Skip to main content

Total Football Suatu Ketika



Sumber gambar di sini

#1
Di luar taktik permutasi antar pemain, gaya Cruyff berlari bersama bola kemudian menarik bola dengan kaki kanannya ke belakang lalu pemain lawan yang mengintainya terkecoh karena mengira si kaki panjang terus melaju.

Di dekade 70 an, Tim Oranye dua kali tembus ke final Piala Dunia (1974 dan 1978) sekali itu pula berakhir juara dua. Dunia terhenyak, penemuan baru dalam taktik sepakbola diperagakan. Formasi lima bek sebagai ketakutan dihujani gol dilabrak. Menyerang adalah pertahanan terbaik. Empat bek sudah cukup.

Anak-anak yang dilahirkan dan ditakdirkan berseragam oranye menerima warisan memainkan sepakbola sebagaimana pendahulunya. Itu identitas tim nasional yang tidak bisa ditawar. Sudah 44 pelatih sejak 1905 dan Rinus Michels bolak balik sebanyak empat kali hingga tahun 1992.

Michels membutuhkan 14 tahun setelah final 1974 yang kemudian sadar kalau tiga Cruyff baru cukup: Gullit, Rijkaard, dan Basten di Piala Eropa 1988 demi pembuktian keampuhan Total Football.

#2
28 tahun usai pesta di Jerman Barat, tiada Oranye di Perancis di tahun 2016 justru ketika Robben, Sneijder, dan van Persie masih dalam sehat bugar. Usai final Piala Dunia 1978, dua perhelatan setelahnya, Spanyol 1982 dan Mexico 1986 publik melupakan Total Football.

Umpan indah Frank de Boer dan penyelesaian puitis Bergkamp memaksa Argentina pulang di tahun 1998. Menantang Brasil, Bergkamp bermain teater. Ia menjatuhkan badannya dan memberi umpan matang ke Kluivert dengan dadanya untuk menyamkan kedudukan. Sial, Total Football takluk dalam adu penalti.

Di Korea-Jepan 2002 tidak ada Total Football di Asia. 8 tahun setelahnya, 22 tahun setelah Cruyff menanam benih di Catalan kala menahkodai Barcelona selaku pelatih. Anak-anak Spanyol, utamanya skuat Barcelona yang tumbuh di dekade itu menggunting kesempatan ketiga Oranye di final Piala Dunia 2010.

Menuju perburuan emas di Amerika Selatan 2014, memang, Tim Samba tak berdaya di hadapan Total Football, tetapi itu perebutan tempat ketiga. Ya, paling tidak dendam 16 tahun sebelumnya di Perancis terbalaskan.

#3
Trio Belanda yang diangkut Berlusconi ke AC Milan, hanya Gullit yang belum menjabat kepelatihan Oranye, Rijkaard dan Basten sudah berusaha. Tahun ini Oranye terseok menuntaskan kualifikasi menuju Rusia 2018. Danny Blind dipecat dan nama eks si gimbal mencuat sebagai pengganti.

Surplus generasi di akhir dekade 1990 an hingga pertengahan 2000 an, melahirkan matahari kembar. Vaart, Sneijder, Robben, dan Huntelar pernah menyilaukan skuat Real Madrid sebelum pergi satu-satu tanpa arti.

Tiket menuju Perancis di tahun 2016 ditanduk van Persie di laga terakhir kualifikasi melawan Republik Cheska. Robben merana karena yang menentukan Oranye ke Perancis bukanlah sebelas pemain, melainkan Islandia harus mengalahkan Turki agar bisa berlaga di jalur play off.

Debut Blind yang menggantikan Hiddink yang mundur di tahun 2015 berakhir kalah. Dan kini, usai laga kekalahan dari Bulgaria 2-0 di kualifikasi Piala Dunia 2018, Blind resmi dipecat. Robben yang sudah 33 tahun menyebutnya mimpi buruk menanggapi kekalahan Oranye.

#4
“Sepakbola itu sederhana, tetapi sulit untuk bermain sederhana”. Ucap Cruyff suatu ketika. Kekalahan Oranye di Stadion Vasil Levski, Sofia bukanlah kekalahan Total Football. Bukan salah Blind. Bukan salah Robben. Bukan salah pemain debutan, Matthijs de Ligt.

Menguasai pertandingan hingga 70% penguasaan bola sudah menjadi ciri Total Football. Kau harus menembak, jika tidak, anda tidak bisa mencetak gol,” lagi, ucap Cruyff. Tim Oranye melakukan upaya 6 kali percobaan tembakan. 3 tepat sasaran dan 5 melenceng.

Tetapi Cruyff juga pernah bilang: Setiap kelemahan memiliki keuntungan”. Cruyff yang tidak pernah melatih Oranye setahun sebelum wafat di tahun 2016 lalu. Mengirim sinyal kalau ada Oranye dalam bahaya.

Louis van Gaal juga disebut bakal direkrut kembali. Ia yang membawa Oranye menempati tempat ketiga di Brasil. Ia yang mematikan Total Football sinis van Bommel krena mengubah 4-3-3 ke 5-3-2.

#5
Dua kubu bertarung menanam pengaruh. Mereka yang menolak Total Football karena realistis dengan talenta Oranye. Perlu ada evolusi. Di sisi yang lain, Total Fotball, bagaimana pun ringkihnya situasi, harus tetap diperagakan atas nama identitas.

2008 Austria-Swiss, anak-anak Total Fotball menyapu bersih penyisihan grup. Tembok Cattenacio dibobol tiga kali. Perancis dilibas 4-2. Dan, matahari kembar, Persie-Huntelar bergantian menjebol gawang Rumania. Oranye dipastikan mudah meraih kembali tropi Eropa Setelah 20 tahun tidak memeluknya. Sayang, Beruang Merah membelikan tiket pulang di fase berikutnya.

Empat tahun berikutnya di kompetisi serupa di Polandia-Ukraina 2012. Oranye berada di siklus 180 derajat. Tiga kali mengalami kekalahan. Tidak ada 4-3-3. Semuanya 4-5-1 ditangan Bert van Marwijk.

Total Football bukanlah angka formasi. Pertaruhan mencipta ruang dan permutasi pemain menjadi nafasnya. Total Football belum mati dan tidak akan mati. Ia sudah hadir dan akan hadir kembali pada satu ketika. Siapa saja boleh memainkannya.

_

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Melacak Sejarah Filosofi Mojok Puthut EA, Ditinjau dari Serpihan Ingatan dan Pembacaan yang Tidak Tuntas

#1
Seorang teman perjalanan waktu ke Yogyakarta di tahun 2003, membawa pulang buku kecil berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci. Saya tidak tahu itu buku apa, mulanya kupikir, pembahasan tentang Tuhan menggunakan peta filsafat. Maklumlah, di kala itu kelompok diskusi tempat kami bernaung, Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI), pada gandrung dengan pemikiran serius. Meski akhirnya tidak ada yang benar-benar serius amat. Sebagaiamana kelompok itu bubar dengan sendirinya karena sepi peminat. Padahal, legalitasnya merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus terpandang di Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Belakangan kuketahui, kalau buku kecil itu hanyalah kumpulan cerpen dari seorang yang, namanya tidak kami kenal, malah, lebih terkenal nama sebuah lembaga yang kami sambangi, INSIST (Institute for SocialTransformations) sebelum berubah menjadi Indonesian Society Transformations yang bermarkas di jalan Blimbingsari. Saya ingat, di toko buku kecil di kantor lembaga itulah ia…