Skip to main content

Hari Lebaran, Bunga di Atas Kuburan



Sitor Situmorang, sastrawan angkatan 45 yang sudah mangkat di tahun 2014 lalu, mewariskan sajak abadi yang terdiri satu larik saja: “bulan di atas kuburan”. Demikian bunyi sajak itu yang dijuduli Malam Lebaran. 

Sajak ini menjadi semacam pencapaian tersendiri dalam puisi Indonesia. Bentuknya yang tak biasa di zamannya mengundang kritikus sastra berdebat. Ini puisi ataukah sekadar umpatan seorang Sitor saja. Tidak dimungkiri, puisi inilah yang melambungkang nama Sitor dan terus diingat.

Tak banyak penyair yang menggubah sajak kemudian karianya itu lebih diingat ketimbang pembuatnya. Sitor menjadi yang pertama sebelum Sapardi Djoko Damono dengan sajak Hujan Bulan Juni, lalu Wiji Thukul bersama sajak pamfletnya, Peringatan. Karena sajak Sapardi dan Thukul disusun larik yang panjang, maka yang paling dihafal hanya bagian tertentu saja: “…aku ingin mencintaimu dengan sederhana…”. Atau larik gubahan Thukul: “…Hanya ada satu kata: Lawan!”.

Beberapa malam lebaran yang sudah-sudah, saya sering memosting sajak Sitor itu di akun Facebook. Saya tidak tahu untuk apa. Tetapi itulah yang terpatri kala gema takbir bertalu di malam lebaran. Saya anggap malam lebaran merupakan peristiwa sosial paling imajinatif. Semua umat muslim di dunia serasa berjumpa di suatu tempat yang amat luas seraya mengumandangkan takbir, tahlil, dan tahmid. “Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan.” Tegas Alquran Surah Ar Rahman.

Ke esokan hari usai pelaksanaan salat Id, para jemaah tidak langsung pulang ke rumah kehidupannya di dunia melainkan berkunjung ke bakal rumah di kehidupan yang lain. Sanak yang telah mendahului dikunjungi di atas pusaranya. Berdoa dan menangis.

Di kampung saya, lokasi salat Id selalu dilaksanakan di lapangan sepak bola yang berdampingan dengan pekuburan. Gelombang jemaah mengantre masuk ke area kuburan tersaji setelah salat Id telah usai. Selain peristiwa berziarah, reuni juga berlangsung di sini. Mereka yang pulang dari perantauan berjumpa dengan kerabat masa kecilnya. Sejenak bertukar kabar dan saling mengingat kesalahan yang kali saja pernah mereka perbuat dan baru sempat saling berjabat tangan memaafkan.

Lokasi pekuburan di desa saya ada empat. Tiga lokasi selain dekat lapangan sepak bola, masing-masing berada di tiga dusun yang berbeda. Galung Boko, Borong Jampue, dan Kabba Dalam. Saya dan keluarga harus mengunjungi dua pekuburan, yang di Borong Jampue dengan dekat lapangan. Nenek dari emak beserta tiga saudaranya, seorang paman dari emak, dan nenek dari ayah dikubur di lokasi pemakaman dekat lapangan, sedangkan ayah, kakak lelaki, dan neneknya emak saya dikubur di Borong Jampue.

Belajar dari pengalaman guna menghindari membeludaknya jemaah yang hendak berziarah, keluarga saya tidak langsung ke pemakaman dan memilih pulang menyiapkan irisan daun pandang sebagai pelengkap ziarah kubur.

Jadi, tradisi tabur bunga di atas kuburan di kampung saya bukanlah berupa bunga sebagaimana yang sering disaksikan di layar kaca. Daun pandang yang menjadi bahan dasar membuat ketupat selain daun kelapa, di kampung saya disebut daubunga (Bugis). Daun pandang lalu dipotong persegi panjang seukuran satu jengkal, ada juga dipotong persegi empat dengan ukuran lebih pendek, selebihnya dipotong sekenanya namun tetap berukuran kecil. Bila sudah jadi, potongan daun pandang kemudian disirami minyak kelapa secukupnya.

Di atas pusara, potongan daun pandang itu tidak asal tabur, permukaan pusara dibersihkan dahulu dengan mencabuti rumput atau memunguti dedaunan kering. Selanjutnya, peletakan bunga pertama harus disusun dengan pola menyerupai pusara. Saya tidak tahu nama polanya, hal ini belum pernah saya tanyakan pada emak. Tetapi tentu memiliki makna filosofis. Setelahnya, barulah saya, saudara, dan kemenakan yang turut serta mengambil potongan daun pandang untuk ditaburkan di atas pusara lalu menyiraminya degan air.

Pada situasi tertentu, ziarah kubur didampingi pabbaca, tetua kampung yang dipercaya untuk membacakan Surah Yasin, Alfatiha, dan doa-doa yang lainnya. Jika tidak sempat memanggil pabbaca maka masing-masing berdoa saja. Hal demikian amatlah dinamis dalam prosesi ziarah kubur, termasuk tidak membawa bunga atau air sebagaimana dilakukan jemaah selepas salat Id.
*
#onedayonearticle
#bloggerpangkep
#lebaran

Pangkep, 9 Juli 2016

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Aidit, Dua Kumpulan Cerpen

Fredy S, Politik, dan Kita

Siapa yang kini mengingat Fredy S, penulis roman pop seks kelas wahid yang tak pernah kita ketahui jati dirinya itu. Kita tahu, Fredy S tentu bukan Pramoedya Ananta Toer atau Wiji Thukul, yang mana karya novelis dan penyair ini pernah diharamkan oleh sebuah rezim. Karya Ferdy S tidaklah senaas itu. Namun, cukup bernyalikah Anda mengeja novelnya di tempat umum?

Membaca Makna Tugu dan Patung di Ruas Pangkep

Jelajah Malam dengan Kue Putu di Kota Daeng

Jika anda sering jelajah malam mengelilingi kota Makassar dengan berkendara roda dua atau roda empat, sudah pasti anda pernah melihat penjual kue Putu. Tapi apakah anda pernah singgah dan mencicipinya?. Jika belum, ada baiknya anda segera mencobanya.

Lemari Abdullah Harahap