Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2018

Pada Sebuah Kapal

NH Dini menulis novel berjudul Pada Sebuah Kapal yang menjadi salah satu karya terbaiknya. Di novel itu, banyak kritikus menilai kalau NH Dini sedang menuliskan sepetak perjalanan hidupnya sendiri.

Judul novel itu saya pinjam di sini untuk menerangkan buku yang ditulis generasi awal penulis kelahiran Pangkep, H Djamaluddin Hatibu. Di tahun 1988, ia telah menuliskan manuskrip kisah perjalanan sebuah kapal yang menjadi armada perang perjuangan pasukan republik di wilayah Sulawesi Selatan.

Buku ini tipis saja, hanya 27 halaman, itu sudah ditotal dengan halaman judul, daftar isi, kata pengantar, ucapan terima kasih, dan sambutan. Di tahun 2008, Pustaka Refleksi menerbitkannya atas bantuan dari Pemerintah Kabupaten Pangkep. Ir. H. Syafruddin Nur, menjabat bupati kala itu menyebutkan kalau perjalanan kapal di buku tersebut merupakan saksi bisu atas jejak perjuangan anak bangsa melepaskan diri dari penjajahan.

Muasal kapal yang kemudian dijadikan armada perang itu bermula dar…

Bacaan Anak Zaman yang Lahir Lalu Mati Muda

Tidak banyak media yang mengusung tema tertentu beredar luas di daerah. Di sejumlah kota besar pun jenis media cetak melulu membebek pada arus media utama. Jika ada, hanyalah berupa tabloid atau selebaran yang dikerjakan komunitas masyarakat atau di lingkup mahasiswa.

Di Pangkep, pernah diusahakan oleh sekumpulan anak muda yang tergabung di Lentera. Lembaga yang lahir di tahun 2011. Memilih tema segmentif tentulah berisiko tinggi, mana lagi bila ingin dikelola dengan manajemen bisnis. Perih memang. Dan, Lentera bertaruh untuk itu.

Majalah yang dirancang didedikasikan pada pengembangan dan apresiasi kesusatraan, sejarah, kebudayaan, serta analisis keunikan sosial. Memberi ruang yang sebesarnya bagi penulis pemula maupun yang sudah lama merambah belantara dunia kepenulisan. Tegasnya, majalah tersebut hendak melawan kemandekan literasi di tengah masyarakat.

Sebagaimana selanjutnya, edisi perdana Majalah Sastra Lentera, demikian nama media tersebut, terbit dengan oplah tida…

Cerita Kesaksian

Pada dasarnya catatan memanglah endapan kesaksian. Di dalamnya terangkum beragam pengalaman yang disusun secara sistematis, sporadis, atau malah acak saja. Semuanya bukan masalah. Intinya mencatat kesaksian merupakan upaya memberikan nyawa untuk hidup.

Surat Cinta untuk Bidadari Kecilku di Surga, buku kumpulan cerita Etta Adil yang merangkum kesaksiannya ini menawarkan sudut pandang literer. “Ada banyak cerita yang telah saya tuliskan di blog atau sosial blog. Cerita-cerita tersebut terkategori sebagai cerita pendek, cerita mini, catatan harian…” Tulis Etta di catatan pengantar.

Kategorisasi penulisan yang dimaksudkan merupakan kunci untuk memberikan jarak kepada pembaca agar menjadi dasar menelusuri muatan kesaksian. Terdapat 21 cerita yang bisa dipilih sesuka hati untuk mengenal ruang yang pernah dilalui Etta dalam perjalanan hidupnya.

Buku ini sekaligus memberikan kesan yang lain dari sosok Etta, yang merupakan nama pena yang digunakan M Farid W Makkulau. Kita ketahui …

Mengeja Kegelisahan Zohra Andi Baso

Zohra Andi Baso di Sulawesi Selatan, adalah sosok yang tidak lepas dari perannya selaku pejuang hak konsumen. Memimpin Yayasan Lembaga Konsumen (YLK) Sulsel sejak tahun 1992 telah menjadi tonggak keteguhannya untuk terus peduli pada pengguna akhir sebuah produk, yakni konsumen.

Zohra lahir di Labakkang, Pangkep pada 17 April 1952. Menyelesaikan studi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Hasanuddin tahun 1980, kemudian S2 ditempuh di Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 1984. Gelar akademik yang didapat tidak digunakan kembali ke kampus menjalani hidup sebagai dosen. Zohra memilih keluar dan aktif di organisasi non pemerintah (Ornop).

