu. Usia keduanya sama, kini 32 tahun, pembedanya, di hari-hari mudanya Huntelaar lebih banyak duduk di bangku cadangan Real Madrid hingga AC Milan ketika di waktu bersamaan van Persie telah menjadi tumpuan di Arsenal sebelum ke MU. Besar kemungkinan itulah alasan Huntelaar sebatas bayang yang setia duduk di bangku cadangan.

Di Tim Oranye, komposisi di Piala Dunia 2014, misalnya, Huntelaar memakai nomor 19 dan van Versie nomor 9. Situasinya jelas, nomor 9 pemain inti dan 19 hanyalah pelapis. Di pertandingan kualifikasi penggunaan nomor punggung kadang tidak begitu pakem. Menggunakan pendekatan semiotik, perubahan pemakai nomor punggung dapat dibaca perubahan situasi.

Filsuf asal Perancis, Roland Barthes, secara sederhana kajian semiotiknya dapat dijabarkan ke dalam dua kategori. Pertama, disebut Denotasi yang berarti makna sesungguhnya dari fenomena yang selama ini dilihat. Jadi, nomor 9 sangat identik dengan pemain berposisi penyerang. Sebelum van Persie, denotasi nomor 9 adalah Kluivert. Setelahnya barulah van Persie. Dan, di laga penyisihan melawan Ceko, nomor yang digunakan Huntelaar adalah 9 dan van Persie memakai kaus nomor 19.

Kembali menyambung kajian semiotik Barthes, setelah denotasi ada konotasi yang bermakna telah terjadi pergeseran namun tetap identik dengan tanda teresebut. Mengapa Huntelaar dan van Persie bertukar kaus. Memang di pertandingan kualifikasi sebagaimana disebutkan sebelumnya, penggunaan nomor punggung tidaklah pakem yang juga terjadi pada tim yang lain. Namun, konstruksi antara van Persie dan Huntelaar yang bermain secara bersamaan menunjukkan tegasnya pergeseran menyangkut ujung tombak, terlepas kemudian gol bunuh diri yang dilakukan van Persie.

Selain penyerang, bayang kembar juga terjadi di lini tengah antara Sneijder dengan Rafael van der Vaart. Usianya terpaut setahun, Vaart 32 tahun dan Sneijder 31 tahun. Di karier klub, Sneijder lebih dulu di Real Madrid (2007-2009) sebelum Vaart masuk di tahun 2008 hingga 2010.

Sneijder menemukan kecemerlangan bermainnya kala di Seri A berseragam Internationale Milan dan meraih trible winner di musim 2009-2010. Sedangkan Vaart usai tersisih dari Real Madrid, ia hanya bermain sebanyak 63 kali dengan 24 torehan gol dari tahun 2010 hingga 2012 di Tottenham Hotspur tanpa juara tentunya. Penampilan di Tim Oranye, sejak 2003, Sneijder telah mencatat 100 lebih dan Vaart yang lebih dulu bermain di tahun 2001 baru mencatat 93 caps.

Jelaslah data persaingan dua gelandang serang ini di Tim Oranye, adanya dua kekuatan yang hampir seimbang menjadi sandungan tersendiri bagi pelatih. Apakah ini nasib sial dua pemain dari generasi yang sama di mana salah satunya harus terlupakan. Persis di sinilah apa yang dialami pemain Belanda, nampaknya terjadi benturan generasi atau terpotongnya siklus pemakai baju oranye. 
***

Makassar, 16 Oktober 2015

Dimuat di PanditFootbal dengan sedikit editing dari redaksi media Sepakbola paling keren itu