Skip to main content

Piknik



Ke mana tujuan setelah lebaran? Andai pertanyaan ini dimasukkan dalam soal ulangan sekolah dasar kelas enam. Masihkah kita ragu kalau masih ada jawaban keliru? Menurut istri saya yang, ketika catatan ini saya buat, ia tengah bergulat menidurkan anak lelaki kami. “Saya yakin semua bakal menjawab berkunjung ke rumah nenek.” Jawabnya.

Saya manggut saja dan menolak mendebatnya. Bagi saya, di kepala anak usia sekolah dasar, apalagi sudah kelas enam, mustahil memberikan jawaban seragam. Paling tidak di antara mereka akan menuliskan jawaban pergi ke tempat permandian. Piknik.

Mengapa piknik, karena aktivitas ini sangat mustahil dilakukan di bulan puasa. Meski dalam arti luas, ngabuburit bisa juga diartikan sebagai piknik sembari menunggu buka puasa. Piknik usai lebaran sudah menjadi agenda rutin sebagaimana makan setiap hari. Sebenarnya tidak seperti itu juga. Sebab makan adalah kebutuhan dan pikink bisa saja ditunda walau setelah lebaran.

Tidak percaya! Anda mau apa kalau semua pengelola tempat wisata mogok. Pintu masuk ke tempat wisata digembok. Dan, di sana dipasang spanduk bertuliskan: TEMPAT INI TUTUP HINGGA THR DIBAGIKAN.

Cukup beranikah Anda mencabut spanduk itu atau memajang spanduk tantangan bertuliskan: POKOKNYA KAMI MAU PIKNIK DI SINI UNTUK MENYEMPURNAKAN IBADAH PUASA KAMI. SOAL THR YANG TIDAK DIBAGIKAN OLEH BOS ANDA, SUDAH BUKAN URUSAN KAMI. CAMKAN ITU.

Jujur, saya tidak punya nyali sebesar itu. Walau bapak saya seorang pemimpin Satpol PP sekalipun, saya tidak bakal bertindak senekat itu. Bukan apa-apa. Untuk urusan semacam ini, saya kira kita tidak perlu membuka kitab suci Alquran atau mencari hadis yang sesuai di kitab Shahih Muslim. Cukup resapi saja sepotong lirik tembang dangdut berjudul Lebih Baik Sakit Gigi yang dipopularkan Meggy Z.

…Jangankan diriku
Semutpun kan marah
Bila terlalu…sakit begini…

Cita Citata benar, THR tidak dibagikan, sakitnya tuh di sini.

Baik. Kembali ke soal piknik. Kemarin siang, meski masih meriang karena efek begadang memasak burasa, saya sempatkan mengamini ajakan istri ke Leang Lonrong, tempat piknik paling murah di dunia. Dulu, waktu masih SMP, lokasi ini menjadi salah satu tempat bolos paling keren.

Secara geografis, Leang Lonrong masuk dalam wilayah Desa Panaikang, Kecamatan Minasatene. Adanya program PNPM mengubah wajah tempat wisata ini. Jalurnya yang berupa pematang sawah selama puluhan tahun kini berganti dengan jalan setapak menggunakan cor beton. Jalanan inilah yang menjadi satu-satunya alasan warga setempat diberi tugas oleh kepala desa Panaikang memasang tarif berkunjung senilai tiga ribu rupiah. Apa! Harga segitu kalian bilang murah! Mmm! Memang tidak mahal sih.

Di Pangkep, Leang Lonrong menjadi tempat piknik segala lapisan. Untuk mencapai label demikian butuh perjuangan panjang yang melelahkan. Berdarah-darah. Penuh lubang dan mendaki. Jalan gelap yang kau pilih. (Teks yang ditebalkan bukan bagian dari narasi. Melainkan sepotong lirik tembang Iwan Fals berjudul Antara Aku, Kau, dan Bekas Pacarmu). Sebaiknya Anda perlu sedikit berhati-hati saja dalam mengeja ulasan ini.

Saya ingat dahulu, tentu bukan sekarang, tetapi beberapa tahun yang lalu. Orang-orang yang berkunjung ke Lonrong disebut kurang modal karena maunya gratisan. Jadi sebenarnya, jauh sebelum adanya program gratis-gratis yang dicanangkan pemerintah, Lonrong sudah menerapkanya sudah sejak lama. Sehingga orang-orang yang tidak ingin masuk labelisasi itu akan bekerja keras berlipat-lipat dan rela menunda tidak membeli baju baru agar bisa menabung membeli tiket di Bantimurung, Maros.

Syahdan! Usai Soeharto memilih mundur sebagai presiden di tahun 1998, perlahan orang-orang bermazhab STIL (Selerah Tinggi Ekonomi Lemah) juga mulai melepaskan topeng mereka. Secara sadar mereka kembali ke khittah. Memegang teguh nilai-nilai dasar di mana mereka berada.

Seperti siang kemarin itu, untuk kesekian kalinya setelah reformasi berjalan delapan belas tahun. Setelah beberapa kali lebaran, tentunya. Saya menyaksikan sejumlah kendaraan roda empat keluaran terbaru terparkir di tengah ratusan sepeda motor. Dahulu, orang-orang ogah membawa kendaraan pribadinya ke tempat ini.

Namun, salah satu sanak dari Makassar yang turut datang merasa heran. Di luar dugaannya, ia tidak membayangkan pengunjung bakal seramai itu.

Dulu sedikitji orang di. Jadi puaski mandi-mandi.” Ucapnya heran.
“Iya, dulu itu waktu kita datang ke sini, pas bulan Maulid.” Balas saya.
“Jadi kalau mauta sepi pengunjung, datangmaki lagi di bulan Rajab.” Istri saya ikut menimpali.

*
#onedayonearticle
#bloggerpangkep
#lebaran

Pangkep, 8 Juli 2016

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Lemari Abdullah Harahap