Buku ini merupakan kumpulan makalah yang dibawakan kala mengisi lokakarya, seminar, atau pun diskusi yang ditapaki dari tahun 1995 hingga tahun 1999. Terbit di tahun 2000 silam. Tentu sudah banyak situasi kurang relevan degan hasil perkembangan situasi sekarang ini. Namun, masih banyak yang dapat dipelajari mengenai jejak wacana…

Sehimpun Tragedi

Saya mengingat Irhyl R Makkatutu sebagai teman di Facebook, entah siapa yang memulai melayangkan permintaan pertemaman di media sosial bikinan Mark Elliot Zuckerberg itu. Sebelumnya, namanya kerap saya baca di rubrik Budaya Harian Fajar, cerpennya selalu dimuat di sana.

Di tahun 2012, kami berjumpa kali pertama di kedai baca Sipakainga, ruang baca yang didirikan seorang tua, Anwar Amin di jalan Veteran Selatan, Makassar. Entah lagi, perjumpaan itu dimulai dengan janji ataukah pertemuan tanpa rencana. Satu yang pasti, kami saling bertukar buku. Ia menyerahkan kumcer berisi cerpen dari banyak pengarang di dalamnya. Hal yang sama saya lakukan, memberinya kumcer yang isinya buruk sekali.

Setelah itu, bisa dikatakan, sewindu gerimis berlalu, kami tak pernah berjumpa. Di Facebook, sebatas saling mengelik suka pada status yang dianggap perlu. Sekali dua kali, jika sempat membeli Fajar edisi Minggu, kadang menjumpai cerpennya dimuat. Ia lelaki yang produktif menulis cerita.
D…

Mereka yang Menyapa Dedaunan

Biar lambat asal selamat. Pepatah lama ini bisa jadi, sepenuhnya bukan semboyan yang dijadikan kompas hidup. Tetapi, sangat berguna bagi mereka yang menolak selalu tergesa.

Jumat sore, 25 Maret, Zul dan Koko sudah menyiapkan tunggangan yang akan digunakan menantang jalan berkelok menanjak menuju perkampungan di kaki gunung Bulusaraung. Desa Tompobulu. Tur yang dinamai Camping Ground Pangkep Bersatu itu melibatkan lima klub motor scooter di Pangkep.

Kelima klub pecinta sepeda motor berbodi montok itu, Vespa Indevendent Pangkep (VIP), Persaudaraan Scooter Kabba (PSK), Pangkep Scooter Club (PSC), Vesva Comunty, dan Komves. Mereka berkumpul dan melakukan turing bersama sebagai sarana dalam mengikat emosional sesama pengguna scooter.

Zul dari PSK yang menggunakan scooter produksi tahun 1988, mengungkapkan kalau turing kali ini merupakan jelajah dalam mengunjungi desa terpencil di Pangkep. “Jika selama ini turing selalu identik dengan perjalanan luar daerah, maka PSK dan klu…

Di Balik Selimut Malam di Sumpangbita

Pagi yang yang cerah pada Sabtu, 26 November menjadi penanda kalau kegiatan kamping bersama sejumlah komunitas di Pangkep yang dinamai Sumpangbita Youth Camp bakal berjalan sesuai yang diharapkan.

Sungguh, di hari yang telah ditetapkan selama dua hari itu, jika bisa, hujan jangan turun dulu. Kekhawatiran tumbuh karena pada Jumat, 25 November, hujan menderas mulai dari sore hingga malam.

Secara berangsur, sejumlah komunitas mulai berdatangan ke lokasi memasang tenda dan menunggu sesi dialog sebagai program pertama yang dilakukan sekitar jam empat sore. Sebuah tembang yang dilantunkan Eno dari KPJ berkolaborasi dengan Pio dan salah satu narasumber, Badauni AP menjadi pembuka.

Selanjutnya, Rahmat HM dari Pangkep Initiative memandu jalannya dialog. Rintik hujan sempat turun namun tak berlanjut menjadi guyuran. Dialog tetap berjalan alot dan santai. Peserta kamping setia mendengarkan hingga semuanya selesai.


