Skip to main content

Imajinasi Pendukung, Kegilaan Pelatih, dan Tragedi Pemain



Saya gagal bangun di pukul dua dini hari untuk menghadiri nonton bareng di D’Corner. Dan, hampir saja melewatkan final Piala Eropa andai adik ipar tidak bangun juga. Sabda Sigmund Freud benar. Mimpi itu bawaan alam bawa sadar yang memenuhi sebagian isi kepala. Tertidur di pukul sepuluh malam, saya bermimpi sedang bermain bola.

Ulasan saya, sila klik di sini, mengenai dua tim yang berlaga di final antara Portugal dan Perancis, oleh kawan-kawan dianggapnya saya ini mendukung Perancis. Padahal tidak demikian, dalam ulasan itu saya juga memaparkan sepak terjang Portugal. Lagi pula, saya bukan orang yang mengidolakan satu tim tertentu.

Saya sepakat dengan Zen RS, sepakbola itu sebagai kisah, ulasannya bisa dibaca di sini. Itulah alasan yang mengubah cara pandang saya menonton sepakbola sebagai permainan dan kisah tragik para atlet bola yang bergulat di dalamnya. Dulu memang, saya fans berat Belanda karena di sana ada si Gimbal, Edgar Davids. 

Tidak dimungkiri kalau sepakbola merupakan satu-satunya olahraga yang dapat menyatukan imajinasi manusia di bumi. Umat manusia yang mendiami negara yang masih diselimuti konflik pun menunjukkan gejala demikian. Malah sepakbola bisa melahirkan gagap budaya. Messi, misalnya, dianggap melakukan penghinaan kala ia menyumbangkan sepatunya untuk dilelang di Irak.

*
Suara ribut televisi menyudahi mimpi saya. Kutatap istri dan anak, raut wajahnya menunjukkan kalau keduanya juga sedang bermimpi. Jika harus menerka, istri saya pasti bermimpi kalau saya sedang tidur nyenyak di kursi dan melewatkan final. Ia memang tidak setuju kalau saya harus bangun di sisa malam menuju D’Corner. Dan anak saya, bermimpi sedang asyik main kuda-kudaan pelepah pisang yang saya buatkan.

Pertandingan sudah berlangsung selama 27 menit. Saya tidak melihat proses terhentinya lari Cristioano Ronaldo. “Paccei bela, keluarmi Ronaldo, tidak adami harapan.” Ujar adik ipar saya. Satu bukti kalau pesona pemain bintang belum menemui ajal. Ungkapan tersebut wajar saja. Dapat dibayangkan semua pendukung garis keras Portugal bakal berkomentar sama.

Sisi baiknya saya lihat, Portugal mampu mengorganisir permainan tanpa adanya Ronaldo. Penguasaan bola meningkat dan memaksa duo gelandang jangkar Perancis, utamanya Pogba lebih banyak membantu pertahanan. Peran vital lapangan tengah Portugal tentu tak bisa lepas dari akselerasi pemain 18 tahun, Renato Sanches.

Saya termasuk geram kala Fernando Santos, pelatih Portugal menggantikan si Gimbal itu dan memasukkan Eder. Sama halnya ketika Deschamps menarik Payet dan memilih Coman. “Dasar pelatih gila!” Gumam saya dalam hati. Namun itulah pertaruhan pelatih yang mengaduk emosi penonton dan menciptakan jalan tragedi bagi pemain.

Deschamps juga menarik Giroud yang digantikan Gignac, pemain bernomor punggung 10 ini mencipta peluang di sisa waktu normal babak kedua. Gocekannya di kotak penalti sudah membuat Pepe terkecoh, sayang sepakannya membentur tiang.

Di sepanjang turnamen Piala Eropa, Santos memang tidak memakai penyerang murni, formasi 4-3-3 diterapkan sebagai jalan bagi Ronaldo dan Nani yang sejatinya gelandang sayap dibiarkan bermain lepas. Santos tahu kualitas mereka, utamanya ego seorang CR7. Inilah alasan utama mengapa Portugal paceklik gol di penyisihan. Andai tidak bermain imbang dengan skor 3-3 melawan Hungaria maka pupuslah harapan Portugal ke putaran 16 besar. Portugal hanya menang selisih gol dengan Albania.

Keputusan Santos akan menyempurnakan tragedi Ronaldo yang harus berhenti bermain andai Eder tidak melesakkan gol semata wayang hasil usahanya membaca situasi longgar pertahanan Perancis yang terbuai membantu serangan. 

Di sisa akhir pertandingan, lagak Ronaldo melampaui pelatihnya dan terlihat melangkahi garis wilayah official tim Perancis. Ia berjalan tanpa sungkan di hadapan Deschamps. Dialah Ronaldo yang terseduh di final tahun 2004 dan kini mengangkat trofi Piala Eropa kali pertama untuk Portugal.
*
#onedayonearticle
#bloggerpangkep
#pialaeropa2016

Pangkep-Makassar, 11 Juli 2016

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Lemari Abdullah Harahap