Skip to main content

07 Des Sheila on 7 dan Novel 1984 Orwell




7 Desember adalah tanggal di bulan terakhir kelipatan tahun Masehi. Tahun ini tepat hari Rabu, tahun lalu, 2015 jatuh di hari Senin, di tahun 2014 di hari Minggu. Itu bukan kebetulan. Melainkan keteraturan yang acak.

7 Desember, sama dengan tanggal dan hari-hari yang lain. Di dalamnya termaktub peristiwa di belahan ruang di dunia. Di tanggal 7 Desember tujuh tahun lalu, seseorang mungkin saja menggelar acara pernikahannya, juga tidak menutup nalar kalau di tanggal yang sama di tempat lain seseorang lagi kecopetan, misalnya. 

Tentu semuanya kepastian sebab tidak ada kebetulan. Semua berjalan sesuai titik ruang dan waktu ketika peristiwa harus terjadi. Keteraturan yang acak.

Tahun 2002, Sheila on 7, band asal Yogyakarta yang terbentuk di tahun 1996, merilis album ketiga yang dijuduli 07 Des. Tentu saja ada kesan rumit dijabarkan. Sungguh, saya senyum sendiri kali pertama meraba kaset itu. Kok, bisa ya. Apakah Sheila on 7 mendedikasikan album itu kepada mereka yang memiliki kesan khusus dengan 7 Desember. Saat itu beragam dugaan mengemuka.

Cover album 07 Des

Di bangku SMP, Sheila on 7 adalah band idola. Sebisa mungkin sejumlah tembang hitsnya dilantunkan sekerasnya sebagai kode kepada perempuan yang menjadi sasaran godaan. Belajar memetik gitar juga dimulai dengan mempelajari kord tembang Dan, Kita, dan Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki. Di titik itu, hanya ada tiga teman yang mahir memainkannya dan menjadi panutan.

Di hari-hari di sepanjang tahun 2002 hingga 2003, kala pulang ke kampung bermalam Minggu, teman yang pandai bermain gitar itu saya ajak menginap di rumah dan menantang malam bernyanyi meneriakkan tembang Sheila on 7. Utamanya sekali, lagu Pria Kesepian yang terangkum di album 07 Des itu. Alasannya rasional, kami saat itu memanglah kumpulan pria kesepian. Tidak memiliki jadwal bersama seorang dara.

Setamat SMP, kami semua berpisah sekolah. Saya memilih ke Makassar karena alasan absurd. Nilai Ebtanas Murni (NEM) saya tidak cukup dipakai mendaftar di sekolah negeri di Pangkep. Jadilah nama saya terdaftar di salah satu sekolah swasta di Makassar yang memang kekurangan siswa. Sebagai ruang reuni, saya harus pulang kampung di akhir pekan jika sempat.

Sebenarnya, Sheila on 7 tak bisa dikatakan sebagai band idola dalam pengertian garis keras. Kami, saat itu sudah menyanyikan tembang Slank, Iwan Falls, Tipe X, Padi, dan Dewa 19. Hanya saja, Sheila on 7 menjadi spesial karena lagunya banyak digemari teman perempuan di masa SMP. Sebab itulah mungkin, sejumlah tembang Sheila on 7 selalu dinyanyikan.

Lebih dari itu, kembali ke saya, Sheila on 7 mengandung makna lain. Beberapa tembangnya serasa menyanyikan perasaan yang dialami anak-anak zaman yang pada galau di eranya. Diam-diam, sering sekali saya nyanyikan Pemuja Rahasia. Lagu ini terbilang sulit dinyanyikan bila diiringi gitar. Duta, si vokalis, melantunkan dengan gaya rap. Ada satu cerpen yang saya buat dan memasukkan lagu ini sebagai titik tolak. Namun, lebih dari semuanya, tentu saja karena album ketiganya itu tadi. 07 Des. Sesuatu sekali. Kok, bisa ya.

Sebagaimana 7 Desember. 1984 lebih dari bilangan. Bisa dibaca sebagai tahun. Di tahun 1984 ada banyak sekali peristiwa di sepanjang 12 bulan di dalamnya. Apakah kebetulan jika di tahun 1949, George Orwell, pengarang Inggris yang lahir di India merilis novel bertajuk 1984 ketika Indonesia baru lima tahun memproklamirkan kemerdekaan di tahun 1945. 

Novel 1984


Mengetahui nama Orwell dan novel legendarisnya itu saya baca di buku Revolusi Harapan karya Erich Fromm di tahun 2003. Dan lagi, saya merasakan sesuatu yang lain. Kok, bisa ya. Sejak saat itu, mencari novel 1984 yang mengingatkan hal khusus itu menjadi agenda. Sayang, tak satu pun toko buku di Makassar yang menjual. 

Barulah di tahun 2014 lalu, novel itu saya beli setelah Bentang menerbitkan hasil terjemahan Landung Simatupang. Di tahun 2011 tanggal 7 Desember, saya menulis status di akun Facebook kalau di hari lahir, saya ingin sekali membaca novel itu. Butuh tiga 7 Desember baru bisa berjumpa. Jika direkap sejak 2004, maka terhitung sepuluh 7 Desember.

Hari ini 7 Desember, ucapan selamat ulang tahun dari istri yang dikirim lewat WhatsApp baru saya baca di pukul tujuh lewat sekian menit. Karena situasi pekerjaan, saya dan istri hanya berjumpa dua kali seminggu. Empat kali sebulan, dan empat puluh delapan kali dalam setahun. Meski faktanya tentu berubah jika hari libur nasional dimasukkan sebagai pengurang dan situasi tertentu terjadi. 

Tepat ketika salah satu stasiun televisi menyiarkan berita gempa di Aceh. Saya yakin sekali sebagaimana kita semua meyakini. 7 Desember tahun ini seyogianya 7 Desember yang sudah-sudah. Ada banyak sekali peristiwa. Salah satunya, Timnas Indonesia tengah berjuang melewati semifinal leg kedua melawan Vietnam. Juga, kalian tengah membaca catatan ini. Halah!
*

Makassar, 7 Desember 2016

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Lemari Abdullah Harahap