Dialog dihadirkan sebagai ruang saling bertukar informasi mengenai …

Hikayat Pemuda dari Gunung

Penyebutan orang dari gunung di Pangkep merujuk pada masyarakat yang mendiami Kecamatan Tondong Tallasa dan Balocci. Masyarakat di dua kecamatan ini lekat dengan minimnya angkatan pendidikan. Tetapi itu dulu, terjadi di dekade tahun 80 an hingga akhir 90 an. Sekarang sudah merata karena telah tersedia sekolah menengah atas (SMA) yang mungkinkan angkatan muda tak perlu ke kota bila ingin melanjutkan jenjang pendidikan.

Salah satu pemuda asal Tondong Tallasa, tepatnya dari desa Bantimurung, Misbah Maggading, memilih melanjutkan di Madrasah Aliyah (MA) Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) Baru-Baru Tanga di tahun 2004 untuk tetap melanjutkan pendidikan selepas menyelesaikan SMP Negeri 2 Tondong Kura. Meski kala itu di Tondong Tallasa sudah ada SMA, Misbah memilih masuk pesantren untuk memperdalam ilmu agama.

“Sepupu saya lebih dulu sekolah di sana. Saya tertarik mengikuti jejaknya karena di kampung saya sekolah agama tidak ada. Saya ingin memperdalam ilmu agama supaya bisa kembali…

Merindukan Sosok Rabiah di Pulau, Daratan, dan di Gunung

Bagi Anda yang telah menyaksikan film dokumenter Suster Apung garapan sineas muda Makassar, Arfan Sabran, tentulah teraduk nurani menyaksikan perjuangan tanpa lelah dan menolak imbalan dari masyarakat dalam menjalankan tugasnya selaku suster di wilayah kepulauan terluar Pangkep.

Film dokumenter ini menjadi pemenang pertama di ajang Eagle Award tahun 2006 yang diselenggerakan Metro TV. Tak disangka, justru lewat film inilah kiprah Rabiah baru diketahui publik Pangkep secara luas. Padahal ia sudah menggenapi takdir hidupnya selama puluhan tahun menjadi pelayan kesehatan di pulau.

Ia bukanlah lulusan dokter spesialis tertentu dari universitas ternama. Ijazah formalnya hanya setingkat sekolah petugas kesehatan (SPK). Dulu disebut penjenang. Tetapi, masyarakat yang dihadapi tidak mau tahu soal itu. Yang ditahu, Rabiah bertugas di Puskesmas dan wajib melayani pengobatan di tengah masyarakat.

Rabiah menerima anggapan general itu dan berusahan bekerja semaksimal mungkin. Tak m…

Kepala Anak Muda Itu Kantor Paling Sibuk di Dunia

“Saya cuma menumpang lahir di Makassar, kedua orangtua saya orang Pangkep. Jadi saya juga orang Pangkep.” Ujar Rahmat HM. Pemuda lajang kelahiran tahun 1988 di balik hadirnya Pangkep English Club dan Pop up Library, ruang baca di ruang publik di kota Pangkajene, ibu kota Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan.

Letak Pangkep berjarak sekitar 50 km di sisi utara Makassar, ibu kota provinsi Sulawesi Selatan. Dari 24 kabupaten dan kota, Pangkep dikenal sebagai kota industri tambang. Pabrik semen terbesar di Indonesia Timur bercokol di sini sejak tahun 1964. Bentangan karst hingga ke kabupaten tetangga, Maros, menjadi nomor dua terbesar di dunia setelah Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Sebagai wilayah yang dianugerahi sumber daya alam melimpah. Selain pabrik semen, terdapat pula ratusan perusahaan tambang marmer. Faktor inilah yang menjadikan Pangkep selalu menempati tiga besar di Sulawesi Selatan mengenai pencapaian Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (…

Selama Bola Masih Bulat

Kamis sore, 10 November tahun lalu, sekitar 20 anak-anak asyik menyepak bola di lapangan stadion Andi Mappe, Pangkep. Selintas saya menyaksikannya dari pintu stadion. Sejauh mata memandang, aktivitas yang berlangsung di dalam stadion hanya anak-anak itu dan tiga ekor sapi di sudut stadion sebelah barat sedang memamah rumput.

Di stadion inilah tim Porda Pangkep dikalahkan oleh tim Porda Kota Palopo di laga final melalui adu penalti di tahun 2010 silam. Saat itu keriuhan pendukung tuan rumah memenuhi stadion. Bersorak di sepanjang pertandingan meski kemudian tim yang didukung harus kalah.

Itu pengalaman yang tak terlupakan bagi siapa pun yang hadir. Tak terkecuali bagi Pak Syamsul, salah satu nama di jajaran tim Porda Pangkep yang bertugas menyeleksi pemain. Di sisa sore itu, rupanya, anak-anak yang bermain bola merupakan anak didiknya yang semuanya merupakan siswa dari SDN 533 Mattoanging, Kelurahan Pabbundukang, Kecamatan Pangkajene.

Semula tak menyangka. Sebelumnya ju…

Menunggu Pesanan Putu Cangkiri Nenek Jaliah

Selepas asar, sejumlah penjaja makanan di tepi sungai Pangkajene mulai mendirikan tenda dan menata kursi. Seiring sore berganti senja dan perlahan malam datang, perjumpaan pedagang dan pengunjung makin terjalin.

Di sisa sore pada Minggu, 19 Februari, seorang perempuan tua turun dari bentor dan mulai menata tempat jualannya. Sebuah payung lipat ukuran besar yang biasa dipakai di tepi pantai mulai dipasang. Dua meja kecil disusun membentuk huruf L.

Di bawah payung besar yang dijadikan tenda itulah ia duduk dengan kompor gas di samping kanan dan di depannya lemari kecil bersusun dua tempat menyimpan kue putu cangkiri dagangannya.

“Saya menjual putu sejak Pak Baso,” ucapnya. “Pak Baso itu yang membangun patung tangan di sudut jalan.” Ia menerangkan lebih detail tentang bupati Pangkep yang menjabat pada 1994-1999 itu.

Keriput di wajahnya seakan bukan tanda lelah begadang hingga pukul sebelas malam. Ingatannya juga masih jernih. Ia bisa membedakan yang mana pembeli yang tel…

Membincang Pelayanan Kesehatan di Pangkep

Di Teras Inspirasi, demikian lokasi itu dinamai di sisi Barat halaman di stadion Andi Mappe Pangkep. Pas depan warkop D’Corner. Berjarak sekitar satu kilo dari ruas jalan poros Trans Sulawesi yang mulai ramai dilintasi pemudik meninggalkan kota Makassar menuju kampung halamannya di sisa Ramadan 1437 H. Sejumlah orang dari pelbagai kalangan malah tengah membincang persoalan publik.

Upaya itu dilakukan Komite Komunitas Demokrasi Pangkep (KKDP) didukung sejumlah lembaga, Koalisi Perempuan Indonesia Cabang Pangkep, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan Stand Up Indo Pangkep. Serta media online, Bebas Batas.Com juga Saraung.Com. Menggelar dialog publik mengetengahkan isu pelayanan kesehatan di Pangkep.

Program ini merupakan lanjutan dari dialog yang sudah dilakukan sebelumnya di lokasi yang sama sebagai respons atas rentetan peristiwa menyangkut pelayanan kesehatan. KKDP telah mengundang instansi terkait guna mengefektifkan tema dialog yang diangkat, Menggeledah Pelayanan Kese…

Mengubah Tidak Takut Menjadi Malu

Memasuki pukul 20.30, tatanan kursi di Teras Inspirasi depan D’Corner tampak masih lowong. Hanya beberapa saja yang sudah mulai terisi oleh mereka yang meluangkan waktu mengikuti dialog publik sesi kedua yang digelar Koalisi Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) Pangkep.

Barulah pada pukul 20.45, Pio, musisi lokal di Pangkep yang didaulat mengisi sesi hiburan mulai melantungkan tembang Tak Biru Lagi Lautku yang dipopularkan Iwan Falls. Tampil solo memainkan organ menjadi ajakan bagi peserta dialog yang lain mulai mengambil posisi duduk. Ruupanya nyanyian itu dipahami sebagai kode kalau dialog sebantar lagi dimulai.

Dan, sesaat Pio mengakhiri nyanyiannya, tampillah Archut, sapaan akrab Muh Syahrir, selaku moderator yang akan memandu jalannya dialog. Masih dengan ciri khasnya, ia selalu berhasil menguasai suasana dengan joke yang, mau tidak mau orang harus tertawa.

Irfan Syamsir, pemuda asal pulau yang masih berstatus tahanan kota karena tindakan beraninya mengammbil selang ko…